Dari Laut hingga Energi Hijau, Ambon Menjemput Masa Depan Bersama Selandia Baru - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Senin, 14 September 2026

Dari Laut hingga Energi Hijau, Ambon Menjemput Masa Depan Bersama Selandia Baru


Ambon
, Globaltimurnn.com - Laut adalah halaman depan Kota Ambon. Dari laut masyarakat menggantungkan hidup, menghubungkan pulau-pulau, sekaligus menyimpan persoalan yang semakin hari semakin nyata: sampah yang terbawa arus, kebutuhan energi yang terus meningkat, hingga tantangan menyediakan air bersih bagi masyarakat, Di tengah berbagai persoalan itu, sebuah pintu kolaborasi mulai dibuka.


Pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Selandia Baru mempertemukan gagasan mereka dalam audiensi di Balai Kota Ambon, Senin (14/09/2026). Pertemuan yang awalnya merupakan courtesy call tersebut berkembang menjadi pembicaraan mengenai masa depan kota kepulauan mulai dari energi terbarukan, pengelolaan sampah, air bersih, penguatan sumber daya manusia hingga kehidupan sosial masyarakat.


Bagi Ambon, pembicaraan tersebut bukan sekadar tentang proyek, Ada kebutuhan untuk menemukan cara baru dalam mengelola kota yang terus berkembang, namun pada saat yang sama harus tetap menjaga laut, lingkungan dan kualitas hidup masyarakatnya.


Salah satu peluang besar hadir melalui NZMATES Phase 2, program kerja sama energi terbarukan yang akan berlangsung selama lima tahun, 2026–2031, bersama Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM.


Program tersebut membuka ruang bagi Ambon untuk memperkuat kapasitas daerah sekaligus mengembangkan pengetahuan mengenai energi bersih, Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengatakan Pemerintah Kota Ambon terbuka terhadap berbagai bentuk kerja sama yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.


Kota Ambon pada prinsipnya sangat terbuka untuk bekerja sama. Kebutuhan energi terbarukan ini sangat penting, terutama untuk wilayah kepulauan, dan tentu kita juga perlu memperkuat sarana-prasarana serta kapasitas sumber daya manusia, ujar Bodewin.


Bagi kota kepulauan seperti Ambon, energi bukan sekadar persoalan listrik, Jarak antarpulau, kondisi geografis dan kebutuhan pelayanan masyarakat membuat ketersediaan energi menjadi bagian penting dari pembangunan, Namun, menghadirkan energi terbarukan tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur,Teknologi membutuhkan manusia yang mampu mengoperasikan, merawat dan mengembangkannya.


Karena itu, penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting dari arah kolaborasi tersebut, Ambon tidak hanya membutuhkan energi yang lebih bersih, tetapi juga generasi dan aparatur yang memahami bagaimana energi tersebut dapat dikelola secara berkelanjutan.


Di sisi lain, ada persoalan yang setiap hari hadir di depan mata yaitu: sampah, Produksi sampah Kota Ambon diperkirakan mencapai sekitar 300 ton setiap hari, Jumlah itu menggambarkan besarnya tantangan yang harus dihadapi pemerintah dan masyarakat.


Namun ketika gagasan waste-to-energy atau pengolahan sampah menjadi energi dibicarakan, angka tersebut ternyata masih belum mencukupi. Skala yang dibutuhkan diperkirakan mencapai sekitar 1.000 ton sampah per hari, Artinya, perjalanan menuju pemanfaatan sampah sebagai sumber energi masih membutuhkan sistem pengelolaan yang jauh lebih besar.


Mulai dari pengurangan sampah dari sumbernya, pemilahan, pengumpulan hingga pengolahan harus berjalan secara terpadu, Tetapi persoalan Ambon tidak berhenti di daratan, Sebagai kota yang berada di wilayah kepulauan, sebagian sampah juga berakhir di kawasan pesisir dan laut.


Untuk sampah, produksi kita saat ini sekitar 300 ton per hari. Angka ini memang belum memenuhi skala yang dibutuhkan untuk waste-to-energy, tetapi kita terus melakukan kolaborasi dalam penanganan sampah, termasuk sampah maritim, kata Bodewin.


Kalimat tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di Ambon membutuhkan pendekatan yang lebih luas, Sampah yang tidak tertangani bukan hanya mengganggu wajah kota. Ketika masuk ke laut, persoalannya dapat bersentuhan dengan ekosistem, perikanan, transportasi hingga kehidupan masyarakat pesisir.


Karena itu, menjaga laut sesungguhnya merupakan bagian dari menjaga masa depan Ambon, Di tengah pembicaraan mengenai teknologi dan lingkungan, ada satu investasi yang justru tidak terlihat secara kasatmata: manusia, Duta Besar Selandia Baru untuk Indonesia, Phillip Taula, menyampaikan dukungan melalui program peningkatan kapasitas berupa beasiswa dan short course.


Kesempatan tersebut menjadi bagian penting dari kerja sama karena pembangunan berkelanjutan membutuhkan aparatur yang tidak hanya mampu menjalankan administrasi, tetapi juga memahami perubahan teknologi, energi, lingkungan dan tata kelola.


Pengetahuan yang dibawa pulang dari program tersebut diharapkan tidak berhenti pada peserta, Ia dapat berkembang menjadi pengetahuan institusi, diterapkan dalam kebijakan, kemudian memberi dampak lebih luas kepada masyarakat.


Ada alasan lain mengapa kerja sama tersebut menarik bagi Ambon, Kota ini ditetapkan sebagai lokasi kantor operasional Program Management Office (PMO) NZMATES, Posisi tersebut memberikan peluang bagi Ambon untuk tidak sekadar menjadi penerima manfaat program.


Ambon berpotensi menjadi salah satu titik pengembangan kerja sama energi terbarukan dan peningkatan kapasitas di kawasan, Program NZMATES Phase 2 sendiri didukung oleh konsorsium institusi Selandia Baru bersama Yayasan Mercy Corps Indonesia.


Dengan hadirnya PMO di Ambon, kota ini memiliki peluang untuk menjadi ruang bertemunya pengetahuan, teknologi, pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat dalam membangun agenda energi yang lebih berkelanjutan.


Pembicaraan tidak hanya berhenti pada energi dan sampah, Persoalan air bersih juga menjadi bagian dari audiensi, Kondisi geografis Ambon membuat penyediaan air bersih memiliki tantangan tersendiri. Pertumbuhan permukiman, karakter wilayah dan kondisi topografi membutuhkan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan kota kepulauan.


Namun ada persoalan lain yang tidak kalah penting, yakni manusia, Pembangunan kota tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur, Kehidupan sosial masyarakat juga menjadi fondasi.


Ambon tumbuh dalam keberagaman. Karena itu, pembangunan berkelanjutan harus berjalan bersama dengan kehidupan sosial yang harmonis, Energi bersih membutuhkan masyarakat yang siap, Pengelolaan sampah membutuhkan perubahan perilaku, Air bersih membutuhkan tata kelola yang baik.


Sementara seluruh proses pembangunan membutuhkan masyarakat yang mampu hidup bersama dalam keberagaman, Audiensi Pemerintah Kota Ambon dan Kedutaan Besar Selandia Baru akhirnya membawa satu pesan penting: persoalan kota kepulauan tidak bisa diselesaikan dengan satu kebijakan.


Energi berkaitan dengan sumber daya manusia, Sampah berkaitan dengan lingkungan, Laut berkaitan dengan kehidupan masyarakat, Air bersih berkaitan dengan kualitas hidup, Dan dari seluruhnya membutuhkan kolaborasi.


Bagi Pemerintah Kota Ambon, kerja sama dengan Selandia Baru menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring, membuka akses terhadap pengetahuan dan memperkuat kapasitas daerah.


Sementara bagi Ambon, kerja sama tersebut menyimpan harapan yang lebih besar, Bahwa suatu hari nanti, energi yang digunakan semakin bersih, sampah tidak lagi menjadi ancaman bagi laut, air bersih semakin mudah diakses, dan sumber daya manusia daerah mampu berdiri sejajar dengan perkembangan teknologi.


Sebab masa depan Ambon tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat kota ini berkembang, Tetapi juga oleh seberapa mampu Ambon tumbuh tanpa meninggalkan laut, lingkungan dan manusianya, Dari ruang pertemuan di Balai Kota Ambon, sebuah jalan kolaborasi mulai dibuka, Jalannya mungkin masih panjang, Namun arahnya sudah terlihat, menuju Ambon yang lebih hijau, lebih tangguh dan lebih siap menghadapi masa depan. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT