DARI TOKYO KE JAKARTA, TV ASAHI DATANG KHUSUS UNTUK MENGGALI KISAH PUTRI SANG PENJAGA KILANG MINYAK - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Rabu, 23 September 2026

DARI TOKYO KE JAKARTA, TV ASAHI DATANG KHUSUS UNTUK MENGGALI KISAH PUTRI SANG PENJAGA KILANG MINYAK


Jakarta
, globaltimurnn.com - Sebuah tim produksi dari televisi nasional Jepang, TV Asahi, terbang khusus dari Tokyo ke Jakarta. 


Kedatangan mereka bukan untuk meliput kerja sama ekonomi, bukan pula untuk urusan diplomatik kedua negara, Mereka datang dengan satu misi yang jauh lebih personal, menemui seorang perempuan, putri dari pria yang namanya selama ini nyaris tidak disebut dalam buku sejarah Indonesia, namun justru tercatat rapi dalam arsip perang Jepang.


Perempuan itu adalah Engelina Pattiasina, Ayahnya, Johannes Marcus Pattiasina, adalah nama yang membuat Jepang tidak bisa berpaling selama 81 tahun.


Kepada TV Asahi, Engelina berbicara tenang, namun setiap kalimatnya membawa beban sejarah yang berat. 


Ia menuturkan bagaimana ayahnya, seorang ahli perminyakan pribumi yang bekerja pada perusahaan Belanda BPM, dipaksa Jepang memperbaiki kilang minyak Plaju dan Sungai Gerong yang telah dihancurkan Belanda pada 1942.


Namun, di balik permintaan itu, tersimpan kisah yang jauh lebih gelap, Ketika menolak bekerja sama, ayahnya disiksa oleh tentara Jepang. 


Tulang belikatnya patah akibat kekerasan yang ia terima, "Ayah saya akhirnya bersedia, tetapi dengan satu syarat, tentara Jepang tidak boleh melihat cara dia bekerja," ujar Engelina kepada TV Asahi.


Syarat itu bukan sekadar ego seorang teknisi, Itu adalah bentuk perlawanan paling halus, namun paling tajam, yang bisa dilakukan seorang tawanan di tengah kekuasaan militer yang absolut. 


Pattiasina mengubah proses perbaikan kilang menjadi kotak hitam, Jepang mendapatkan kilang yang kembali beroperasi, tetapi mereka tidak pernah benar-benar memahami isi kepala orang yang memperbaikinya.


TV Asahi tampaknya tidak hanya tertarik pada aspek teknis, Mereka menggali lebih dalam, karena dalam arsip militer Jepang, nama Pattiasina muncul bukan hanya sebagai tukang reparasi, tetapi sebagai pendiri pasukan bersenjata.


Tahun 1944, ketika posisi Jepang di Pasifik mulai terdesak, Pattiasina melakukan langkah yang jauh melampaui perannya sebagai teknisi. 


Ia membentuk Laskar Minyak, sebuah pasukan yang terdiri dari sekitar 600 buruh minyak, mantan pekerja BPM, dan sukarelawan di wilayah Plaju, Sungai Gerong, Prabumulih, dan sekitarnya.


Mereka bukan sekadar milisi biasa, Mereka adalah orang-orang yang memahami seluk-beluk kilang, sekaligus siap mengangkat senjata, Siang hari mereka menjaga kilang tetap hidup untuk kebutuhan Jepang, Malam hari mereka berlatih militer, menunggu momen untuk merebut kembali apa yang menjadi hak bangsa mereka.


Momen itu datang pada awal 1945. Pattiasina dan Laskar Minyak mengambil alih kendali kilang Plaju dan Sungai Gerong dari tangan Jepang, lima bulan sebelum Jepang resmi menyerah kepada Sekutu, Ini adalah tindakan yang dalam bahasa militer mana pun tergolong luar biasa, sebuah pasukan rakyat, dengan peralatan terbatas, berhasil menguasai salah satu aset minyak paling strategis di Asia Tenggara.


Kepada TV Asahi, Engelina menegaskan bahwa ayahnya tidak pernah menyerahkan kilang itu kembali kepada Belanda, "Ayah saya siap menghancurkan kilang itu daripada menyerahkannya kepada Belanda," kenangnya.


Setelah kemerdekaan, keahlian Pattiasina menjadi aset yang tidak ternilai bagi republik yang baru berdiri, Pada 1957, ia ditunjuk sebagai salah satu direktur PT Permina, cikal bakal Pertamina, dan menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas operasi teknis di Pangkalan Brandan, Sumatera Utara.


Di sana, ia mengubah reruntuhan menjadi mesin devisa, Pada 25 Mei 1958, ekspor minyak mentah pertama dalam sejarah Indonesia dikirim dari Pangkalan Brandan ke Jepang, Pendapatan itu menjadi modal awal pembangunan bangsa, Namun warisan Pattiasina tidak berhenti di situ, Pada 1969, ia memimpin pembangunan Kilang Puteri Tujuh Dumai dan Sungai Pakning, Ia menolak permintaan perusahaan asing untuk membangun seluruh proyek, dan menegaskan bahwa Indonesia harus mampu mengerjakan sendiri sebagian besar pekerjaan itu, Pada September 1971, Presiden Soeharto meresmikan kilang Dumai berkapasitas 100.000 barel per hari.


Yang jarang diketahui public, residu lilin dari kilang Dumai digunakan untuk mengaspal jalan Pekanbaru–Dumai, yang saat itu dijuluki "Jalan Minyak". 


Sebuah ironi yang indah, minyak yang mengalir dari kilang Indonesia, diolah oleh tenaga Indonesia, menghasilkan jalan yang menghubungkan daerah-daerah Indonesia, dan membuka akses bagi pembangunan yang lebih luas.


MENGAPA TV ASAHI DATANG?

Kedatangan TV Asahi ke Jakarta bukan tanpa alasan, Dalam arsip perang Jepang, nama Pattiasina tercatat sebagai salah satu dari sedikit orang yang mampu memperbaiki kilang minyak Palembang setelah kehancuran total. 


Jepang saat itu kehilangan teknisi-teknisi terbaiknya ketika kapal Taiyō Maru ditenggelamkan kapal selam Amerika pada Mei 1942,Mereka bergantung pada Pattiasina, tetapi tidak pernah benar-benar menguasainya.


Kepada TV Asahi, Engelina juga menyampaikan catatan kritis, Ia menyebut bahwa Jepang memang membayar reparasi perang, tetapi banyak proyek yang dibangun atas nama reparasi itu kemudian dimodifikasi menjadi bentuk yang lebih menguntungkan Jepang, Pernyataan itu bukan emosi. Itu fakta sejarah yang selama ini jarang dibuka.


SEBUAH NAMA YANG HARUS DIINGAT

Nama Johannes Marcus Pattiasina mungkin tidak sepopuler nama-nama besar dalam sejarah Indonesia. Ia bukan tokoh politik, bukan tokoh yang pidatonya dikutip di buku pelajaran. 


Ia adalah seorang teknisi seorang ahli perminyakan yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk memastikan bahwa minyak Indonesia mengalir untuk kesejahteraan rakyatnya sendiri.


Namun dari tangannya, dari pikirannya lahir sebuah fondasi kedaulatan energi, kilang-kilang yang menghasilkan devisa, jalan-jalan yang menghubungkan daerah, dan sebuah perusahaan minyak nasional yang kelak menjadi tulang punggung kekuatan ekonomi Indoensia dari tahuan 1960an hingga 1990an, serta Pertamina menjadi salah satu Perusahaan energi yang terbesar di Asia.


Dan kini, melalui wawancara khusus TV Asahi dengan putrinya, Engelina Pattiasina, kisah itu kembali mencuat ke permukaan. Sebuah kisah tentang pengkhianatan, siksaan, perlawanan, dan akhirnya sebuah warisan yang mengalir dalam setiap tetes bahan bakar yang menggerakkan Indonesia modern.


"Ayah saya pernah berkata, minyak akan semahal emas, dan ia akan menghidupi seluruh Indonesia," ujar Engelina mengakhiri wawancaranya, Dan waktu membuktikan bahwa kata yang lahir dari JM Pattiasina benar. (Rdks) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT