globaltimurnn.com

Jumat, 15 Mei 2026

Dari Balik Jeruji, Harapan Terus Tumbuh: Warga Binaan Rutan Ambon Produktif Lewat Hidroponik dan Kerajinan Sofa

Mei 15, 2026

Foto : Dari Balik Jeruji, Harapan Terus Tumbuh: Warga Binaan Rutan Ambon Produktif Lewat Hidroponik dan Kerajinan Sofa

Ambon
, Globaltimurnn.com – Semangat perubahan dan kemandirian terus tumbuh di lingkungan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon. Melalui program pembinaan berkelanjutan, para warga binaan kini tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga aktif mengembangkan keterampilan produktif yang bernilai ekonomi dan bermanfaat bagi masa depan mereka, Sabtu (16/05/2026). 


Komitmen tersebut diwujudkan lewat berbagai program pembinaan kemandirian, mulai dari budidaya tanaman hidroponik hingga pelatihan pembuatan kursi sofa yang memiliki kualitas dan nilai jual tinggi. Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan Rutan Ambon terhadap program ketahanan pangan nasional sekaligus implementasi Program Aksi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas) yang menekankan pentingnya pembinaan produktif bagi warga binaan.


Di area pembinaan pertanian, warga binaan memanfaatkan lahan terbatas menjadi kebun hidroponik yang tertata rapi dan produktif. Berbagai jenis tanaman berhasil dibudidayakan dengan baik melalui perawatan rutin yang dilakukan setiap hari. Hasilnya, tanaman tumbuh subur, segar, dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pangan sehari-hari.


Program hidroponik tersebut bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, melainkan sarana pembelajaran yang membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan semangat kerja warga binaan. Di balik keterbatasan ruang, mereka mampu membuktikan bahwa produktivitas tetap dapat tumbuh melalui kemauan untuk belajar dan berubah menjadi lebih baik.


Tak hanya di sektor pertanian, kreativitas warga binaan juga terlihat melalui pelatihan pembuatan kursi sofa. Dalam program tersebut, warga binaan diajarkan secara langsung mulai dari proses penyusunan rangka, pemasangan busa, pelapisan bahan, hingga tahap akhir finishing. Hasil karya yang dibuat tampil menarik, rapi, dan memiliki kualitas yang layak bersaing di pasaran.


Kegiatan pelatihan ini sekaligus membuka peluang baru bagi warga binaan untuk memiliki keterampilan usaha setelah menyelesaikan masa pidana. Produk sofa hasil karya mereka bahkan dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk unggulan pembinaan di Rutan Ambon.


Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Rutan Ambon, Jefry Persulessy, menegaskan bahwa pembinaan kemandirian menjadi salah satu fokus utama dalam membentuk warga binaan yang siap kembali ke masyarakat dengan kemampuan dan pola pikir yang lebih baik.


“Pembinaan ini bukan hanya mengajarkan keterampilan, tetapi juga membangun mental, tanggung jawab, dan rasa percaya diri warga binaan. Kami ingin mereka memiliki bekal yang dapat digunakan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah bebas nanti,” ujarnya.


Salah satu warga binaan berinisial H.F mengaku sangat antusias mengikuti berbagai kegiatan pembinaan yang ada di dalam rutan. Menurutnya, program tersebut memberikan pengalaman baru sekaligus menumbuhkan harapan untuk memulai kehidupan yang lebih mandiri di masa depan.


“Di sini kami belajar banyak hal baru. Mulai dari merawat tanaman hidroponik sampai membuat sofa. Kegiatan ini membuat kami merasa lebih produktif dan memberi keyakinan bahwa nanti setelah bebas kami bisa membuka usaha sendiri,” ungkapnya.


Melalui pembinaan yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, Rutan Ambon terus berupaya menghadirkan perubahan positif bagi warga binaan. Tidak hanya menghasilkan karya yang bernilai, program tersebut juga menjadi ruang pembelajaran untuk membentuk pribadi yang lebih disiplin, kreatif, mandiri, dan siap kembali berkontribusi di tengah masyarakat.


Dari balik jeruji, harapan itu terus tumbuh. Semangat untuk berkarya yang ditunjukkan warga binaan menjadi bukti bahwa kesempatan untuk berubah selalu ada bagi siapa saja yang memiliki kemauan untuk bangkit dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik. (Za)

Selengkapnya

Ratusan ASN Bantah Tudingan Pungli Tukin di Kemenag SBB: Itu Kesepakatan Arisan, Bukan Pemotongan Paksa

Mei 15, 2026

Foto : Ratusan ASN Bantah Tudingan Pungli Tukin di Kemenag SBB: Itu Kesepakatan Arisan, Bukan Pemotongan Paksa

SBB
, Globaltimurnn.com - Beredarnya informasi di salah satu media online terkait dugaan pungutan liar (pungli) melalui pemotongan Tunjangan Kinerja (Tukin) ASN di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) mendapat bantahan keras dari sejumlah pegawai negeri sipil dan guru agama di wilayah tersebut.


Sejumlah ASN dan guru dari beberapa sekolah di Kabupaten SBB menegaskan bahwa informasi yang menyebut adanya pungli melalui pemotongan Tukin sebesar Rp150 ribu per bulan tidak benar dan dinilai telah menggiring opini publik secara sepihak.


Salah satu guru ASN di lingkungan Kementerian Agama SBB yang dikonfirmasi media ini melalui sambungan telepon seluler, Jumat (15/5/2026), mengatakan bahwa dana yang dimaksud bukanlah pungutan liar, melainkan hasil kesepakatan bersama yang telah berjalan sejak beberapa bulan terakhir.


“Yang terjadi itu bukan pungli seperti yang diberitakan. Itu adalah kesepakatan bersama yang sudah berlangsung beberapa bulan. Tujuannya untuk kegiatan arisan pegawai dan bukan untuk kepentingan lain,” ujarnya.


Menurutnya, keikutsertaan pegawai dalam arisan tersebut juga tidak bersifat wajib. ASN maupun PPPK yang tidak ingin bergabung tidak pernah dipaksa untuk ikut serta.


“Kalau ada guru atau pegawai yang tidak mau ikut arisan, tidak ada paksaan sama sekali. Semua berdasarkan kesepakatan dan sukarela,” tegasnya.


Ia juga menjelaskan bahwa dalam pelaksanaan arisan tersebut, nama penerima dana ditentukan melalui sistem undian, bukan ditunjuk oleh pimpinan ataupun pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP).


“Sudah ada beberapa pegawai yang namanya keluar sebagai penerima arisan dan semuanya melalui undian, bukan ditentukan oleh pimpinan ataupun ketua,” katanya.


Para ASN yang membantah tudingan tersebut menilai pemberitaan yang beredar telah menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat dan mencoreng nama baik institusi Kementerian Agama Kabupaten Seram Bagian Barat.


“Jangan karena ingin mencari sensasi lalu membuat pemberitaan yang tidak sesuai fakta. Apa yang diberitakan itu sangat tidak benar dan cenderung fitnah. 


Jangan juga memakai dalil aturan atau undang-undang untuk menggiring opini publik seolah-olah ada pelanggaran, padahal ini murni kegiatan bersama yang sudah disepakati,” ungkapnya.


Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Seram Bagian Barat, Jafar Tunny sebelumnya diberitakan ia menjelaskan bahwa adanya pengumpulan dana tersebut merupakan hasil kesepakatan internal untuk mendukung kegiatan Dharma Wanita Persatuan (DWP), termasuk kegiatan arisan dan aktivitas sosial lainnya.


Sebagaimana diketahui, Tunjangan Kinerja ASN Kementerian Agama diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 130 Tahun 2018 tentang Tunjangan Kinerja Pegawai di Lingkungan Kementerian Agama serta Peraturan Menteri Agama Nomor 11 Tahun 2019 tentang Pemberian Tunjangan Kinerja Pegawai pada Kementerian Agama.


 Dalam ketentuan tersebut, pembayaran Tukin diberikan berdasarkan capaian kinerja dan presensi pegawai sesuai kelas jabatan masing-masing ASN. Namun demikian, para pegawai menegaskan bahwa kegiatan arisan yang berlangsung di internal Kemenag SBB dilakukan atas dasar musyawarah dan persetujuan bersama serta tidak berkaitan dengan pemotongan resmi tunjangan oleh negara ataupun kebijakan institusi secara memaksa. (YL) 

Selengkapnya

Dari Sekolah Hanya 9 Siswa Hingga Jadi Harapan Baru Pendidikan Waiheru, SMP Negeri 24 Ambon Terus Berbenah

Mei 15, 2026

Foto : Dari Sekolah Hanya 9 Siswa Hingga Jadi Harapan Baru Pendidikan Waiheru, SMP Negeri 24 Ambon Terus Berbenah

Ambon
, Globaltimurnn.com – Perjalanan SMP Negeri 24 Ambon menjadi salah satu sekolah yang terus berkembang di kawasan Waiheru penuh dengan cerita perjuangan, doa, dan dukungan masyarakat.


Hal tersebut disampaikan Kepala SMP Negeri 24 Ambon, Rusdin S, Pd. MPD. saat memberikan membersihkan keterangan kepada awak media dalam pembukaan Turnamen Gawang Mini Pendukung Cup Season 3 Tahun 2026 di lingkungan sekolah, Sabtu (16/05/2026).


Rusdin mengungkapkan bahwa SMP Negeri 24 Ambon merupakan sekolah negeri termuda di Kota Ambon yang berdiri pada 27 Juli 2017. Ia menyebut proses lahirnya sekolah tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat dan Pemerintah Negeri Waiheru.


Menurutnya, ide pendirian sekolah bermula dari diskusi sederhana bersama Raja Negeri Waiheru karena saat itu wilayah tersebut belum memiliki SMP Negeri.


“Awalnya kami melihat kebutuhan masyarakat Waiheru terhadap sekolah negeri sangat besar. Dari situlah muncul gagasan untuk mendirikan SMP Negeri 24 Ambon,” ungkapnya.


Ia menjelaskan, pada tahun pertama sekolah tersebut hanya memiliki sembilan siswa yang sebagian besar merupakan anak-anak putus sekolah. Namun perlahan, jumlah peserta didik terus meningkat berkat dukungan masyarakat, pemerintah, dan kerja keras para guru.


Kini, jumlah siswa SMP Negeri 24 Ambon telah berkembang menjadi sekitar 210 orang.


Rusdin menegaskan bahwa perjalanan sekolah itu penuh tantangan, namun ia percaya sekolah tersebut dapat bertahan dan berkembang karena doa serta dukungan banyak pihak.


“Sekolah ini berdiri bukan semata karena kekuatan manusia, tetapi karena doa orang tua, perjuangan para guru, dan dukungan masyarakat,” katanya.


Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Ambon dan Dinas Pendidikan yang telah membantu pembangunan sarana sekolah, termasuk pembangunan enam ruang kelas baru pada tahun 2022 serta tambahan tiga ruang belajar pada tahun 2024.


Dalam kesempatan itu, Rusdin menegaskan bahwa Pendukung Cup bukan sekadar ajang olahraga semata, tetapi menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keberadaan SMP Negeri 24 Ambon kepada masyarakat luas.


“Kegiatan ini bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi bagaimana sekolah ini dikenal dan menjadi bagian dari perkembangan pendidikan di Waiheru,” ujarnya.


Lebih lanjut, Ia menegaskan komitmennya membangun lingkungan pendidikan yang aman dan menyenangkan bagi siswa.


Di sisi lain, Rusdin juga menyampaikan permohonan kepada pihak pemerintahan, atas sejumlah kebutuhan infrastruktur yang masih menjadi perhatian, mulai dari keterbatasan ruang kelas, akses jalan menuju sekolah, hingga penanganan longsor di sekitar area Masjid Ar-Rahman SMP Negeri 24 Ambon.


Menanggapi hal tersebut, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Ambon, Edwin Pattikawa memastikan aspirasi tersebut akan diteruskan kepada Pemerintah Kota Ambon untuk menjadi perhatian bersama.


Edwin juga menyoroti pentingnya pembentukan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah tersebut. Sebagai Ketua PMI Kota Ambon, dirinya berkomitmen mendorong pembentukan serta pembinaan PMR sebagai bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian sosial bagi siswa.


Dengan semangat pembangunan pendidikan dari wilayah Waiheru, SMP Negeri 24 Ambon kini terus menata masa depan sebagai sekolah yang tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kreativitas, dan prestasi generasi muda Kota Ambon. (Za)

Selengkapnya

Pendukung Cup Season 3 Resmi Dibuka, SMP Negeri 24 Ambon Bangun Semangat Juara dan Sportivitas Generasi Muda

Mei 15, 2026

Foto : Pendukung Cup Season 3 Resmi Dibuka, SMP Negeri 24 Ambon Bangun Semangat Juara dan Sportivitas Generasi Muda

Ambon
, Globaltimurnn.com - SMP Negeri 24 Ambon kembali menunjukkan komitmennya dalam membina generasi muda melalui dunia olahraga dengan menggelar Turnamen Gawang Mini “Pendukung Cup Season 3” Tahun 2026 yang resmi dibuka di lapangan sekolah, Sabtu (16/05/2026).


Ajang bergengsi tingkat SD/MI se-Kota Ambon itu berlangsung meriah dan penuh antusiasme. Ratusan peserta, guru pendamping, orang tua, serta masyarakat turut memadati lokasi kegiatan untuk memberikan dukungan kepada para pemain muda yang akan bertanding selama turnamen berlangsung.


Sebanyak 32 tim dari berbagai sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah ambil bagian dalam kompetisi tersebut. Kehadiran para peserta tidak hanya menjadi simbol semangat kompetisi, tetapi juga memperlihatkan tingginya antusiasme dunia pendidikan terhadap pembinaan olahraga usia dini di Kota Ambon.


Kegiatan secara resmi dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Ambon, Edwin Pattikawa yang hadir mewakili Wali Kota Ambon.

Dalam sambutannya, Edwin memberikan apresiasi kepada pihak sekolah dan seluruh panitia pelaksana yang dinilai sukses menghadirkan wadah positif bagi pengembangan bakat dan karakter anak-anak melalui olahraga.


Menurutnya, pendidikan tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik semata, tetapi juga harus mampu membentuk mental, kedisiplinan, tanggung jawab, dan jiwa sportivitas peserta didik sejak dini.


“Melalui olahraga, anak-anak belajar tentang kerja sama, menghargai aturan, menerima kemenangan maupun kekalahan dengan lapang dada, serta membangun mental yang kuat,” ujarnya.


Ia menegaskan Pemerintah Kota Ambon akan terus mendukung kegiatan-kegiatan positif yang memberikan dampak nyata bagi pembinaan generasi muda.


Sementara itu, Ketua Panitia Pendukung Cup Season 3, Jarten Latumahina menjelaskan turnamen berlangsung sejak 16 hingga 30 Mei 2026 dan menjadi salah satu ajang pembinaan sepak bola usia dini yang terus berkembang setiap tahunnya.


Menurutnya, turnamen ini bukan sekadar kompetisi untuk mencari juara, tetapi juga menjadi sarana mempererat persaudaraan antar pelajar serta menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak dalam mengembangkan potensi mereka di bidang olahraga.


“Kami berharap dari lapangan kecil ini nantinya lahir pemain-pemain muda berbakat yang dapat membawa nama Ambon dan Maluku ke tingkat yang lebih tinggi,” katanya.


Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut, mulai dari pihak sekolah, guru, orang tua siswa, sponsor, hingga para donatur.


Turnamen tersebut diketahui mendapat dukungan dari Gramedia, Telkomsel, serta berbagai elemen masyarakat dan dunia pendidikan di Kota Ambon.

Pada kesempatan yang sama, Kepala SMP Negeri 24 Ambon, Rusdin turut membagikan kisah perjalanan sekolah yang penuh perjuangan sejak awal berdiri.


Ia mengungkapkan bahwa sekolah tersebut resmi berdiri pada 27 Juli 2017 dan menjadi sekolah negeri termuda di Kota Ambon. Pada masa awal berdiri, sekolah itu hanya memiliki sembilan siswa yang sebagian besar merupakan anak-anak putus sekolah.


Namun berkat dukungan masyarakat, pemerintah, dan kerja keras para tenaga pendidik, jumlah siswa kini terus berkembang hingga mencapai sekitar 210 orang.


“Perjalanan ini tidak mudah, tetapi kami percaya pendidikan dapat mengubah masa depan anak-anak menjadi lebih baik,” ungkap Rusdin.


Ia menegaskan bahwa pihak sekolah terus berkomitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan maupun perundungan.


Menurutnya, sekolah harus menjadi tempat yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar, bertumbuh, dan mengembangkan potensi diri.


“Kami ingin setiap anak datang ke sekolah dengan rasa bahagia dan pulang membawa pengalaman yang baik,” tegasnya.


Selain fokus pada kegiatan akademik, sekolah juga aktif mendorong pengembangan bakat siswa melalui berbagai program ekstrakurikuler dan kompetisi.


Saat ini, SMP Negeri 24 Ambon tengah mempersiapkan siswa mengikuti berbagai ajang seperti Jambore Cabang Pramuka, Lomba Seni Siswa Nasional, Olimpiade Sains, hingga kompetisi tingkat kota maupun nasional.


Bahkan pihak sekolah juga sedang menjajaki kerja sama dengan program Kampung Inggris di Pare, Kediri, guna meningkatkan kemampuan bahasa asing para siswa.


Mengusung tema “Membangun Karakter Juara, Menjunjung Tinggi Sportivitas, Dari Maluku untuk Indonesia”, Pendukung Cup Season 3 diharapkan menjadi agenda tahunan yang mampu melahirkan generasi muda Ambon yang berprestasi, berkarakter, serta mampu bersaing di masa depan melalui dunia olahraga. (Za)

Selengkapnya

Tak Berhenti di Tengah Ujian: Kisah Atika Maulida Merawat Mimpi Perempuan Nusantara

Mei 15, 2026

Foto : Tak Berhenti di Tengah Ujian: Kisah Atika Maulida Merawat Mimpi Perempuan Nusantara

Yogyakarta
, Globaltimurnn.com - Di usia ketika banyak orang masih sibuk mencari arah hidup, Atika Maulida, S.Ag., M.M. justru memilih membangun ruang bagi orang lain untuk bertumbuh.


Keputusan itu diambil 12 tahun lalu, ketika ia masih seorang mahasiswi berusia 21 tahun di Yogyakarta. Dari diskusi-diskusi kecil, percakapan sederhana, dan keresahan tentang terbatasnya ruang pengembangan bagi perempuan muda, lahirlah sebuah gerakan komunitas yang kemudian dikenal sebagai Hijabie Community.


Apa yang dimulai dari semangat idealisme anak muda itu ternyata berkembang menjadi perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Atika tidak hanya menghadapi tantangan khas organisasi komunitas, seperti keterbatasan sumber daya, dinamika internal, hingga perubahan komitmen anggota, tetapi juga ujian personal yang mengubah hidupnya secara mendasar.


Namun justru dari titik-titik itulah kisah kepemimpinannya menemukan makna.


“Jogja mengajarkan saya tentang kesabaran, tapi organisasi mengajarkan saya tentang ketangguhan. Ada masa ketika saya merasa struktur yang kami bangun sedang goyah. Banyak hal terasa berat. Tapi saya selalu bertanya pada diri sendiri: kalau saya berhenti, bagaimana dengan mereka yang sudah mulai berani bermimpi karena komunitas ini?” ujar Atika (15/5/2026). 


Bagi banyak organisasi komunitas, bertahan lebih dari satu dekade adalah pencapaian tersendiri. Tidak sedikit gerakan sosial yang lahir dengan semangat besar, tetapi berhenti ketika berhadapan dengan realitas operasional, dinamika kepemimpinan, atau menurunnya energi kolektif. Atika memahami fase-fase itu bukan sebagai teori, melainkan pengalaman nyata.


Membangun komunitas dari nol berarti memulai tanpa kemewahan sistem yang mapan. Tidak ada jaminan dukungan yang konsisten, tidak ada kepastian sumber daya, dan tidak selalu ada orang yang bertahan ketika masa sulit datang. Dalam ruang-ruang seperti itulah daya tahan seorang pemimpin diuji.


Namun ujian terbesar dalam perjalanan Atika tidak datang dari organisasi. Pada usia 28 tahun, ia menghadapi perubahan besar dalam kehidupan pribadinya ketika harus menjalani peran sebagai orang tua tunggal. Di saat tanggung jawab personal bertambah besar, komitmennya terhadap ruang pemberdayaan perempuan justru tidak berhenti.


Menjalani dua peran besar sekaligus, sebagai ibu dan pemimpin komunitas, bukan perjalanan yang ringan. Ada tuntutan emosional, tekanan waktu, dan kebutuhan untuk tetap hadir dalam dua dunia yang sama-sama membutuhkan keteguhan. Alih-alih menjadikan situasi itu sebagai alasan untuk mundur, Atika justru melihatnya sebagai fase redefinisi.


“Menjadi single parent di usia 28 tahun bukan akhir dari peran publik saya. Justru itu menjadi babak baru. Saya belajar bahwa kemandirian perempuan bukan slogan kosong. Kita bisa menjadi ibu yang penuh kasih, sekaligus tetap memiliki keberanian untuk memimpin,” katanya.


Pengalaman personal itu memperluas cara pandangnya tentang pemberdayaan perempuan. Bagi Atika, pemberdayaan bukan semata-mata tentang seminar, slogan, atau kampanye simbolik. Pemberdayaan adalah tentang kemampuan seseorang untuk tetap menjaga martabat, mengambil keputusan, dan melanjutkan langkah meski hidup sedang tidak berada dalam kondisi ideal. Dalam konteks itulah perjalanan Atika menjadi relevan lebih luas.


Di tengah perubahan sosial yang bergerak cepat, tekanan ekonomi, dan tantangan kehidupan urban yang makin kompleks, banyak perempuan menghadapi tuntutan berlapis: menjaga keluarga, membangun karier, mengelola tekanan sosial, sekaligus tetap bertahan secara emosional.


Kisah seperti ini menjadi penting bukan karena menghadirkan figur yang sempurna, melainkan karena menunjukkan bahwa ketangguhan sering kali lahir dari proses yang tidak mudah.


Kini, di usia 33 tahun, Atika masih melanjutkan perjalanan yang ia mulai sejak bangku kuliah. Dua belas tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk menguji apakah sebuah idealisme benar-benar memiliki akar. Dalam rentang itu, banyak hal berubah, fase kehidupan, relasi personal, dinamika organisasi, bahkan cara masyarakat memandang gerakan komunitas. Namun satu hal yang tetap dijaga Atika adalah keyakinan bahwa perempuan membutuhkan ruang untuk tumbuh tanpa rasa takut untuk gagal.


Kepemimpinan seperti ini tidak selalu hadir dalam sorotan besar. Kadang ia justru hidup dalam kerja-kerja yang tenang, konsisten, dan berlangsung jauh dari panggung utama. Dan mungkin di situlah makna sebenarnya dari daya tahan.


Bahwa bertahan bukan soal terlihat paling kuat. Melainkan tentang tetap memilih melanjutkan langkah ketika hidup justru memberi banyak alasan untuk berhenti. (V374) 

Selengkapnya

Peringatan Hari Pattimura ke-209, Gubernur Maluku Ajak Generasi Muda Kobarkan Semangat Perjuangan untuk Indonesia Emas 2045

Mei 15, 2026

Foto : Peringatan Hari Pattimura ke-209, Gubernur Maluku Ajak Generasi Muda Kobarkan Semangat Perjuangan untuk Indonesia Emas 2045

Saparua
, Globaltimurnn.com - Pemerintah Provinsi Maluku menggelar Upacara Peringatan Hari Pattimura ke-209 Tahun 2026 di Lapangan Merdeka, Saparua, Kabupaten Maluku Tengah. Upacara dipimpin langsung oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, selaku Upu Latu Maluku. Jumat (15/5/2026).


Dalam sambutannya, Lewerissa menegaskan bahwa peringatan Hari Pattimura bukan sekadar mengenang sejarah perjuangan Kapitan Pattimura, tetapi menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat perjuangan dalam menghadapi tantangan masa kini.


“Hari ini kita tidak hanya berdiri di atas tanah para raja, tetapi di atas darah, keringat, dan air mata para pejuang. Semangat Pattimura harus terus menyala di dada setiap anak Maluku,” ujar Hendrik Lewerissa.


Lewerissa mengingatkan pesan perjuangan Kapitan Pattimura yang menyatakan bahwa “Pattimura tua boleh dihancurkan, tetapi Pattimura-Pattimura muda akan bangkit”. Menurutnya, semangat tersebut harus diwujudkan dalam kerja nyata membangun daerah dan bangsa.


Dirinya menekankan bahwa perjuangan masa kini tidak lagi melawan penjajahan fisik, melainkan melawan kemiskinan, ketimpangan pembangunan, keterbelakangan teknologi, dan berbagai ancaman terhadap persatuan bangsa.


Mengusung tema “Teladani Perjuangan Pattimura, Wujudkan Maluku yang Gemilang Menuju Indonesia Emas 2045”, Lewerissa mengajak seluruh masyarakat Maluku untuk memperkuat persatuan, berinovasi, serta mengelola potensi sumber daya alam secara optimal demi kesejahteraan rakyat.


Menurutnya, Maluku harus mampu tampil sebagai kekuatan pembangunan di kawasan timur Indonesia dengan sumber daya manusia yang unggul, ekonomi kelautan dan perikanan yang kuat, serta persaudaraan yang kokoh.


Kepada generasi muda, Lewerissa menyampaikan pesan agar menjadi “Pattimura-Pattimura muda masa kini” dengan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki daya saing global, namun tetap menjaga nilai budaya, Pela Gandong, dan semangat Siwalima sebagai identitas masyarakat Maluku.


Pada upacara itu dilakukan prosesi  penyerahan  Obor Pattimura oleh Upulatu Maluku Tengah kepada Upulatu Maluku serta dilanjutkan peletakan bunga oleh Upulatu Maluku, Bupati Maluku Tengah, dan Ahli Waris, 


Upacara tersebut dihadiri, Perwakilan Forkopimda Provinsi Maluku, Ketua TP PKK Provinsi Maluku, Anggota DPRD Provinsi Maluku, Sekda Maluku, Bupati Maluku Tengah, Perwakilan Forkopimda Kabupaten Maluku Tengah, Anggota DPRD Kabupaten Maluku Tengah, Staf Ahli Gubernur, Asisten Sekda dan Pimpinan OPD Lingkup Pemerintah Provinsi Maluku, Pimpinan OPD Lingkup Kabupaten Maluku Tengah, Camat Saparua dan Saparua Timur, Kapolsek Saparua dan jajaran, Danramil Saparua dan jajaran, beserta seluruh Raja dan Perangkat Saniri Negeri, Babinsa dan Bhabinkamtibmas se-Pulau Saparua, Tokoh Agama, Tokoh Perempuan, Tokoh Pemuda, Guru dan Anak Sekolah se-Pulau Saparua, Ahli Waris Keluarga Pahlawan Nasional Pattimura, insan pers media cetak dan elektronik. (Rdks) 

Selengkapnya

Kobarkan Semangat Pattimura, Kadister Kodaeral IX Hadiri Upacara Peringatan Hari Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-209

Mei 15, 2026

Foto : Kobarkan Semangat Pattimura, Kadister Kodaeral IX Hadiri Upacara Peringatan Hari Pahlawan Nasional Kapitan Pattimura ke-209

Saparua
, Globaltimurnn.com - Dalam semangat kepahlawanan yang terus menyala di bumi Maluku, Kadister Kodaeral IX, Kolonel Laut (KH) Franky J. Akihary mewakili Komandan Kodaeral IX, Laksda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., menghadiri Upacara Peringatan Hari Pahlawan Nasional Pattimura ke-209 di Lapangan Negeri Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Jumat (15/5/2026).


Upacara bersejarah tersebut dipimpin langsung oleh Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa yang bertindak sebagai Upu Latu Upacara di hadapan unsur Forkopimda, tokoh adat, tokoh masyarakat, pelajar serta masyarakat Negeri Saparua yang memadati lapangan upacara.


Peringatan Hari Pahlawan Pattimura ke-209 menjadi momentum penting untuk mengenang perjuangan Kapitan Pattimura bersama rakyat Maluku dalam melawan penjajahan demi mempertahankan harkat dan martabat bangsa.


Mengusung tema “Teladani Perjuangan Pattimura Wujudkan Maluku yang Gemilang Menuju Indonesia Emas 2045”, Gubernur Maluku menegaskan bahwa peringatan 15 Mei tidak boleh berhenti pada seremoni semata.


Nuansa patriotisme begitu terasa saat seluruh peserta upacara memberikan penghormatan kepada jasa para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.


Dalam prosesi yang sarat makna tersebut, Upu Latu Upacara juga menyalakan Obor Pattimura sebagai simbol kobaran semangat perjuangan, persatuan, dan keberanian rakyat Maluku yang tidak pernah padam sepanjang masa. 


Nyala obor itu menjadi representasi warisan nilai-nilai kepahlawanan Pattimura yang terus hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus bangsa, khususnya dalam menjaga persatuan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


Kehadiran Kadister Kodaeral IX Kolonel Laut (KH) Franky J. Akihary mencerminkan komitmen TNI Angkatan Laut khususnya Kodaeral IX dalam menghormati jasa para pahlawan sekaligus memperkuat semangat nasionalisme dan kecintaan terhadap tanah air di tengah masyarakat Maluku.


Melalui peringatan Hari Pahlawan Pattimura ke-209 ini diharapkan seluruh komponen bangsa dapat terus meneladani semangat juang, keberanian, dan pengorbanan Kapitan Pattimura dalam menjaga persatuan bangsa serta mengisi kemerdekaan dengan karya dan pengabdian terbaik bagi Indonesia. (Rdks) 

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT