Hukuanakota, Globaltimurnn.com - Di bawah terik matahari yang membakar dan langit yang tak menentu, sekelompok pria dengan otot-otot yang menegang memikul sebuah beban.
Bukan beban kayu, bukan beban hasil bumi, melainkan nyawa seorang saudara mereka.
Mereka berjalan, Langkah demi langkah, Melewati jalan yang hancur lebur, melewati lumpur yang seolah ingin menelan mereka bulat-bulat.
Ini bukan karnaval, ini bukan tradisi, Ini adalah darurat, Ini adalah teriakan bisu masyarakat yang dipaksa berjalan kaki karena infrastruktur yang dijanjikan hanyalah fatamorgana.
Wahai para anggota DPD, DPRD, baik Kabupaten, Provinsi, maupun Nasional, Dulu, saat musim kampanye, mulut kalian manis sekali, Kalian datang dengan senyum, berjanji bahwa infrastruktur dan kesejahteraan adalah prioritas.
Kalian berjanji jalan akan mulus, hidup akan makmur, Tapi lihatlah sekarang! Di mana kalian saat rakyat kalian harus menggotong orang sakit di atas jalan setapak yang rusak ini?
Janji-janji kalian itu ternyata hanya "mimpi di siang bolong". Hangat di telinga, namun lenyap tak berbekas saat matahari realitas menyengat kulit kami.
Setelah kursi kekuasaan kalian duduki, kalian lupa bahwa di pegunungan Inamosol ini, ada rakyat yang terlantar.
Jalan yang rusak ini adalah monumen pengkhianatan kalian, Dan untuk pemimpin daerah kami, Bupati yang terhormat, Kami bertanya, apakah jarak dari kantor Bupati yang nyaman ke Desa Hukuanakota ini terlalu jauh untuk kaki anda melangkah? Atau jangan-jangan, jarak itu terlalu jauh untuk hati anda menjangkau? Ungkap salah satu tokoh masyarakat Desa Hukuanakota Hans Soriale dalam postingan Facebook-nya sejak 29 Juni 2026 lalu
Dikatakan-nya" Sejak terpilih, kami menunggu, Kami menanti setidaknya satu kali kunjungan, satu kali sapaan, satu kali perhatian bahwa kami ini masih ada, masih bernapas, dan masih menjadi bagian dari Seram Bagian Barat, Tapi nihil, Kami seperti anak tiri di tanah sendiri. Jelasnya
Jangankan membangun jalan mulus, menjenguk kami yang sakit di pegunungan pun anda tak sudi.
Foto terakhir menunjukkan seorang bapak yang akhirnya bisa duduk di dalam mobil, dengan infus masih menancap di tangannya.
Dia selamat sampai di kendaraan, tapi berapa banyak energi, air mata, dan penderitaan yang harus ditumpahkan sebelum momen itu tiba.
Masyarakat Hukuanakota tidak meminta istana, Kami hanya meminta jalan agar saat sakit, kami bisa digendong oleh ambulans, bukan oleh punggung saudara kami yang juga lelah.
Kami meminta agar infrastruktur bukan sekadar angka di laporan anggaran, tapi nyata di bawah kaki kami.
Jika hati nurani kalian masih tersisa, lihatlah foto ini, Biarkan rasa malu menyelinap ke dalam dada kalian, Karena di Desa Hukuanakota, kami tidak sedang berjalan di atas tanah, kami sedang berjalan di atas janji-janji kalian yang patah dan retak. Tutupnya (OP)













