Dari Tanimbar ke Panggung Nasional, 18 Anak Pulang Membawa Mahkota dan Harapan - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Senin, 14 September 2026

Dari Tanimbar ke Panggung Nasional, 18 Anak Pulang Membawa Mahkota dan Harapan


Ambon
, Globaltimurnn.com — Dari sebuah daerah kepulauan di ujung Maluku, 18 anak melangkah menuju panggung nasional. Usia mereka masih belia, tetapi keberanian yang dibawa jauh lebih besar dari ukuran langkah kecil mereka.


Awal September 2026 menjadi perjalanan yang tidak biasa bagi anak-anak asal Kabupaten Kepulauan Tanimbar tersebut. Mereka tampil dalam Festival Model Etnik Nusantara Season 4 yang digelar di Gedung Perfilman H. Usmar Ismail, Jakarta Pusat.


Di bawah naungan Echa Management Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mereka tidak sekadar datang untuk mengikuti perlombaan. Ada nama Tanimbar yang mereka bawa, ada budaya yang mereka kenalkan, sekaligus ada harapan bahwa anak-anak dari daerah kepulauan juga memiliki kesempatan untuk bersaing dan menunjukkan talenta di tingkat nasional.


Hasilnya pun membanggakan. Piala dan mahkota menjadi oleh-oleh yang mereka bawa pulang. Sebanyak 18 penghargaan berhasil diraih, termasuk delapan mahkota dalam berbagai kategori.


Pemilik Echa Management Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Frederik Leliak, yang akrab disapa Eca, mengatakan kontingen Tanimbar membawa 18 peserta dan mengikuti dua kategori dalam ajang tersebut.


“Kita dari Kabupaten Kepulauan Tanimbar mewakili Kabupaten untuk mengikuti ajang Festival Model Etnik Nusantara Season 4 dan kita membawa 18 anak,” ujar Frederik.


Kategori A diperuntukkan bagi anak usia 4 hingga 8 tahun, sedangkan Kategori B bagi peserta usia 9 hingga 12 tahun. Kedua kategori tersebut dapat diikuti peserta laki-laki maupun perempuan.


Dari empat kategori yang diperlombakan, kontingen Tanimbar memilih mengikuti Kategori A dan B. Pilihan tersebut kemudian menghasilkan deretan prestasi yang menjadi kebanggaan bagi peserta, keluarga dan daerah asal mereka.


Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah Helen Nindy Rumahlaiselan, atau yang akrab disapa Kaka Elen. Di usia baru enam tahun, ia justru mampu menunjukkan keberanian besar di atas panggung.


Kaka Elen memborong tiga gelar sekaligus, yakni Juara Umum Kategori Anak, The Best Model, dan Favorit Media Sosial. Dari pencapaian tersebut, ia membawa pulang tiga piala dan satu mahkota.


Prestasi itu menjadi salah satu gambaran bagaimana anak-anak Tanimbar mampu bersinar ketika mendapat kesempatan dan pendampingan yang tepat.


Namun, cerita 18 anak tersebut tidak berhenti pada keberhasilan membawa pulang piala. Di balik penampilan mereka terdapat proses persiapan, latihan, disiplin dan keberanian untuk tampil di lingkungan yang jauh berbeda dari daerah asal.


Bagi Frederik, capaian tersebut justru harus menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Ia berharap prestasi yang diraih dapat membuka perhatian Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar untuk memberikan ruang pembinaan yang berkelanjutan.


Harapan ke depan mungkin Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar dapat melihat anak-anak ini dengan bakat dan talenta yang mereka miliki, sehingga bukan saja sebatas sampai di sini, tetapi ada keberlanjutan, ujarnya.


Menurutnya, pengalaman tampil di tingkat nasional merupakan modal berharga bagi para peserta. Karena itu, anak-anak tersebut diharapkan dapat dilibatkan dalam berbagai kegiatan daerah yang berkaitan dengan fashion, modeling, pariwisata maupun promosi budaya.


Kalau ada event yang terkait dengan festival mode seperti ini, mungkin mereka bisa dipakai di Kabupaten untuk memperkenalkan dunia fashionnya. Mereka sudah sampai di tingkat nasional, katanya.


Bagi Frederik, dunia modeling juga dapat menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan identitas Tanimbar. Anak-anak tidak hanya tampil membawa nama pribadi, tetapi juga membawa budaya dan karakter daerah melalui busana serta penampilan mereka.


Di atas panggung, mereka memperlihatkan bahwa kekayaan budaya Maluku, khususnya Kepulauan Tanimbar, dapat hadir dalam ruang kreativitas anak dan dikenal oleh masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia.


Keikutsertaan kontingen tersebut juga mendapat dukungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Frederik menyampaikan bahwa Echa Management memperoleh rekomendasi dari pemerintah daerah untuk membawa nama Kabupaten Kepulauan Tanimbar dalam ajang nasional tersebut.


Dan kita juga didukung oleh pemerintah lewat rekomendasi yang kami dapat dari Pimpinan Daerah Kepulauan Tanimbar, katanya.


Dukungan tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan mereka. Sebab bagi anak-anak daerah, kesempatan untuk tampil di panggung nasional bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga kesempatan untuk memperluas pengalaman dan membangun kepercayaan diri.


Prestasi yang diraih pun tersebar di berbagai kategori. Edita Junianty Futwembun meraih Runner Up III, sementara Afiyah Asmarah membawa pulang Juara Harapan III dan Best Performance.


Hafidzah Dzikra meraih Runner Up II dan Best Talent. Naomi Cristabel Sorlury meraih Runner Up II, sedangkan Christiano Ridolfis Warkey juga meraih Runner Up II.


Maria Putri Futwembun meraih Runner Up III dan Agustinus Hendra Timothy Feninlambir meraih Runner Up I. Meyrab Q. R. Melrangrengi meraih Juara Harapan II dan Best Performance.


Penghargaan Best Costume diraih Antonius Laratmase dan Angelin Nalizta Nureroan. Sementara Allin Azaquerra Jadera meraih Best Talent dan Alfita Karunia Erupley menyabet The Best Model.


Hermanus Fenyapwain meraih Juara Umum, Nadya Alexandra Ory meraih The Best Post, dan Justus Aurelyo Kelitadan meraih Juara Harapan I.


Kemudian Anna Julia Sainyakit meraih Juara Umum Berbakat, sementara Ayu T. N. Nuniary meraih Juara Harapan I dan Best Talent.


Delapan belas nama tersebut akhirnya menjadi satu cerita besar tentang anak-anak Tanimbar yang berani keluar dari daerah asalnya untuk berdiri di panggung nasional.


Kini, piala dan mahkota telah mereka bawa pulang. Tetapi pengalaman yang mereka dapatkan jauh lebih berharga daripada sekadar penghargaan.


Mereka belajar tampil di hadapan banyak orang, belajar menghadapi persaingan, menjaga disiplin dan kepercayaan diri, sekaligus memahami arti membawa nama daerah di luar tanah kelahiran.


Bagi keluarga, kemenangan tersebut tentu menjadi kebanggaan. Bagi Echa Management, prestasi itu menjadi bukti bahwa talenta anak-anak daerah layak mendapatkan ruang. Sementara bagi Tanimbar, keberhasilan mereka menjadi sebuah cerita tentang potensi yang tumbuh dari wilayah kepulauan.


Mereka mungkin berangkat sebagai 18 anak dari Tanimbar. Namun ketika pulang, mereka membawa lebih dari sekadar piala dan mahkota.


Mereka membawa nama daerah, kebanggaan keluarga, pengalaman dari panggung nasional, serta harapan agar langkah kecil tersebut menjadi awal dari perjalanan besar di masa depan.


Sebab dari panggung di Jakarta, 18 anak Tanimbar telah menunjukkan satu hal: jarak dari pusat negeri bukanlah batas untuk bermimpi, berprestasi dan membawa nama daerah hingga ke tingkat nasional. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT