globaltimurnn.com



Minggu, 16 Agustus 2026

Tak Hanya Muslim, Pengunjung Kagum DUDU BACARITA Deng Habib’s Hadirkan Ruang untuk Semua

Agustus 16, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com – Suasana hangat dan penuh makna terasa dalam kegiatan DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 bertajuk “Catatan Hati Anak yang Runtuh”. Bukan hanya menghadirkan tausiah dan ruang refleksi, kegiatan tersebut juga dinilai mampu mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang dalam suasana yang penuh kedamaian.


Salah satu pengunjung yang enggan menyebutkan namanya mengaku bersyukur dapat hadir dan mengikuti kegiatan yang menghadirkan Ustadz Fatih Karim bersama Habib Rifqi Alhamid tersebut.


Baginya, kegiatan itu memiliki keistimewaan tersendiri. Salah satunya karena peserta yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan Muslim, tetapi juga terdapat masyarakat non-Muslim yang turut menikmati suasana dan rangkaian kegiatan.


“Yang saya lihat dari kegiatan seperti ini, yang istimewanya adalah yang hadir di sini bukan hanya Muslim, tetapi non-Muslim juga. Itu yang membuat saya terkagum-kagum,” ujarnya.


Menurutnya, keberagaman yang terlihat dalam kegiatan tersebut menjadi sesuatu yang menarik. Di tengah kehidupan masyarakat yang beragam, sebuah kegiatan yang mampu menghadirkan ruang kebersamaan dinilai memiliki nilai tersendiri.


Ia pun berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar di Ambon. Menurutnya, masyarakat membutuhkan lebih banyak ruang untuk mendapatkan inspirasi, memperkuat karakter, sekaligus melakukan refleksi terhadap kehidupan.


“Harapan saya, kegiatan-kegiatan seperti ini nantinya bisa diadakan lagi,” katanya.


Selain mengapresiasi konsep kegiatan, pengunjung tersebut juga menilai harga voucher masuk yang diberlakukan masih tergolong terjangkau.


Namun, baginya, persoalan harga bukanlah hal utama. Kesempatan untuk hadir secara langsung dan mendapatkan pengalaman dari kegiatan tersebut jauh lebih berharga.


“Menurut saya, harga voucher masuk segitu masih terlalu minim. Tapi bagi saya, harga berapa pun itu tidak terlalu penting. Yang penting adalah kesempatan bisa hadir di kegiatan seperti ini,” ungkapnya.


Ia mengaku memiliki kekaguman tersendiri terhadap Ustadz Fatih Karim dan istrinya. Selama ini, ia hanya mengenal dan mengikuti aktivitas mereka melalui media sosial. Karena itu, kesempatan bertemu dan menyaksikan secara langsung menjadi pengalaman yang sangat berkesan.


“Saya sangat fans dengan Ustadz Fatih Karim bersama istri. Selama ini hanya melihat melalui media sosial, dan di kesempatan ini bisa melihat langsung,” tuturnya.


Lebih jauh, ia mengaku tema yang diangkat dalam DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 sangat menyentuh dirinya.


Tema “Catatan Hati Anak yang Runtuh” dinilai begitu dekat dengan realitas kehidupan saat ini, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi persoalan, memiliki luka batin, atau tengah berusaha bangkit dari berbagai pengalaman hidup.


“Terus terang, saya sangat bersyukur bisa mengikuti salah satu episode yang dilakukan oleh Ustadz Fatih Karim dan Habib Rifqi. Apalagi ditambah dengan temanya yang sangat luar biasa,” ujarnya.


Menurutnya, tema tersebut seolah menggambarkan kondisi yang benar-benar terjadi di tengah masyarakat.


“Catatan Hati Anak yang Runtuh seakan-akan sesuai dengan realita yang sedang terjadi saat ini. Menurut saya, memang benar-benar dibutuhkan untuk orang-orang yang sebenarnya punya luka dan ingin sembuh. Itu yang sangat menyentuh bagi saya,” katanya.


Ia menilai, kajian seperti ini tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk seseorang berhenti sejenak, melihat kembali dirinya, dan menemukan dorongan untuk memperbaiki kehidupan.


Baginya, pesan-pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut dapat menjadi bekal bagi generasi muda maupun masyarakat untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan dengan cara berpikir yang lebih positif.


Ia pun berharap kegiatan serupa dapat kembali hadir dengan tema-tema yang relevan dan menyentuh persoalan masyarakat.


“Saya berharap ke depannya bisa mengikuti kembali kajian-kajian seperti ini, dengan tema-tema luar biasa yang bisa membangun kepribadian pemuda ataupun pemudi, masyarakat, untuk berpikir lebih baik lagi dan bisa membangun diri sendiri,” harapnya.


Bagi pengunjung tersebut, DUDU BACARITA Deng Habib’s bukan sekadar sebuah kegiatan atau kajian. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk bertemu, belajar, merenung, dan menemukan kembali harapan.


Di tengah kehidupan yang terkadang membuat seseorang merasa lelah dan terluka, pesan-pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi pengingat bahwa setiap luka selalu memiliki jalan untuk disembuhkan, dan setiap hati yang pernah runtuh masih memiliki kesempatan untuk kembali bangkit. (Za)

Selengkapnya

Ustadz Fatih Karim Ajak Generasi Muda Maluku Dekat dengan Al-Qur’an melalui Program Indonesia Bisa Baca Al-Qur’an

Agustus 16, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, semangat membangun generasi yang berilmu, berkarakter, dan dekat dengan nilai-nilai agama terus digaungkan di Maluku.


Salah satunya melalui program “Indonesia Bisa Baca Al-Qur’an”, sebuah gerakan yang menghadirkan edukasi membaca Al-Qur’an secara gratis bagi masyarakat.


Program tersebut merupakan kolaborasi antara Yayasan Bisa Baca Quran, Yayasan Majelis Ar-Rahman, dan Cinta Quran Foundation, yang dilaksanakan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia.


Kehadiran program ini juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang menghadirkan Ustadz Fatih Karim di Ambon. Dalam kesempatan mengikuti kegiatan DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 yang mengangkat tema “Catatan Hati Anak yang Runtuh”, Ustadz Fatih turut menyampaikan perhatian serius terhadap kemampuan membaca Al-Qur’an di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.


Menurutnya, persoalan kemampuan membaca Al-Qur’an masih menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan perhatian bersama. Terlebih, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia.


“Indonesia adalah Muslim terbesar di dunia. Tetapi 72 persen, menurut Dewan Masjid Indonesia, umat Islam tidak bisa baca Al-Qur’an,” ujar Ustadz Fatih Karim.


Ia mengaku prihatin dengan kondisi tersebut. Sebab, Al-Qur’an bukan sekadar kitab suci yang dibaca, tetapi menjadi petunjuk dan pedoman bagi umat Islam dalam menjalani kehidupan.


“Tentu kita sedih. Karena Al-Qur’an itu kan petunjuk jalan, Al-Qur’an itu kan penyelamat. Tetapi ternyata umat Islam yang harusnya bisa membaca kitab sucinya, 72 persen tidak bisa baca Al-Qur’an,” katanya.


Berangkat dari persoalan tersebut, program Indonesia Bisa Baca Al-Qur’an hadir dengan pendekatan pembelajaran yang sederhana dan mudah dipahami masyarakat.


Ustadz Fatih menjelaskan, pihaknya memiliki metode belajar membaca Al-Qur’an yang dirancang agar masyarakat dapat belajar dengan lebih cepat dan mudah. Bahkan, program tersebut diberikan secara cuma-cuma kepada masyarakat.


“Jadi kami punya metode super cepat, super mudah. Kami mengajak mereka untuk belajar dan gratis, tidak dipungut biaya. Alhamdulillah, hanya enam jam,” jelasnya.


Ia menyebutkan, metode tersebut telah membantu lebih dari 350 ribu orang untuk mengenal huruf dan membaca Al-Qur’an.


“Metode ini sudah membantu lebih dari 350 ribu orang ditaksara Al-Qur’an, jadi bisa baca Al-Qur’an,” ungkapnya.


Bagi Ustadz Fatih, kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan langkah awal untuk membangun kedekatan generasi muda dengan kitab suci. Sebab, kecintaan terhadap Al-Qur’an tidak akan tumbuh tanpa adanya kemauan untuk terlebih dahulu mengenal dan membacanya.


Ia pun berharap generasi muda Maluku, khususnya di Ambon, tidak berhenti hanya pada kemampuan membaca Al-Qur’an. Lebih jauh, nilai-nilai yang terkandung di dalamnya diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.


“Betul, mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an itu dimulai dari mulai mau membacanya. Jadi mulai dari membaca, mengamalkan, menghafalkan,” tuturnya.


Menurutnya, ketika generasi muda mulai dekat dengan Al-Qur’an, maka akan terbuka jalan untuk membentuk pribadi yang memiliki akhlak, keteguhan iman, dan kepedulian terhadap sesama.


“Insya Allah generasi muda dari Ambon, insya Allah akan jadi generasi yang hebat dan saleh,” pungkasnya.


Melalui program Indonesia Bisa Baca Al-Qur’an, pesan yang ingin dibangun bukan sekadar mengajak masyarakat mampu membaca kitab suci, tetapi juga menjadikan Al-Qur’an sebagai bagian dari perjalanan hidup.


Sebab, membaca adalah langkah pertama, mencintai adalah prosesnya, dan mengamalkan adalah tujuan akhirnya. Dengan semangat tersebut, generasi muda Maluku diharapkan dapat tumbuh bukan hanya sebagai generasi yang cerdas menghadapi perubahan zaman, tetapi juga memiliki iman, akhlak, dan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai kompas dalam kehidupannya. (Za)

Selengkapnya

Ustadz Fatih Karim Bagikan Kisah Hidup, Tekankan Peran Generasi Muda untuk Masa Depan Maluku

Agustus 16, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com – Kisah kehidupan yang penuh luka hingga menemukan titik balik melalui Al-Qur’an menjadi pesan utama yang disampaikan Ustadz Fatih Karim dalam kegiatan DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 bertajuk “Catatan Hati Anak yang Runtuh”.


Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu malam, 15 Agustus 2026, di Ballroom Hotel Santika Premiere, kawasan Batu Merah, Kota Ambon, tersebut menghadirkan Ustadz Fatih Karim bersama istrinya, Ummu Sajja, sebagai bintang tamu.


Turut hadir dalam kegiatan tersebut Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., sementara suasana acara turut dimeriahkan Syauqi Alaydrus dan Gahwa Band. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Ambon, Hotel Santika Premiere, serta sejumlah pihak dan sponsor lainnya.


Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Fatih Karim membagikan kisah perjalanan hidupnya kepada ratusan peserta yang hadir. Ia menceritakan bagaimana dirinya tumbuh dalam keluarga yang mengalami persoalan rumah tangga hingga harus menjalani masa kecil dan pendidikan tanpa dapat merasakan kehidupan bersama kedua orang tuanya secara utuh.


Pengalaman tersebut meninggalkan luka mendalam dalam perjalanan hidupnya. Namun, menurut Fatih, luka masa lalu bukan alasan untuk menyerah. Justru dari berbagai pengalaman tersebut, dirinya belajar memahami kehidupan, memaknai keluarga, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.


Fatih kemudian melanjutkan pendidikan hingga menyelesaikan D3 Agribisnis di Universitas Padjadjaran dan S1 Agribisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB).


Titik balik kehidupannya mulai terjadi ketika ia mengenal kajian Islam dan semakin mendalami Al-Qur’an saat masih menjadi mahasiswa. Ia mulai mempelajari bahasa Arab, tafsir dan berbagai ilmu keislaman hingga kemudian menemukan makna baru dalam perjalanan hidupnya.


Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Fatih kemudian aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan pendidikan, dengan semangat mengajak masyarakat untuk mengenal dan mencintai Al-Qur’an.


“Dari luka itulah kemudian saya bahagia. Saya tumbuh dari luka, saya tumbuh dari air mata, dan itu tidak menjadi alasan buat saya,” ungkapnya.


Selain kisah masa kecil, Fatih juga menceritakan perjalanan rumah tangganya bersama Ummu Sajja. Ia mengakui bahwa membangun rumah tangga juga tidak selalu mudah. Luka masa lalu dan berbagai persoalan sempat menjadi tantangan yang harus mereka hadapi bersama.


Namun, melalui proses saling memahami, menerima dan memaafkan, keduanya mampu melewati berbagai ujian tersebut.


Menurut Fatih, setiap manusia memiliki luka dan cerita masing-masing. Ada yang terluka karena orang tua, keluarga, pasangan maupun persoalan kehidupan lainnya.


Karena itu, ia mengajak setiap orang untuk tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk berhenti melangkah.


Fatih juga menceritakan berbagai kegiatan sosial dan pembangunan masjid yang dilakukannya di sejumlah negara. Baginya, berbagai aktivitas tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk memberikan manfaat kepada sesama sekaligus menjadi bentuk baktinya kepada kedua orang tua.


Setelah membagikan kisah perjalanan hidupnya, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi cerita dan tanya jawab bersama para peserta.


Sejumlah peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan sekaligus menceritakan pengalaman pribadi, keresahan, maupun persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan.


Ustadz Fatih Karim bersama Ummu Sajja pun secara bergantian memberikan jawaban, nasihat dan motivasi kepada para peserta.


Suasana Ballroom Hotel Santika semakin hangat ketika sejumlah cerita peserta disampaikan dengan penuh keterbukaan. Ada suasana haru, namun juga diwarnai canda dan kebahagiaan, sehingga kegiatan terasa lebih dekat dan penuh kekeluargaan.


Bagi peserta, sesi tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk mendengarkan kisah inspiratif, tetapi juga menjadi ruang untuk mendapatkan penguatan dan motivasi.


Ustadz Fatih dan Ummu Sajja mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan luka masing-masing. Namun, luka tidak harus menjadi akhir dari kehidupan.


Dengan mendekatkan diri kepada Allah, terus belajar dan berusaha memperbaiki diri, pengalaman pahit dapat menjadi kekuatan untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.


Antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda Ambon, juga mendapat perhatian khusus dari Ustadz Fatih Karim.


Ia mengaku terkejut melihat jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Awalnya, ia memperkirakan acara hanya akan diikuti sekitar 100 hingga 200 orang. Namun, ternyata jumlah peserta yang hadir mencapai lebih dari 500 orang.


Menurutnya, tingginya antusiasme anak muda dalam mengikuti kegiatan keagamaan merupakan tanda positif bagi masa depan sebuah daerah.


“Standar sebuah daerah itu akan bangkit dimulai dari anak muda. Kalau anak mudanya sudah ikut kajian, berarti daerah itu punya ciri-ciri untuk menjadi daerah yang berkah dan berubah,” katanya.


Ia menilai, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan positif menjadi modal penting bagi kemajuan Ambon dan Maluku ke depan.


Secara khusus, Ustadz Fatih Karim berpesan kepada generasi muda Maluku agar tidak berhenti belajar dan tidak cepat merasa paling pintar.


Ia mendorong anak muda untuk terus mengembangkan kreativitas, melakukan improvisasi, serta memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perkembangan zaman.


Menurutnya, masa depan Maluku, Indonesia dan umat Islam sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.


“Bagaimana Maluku ke depan, bagaimana Indonesia ke depan, bagaimana umat Islam ke depan, itu bergantung anak mudanya. Kalau anak mudanya hebat, kalau anak mudanya kuat, kalau anak mudanya sehat, insya Allah generasi-generasi hebat akan muncul dari Ambon,” tegasnya.


Ia pun mengajak generasi muda Ambon dan Maluku untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dengan terus menambah ilmu, menggali potensi diri dan berani menciptakan sesuatu yang positif.


“Terus belajar, jangan pernah merasa pintar, terus improvisasi, banyak kreativitas yang digali, dan terus berpikir kritis. Insya Allah Ambon, Maluku akan tumbuh menjadi masa depan yang cerah karena anak mudanya hebat,” pungkasnya.


Rangkaian DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 pun berlangsung dalam suasana penuh kehangatan hingga akhir acara. Kehadiran Ustadz Fatih Karim dan Ummu Sajja meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta, terutama generasi muda Ambon yang pulang membawa pesan bahwa luka bukan alasan untuk menyerah, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh dan memberikan manfaat bagi sesama. (Za)

Selengkapnya

Sabtu, 15 Agustus 2026

Wawali Ambon: Generasi Muda Harus Punya Kompas Iman Hadapi Cepatnya Perubahan Zaman

Agustus 15, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com – Perkembangan teknologi dan perubahan pola pergaulan yang semakin cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Karena itu, penguatan iman, ilmu, dan karakter dinilai menjadi bekal penting agar anak-anak muda tidak kehilangan arah dalam menghadapi perkembangan zaman.


Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Ambon, Elly Toisutta, S.Sos., saat menghadiri kegiatan “Duduk Bacarita dengan Habib” episode 6 bertajuk “Catatan Hati Anak yang Runtuh”, yang digelar di Ballroom Hotel Santika Ambon, Sabtu malam (15/08/2026).


Elly mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang menghadirkan ruang dialog keagamaan secara lebih dekat dan terbuka bagi masyarakat. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi semakin penting karena sebagian besar peserta yang hadir merupakan kalangan anak muda.


“Atas nama Pemerintah Daerah Kota Ambon dan pribadi, tentunya kami memberikan apresiasi. Saya lihat yang hadir lebih banyak anak muda. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan anak muda terhadap kajian-kajian Islam juga sangat penting,” ujar Elly.


Menurutnya, kehadiran para tokoh agama dan pendakwah dalam kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus menjawab berbagai persoalan yang mereka hadapi.


Ia menilai tema “Catatan Hati Anak yang Runtuh” juga memiliki keterkaitan kuat dengan realitas kehidupan anak muda saat ini. Melalui konsep Duduk Bacarita, masyarakat diajak untuk membangun komunikasi secara lebih dekat, tidak sekadar dalam suasana formal, tetapi melalui percakapan dari hati ke hati.


“Kalau orang Ambon bilang, kita duduk bersama-sama dan bercerita dari hati ke hati. Tidak ada pimpinan dengan bawahan, tidak ada bos dengan anak buah. Kita duduk dan bercerita bersama,” ungkapnya.


Elly mengatakan, pola komunikasi seperti itu penting untuk menciptakan ruang yang nyaman bagi anak muda dalam menyampaikan persoalan, keresahan maupun pengalaman yang mereka alami.


Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi yang begitu pesat harus diimbangi dengan penguatan mental dan spiritual. Teknologi, menurutnya, membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan yang tidak sedikit.


“Perkembangan zaman begitu cepat, teknologi juga begitu cepat, dan pergaulan bebas cukup banyak. Karena itu, anak-anak muda perlu dibekali dengan ilmu dan kekuatan iman,” katanya.


Elly menegaskan, ilmu dan iman dapat menjadi pegangan bagi generasi muda dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.


“Dalam melangkah, mereka harus punya kompas secara pribadi. Ilmu juga bisa menjaga mereka dari perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan,” tambahnya.


Ia pun berharap kegiatan keagamaan yang melibatkan generasi muda dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Kota Ambon. Menurutnya, pembinaan generasi muda bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan bersama antara orang tua, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat.


“Kita selaku orang tua, ustaz dan tokoh-tokoh agama punya tanggung jawab bersama untuk melihat perkembangan generasi muda kita ke depan,” jelas Elly.


Dalam kesempatan tersebut, Elly juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Ustaz Fatih Karim, Habib Rifqi Alhamid serta seluruh pihak yang telah menggagas dan melaksanakan kegiatan tersebut di Kota Ambon.


Ia berharap berbagai program dan kegiatan yang diberikan kepada masyarakat dapat terus memberikan manfaat, khususnya dalam membangun kehidupan sosial dan spiritual generasi muda.


“Terima kasih atas kedatangan dan seluruh program yang sudah dibagikan bersama warga masyarakat Kota Ambon. Kami tentunya tidak bisa membalas semua yang dilakukan. Harapan kita, semua yang dilakukan ini hanya mengharapkan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.


Elly menutup sambutannya dengan harapan agar kegiatan Duduk Bacarita dengan Habib dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun generasi muda Kota Ambon yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki iman, ilmu, dan karakter yang kuat.


Dengan demikian, kemajuan zaman dapat dihadapi bukan sekadar dengan kecanggihan teknologi, melainkan juga dengan fondasi moral dan spiritual yang kokoh. (Zo)

Selengkapnya

SMTPI Jemaat GPM Kamarian Menggelar Kegiatan Sentuhan Merah Putih

Agustus 15, 2026


Kamarian
, globaltimurnn.com - Semangat Nasionalisme Mewarnai Suasana Di jemaat GPM Kamarian Dalam Memperingati Hari Kemerdekaan Repoblik Indonesia Yang Jatuh pada Besok Senin 17 Agustus 2026 Dengan Indonesia Berusia 81 Tahun. 


Hari Ini Anak-anak Sekolah Minggu Tunas Pekabaran Injil SMTPI Menggelar Kegiatan Bertajuk Sentuhan Merah Putih Kegiatan Ini Merupakan Partisipasi Anak-anak Dalam Memperingati Hari Ulang Tahun HUT Kemerdekaan Repoblik Indonesia Ke 81 Tahun. 


Suasana Meriah Merayakan Dalam Gedung Gereja Karmel Jemaat GPM Kamarian Dengan Kostum Merah Putih Tampil Penuh Antusias Dalam Lagu Yang Di Bawahkan Dalam Sukacita Bersama Oleh Anak-Anak SMPTI Jemaat GPM Kamarian. 


Setiap Bendera Merah Putih Yang Juga Ikut Di Angkat Dan Juga Lagu-Lagu Kebangsaan Yang juga Di Putarkan Dalam Ibada Sentuhan Merah Putih Saat Ini. 


Setiap Ibu Pengasuh Dan Juga Anak-anak SMTPI Ikut Dalam Kegembiraan Dalam Menyongsong HUT Kemerdekaan Repoblik Indonesia Ke 81 Tahun Saat Ini. 


Ibadah Yang Berlansung Dalam Sykukuran Saat Ini Yang Iayani Oleh Pendeta Ibu Elka Amanupunyo Telusa S.Si Dalam Hotnya Amanupunyo Menyampaikan Semarak Kemerdekaan Yang Di Rasakan Oleh Kita Sebagai Bangsa Dan Warga Negara Yang Mencintai Negara dan Bangsa. 


Amanupunyo mengajak marilah Kita Sebagai Anak- Anak Penerus Bangsa Ini Selalu mencintai Dan Akang selalu Menghargai Bangsa Indonesia Yang Kita Cinta Bersama Ini. 


Setiap anak-anak Dengan Semangat Sekali Dalam Membawahkan Setiap lagu Pujian Kebangsaan Dalam Momentum Sentuhan Merah Putih Saat Ini. (Ogen) 

Selengkapnya

Sambut Dirgahayu RI Ke-81, SD Kristen Nuruwe Gelar Lomba Baris

Agustus 15, 2026


Nuruwe
, globaltimurnn.com - Menyambut Dirgahayu Repoblik Indonesia ke-81 tahun, tepatnya pada tanggal 17 agustus 2026, di seluruh Indonesia semua masyarakat Indonesia, lembaga pendidikan, instansi pemerintah, intansi terkait lain-nya, bahkan lembaga - lembaga sosial lain-nya ikut merayakan Dirgahayu RI ke-81 tahun, dengan berbagai kegiatan lomba. 


Tidak ketinggalan SD Kristen Nuruwe juga turut memeriahkan Dirgahayu RI ke-81 dengan melaksanakan kegiatan kepramukaan dan dilanjutkan dengan lomba baris. 


Pantauan media ini, sore tadi sekitar pukul 15 : 00 Wit, dari mulai siswa kelas 1 hingga siswa kelas 6 SD Kristen Nuruwe berpartisipasi dengan begitu antusias-nya mengikuti kegiatan lomba baris menyongsong HUT RI ke-81. 


Lomba baris yang diprakarsai Kepala SD Kristen Nuruwe ini, dilepas secara lansung juga oleh Kepala Sekolah SD Kristen Nuruwe Naomi. F. Mairissa. 


Antusias warga Desa Nuruwe untuk menonton kegiatan tersebut juga terlihat sangat memadati depan jalan pada garis star. 


Satu harapan Kepala sekolah bahwa" Lomba ini selain menyongsong HUT RI ke-81, namun juga menjadi motifasi para siswa untuk cerdas dan berani sebagai siswa dalam menerima ilmu pengetahuan serta bisa menjadi pemimpin masa depan yang baik. (OP) 


Selengkapnya

Jaga Kesehatan Pegawai dan Warga Binaan, Lapas Dobo Gelar Pemeriksaan Gratis dan Skrining TBC

Agustus 15, 2026


Dobo
, Globaltimurnn.com – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Dobo bersama Puskesmas Dobo menghadirkan aksi nyata di bidang kesehatan dengan menggelar pemeriksaan kesehatan gratis bagi pegawai dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), Sabtu (15/08/2026). 


Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Lapas Dobo dalam meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kesehatan sekaligus memastikan kondisi kesehatan pegawai dan warga binaan dapat terpantau secara berkala.


Tak hanya pemeriksaan kesehatan umum, kegiatan ini juga dirangkaikan dengan skrining Tuberkulosis (TBC). Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk deteksi dini terhadap penyakit menular yang berpotensi menyebar di lingkungan pemasyarakatan.


Pemeriksaan kesehatan menjadi semakin penting mengingat lingkungan Lapas merupakan tempat dengan aktivitas dan interaksi yang cukup intensif. Melalui skrining secara berkala, potensi gangguan kesehatan maupun penyakit menular diharapkan dapat diketahui lebih awal sehingga penanganan dapat dilakukan dengan tepat.


Pelaksanaan kegiatan melibatkan tenaga kesehatan dari Puskesmas Dobo. Selain itu, sejumlah peserta magang yang sedang menjalankan tugas di Lapas Dobo turut membantu kelancaran kegiatan, mulai dari pendataan hingga mendampingi warga binaan selama proses pemeriksaan berlangsung.


Kepala Lapas Kelas III Dobo, Pieter Jan Lessy, mengatakan pemeriksaan kesehatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus langkah preventif untuk menjaga kesehatan seluruh pegawai dan warga binaan.


Menurutnya, pemeriksaan secara rutin memiliki peran penting dalam mengetahui kondisi kesehatan sejak dini, terutama terhadap penyakit yang membutuhkan perhatian khusus seperti TBC.


“Kegiatan ini merupakan langkah nyata untuk memastikan kesehatan pegawai dan warga binaan tetap terjaga. Pemeriksaan secara berkala sangat penting sebagai upaya deteksi dini terhadap berbagai penyakit, khususnya penyakit menular seperti TBC,” ujarnya.


Pieter berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Dengan demikian, kondisi kesehatan pegawai maupun warga binaan dapat terus dipantau dan berbagai potensi penyakit dapat diantisipasi sejak awal.


Lebih dari sekadar rangkaian kegiatan memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI, pemeriksaan kesehatan gratis tersebut menjadi bentuk pelayanan pemasyarakatan yang mengedepankan sisi kemanusiaan.


Lapas Dobo menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan dan pembinaan yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan kepribadian dan keterampilan, tetapi juga memperhatikan kesehatan serta kesejahteraan warga binaan dan seluruh pegawai.


Melalui kolaborasi bersama Puskesmas Dobo, momentum kemerdekaan tahun ini pun diisi dengan kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi warga pemasyarakatan, sekaligus mendorong terciptanya lingkungan Lapas yang lebih sehat dan peduli terhadap kesehatan. (Za)

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT