Ambon, Globaltimurnn.com — Menjadi aparatur sipil negara bukanlah sekadar memperoleh status sebagai pegawai pemerintah. Di balik seragam dan jabatan yang kelak disandang, terdapat tanggung jawab untuk hadir, melayani, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pesan itulah yang mengemuka saat Pemerintah Kota Ambon membuka Pelatihan Dasar (Latsar) Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Angkatan 21–25 dan Golongan Angkatan 12 Tahun 2026.
Sebanyak 240 CPNS mengikuti tahapan pembentukan awal sebagai calon aparatur Pemerintah Kota Ambon. Mereka terdiri atas 200 peserta golongan I dan 40 peserta golongan II, dengan komposisi 153 perempuan dan 87 laki-laki.
Di hadapan para peserta, Wakil Wali Kota Ambon, Elly Toisutta, mengingatkan bahwa kesempatan menjadi ASN merupakan awal dari perjalanan panjang pengabdian“ Atas nama Pemerintah Kota Ambon, saya mengucapkan selamat datang dan selamat mengikuti pelatihan dasar kepada seluruh peserta,” kata Elly dalam sambutannya.
Bagi Elly, Latsar bukan sekadar rangkaian kegiatan yang harus dilewati sebelum seorang CPNS menjalankan tugas sebagai aparatur. Pelatihan tersebut menjadi ruang pembentukan karakter sekaligus tempat untuk menanamkan kembali nilai-nilai dasar yang harus melekat dalam diri seorang ASN.
Ia menggambarkan Latsar sebagai “kawah candradimuka”, tempat para calon aparatur ditempa agar memiliki integritas, disiplin, kompetensi dan karakter yang kuat, Perubahan zaman turut mengubah wajah pelayanan pemerintahan.
Masyarakat kini semakin kritis dan membutuhkan pelayanan yang cepat, terbuka serta mudah diakses. Pada saat yang sama, perkembangan teknologi menuntut aparatur untuk mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan.
Dalam situasi tersebut, ASN tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif. Mereka dituntut mampu membaca kebutuhan masyarakat dan menghasilkan pekerjaan yang memberikan dampak nyata, Saudara dituntut bertransformasi menjadi birokrat yang lincah, adaptif, dan berorientasi hasil, tegas Elly.
Pesan tersebut menjadi penting bagi 240 CPNS yang kelak akan ditempatkan pada berbagai unit kerja Pemerintah Kota Ambon, Mereka akan menjadi bagian dari wajah birokrasi yang berhadapan langsung dengan masyarakat. Cara mereka bekerja, berkomunikasi dan memberikan pelayanan akan ikut menentukan bagaimana masyarakat melihat pemerintah.
Karena itu, Elly meminta nilai dasar ASN BerAKHLAK tidak berhenti sebagai materi pelatihan atau sekadar hafalan.
Nilai berorientasi pelayanan harus diterjemahkan dalam kesediaan memahami kebutuhan masyarakat. Akuntabilitas harus diwujudkan melalui kejujuran dan tanggung jawab. Kompetensi harus terus dikembangkan, sementara sikap harmonis, loyal, adaptif dan kolaboratif harus menjadi bagian dari keseharian dalam menjalankan tugas.
Di tengah tuntutan perubahan birokrasi, Elly memberikan perhatian khusus pada persoalan integritas, Menurutnya, kemampuan seorang ASN tidak akan berarti banyak apabila tidak disertai moral dan tanggung jawab dalam menjalankan amanah.
Seorang aparatur harus memiliki keberanian untuk menolak praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Ia juga harus mampu menjaga profesionalisme serta memberikan pelayanan tanpa membedakan latar belakang masyarakat.
Nilai tersebut semakin penting bagi Kota Ambon yang dihuni masyarakat dengan keberagaman latar belakang, Dalam konteks itu, Elly mengingatkan bahwa pengabdian ASN juga berkaitan dengan upaya menjaga persatuan dan kedamaian“ Kesadaran untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa, khususnya merawat kedamaian dan kebersamaan di Kota Ambon Manise yang kita cintai,” pesannya.
Bagi seorang ASN, bela negara tidak selalu harus dimaknai dalam bentuk perjuangan fisik. Menjalankan tugas dengan disiplin, bekerja secara profesional, menjaga persatuan, memberikan pelayanan yang adil dan menjauhi penyimpangan juga merupakan bentuk pengabdian kepada negara.
Perjalanan Latsar para CPNS tersebut juga tidak sepenuhnya berlangsung dalam ruang kelas, Mengikuti ketentuan kurikulum Latsar CPNS, proses pembelajaran dilakukan melalui metode blended learning, yang menggabungkan pembelajaran daring dan luring.
Para peserta mengikuti pembelajaran mandiri melalui Massive Open Online Course (MOOC), pembelajaran melalui LMS Manise Corpu BPSDM Provinsi Maluku dan Zoom Meeting, Mereka juga menjalani proses aktualisasi di unit kerja masing-masing sebelum mengikuti pembelajaran klasikal.
Untuk tahapan klasikal, peserta dijadwalkan mengikuti pembelajaran tatap muka pada 15–21 September 2026 di BPSDM Provinsi Maluku dengan beban pembelajaran 62 jam pelajaran, Bagi Elly, waktu tersebut harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh, Ia meminta para peserta tidak sekadar mengejar kehadiran maupun kelulusan, tetapi menyerap pengetahuan, membangun relasi dan mengambil pengalaman sebanyak mungkin dari para pengajar.
“Manfaatkan waktu yang singkat namun sangat berharga ini sebaik-baiknya. Serap ilmu sebanyak-banyaknya, bangun jejaring dan kekompakan sesama peserta, jaga kesehatan, serta tunjukkan sikap dan perilaku teladan,” pesannya.
Di balik angka 240 peserta, terdapat harapan besar Pemerintah Kota Ambon terhadap wajah birokrasi di masa mendatang, Para CPNS tersebut nantinya akan mengisi berbagai lini pelayanan pemerintahan. Mereka akan bersentuhan dengan masyarakat, menangani pekerjaan administratif, menjalankan program pemerintah, sekaligus menjadi bagian dari proses pembangunan daerah.
Karena itu, Elly juga menitipkan para peserta kepada mentor, pelatih dan panitia yang mendampingi proses Latsar, Para peserta diharapkan tidak hanya dibekali kemampuan teknis, tetapi juga dibentuk menjadi aparatur yang memiliki moral, karakter dan semangat pengabdian.
Sebab keberhasilan Latsar sesungguhnya tidak berhenti ketika seorang peserta dinyatakan lulus, Ujian yang lebih nyata justru dimulai ketika mereka kembali ke unit kerja dan berhadapan langsung dengan masyarakat.
Di sanalah integritas akan diuji. Di sanalah kedisiplinan akan terlihat. Dan di sanalah nilai-nilai BerAKHLAK akan dibuktikan melalui tindakan.
Apakah mereka mampu tetap jujur ketika menghadapi tekanan? Apakah mereka tetap memberikan pelayanan dengan tulus? Apakah mereka mampu beradaptasi ketika sistem pemerintahan berubah? Dan apakah kepentingan masyarakat tetap menjadi orientasi utama dalam bekerja?
Jawaban atas semua pertanyaan itu kelak tidak lagi diberikan melalui kata-kata, melainkan melalui kinerja.
Latsar menjadi titik awal untuk membentuk hal tersebut, Dari ruang pelatihan, 240 CPNS Pemerintah Kota Ambon sedang dipersiapkan untuk memasuki dunia birokrasi yang sesungguhnya dunia yang menuntut bukan hanya kecakapan bekerja, tetapi juga keberanian untuk bertanggung jawab.
Sebab menjadi ASN pada akhirnya bukan tentang seberapa tinggi posisi yang ditempati, melainkan tentang seberapa besar kehadiran seorang aparatur mampu menghadirkan pelayanan, memberikan solusi dan membawa manfaat bagi masyarakat, Dari sinilah pengabdian itu dimulai. (Za)


