SBB, globaltimurnn.com - Ada dua jenis pemimpin di dunia ini, Yang pertama adalah pemimpin yang bekerja karena kewajiban, Yang kedua adalah pemimpin yang bekerja karena panggilan hati.
Pemimpin jenis pertama akan berhenti ketika jam kerjanya habis, Pemimpin jenis kedua tidak pernah mengenal jam kerja karena baginya, melayani rakyat bukanlah pekerjaan, melainkan kehormatan, Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, adalah tipe yang kedua.
Dan dalam kurun waktu kurang dari 72 jam, ia telah membuktikan itu kepada seluruh rakyat Maluku bahkan kepada seluruh Indonesia, Jumat, 11 September 2026.
Gubernur Lewerissa sedang berada di Semarang, Bukan untuk berlibur, Ia sedang menjalankan tugas kenegaraan, mengantar kontingen MTQ asal Maluku untuk berlaga di panggung nasional, Sebuah tugas yang membanggakan, Namun takdir berkata lain, Di tengah malam, kabar duka itu sampai, Desa Patahuwe, Kec Taniwel, Kab SBB, dibakar 29 rumah penduduk hangus, Satu rumah pastori gereja ludes, Ratusan warga mengungsi.
Maluku, yang selama ini dikenal sebagai provinsi yang menjaga kerukunan, kembali diuji, Bagi pemimpin jenis pertama, ini mungkin menjadi alasan untuk menunda, Saya sedang di luar kota, Saya sedang bertugas, Saya akan datang setelah urusan selesai, Tetapi bagi Gubernur Lewerissa, tidak ada alasan yang cukup untuk menunda kepedulian.
Tidak ada tugas yang lebih penting daripada hadir di saat rakyatnya menderita, Minggu malam, 13 September 2026, ia terbang dari Jakarta dengan pesawat Batik Air, Bukan penerbangan yang nyaman, Bukan perjalanan yang bisa dinikmati dengan senyum, Setibanya di Ambon, ia tidak berhenti, Mobil-nya langsung melaju ke Pelabuhan Ferry Liang, Langsung menuju tenda-tenda pengungsian di desa Taniwel.
Perhatikanlah perjalanan ini Seorang gubernur, yang seharusnya bisa memerintahkan bawahannya untuk mengecek kondisi, justru memilih untuk datang sendiri, Ia tidak mengirim perwakilan, Ia tidak menunggu laporan. Ia datang. Ia hadir, Ia mengayomi, Dan kemudian, momen itu datang, setelah mendengar pengarahan dari Gubernur Maluku, adalah Ketua BPD Desa Patahuwe Bapak Agus Lumaesan Menyatakan "Kami warga Desa Patahuwe tidak akan membalas perlakuan yang dilakukan oleh saudara-saudara kami dari Desa Lisabata.
Rumah dan harta kami telah hangus terbakar, Kami tidak menyimpan dendam dan amarah, Bagi kami, yang berlalu telah berlalu."
Kata-kata itu bukan kata-kata orang yang kalah. Itu adalah kata-kata orang yang menang atas amarahnya sendiri, Itu adalah kata-kata orang yang telah memilih jalan yang paling sulit, "MEMAAFKAN"
Tidak ada unsur paksaan dalam pernyataan itu, Tidak ada tekanan dari pihak mana pun, Tidak ada tawar-menawar politik, Ini adalah keputusan murni dari hati nurani, sebuah deklarasi damai yang lahir dari luka terdalam, dari kehilangan terbesar, dari penderitaan yang paling “Kami tidak menyimpan dendam dan amarah, Bagi kami, yang berlalu telah berlalu."
Ini bukan sekadar kalimat retoris. Ini adalah keputusan spiritual yang luar biasa, Ini adalah pilihan untuk tidak membiarkan masa lalu mengendalikan masa depan, Ini adalah pilihan untuk memutus rantai dendam untuk membangun kerukunan di atas reruntuhan rumah.
Dan kabar baik itu tidak berhenti di Patahuwe, Dari seberang, dari Desa Lisabata desa yang menjadi pemicu konflik datang respons yang memberi harapan, Raja Lisabata Lahwin Koly dengan beruai air mata penyesalan menyampaikan kesediaannya untuk segera melakukan konsolidasi damai.
Ia menyatakan kesiapan untuk duduk bersama, membuka dialog, dan mencari jalan rekonsiliasi, Ini adalah langkah yang sangat berarti, Dalam setiap konflik, perdamaian tidak bisa dibangun sepihak.
Perdamaian membutuhkan dua tangan yang saling menggenggam, Dan ketika pihak yang bertikai menyatakan kesediaannya untuk berdamai, maka pintu perdamaian itu semakin terbuka lebar, Dan kemudian, babak yang paling menguras tenaga.
Setelah menyelesaikan kunjungannya di Patahuwe dan memastikan penanganan korban berjalan, Gubernur Lewerissa langsung kembali ke Jakarta, Bukan untuk beristirahat. Bukan untuk bersantai, Tetapi untuk memenuhi panggilan tugas kenegaraan yang tidak bisa ditunda.
Berdasarkan Surat Undangan dari DPR-RI, Nomor: B/11/80/PW.01/08/2026, tertanggal 7 Agustus 2026, Gubernur Maluku diundang untuk menghadiri Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPR RI yang akan dilaksanakan pada: Hari Selasa, 15 September 2026, Pukul 10.00 WIB s.d. Selesai yang bertempat di Ruang Rapat Komisi II (KK.III) Gedung Nusantara DPR RI, Jl. Jenderal Gatot Subroto, Senayan Jakarta Pusat.
Rapat ini dihadiri secara langsung oleh Menteri Dalam Negeri RI, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN RI, para Gubernur se-Indonesia.
Agenda rapat ini sangat strategis dan menyangkut kepentingan rakyat banyak.
Ini bukan kebetulan, Gubernur Lewerissa baru saja berdiri di tengah desa yang dilanda konflik, Ia baru saja menyaksikan penderitaan warga desa, Ia baru saja mendengar langsung keluhan dan harapan mereka, Dan sekarang, ia duduk di meja rapat Senayan untuk memastikan bahwa program pembangunan desa benar-benar menyentuh rakyat.
Inilah yang disebut dengan kepemimpinan yang utuh, Seorang pemimpin tidak hanya hadir saat ada krisis, Ia juga hadir saat ada rapat, Ia tidak hanya meneteskan air mata di depan pengungsi, Ia juga memperjuangkan anggaran di depan para menteri, Ia tidak hanya berbicara tentang perdamaian di atas panggung, Ia juga bekerja untuk memastikan perdamaian itu terwujud.
Mari kita hitung, Dalam kurun waktu kurang dari 72 jam, Gubernur Hendrik Lewerissa telah melakukan kegiatan yang sangat padat, Menyelesaikan tugas di Semarang, mengantar kontingen MTQ Maluku, Terbang dari Jakarta ke Ambon, pada Minggu malam, Melakukan perjalanan darat dari bandara ke Pelabuhan Ferry, Menyeberang dengan ferry selama 2 jam ke Waipirit, melanjutkan perjalanan darat menuju lokasi konflik di Patahuwe dan tenda pengungsian di Taniwel, Bertemu langsung dengan para korban dan menyampaikan pesan perdamaian, kembali ke Jakarta untuk menghadiri Rapat Kerja dan RDP Komisi II DPR RI di Senayan.
Ini adalah jadwal seorang pengayom yang bekerja untuk rakyatnya, Ini adalah jadwal yang menguras tenaga, waktu, dan pikiran, Ini adalah jadwal yang tidak bisa dijalani oleh orang yang hanya duduk di belakang meja.
Gubernur Lewerissa tidak mengeluh, Ia tidak mencari simpati, Ia tidak memposting kelelahan di media sosial, Ia hanya bekerja, Dengan senang hati, Karena baginya, kelelahan adalah bagian dari pengabdian, Dan pengabdian adalah kehormatan, Mengapa ia mau melakukan semua ini? Karena ia adalah tipe pemimpin yang mengayomi, Pemimpin yang tidak hanya duduk di kursi kekuasaan, tetapi turun ke bawah.
Pemimpin yang tidak hanya berbicara, tetapi mendengar, Pemimpin yang tidak hanya memerintah, tetapi melayani, Pemimpin yang tidak hanya hadir di saat senang, tetapi juga di saat susah.
Gubernur Lewerissa tidak berbicara tentang kepedulian, Ia menunjukkan kepedulian, Ia hadir di tengah pengungsi, Ia meneteskan air mata, Ia mendengar keluhan, Ia merangkul korban, Dan kemudian, ia kembali bekerja di meja rapat, di forum nasional, di tempat di mana keputusan-keputusan penting diambil.
Seorang pengayom tidak perlu memamerkan kepeduliannya, Karena kepeduliannya terlihat dari tindakannya, Dari perjalanannya yang panjang, Dari air matanya yang tulus Dari kehadirannya yang nyata Dan dari senyumnya yang tetap terjaga meskipun tubuhnya lelah.
Ada pepatah yang mengatakan "Seorang pemimpin adalah orang yang tahu jalan, menunjukkan jalan, dan berjalan di depan."
Gubernur Hendrik Lewerissa telah menunjukkan bahwa ia tahu jalan, Ia tahu bahwa perdamaian adalah tujuan, Ia tahu bahwa kerukunan adalah kunci, Ia tahu bahwa pembangunan fisik hanyalah alat, bukan tujuan akhir.
Ia juga telah menunjukkan jalan, Ia menunjukkan bahwa memaafkan adalah mungkin, Ia menunjukkan bahwa membangun kerukunan adalah tanggung jawab bersama, Ia menunjukkan bahwa seorang pemimpin harus hadir di saat sukar, Dan yang paling penting, ia berjalan di depan, Ia tidak menyuruh orang lain untuk berkorban sementara ia duduk di kursi empuk, Ia tidak berbicara tentang perdamaian sementara ia sendiri tidak hadir di medan berjalan di depan dari Semarang ke Ambon, dari Ambon ke Patahuwe, dari Patahuwe ke Jakarta.
Ia berjalan tanpa henti, Ia berjalan tanpa mengeluh, Ia berjalan dengan senang hati, Karena itulah tugasnya, Karena itulah panggilannya, Karena itulah pengabdiannya, Maka biarlah tulisan ini menjadi saksi, bahwa di tengah kepadatan kegiatan, di tengah kelelahan yang tak terperi, di tengah tekanan yang begitu besar, masih ada pemimpin yang bekerja untuk rakyatnya, Masih ada pemimpin yang meneteskan air mata bersama rakyatnya, Masih ada pemimpin yang berjalan di depan, Masih ada pemimpin yang mengayomi.
Dan rakyat Maluku dari Patahuwe hingga Lisabata, dari Taniwel hingga Ambon patut berbangga. Karena mereka memiliki gubernur yang tidak pernah berhenti.
Gubernur yang bekerja dengan hati, Gubernur yang hadir di saat paling gelap, Gubernur yang membangun bukan hanya rumah, tetapi juga harapan, Gubernur yang mengayomi dengan ketulusan. (V374)


















