Namlea, Globaltimurnn.com — Program pembinaan kemandirian warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea kembali menunjukkan hasil positif. Melalui budidaya perikanan dengan sistem bioflok, Lapas Namlea berhasil memanen sebanyak 20 kilogram ikan nila, Sabtu (12/09/2026).
Panen dilakukan di kolam bioflok yang berada di area Lapas Namlea. Kolam berukuran 13 x 8 meter tersebut saat ini menjadi lokasi budidaya sekitar 4.500 ekor ikan nila yang dikelola dalam rangka mendukung keterampilan dan kemandirian warga binaan.
Pelaksana Harian Kepala Lapas Kelas III Namlea, Sofian Ahmad, mengatakan kegiatan panen tersebut menjadi salah satu bukti komitmen Lapas Namlea dalam menjalankan program pembinaan kemandirian, khususnya di bidang perikanan.
Menurutnya, budidaya ikan nila juga merupakan bagian dari dukungan terhadap 15 program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, terutama dalam mendorong warga binaan memiliki keterampilan produktif yang dapat dikembangkan selama menjalani masa pembinaan.
Panen ini kami lakukan karena beberapa ikan nila di salah satu kolam telah mencapai ukuran dewasa dan memasuki masa panen, ujar Sofian.
Ia menjelaskan, ikan yang dipanen merupakan jenis nila sakti atau nila hitam unggulan. Ikan tersebut memiliki bobot bervariasi antara 300 hingga 500 gram per ekor, atau sekitar dua hingga empat ekor dalam setiap kilogram.
Sofian menambahkan, proses pemeliharaan ikan nila membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam bulan. Selama masa tersebut, ikan harus mendapatkan perawatan secara rutin, mulai dari pemberian pakan hingga penerapan sistem bioflok untuk menjaga kondisi kolam dan mendukung pertumbuhan ikan.
“Kami bersyukur hasil panen kali ini cukup baik. Ikan nila memiliki bobot yang besar dan sudah layak untuk dipanen,” katanya.
Sebanyak 20 kilogram ikan nila hasil panen tersebut telah dipesan oleh masyarakat sekitar. Selanjutnya, ikan akan didistribusikan ke pasar dengan harga jual sekitar Rp35.000 per kilogram.
Sementara itu, Staf Pengelola Pembinaan Kemandirian Lapas Namlea, Sulaiman Sia, menjelaskan bahwa pihaknya melakukan sejumlah langkah untuk menjaga pertumbuhan ikan tetap optimal. Salah satunya melalui proses grading, yakni pemisahan ikan berdasarkan ukuran dan usia.
Grading kami lakukan dengan memilah ikan berdasarkan ukurannya, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Hal ini bertujuan untuk menjaga pertumbuhan ikan sekaligus mengurangi risiko kanibalisme, jelas Sulaiman.
Selain grading, petugas juga melakukan pengujian sampel bioflok secara berkala serta memberikan molase untuk menunjang pertumbuhan bakteri baik di dalam kolam.
Menurutnya, keberadaan mikroorganisme dalam sistem bioflok memiliki peran penting dalam mendukung kualitas air sekaligus menyediakan sumber nutrisi tambahan bagi ikan.
Pengujian sampel bioflok dan pemberian molase penting dilakukan untuk memastikan kondisi mikroorganisme di dalam kolam tetap baik sehingga dapat menunjang pertumbuhan dan nutrisi ikan, pungkasnya.
Panen tersebut menjadi salah satu hasil konkret dari pembinaan kemandirian di Lapas Namlea. Selain menghasilkan produk perikanan yang bernilai ekonomi, kegiatan ini diharapkan dapat membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan sebagai modal untuk kembali produktif di tengah masyarakat. (Za)
