"Pela Gandong Karas" Merupakan Solusi Jembatan Kasih Menyatukan Saudara Lisabata - Patahuwe - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Senin, 21 September 2026

"Pela Gandong Karas" Merupakan Solusi Jembatan Kasih Menyatukan Saudara Lisabata - Patahuwe


SBB
, globaltimurnn.com - Pada tanggal 11 September 2026, di Kecamatan Taniwel, sebuah peristiwa memilukan terjadi, Desa Patahuwe, yang seharusnya menjadi rumah bagi saudara-saudara seiman dan seketurunan, justru dilalap api. 


Dua puluh sembilan rumah warga hangus terbakar bukan oleh tangan asing, melainkan oleh saudara sendiri dari Desa Lisabata. 


Api itu bukan hanya membakar dinding dan atap, tetapi juga menggores hati, merobek rasa aman, dan meninggalkan abu duka di tengah masyarakat.


Penyebabnya bukanlah sesuatu yang mulia, Kesalahpahaman, emosi yang tak terkendali, dan tuduhan tanpa bukti nyata, itulah bara kecil yang kemudian membakar besar. 


Di tengah reruntuhan dan kepulan asap, muncul suara yang justru menyejukkan, Bapak Agus Lumaesan, Ketua BPD Desa Patahue, berdiri di depan awak media, didampingi Raja Taniwel, Jance Hilewe, serta tokoh masyarakat SBB Gerard Wakanno, dan beberapa orang yang lain, Dengan tegas namun penuh kasih, ia menyatakan" Desa Patahuwe tidak akan membalas aksi pembakaran yang telah kami terima dari saudara-saudara kami di Desa Lisabata. Ungkapnya tegas


Kami semua adalah saudara, Kami masih memiliki keturunan dan nenek moyang yang bersaudara, Pembalasan dendam tidak akan kami lakukan. Ucapnya


Sungguh, inilah suara yang lahir bukan dari kelemahan, melainkan dari kekuatan jiwa yang besar, suara ini terekam oleh ponsel awak media, Di saat manusia biasa cenderung membalas, mereka memilih mengampuni. 


Di saat amarah menuntut pembalasan, mereka memilih mengulurkan tangan, Ucapan Bapak Agus Lumaesan adalah wujud nyata dari iman yang hidup. 


Ia tidak hanya mendengar firman, tetapi melakukannya, Dan sebagaimana dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, "Orang yang kuat bukanlah yang menang dalam gulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan dirinya ketika marah."


Berita tentang sikap mulia Desa Patahuwe sampai ke telinga Lahwin Koly, Raja Desa Lisabata, Bukan kemarahan yang datang, melainkan kesadaran, Bukan pembelaan diri yang muncul, melainkan penyesalan yang mendalam. 


Dengan air mata yang menetes dan isak tangis yang pecah, ia menyambut kabar itu, lewat komunikasi dengan tokoh masyarakat SBB Gerard Wakano, Hatinya remuk bukan karena tuduhan, tetapi karena kesalahan yang seharusnya bisa dihindari. 


Dalam tangis penyesalan itu, tersimpan harapan, Raja Lisabata kemudian menghubungi Bapak Gerard Wakanno untuk berdiskusi, Bukan untuk mencari pembenaran, tetapi untuk mencari jalan keluar, Bukan untuk melanjutkan pertikaian, tetapi untuk menghentikan luka agar tidak menular ke generasi berikutnya. 


Melalui sebuah renungan jiwa dan pertimbangan yang dalam, lahir sebuah gagasan murni dari dalam jiwa Raja Lisabata sebuah gagasan yang bukan baru, melainkan warisan leluhur yang telah lama tertanam di tanah Maluku “PELA GANDONG KERAS”. Pela yang diangkat dengan sumpah dan darah sebagai perjanjian kekal sampai ke-anak cucu tanpa ada Batasan waktu. 


Pela Gandong adalah kearifan lokal Maluku yang telah diwariskan oleh nenek moyang, Ia bukan sekadar perjanjian, melainkan ikatan persaudaraan yang mengikat dua desa atau lebih dalam hubungan yang sakral. 


Dalam Pela Gandong, dua desa yang berbeda diikat menjadi satu keluarga besar, Mereka bukan lagi tetangga, melainkan saudara, Darah mereka berbeda, tetapi hati mereka satu.


Raja Lisabata mengusulkan agar Desa Lisabata menjalin Pela Gandong dengan Desa Patahuwe dan desa-desa tetangga lainnya. 


Tujuannya jelas, agar tidak ada lagi pertikaian seperti ini, tidak hanya di masa kini, tetapi sampai ke anak cucu, Pertikaian akan diganti dengan saling membangun, saling menolong, dan saling mengasihi.


Gagasan ini disampaikan kepada para kepala desa dan perangkat desa, lalu diteruskan kepada beberapa pejabat di Kabupaten dan Provinsi, Raja Lisabata berharap agar ide brilian ini mendapat tanggapan positif dari pemerintah daerah, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, sehingga dapat menjadi contoh perdamaian yang baik di antara sesama anak Maluku.


Alangkah indahnya gagasan ini, Sebab dalam Mazmur 133:1 tertulis: "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun!"


Dan dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 10*, Allah berfirman: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."


Pela Gandong bukan hanya tradisi, tetapi juga ibadah, Ia adalah cara anak Maluku memuliakan Tuhan dengan menjaga persaudaraan, Ia adalah wujud nyata dari kasih yang tidak berpura-pura.


Api yang membakar 29 rumah di Desa Patahuwe memang meninggalkan luka, Namun, dari abu itu, tumbuh tunas baru, Dari air mata, lahir tekad, Dari penyesalan, muncul harapan, Desa Lisabata dan Desa Patahuwe tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. 


Mereka berjalan bersama, menuju masa depan yang lebih baik, Pela Gandong yang akan dijalin bukan hanya simbol, tetapi komitmen, Ia akan menjadi pengingat bahwa di bawah langit Maluku yang sama, di bawah naungan gunung dan laut yang sama, mereka adalah satu. 


Tidak ada lagi tuduhan tanpa bukti, tidak ada lagi emosi yang tak terkendali, tidak ada lagi api yang membakar rumah saudara, Yang ada hanyalah tangan yang saling menolong, hati yang saling mengasihi, dan doa yang saling menguatkan.


Kisah ini bukan hanya kisah dua desa, Ia adalah kisah kita semua, Ia adalah cermin bagi setiap anak Maluku, bagi setiap orang yang pernah terluka dan tergoda untuk membalas, Kisah ini mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk membalas, melainkan kemampuan untuk mengampuni. 


Bahwa perdamaian bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kebesaran jiwa, Mari jadikan Pela Gandong ini sebagai pelita yang menerangi jalan, Mari jadikan kasih sebagai bahasa yang menyatukan, Mari jadikan pengampunan sebagai jembatan yang menghubungkan. 


Dan mari jadikan perdamaian sebagai warisan bagi anak cucu, 

Dari desa Patahuwe & Lisabata dan sekitarnya di kecamatan Taniwel, Kabupaten SBB, Provinsi Maluku, terdengar satu suara, "Kami adalah saudara. Kami memilih damai, Kami memilih kasih, Kami memilih saling membangun, Selamanya." Ajak tokoh masyarakat SBB Gerard Wakano


Ditulis sebagai bentuk dukungan moral bagi perdamaian di Kecamatan Taniwel, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku, "Damai itu Indah". (V374) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT