globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Sabtu, 24 Oktober 2026

Tumbuhkan Semangat Pengabdian, 25 Anggota Pramuka Saka Wira Kartika Kodim 1504/Ambon Bantu Pengerjaan MCK dan Jalan Setapak di Lokasi TMMD

Oktober 24, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com — Semangat pengabdian kepada masyarakat ditunjukkan anggota Pramuka Saka Wira Kartika di bawah naungan TNI Angkatan Darat, Pangkalan Kodim 1504/Ambon, melalui keterlibatan langsung dalam kegiatan pembangunan di lokasi TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD), Sabtu (24/10/2026).


Sebanyak 25 anggota Pramuka Saka Wira Kartika yang terdiri dari 18 perempuan dan 7 laki-laki turun langsung membantu pengerjaan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) serta sebagian lainnya terlibat dalam pembuatan jalan setapak di lokasi kegiatan TMMD.


Kegiatan diawali dengan keberangkatan seluruh anggota dari Markas Kodim 1504/Ambon menuju lokasi TMMD. Setibanya di lokasi, para anggota langsung bergabung dalam pekerjaan bersama, membantu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.


Di tengah aktivitas pembangunan, para anggota Pramuka tidak hanya belajar mengenai kedisiplinan dan kerja sama, tetapi juga memperoleh pengalaman nyata tentang arti kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.


Keterlibatan mereka menjadi gambaran bahwa semangat Pramuka tidak berhenti pada kegiatan latihan maupun pembinaan di lingkungan organisasi. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui kepramukaan juga diwujudkan dalam tindakan nyata, terutama melalui kegiatan sosial dan kemanusiaan.


Di bawah naungan TNI AD melalui Pangkalan Kodim 1504/Ambon, Saka Wira Kartika berada dalam lingkungan pembinaan yang menekankan kedisiplinan, kepemimpinan, tanggung jawab, serta kecintaan terhadap tanah air.


Pembinaan tersebut berada di bawah pimpinan Komandan Kodim (Dandim) 1504/Ambon, Letkol Inf Rudolf Gleend Paulus S.I.P. dengan pembina kegiatan, Pasiter Mayor Inf Ali Rahim S.Pd., serta dukungan Pamong Saka Wira Kartika Pelda Irfan Ghazaly Kapitanhitu, dalam proses pembinaan anggota.


Kegiatan di lokasi TMMD ini sekaligus menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi para anggota untuk memahami pentingnya gotong royong dalam mendukung pembangunan. Melalui keterlibatan langsung, mereka dapat melihat bahwa pembangunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau aparat, melainkan membutuhkan partisipasi dan kepedulian bersama.


Pengerjaan MCK menjadi bagian penting karena fasilitas sanitasi yang layak berkaitan erat dengan kebersihan dan kenyamanan masyarakat. Sementara itu, pembuatan jalan setapak diharapkan dapat membantu menunjang aksesibilitas warga, sesuai dengan peruntukan dan kondisi wilayah setempat.


Bagi para anggota Pramuka, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan karakter melalui kerja nyata. Mereka belajar menghargai proses, membangun kekompakan, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.


Kehadiran 25 anggota Saka Wira Kartika di lokasi TMMD juga memperlihatkan bahwa generasi muda memiliki ruang untuk mengambil bagian dalam kegiatan pembangunan melalui kontribusi yang positif, terarah, dan sesuai dengan kapasitas mereka.


Melalui kegiatan ini, Pramuka Saka Wira Kartika Pangkalan Kodim 1504/Ambon diharapkan semakin memperkuat semangat pengabdian, kepedulian sosial, dan jiwa gotong royong di kalangan generasi muda.


Sebab, semangat membangun negeri tidak selalu dimulai dari pekerjaan besar. Terkadang, semangat itu tumbuh dari langkah sederhana: hadir di tengah masyarakat, mengulurkan tangan, dan bekerja bersama demi lingkungan yang lebih baik.


Pramuka Berkarya, TNI Hadir, Masyarakat Sejahtera. (Za)

Selengkapnya

Jaga Kesehatan Warga Binaan, Lapas Dobo Gandeng Puskesmas Gelar Skrining TBC dan Cek Kesehatan Gratis

Oktober 24, 2026


Dobo
, Globaltimurnn.com — Menjaga kesehatan merupakan bagian penting dari proses pembinaan di lembaga pemasyarakatan. Di balik tembok lapas, upaya memastikan setiap warga binaan tetap sehat menjadi perhatian yang tidak kalah penting, sebab kondisi fisik yang terjaga turut mendukung kelancaran pembinaan dan kualitas hidup mereka selama menjalani masa pidana.


Komitmen tersebut diwujudkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Dobo melalui kolaborasi bersama Puskesmas Dobo dengan menggelar senam bersama, dilanjutkan skrining Tuberkulosis (TBC) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) bagi seluruh warga binaan, Jumat (23/10/2026).


Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda untuk menggerakkan tubuh dan menjaga kebugaran. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat pelayanan kesehatan sekaligus mendeteksi lebih dini potensi gangguan kesehatan di lingkungan pemasyarakatan.


Suasana kegiatan diawali dengan senam bersama yang melibatkan warga binaan, petugas Lapas Dobo, peserta magang, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Dobo. Diiringi musik dan gerakan yang dipandu instruktur, para peserta mengikuti setiap gerakan dengan penuh semangat.


Kebersamaan yang terbangun dalam kegiatan tersebut menghadirkan suasana positif di lingkungan lapas. Aktivitas fisik menjadi sarana sederhana untuk menjaga kebugaran, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa pola hidup sehat perlu diterapkan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.


Setelah senam selesai, kegiatan berlanjut pada pemeriksaan kesehatan. Para warga binaan menjalani pemeriksaan secara bergiliran dengan pendampingan petugas kesehatan, sementara peserta magang turut membantu kelancaran pelaksanaan kegiatan.


Pemeriksaan CKG mencakup pengecekan tekanan darah, berat badan, tinggi badan, gula darah, serta pemeriksaan lain sesuai program yang dilaksanakan. Melalui pemeriksaan tersebut, kondisi kesehatan warga binaan dapat diketahui lebih awal sehingga potensi masalah kesehatan dapat ditindaklanjuti sesuai kebutuhan medis.


Perhatian khusus juga diberikan melalui skrining TBC. Langkah ini penting untuk membantu mengidentifikasi warga binaan yang memiliki gejala atau faktor risiko yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.


Deteksi dini menjadi salah satu langkah penting dalam pengendalian TBC, terutama di lingkungan hunian bersama yang membutuhkan perhatian terhadap kebersihan, kondisi kesehatan penghuni, serta pencegahan penularan penyakit.


Melalui skrining tersebut, warga binaan yang terindikasi memiliki gejala TBC dapat diarahkan untuk menjalani pemeriksaan lanjutan oleh tenaga kesehatan. Dengan demikian, penanganan dapat dilakukan sesuai hasil pemeriksaan dan rekomendasi medis.


Kepala Lapas Kelas III Dobo, Pieter Jan Lessy, menegaskan bahwa pemenuhan hak atas kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan dan pembinaan terhadap warga binaan.


Menurutnya, pelayanan pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada pembinaan kepribadian dan kemandirian, tetapi juga harus memastikan kebutuhan dasar warga binaan, termasuk kesehatan, memperoleh perhatian yang layak.


“Pemenuhan hak kesehatan warga binaan merupakan tanggung jawab yang harus kita laksanakan secara optimal. Melalui kegiatan ini, kami tidak hanya mendorong warga binaan untuk menjaga kebugaran, tetapi juga memastikan deteksi dini terhadap potensi gangguan kesehatan dapat dilakukan. Kami berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi dengan Puskesmas Dobo agar pelayanan kesehatan di Lapas berjalan secara berkelanjutan dan mendukung proses pembinaan,” ujar Pieter.


Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih baik bagi warga binaan. Dukungan tenaga kesehatan dari fasilitas pelayanan kesehatan setempat menjadi bagian penting untuk memperluas akses pemeriksaan serta membantu memastikan tindak lanjut medis dapat dilakukan ketika dibutuhkan.


Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Kebiasaan berolahraga, memperhatikan kondisi tubuh, menjaga kebersihan lingkungan, serta segera melaporkan gejala penyakit kepada petugas kesehatan merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan manfaat besar.


Terlebih, penyakit menular seperti TBC membutuhkan perhatian bersama melalui deteksi dini, pemeriksaan yang tepat, serta penanganan sesuai standar kesehatan. Upaya tersebut perlu didukung dengan edukasi yang berkelanjutan agar warga binaan memahami pentingnya menjaga kesehatan diri sekaligus melindungi orang-orang di sekitarnya.


Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan lancar. Sinergi antara Lapas Kelas III Dobo dan Puskesmas Dobo diharapkan terus berlanjut sehingga pelayanan kesehatan bagi warga binaan dapat dilaksanakan secara konsisten dan menjangkau kebutuhan mereka secara lebih optimal.


Bagi Lapas Dobo, kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen menghadirkan pelayanan pemasyarakatan yang humanis dan berkualitas, dengan menempatkan kesehatan sebagai salah satu fondasi penting dalam proses pembinaan.


Sebab, pembinaan yang baik tidak hanya berbicara tentang perubahan perilaku dan peningkatan keterampilan, tetapi juga tentang memastikan setiap warga binaan memperoleh perhatian terhadap kebutuhan dasar dan kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat.


Melalui olahraga bersama, skrining TBC, dan pemeriksaan kesehatan gratis, Lapas Dobo bersama Puskesmas Dobo terus membangun langkah nyata menuju lingkungan pemasyarakatan yang lebih sehat, peduli, dan berorientasi pada pemenuhan hak-hak warga binaan. (Za)

Selengkapnya

Kasus Dugaan Merkuri 1,7 Ton, Kodam XV/Pattimura Tegaskan Terduga Pelaku Ditahan di Pomdam

Oktober 24, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Penanganan perkara dugaan penyalahgunaan atau peredaran merkuri seberat 1,7 ton yang menyeret pihak dari lingkungan Kodam XV/Pattimura terus berlanjut. Kodam XV/Pattimura menegaskan, terduga pelaku saat ini telah diamankan dan ditahan di Pomdam XV/Pattimura untuk menjalani proses penyidikan sesuai mekanisme hukum yang berlaku.


Penegasan ini menjadi bentuk komitmen institusi TNI AD dalam memastikan setiap dugaan pelanggaran hukum ditangani secara serius, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan.


Kodam XV/Pattimura memastikan bahwa penanganan perkara tersebut dilakukan berdasarkan fakta dan ketentuan hukum, tanpa memberikan perlindungan kepada personel yang terbukti melakukan pelanggaran.


Pangdam XV/Pattimura menegaskan, institusi tidak akan memberikan toleransi terhadap setiap bentuk pelanggaran hukum yang dilakukan oleh personel di lingkungan Kodam XV/Pattimura.


“Tidak ada toleransi terhadap setiap bentuk pelanggaran hukum. Yang terbukti melakukan pelanggaran akan diproses dan diberi sanksi sesuai hukum yang berlaku. Institusi tidak akan melindungi pelanggaran, melainkan memastikan setiap proses berjalan berdasarkan fakta dan ketentuan hukum,” tegas Pangdam XV/Pattimura.


Menurutnya, penegakan hukum harus dijalankan secara konsisten dengan mengedepankan profesionalitas, proporsionalitas, dan keadilan. Setiap pihak yang diduga terlibat harus menjalani proses sesuai aturan, sementara penentuan kesalahan tetap mengacu pada hasil pembuktian dalam proses hukum.


Kodam XV/Pattimura menjelaskan bahwa tahap penyelidikan dalam perkara tersebut telah selesai dan penanganan kini berlanjut ke tahap penyidikan oleh Pomdam XV/Pattimura.


Tahapan ini menjadi bagian penting untuk mendalami perkara, mengumpulkan alat bukti, serta mengungkap fakta-fakta yang berkaitan dengan dugaan penyalahgunaan atau peredaran merkuri seberat 1,7 ton tersebut.


Melalui proses penyidikan, setiap informasi dan dugaan yang muncul akan ditelaah sesuai kewenangan aparat penegak hukum. Dengan demikian, penanganan perkara diharapkan berjalan secara objektif dan menghasilkan kesimpulan berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.


Kodam XV/Pattimura juga menekankan bahwa proses hukum harus tetap berpedoman pada ketentuan peraturan perundang-undangan, prinsip keadilan, serta penghormatan terhadap hak setiap pihak yang terlibat.


Di tengah perhatian dan berbagai pemberitaan mengenai perkara tersebut, Kapendam XV/Pattimura mengimbau masyarakat agar tetap mengedepankan informasi yang akurat dan tidak membangun asumsi yang belum didukung fakta.


Menurutnya, pengawasan dan kritik publik merupakan bagian penting dalam kehidupan demokratis. Namun, penyampaian informasi mengenai perkara hukum perlu dilakukan secara bertanggung jawab, dengan memperhatikan objektivitas dan asas praduga tak bersalah.


Kesimpulan mengenai keterlibatan maupun kesalahan seseorang tidak sepatutnya ditetapkan sebelum seluruh proses hukum dan pembuktian diselesaikan oleh pihak yang berwenang.


Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara hak masyarakat memperoleh informasi dan kewajiban menghormati proses penegakan hukum yang sedang berjalan.


Kodam XV/Pattimura memastikan perkembangan penanganan perkara akan disampaikan melalui saluran komunikasi resmi sesuai kewenangan dan tahapan hukum yang berlangsung.


Komitmen tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa penanganan dugaan perkara merkuri seberat 1,7 ton tidak berhenti pada pengamanan pihak yang diduga terlibat, tetapi berlanjut melalui proses hukum yang harus dijalankan secara profesional dan transparan sesuai ketentuan yang berlaku.


Dengan proses yang berlandaskan fakta dan pembuktian, Kodam XV/Pattimura menegaskan komitmennya untuk menjaga disiplin serta integritas institusi, sekaligus memastikan bahwa setiap dugaan pelanggaran ditangani melalui jalur hukum yang semestinya. (Za)

Selengkapnya

Dari Hasil Panen Warga Binaan untuk Masyarakat, Lapas Namlea Gelar Baksos di Masjid Al-Habsy

Oktober 24, 2026


Namlea
, Globaltimurnn.com — Kepedulian terhadap masyarakat tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan besar. Terkadang, kepedulian justru hadir lewat aksi sederhana, seperti membersihkan rumah ibadah, bergotong royong, hingga berbagi hasil panen kepada warga yang membutuhkan.


Semangat itulah yang ditunjukkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea melalui kegiatan bakti sosial (baksos) di Masjid Al-Habsy, Desa Waimiting, Kabupaten Buru, Jumat (23/10/2026).


Dipimpin langsung Kepala Lapas Namlea, Muhammad M. Marasabessy, kegiatan tersebut diisi dengan kerja bakti membersihkan lingkungan masjid, kemudian dilanjutkan dengan penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat sekitar.


Kehadiran jajaran Lapas Namlea di tengah masyarakat menjadi wujud nyata bahwa pengabdian pemasyarakatan tidak hanya berlangsung di balik tembok lapas, tetapi juga dapat dirasakan manfaatnya oleh lingkungan sekitar.


Bagi Lapas Namlea, kegiatan ini bukan sekadar agenda sosial. Lebih dari itu, bakti sosial menjadi ruang untuk mempererat hubungan dengan masyarakat sekaligus menumbuhkan semangat gotong royong dan kepedulian terhadap kebersihan fasilitas umum, khususnya rumah ibadah.


Kalapas Namlea, Muhammad M. Marasabessy, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, yang mendorong pelaksanaan program pemasyarakatan agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.


“Dengan keterlibatan Lapas Namlea dalam kegiatan ini menunjukkan bahwasannya pemasyarakatan menaruh perhatian besar dan kepedulian pada kebersihan lingkungan dan bukan hanya di dalam Lapas, tetapi juga berbagai tempat. Kami pilih Masjid Al-Habsy di Desa Waimiting dikarenakan tempat ini merupakan fasilitas ibadah bagi umat Muslim di sekitar sini,” ujarnya.


Jumat menjadi hari yang istimewa bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah bersama. Karena itu, kebersihan masjid menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana yang nyaman bagi jamaah.


Melalui kegiatan tersebut, petugas Lapas Namlea bersama pihak terkait bergotong royong membersihkan area Masjid Al-Habsy sebagai bentuk kepedulian terhadap fasilitas ibadah yang digunakan masyarakat Desa Waimiting.


Aksi sederhana ini sekaligus memperlihatkan bahwa semangat gotong royong tetap menjadi kekuatan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Ketika berbagai unsur saling membantu, pekerjaan yang dilakukan bersama tidak hanya menghasilkan lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga mempererat hubungan sosial.


Pengurus Masjid Al-Habsy, Imran Capalulu, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepedulian jajaran Lapas Namlea yang telah membantu membersihkan masjid tersebut.


Menurutnya, kegiatan itu sangat berarti, terlebih karena pembersihan dilakukan menjelang pelaksanaan salat Jumat.


“Kebetulan hari ini hari Jumat, jadi masjid harus kita bersihkan untuk persiapan salat nanti. Di saat yang bersamaan, para petugas dari Lapas Namlea juga ikut bergotong royong membersihkan area masjid. Oleh karena itu, kami sangat bersyukur bisa dibantu,” ungkap Imran.


Bantuan tersebut menjadi wujud kebersamaan yang dirasakan langsung oleh pengurus masjid dan masyarakat setempat. Kepedulian yang diwujudkan melalui tindakan nyata itu diharapkan dapat terus menumbuhkan semangat saling membantu di lingkungan masyarakat.


Tidak hanya membersihkan rumah ibadah, Lapas Namlea juga menyalurkan bantuan sosial berupa hasil pertanian dari program pembinaan kemandirian warga binaan.


Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat kegiatan pembinaan agar hasil kerja warga binaan tidak hanya bernilai bagi lingkungan pemasyarakatan, tetapi juga dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.


Sebelumnya, Lapas Namlea telah melaksanakan panen semangka yang hasilnya disalurkan kepada sejumlah pihak, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).


Melalui penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat sekitar, Lapas Namlea ingin memastikan bahwa hasil dari kegiatan produktif warga binaan dapat dirasakan lebih luas.


Marasabessy menjelaskan, program pertanian yang dijalankan di dalam lapas tidak semata-mata berorientasi pada hasil panen. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk mengembangkan keterampilan, kemandirian, kedisiplinan, dan tanggung jawab.


“Berhubung kemarin baru saja kita laksanakan panen semangka dan sudah disalurkan ke pihak-pihak luar, salah satunya untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kami juga menginginkan masyarakat di sekitar Lapas merasakan manfaat dari hasil program pembinaan kemandirian warga binaan melalui pembagian bantuan sosial ini,” tambahnya.


Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan dapat menghasilkan manfaat yang melampaui lingkungan lapas. Melalui kegiatan pertanian, warga binaan memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan produktif, sementara hasilnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial.


Dengan demikian, pembinaan kemandirian tidak hanya menjadi proses mempersiapkan warga binaan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik, tetapi juga membuka ruang bagi mereka untuk berkontribusi kepada masyarakat.


Kegiatan bakti sosial di Masjid Al-Habsy menjadi gambaran bahwa hubungan antara lembaga pemasyarakatan dan masyarakat dapat dibangun melalui aksi nyata, kepedulian, serta kerja sama yang berkelanjutan.


Kebersihan rumah ibadah, bantuan hasil pertanian, dan semangat gotong royong menjadi rangkaian kegiatan yang memiliki makna lebih luas daripada sekadar pelaksanaan program kerja.


Di satu sisi, kegiatan tersebut membantu memenuhi kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, kegiatan itu memperkuat pesan bahwa pemasyarakatan juga memiliki peran sosial dalam membangun hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar.


Melalui kegiatan serupa, Lapas Namlea diharapkan terus menghadirkan program yang tidak hanya mendukung pembinaan warga binaan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat Kabupaten Buru.


Sebab, keberhasilan pembinaan tidak hanya dilihat dari keterampilan yang diperoleh warga binaan selama menjalani masa pembinaan, tetapi juga dari nilai-nilai kemandirian, kepedulian, dan tanggung jawab yang dapat diwujudkan melalui kegiatan produktif.


Dari halaman Masjid Al-Habsy hingga hasil panen yang dibagikan kepada masyarakat, Lapas Namlea menunjukkan bahwa kepedulian dapat tumbuh melalui langkah sederhana yang dilakukan bersama.


Pemasyarakatan bukan sekadar tempat pembinaan, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kemandirian dan menghadirkan manfaat bagi sesama. (Za) 

Selengkapnya

Jumat, 23 Oktober 2026

Bukan Menunggu Bencana, Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami Bersama BMKG

Oktober 23, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Keselamatan masyarakat dalam menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat bantuan datang, tetapi juga oleh seberapa siap setiap orang mengambil tindakan ketika ancaman muncul. Di wilayah yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami seperti Kota Ambon, pengetahuan tentang kebencanaan menjadi bekal penting yang dapat menentukan keselamatan jiwa.


Kesadaran tersebut mendorong Pemerintah Kota Ambon untuk terus memperkuat langkah mitigasi dan edukasi kebencanaan. Upaya ini diarahkan agar masyarakat tidak sekadar mengetahui adanya ancaman, tetapi juga memahami cara melindungi diri, mengenali jalur evakuasi, dan bertindak tepat ketika menghadapi situasi darurat.


Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat harus dibangun sebelum bencana terjadi. Menurutnya, persiapan sejak dini menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko serta meminimalkan dampak yang dapat ditimbulkan oleh bencana alam.


Penegasan itu disampaikan Wattimena saat diwawancarai di Balai Kota Ambon, Sabtu (24/10/2026), dalam kaitan dengan pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami yang diselenggarakan dengan memilih Kota Ambon sebagai lokasi kegiatan.


Ia menyampaikan apresiasi kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beserta seluruh jajaran atas perhatian dan dukungan dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat. Apresiasi juga disampaikan kepada para pejabat utama BMKG, Kepala Balai Besar, serta Kepala Stasiun Geofisika Ambon Kelas I yang terlibat dalam upaya penguatan edukasi kebencanaan tersebut.


Bagi Wattimena, kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami merupakan kesempatan penting untuk memperluas wawasan masyarakat mengenai potensi ancaman bencana sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi keadaan darurat.


“Kota Ambon memiliki potensi risiko bencana, termasuk gempa bumi. Karena itu, edukasi dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat harus terus dilakukan agar warga memiliki pemahaman serta kemampuan untuk menghadapi bencana dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan,” tegasnya.


Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak selalu dapat diprediksi secara tepat waktu maupun dampaknya. Karena itu, membangun kesiapsiagaan tidak dapat dilakukan secara mendadak, melainkan membutuhkan proses edukasi, latihan, koordinasi, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.


Wattimena menekankan bahwa bencana tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, melalui persiapan yang baik, risiko dan dampaknya dapat dikurangi, terutama yang berkaitan dengan keselamatan manusia.


“Bencana tidak bisa kita hindari dan tidak bisa kita tolak, karena pada waktunya akan terjadi. Namun, jika itu terjadi, kita sudah siap, paling tidak untuk mengurangi risiko bencana, terutama korban jiwa. Itu yang paling penting,” ujarnya.


Pernyataan tersebut menempatkan keselamatan jiwa sebagai tujuan utama dari seluruh upaya mitigasi. Sebab, keberadaan fasilitas kebencanaan saja tidak cukup apabila masyarakat belum memahami cara menggunakannya ketika keadaan darurat terjadi.


Dalam situasi gempa bumi, misalnya, masyarakat perlu mengetahui tindakan perlindungan diri yang tepat, termasuk menjauhi benda-benda yang berpotensi jatuh dan mencari perlindungan sesuai kondisi di sekitarnya. Setelah guncangan berhenti, warga harus memperhatikan potensi bahaya lanjutan serta mengikuti arahan dari pihak berwenang.


Sementara itu, bagi masyarakat yang berada di kawasan pesisir, pemahaman mengenai ancaman tsunami menjadi hal yang sangat penting. Apabila merasakan gempa kuat atau berlangsung lama, warga perlu segera menjauhi pantai dan bergerak menuju tempat tinggi melalui jalur evakuasi yang aman tanpa menunggu peringatan resmi, apabila kondisi tersebut mengindikasikan potensi tsunami.


Langkah-langkah tersebut perlu terus disosialisasikan agar masyarakat memiliki pemahaman yang memadai dan tidak kehilangan waktu berharga ketika menghadapi ancaman bencana.


Penguatan mitigasi di Kota Ambon tidak hanya bertumpu pada imbauan kepada masyarakat. Pemerintah daerah juga mendorong kolaborasi dengan BMKG untuk memperluas edukasi serta memperkuat berbagai sarana pendukung kesiapsiagaan.


Wattimena mengungkapkan, kerja sama yang telah dilakukan mencakup pengembangan desa siap tsunami melalui kolaborasi dengan UNESCO, pemasangan rambu-rambu evakuasi, serta penerapan sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami.


Selain itu, BMKG juga telah melaksanakan sekolah lapang bagi nelayan dan sekolah lapang iklim untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kondisi alam dan risiko yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.


Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana. Melalui pendekatan edukatif, masyarakat diharapkan mampu memahami informasi kebencanaan dan mengubah pengetahuan tersebut menjadi tindakan nyata.


Pemasangan rambu evakuasi, misalnya, perlu disertai pemahaman mengenai arah dan tujuan penyelamatan. Begitu pula sistem peringatan dini harus didukung kesadaran masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dan segera mengambil langkah sesuai arahan keselamatan.


Dengan demikian, mitigasi tidak hanya berbicara mengenai teknologi dan infrastruktur, tetapi juga mengenai kesiapan manusia dalam merespons setiap ancaman.


Membangun kesiapsiagaan tidak harus selalu dimulai melalui kegiatan berskala besar. Lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas masyarakat dapat menjadi ruang awal untuk menanamkan budaya sadar bencana.


Setiap keluarga dapat mulai dengan mengenali jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal, menentukan titik berkumpul yang aman, serta memastikan seluruh anggota keluarga mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.


Sekolah dan lingkungan permukiman juga memiliki peran penting dalam memperluas pemahaman kebencanaan, terutama bagi anak-anak dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus dalam proses evakuasi.


Di sisi lain, masyarakat perlu membiasakan diri memperoleh informasi dari sumber resmi, termasuk BMKG dan instansi kebencanaan terkait. Informasi yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan dan menghambat pengambilan keputusan pada saat situasi darurat.


Kesadaran tersebut menjadi semakin penting karena kesiapsiagaan bukan hanya menyangkut kemampuan menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga membangun kepedulian terhadap keselamatan orang lain.


Ketika pemerintah, lembaga teknis, dan masyarakat bergerak bersama, upaya mengurangi risiko bencana dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.


Membangun Ambon yang Lebih Tangguh

Wali Kota Ambon berharap kerja sama antara Pemerintah Kota Ambon dan BMKG terus diperkuat agar edukasi kebencanaan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.


Penguatan mitigasi diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan tertentu, tetapi terus berkembang melalui sosialisasi, pendidikan kebencanaan, simulasi evakuasi, serta penyediaan informasi yang mudah dipahami warga.


Bagi Kota Ambon, membangun budaya sadar bencana merupakan langkah penting dalam melindungi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan daerah menghadapi berbagai potensi ancaman alam.


Sebab, kesiapsiagaan bukan tentang hidup dalam ketakutan terhadap bencana, melainkan tentang membangun keberanian yang disertai pengetahuan, kewaspadaan, dan kemampuan bertindak secara tepat.


Ketika gempa bumi atau ancaman tsunami datang, masyarakat yang telah memahami langkah penyelamatan memiliki bekal lebih baik untuk menghadapi keadaan darurat.


Melalui penguatan mitigasi, kolaborasi lintas lembaga, dan partisipasi masyarakat, Ambon diharapkan semakin siap menghadapi risiko bencana. Karena pada akhirnya, kesiapan yang dibangun hari ini bukan hanya untuk menghadapi kemungkinan terburuk, tetapi juga untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi kehidupan masyarakat di masa depan.(Za)

Selengkapnya

Merajut Asa BM PAN Bersama Pemuda Negeri Kawa: Sunat Massal Sentuh 130 Anak

Oktober 23, 2026


Kawa
, globaltimurnn.com — Suasana penuh kehangatan, kepedulian, dan kebersamaan menyelimuti Negeri Kawa, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Barisan Muda Penegak Amanat Nasional (BM PAN) Kabupaten Seram Bagian Barat menggelar kegiatan sosial berupa Khitanan Massal bertajuk "Merajut Asa BM PAN Bersama Pemuda Negeri Kawa".


​Sebanyak 130 anak dari Negeri Kawa dan sekitarnya antusias mengikuti kegiatan khitanan gratis ini, sebagai bentuk kepedulian nyata organisasi pemuda terhadap kesehatan dan masa depan generasi penerus bangsa.

​

Dihadiri Tokoh Daerah dan Anggota Dewan

​Kegiatan sosial ini turut dihadiri oleh jajaran pejabat pemerintah daerah serta pengurus DPD PAN SBB, di antaranya" ​Kepala Dinas Kesehatan SBB, Geriman Kurniawan, ​Anggota DPRD Kabupaten SBB dari Fraksi PAN" Ibu Endang Kusumawati (selaku Bendahara DPD PAN SBB),  Bapak Ridal J. Kaisupy (selaku Sekretaris DPD PAN SBB). 

​

Kehadiran para tokoh ini mempertegas dukungan penuh terhadap penguatan layanan kesehatan dan aksi kepedulian sosial di tengah masyarakat Negeri Kawa.

​

Pembukaan yang Khidmat dan Penuh Doa

​Acara diawali dengan ketenangan dan ketakzim mendalam saat Imam Masjid Kawa memimpin doa pembuka. Bait-bait doa melantun penuh harapan, memohon kelancaran, keselamatan bagi anak-anak yang dikhitan, serta keberkahan atas kepedulian dan kerja keras para pemuda serta tokoh masyarakat yang terlibat.

​

Deretan Sambutan dan Dukungan Tokoh

​Suasana semangat kepemudaan dan dukungan dari para tokoh terjalin erat sepanjang sesi sambutan:

​


Ketua BM PAN SBB, Ahmad Kadim, dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bukan sekadar pemenuhan tradisi keagamaan, melainkan momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan merajut asa kebersamaan antara BM PAN dan kepemudaan di Negeri Kawa. BM PAN berkomitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat melalui aksi-aksi sosial yang berdampak langsung.

​

Penjabat Kepala Desa (Kades) Negeri Kawa, Ibu Boki Asri Ely, memberikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas inisiatif dan kepedulian BM PAN beserta para pemuda Negeri Kawa. Beliau menilai aksi nyata ini sangat membantu meringankan beban orang tua di negerinya.

​

Ketua DPD PAN SBB, Hj. Abd. Rauf Latulumamina, S.Sos, menekankan pentingnya sinergi antara gerakan kepemudaan, partai, dan masyarakat setempat. Beliau menegaskan bahwa aksi kepedulian sosial seperti ini merupakan wujud komitmen PAN untuk senantiasa hadir membawa kemanfaatan bagi warga SBB.

​


Peresmian oleh Bupati SBB

​Puncak acara pembukaan ditandai dengan sambutan dari Bupati Seram Bagian Barat, Ir. Asri Arman, M.T. Dalam arahannya, Bupati mengapresiasi tinggi kolaborasi positif antara BM PAN SBB dan Pemuda Negeri Kawa. Beliau menyampaikan bahwa pembangunan daerah tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari kepedulian sosial dan pembinaan kesehatan generasi muda sejak dini.

​

Dengan mengucapkan basmalah dan rasa syukur, Bupati Ir. Asri Arman, M.T. secara resmi membuka kegiatan Khitanan Massal tersebut.

​

Senyum 130 Anak Negeri Kawa

​Usai pembukaan resmi, prosesi khitanan massal berjalan lancar dengan dukungan teknis dari Dinas Kesehatan dan tim medis terkait, serta keterlibatan aktif pemuda setempat. Sebanyak 130 anak berhasil dikhitan dengan senyum bangga dan rasa syukur dari para orang tua yang mendampingi.

​

Kegiatan "Merajut Asa BM PAN Bersama Pemuda Negeri Kawa" ini menjadi bukti nyata bahwa ketika niat baik dirajut bersama, senyum dan harapan masa depan anak-anak di Negeri Kawa dapat terwujud dengan indah. (Yan) 

Selengkapnya

Dari Pawai Obor hingga Wakaf Al-Qur’an, Mahasiswa KKN UIN Ambon Nyalakan Semangat Santri di Tanah Manipa

Oktober 23, 2026


Manipa
, Globaltimurnn.com — Cahaya obor yang bergerak menyusuri Desa Luhutuban, Kecamatan Kepulauan Manipa, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Maluku, Kamis malam (22/10/2026), menghadirkan suasana berbeda di tengah masyarakat. Langkah para mahasiswa, pelajar, dan warga yang berjalan bersama menjadi gambaran sederhana tentang semangat kebersamaan dalam memperingati Hari Santri Nasional 2026.


Di balik nyala obor tersebut, tersimpan pesan tentang kecintaan terhadap agama, semangat menuntut ilmu, serta pentingnya menjaga tradisi keislaman di tengah kehidupan masyarakat. Semangat itu dihadirkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Negeri (UIN) Abdul Muthalib Sangadji Ambon angkatan 2026 melalui rangkaian kegiatan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menyentuh kebutuhan pendidikan keagamaan masyarakat.


Mengusung semangat pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa KKN menggelar pawai obor, pesantren kilat, hingga penyaluran wakaf sebanyak 100 buah Al-Qur’an dan buku Iqra. Bantuan tersebut disalurkan kepada tiga Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) serta Masjid Al-Istiqomah di Desa Luhutuban.


Rangkaian kegiatan yang berlangsung pada Kamis malam hingga Jumat, 23 Oktober 2026, ini menjadi wujud keterlibatan mahasiswa dalam mempererat hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah desa, tokoh agama, lembaga pendidikan Al-Qur’an, dan masyarakat di lokasi pengabdian.


Pawai obor menjadi salah satu momen yang memberikan warna tersendiri dalam peringatan Hari Santri di Desa Luhutuban. Cahaya yang menyala di sepanjang perjalanan seolah menjadi simbol semangat generasi muda untuk terus menjaga nilai-nilai keislaman dan meneruskan perjuangan para santri serta ulama terdahulu.


Bagi masyarakat, kegiatan semacam ini bukan sekadar perayaan tahunan. Kebersamaan yang terbangun memberikan ruang bagi anak-anak, remaja, mahasiswa, dan warga untuk berkumpul dalam suasana religius sekaligus memperkuat hubungan sosial di lingkungan desa.


Di tengah kesibukan masing-masing, kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa nilai kebersamaan dapat dirawat melalui langkah-langkah sederhana. Berjalan bersama dalam pawai, mengikuti kegiatan keagamaan, hingga berkumpul untuk berdoa menjadi bagian dari pengalaman kolektif yang mempererat hubungan antargenerasi.


Mahasiswa KKN UIN A.M. Sangadji Ambon memanfaatkan momentum ini untuk lebih dekat dengan masyarakat. Kehadiran mereka tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan kewajiban akademik, tetapi juga sebagai kesempatan untuk belajar memahami kehidupan warga, membangun komunikasi, serta mengambil bagian dalam kegiatan sosial dan keagamaan.


Semangat tersebut kemudian dilanjutkan melalui pesantren kilat yang diarahkan untuk memperkuat pengetahuan dan kecintaan generasi muda terhadap ajaran Islam. Melalui kegiatan pembelajaran keagamaan ini, mahasiswa berupaya menciptakan ruang interaksi yang positif antara pelajar, pengajar, tokoh agama, dan masyarakat.


Di antara rangkaian kegiatan tersebut, penyaluran wakaf 100 buah Al-Qur’an dan buku Iqra menjadi salah satu bentuk pengabdian yang diharapkan memberikan manfaat berkelanjutan.


Bantuan itu diserahkan secara simbolis kepada perwakilan tiga TPQ dan Masjid Al-Istiqomah di Desa Luhutuban. Penyaluran tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa terhadap keberlangsungan pembelajaran Al-Qur’an, terutama bagi anak-anak yang sedang membangun dasar kemampuan membaca dan memahami kitab suci.


Bagi sebuah lembaga pendidikan Al-Qur’an, ketersediaan bahan belajar merupakan bagian penting dalam menunjang proses pembelajaran. Al-Qur’an dan buku Iqra yang disalurkan diharapkan dapat membantu para pengajar, mendukung aktivitas mengaji, serta memberikan kesempatan kepada lebih banyak anak untuk belajar dengan sarana yang memadai.


Lebih dari sekadar penyerahan bantuan, wakaf tersebut membawa pesan bahwa pengabdian tidak harus selalu diwujudkan melalui program besar. Kepedulian yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dan disalurkan dengan niat memberikan manfaat dapat menjadi bagian penting dalam mendukung pendidikan keagamaan di tingkat desa.


Mahasiswa berharap bantuan tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan oleh TPQ dan Masjid Al-Istiqomah, sehingga manfaatnya tetap dirasakan masyarakat meskipun masa pelaksanaan KKN telah berakhir.


Ketua Kelompok KKN UIN A.M. Sangadji Ambon, Ye Faisal Alhamid, mengatakan bahwa peringatan Hari Santri Nasional 2026 merupakan momentum untuk menumbuhkan semangat belajar agama sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa dan masyarakat Desa Luhutuban.


Menurutnya, Hari Santri bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan kesempatan bagi generasi muda untuk mengenang dan meneladani perjuangan para santri serta ulama yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.


“Peringatan Hari Santri 2026 ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum bagi kita semua, khususnya generasi muda di Desa Luhutuban, untuk meneladani semangat juang para santri dan ulama terdahulu,” ungkap Ye Faisal.


Ia menjelaskan, melalui pawai obor, pesantren kilat, serta wakaf 100 Al-Qur’an dan Iqra, mahasiswa KKN ingin menghadirkan kegiatan yang tidak hanya memperkuat suasana peringatan Hari Santri, tetapi juga meninggalkan manfaat nyata bagi masyarakat.


“Melalui kegiatan pawai obor, pesantren kilat, serta wakaf 100 Al-Qur’an dan Iqra ini, kami berharap dapat membakar semangat cinta ilmu agama di tanah Manipa, serta meninggalkan jejak pengabdian yang bermanfaat bagi pembangunan moral dan spiritual masyarakat desa,” lanjutnya.


Pernyataan tersebut mencerminkan harapan mahasiswa agar kegiatan KKN tidak berhenti pada penyelesaian program kerja, tetapi juga mampu menumbuhkan nilai kepedulian, tanggung jawab sosial, dan semangat berbagi di tengah masyarakat.


Pelaksanaan kegiatan ini mendapat apresiasi dari berbagai unsur masyarakat, di antaranya Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Kepulauan Manipa, Pemerintah Negeri Luhutuban, Imam Masjid Al-Istiqomah, pimpinan TPQ, Majelis Taklim, serta para pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA Negeri Luhutuban.


Kepala KUA Kecamatan Kepulauan Manipa, Haris Lauselang, S.Ag., M.H., mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN yang telah menghadirkan kegiatan keagamaan dengan melibatkan masyarakat secara langsung.


“Kami sangat mengapresiasi inisiatif luar biasa dari adik-adik mahasiswa KKN UIN A.M. Sangadji Ambon. Kehadiran mereka di Desa Luhutuban memberikan warna dan energi baru dalam menghidupkan syiar Islam,” ujarnya.


Ia menilai, penyaluran bantuan Al-Qur’an dan Iqra juga memiliki arti penting dalam mendukung pembinaan generasi Qur’ani di Kecamatan Kepulauan Manipa.


“Bantuan Al-Qur’an dan Iqra yang disalurkan hari ini adalah investasi jariyah yang sangat berharga bagi pembinaan generasi Qur’ani di kecamatan kita tercinta ini,” tambahnya.


Apresiasi serupa disampaikan Pemerintah Negeri Luhutuban melalui Sekretaris Desa, Muhamad Sulehu, S.Sos. Pemerintah desa menyampaikan terima kasih atas kontribusi mahasiswa yang telah menginisiasi kegiatan keagamaan sekaligus memberikan dukungan bagi fasilitas belajar mengaji anak-anak.


“Atas nama Pemerintah Desa Luhutuban dan seluruh masyarakat, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa KKN UIN A.M. Sangadji Ambon. Kegiatan positif seperti pesantren kilat dan pembagian fasilitas belajar mengaji ini sangat membantu anak-anak kami,” ungkapnya.


Pemerintah desa berharap hubungan baik antara mahasiswa, pemerintah desa, tokoh agama, dan masyarakat dapat terus terpelihara. Kolaborasi semacam ini dinilai penting untuk mendukung kegiatan pendidikan, pembinaan generasi muda, serta kehidupan sosial dan keagamaan di Desa Luhutuban.


Rangkaian peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Desa Luhutuban ditutup dengan doa bersama, penyerahan Al-Qur’an secara simbolis kepada perwakilan TPQ dan Masjid Al-Istiqomah, serta ramah tamah bersama warga, pelajar, dan anggota Majelis Taklim.


Penutupan tersebut menjadi bagian dari kebersamaan yang terbangun selama kegiatan berlangsung. Mahasiswa dan masyarakat tidak hanya bertemu dalam agenda peringatan keagamaan, tetapi juga berbagi pengalaman, mempererat silaturahmi, dan membangun komunikasi yang diharapkan tetap terjaga setelah kegiatan selesai.


Bagi mahasiswa KKN UIN A.M. Sangadji Ambon, pengalaman di Desa Luhutuban menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar ruang perkuliahan. Pengabdian memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami kebutuhan masyarakat secara langsung, bekerja bersama berbagai unsur desa, serta menerapkan ilmu dan kepedulian sosial dalam kehidupan nyata.


Sementara bagi masyarakat, kegiatan tersebut menghadirkan dukungan bagi pendidikan Al-Qur’an sekaligus memperkuat keterlibatan generasi muda dalam kegiatan keagamaan.


Pada akhirnya, makna Hari Santri di Luhutuban tidak hanya tercermin melalui cahaya obor yang menerangi jalan desa, tetapi juga melalui upaya menyalakan semangat belajar, memperluas kepedulian, dan menjaga kebersamaan.


Wakaf Al-Qur’an dan Iqra menjadi salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut. Dari kegiatan sederhana yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat, tersimpan harapan agar pendidikan keagamaan terus berkembang dan generasi muda semakin dekat dengan nilai-nilai Islam.


Melalui pengabdian ini, mahasiswa KKN UIN A.M. Sangadji Ambon menunjukkan bahwa kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat dapat diwujudkan melalui tindakan yang dekat dengan kebutuhan warga. Sebab, keberhasilan pengabdian bukan hanya tentang program yang terlaksana, melainkan juga tentang manfaat yang ditinggalkan dan hubungan baik yang terus dirawat. (Za)

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT