Ambon, Globaltimurnn.com – Kisah kehidupan yang penuh luka hingga menemukan titik balik melalui Al-Qur’an menjadi pesan utama yang disampaikan Ustadz Fatih Karim dalam kegiatan DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 bertajuk “Catatan Hati Anak yang Runtuh”.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu malam, 15 Agustus 2026, di Ballroom Hotel Santika Premiere, kawasan Batu Merah, Kota Ambon, tersebut menghadirkan Ustadz Fatih Karim bersama istrinya, Ummu Sajja, sebagai bintang tamu.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., sementara suasana acara turut dimeriahkan Syauqi Alaydrus dan Gahwa Band. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Ambon, Hotel Santika Premiere, serta sejumlah pihak dan sponsor lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Fatih Karim membagikan kisah perjalanan hidupnya kepada ratusan peserta yang hadir. Ia menceritakan bagaimana dirinya tumbuh dalam keluarga yang mengalami persoalan rumah tangga hingga harus menjalani masa kecil dan pendidikan tanpa dapat merasakan kehidupan bersama kedua orang tuanya secara utuh.
Pengalaman tersebut meninggalkan luka mendalam dalam perjalanan hidupnya. Namun, menurut Fatih, luka masa lalu bukan alasan untuk menyerah. Justru dari berbagai pengalaman tersebut, dirinya belajar memahami kehidupan, memaknai keluarga, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
Fatih kemudian melanjutkan pendidikan hingga menyelesaikan D3 Agribisnis di Universitas Padjadjaran dan S1 Agribisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Titik balik kehidupannya mulai terjadi ketika ia mengenal kajian Islam dan semakin mendalami Al-Qur’an saat masih menjadi mahasiswa. Ia mulai mempelajari bahasa Arab, tafsir dan berbagai ilmu keislaman hingga kemudian menemukan makna baru dalam perjalanan hidupnya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan Fatih kemudian aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan pendidikan, dengan semangat mengajak masyarakat untuk mengenal dan mencintai Al-Qur’an.
“Dari luka itulah kemudian saya bahagia. Saya tumbuh dari luka, saya tumbuh dari air mata, dan itu tidak menjadi alasan buat saya,” ungkapnya.
Selain kisah masa kecil, Fatih juga menceritakan perjalanan rumah tangganya bersama Ummu Sajja. Ia mengakui bahwa membangun rumah tangga juga tidak selalu mudah. Luka masa lalu dan berbagai persoalan sempat menjadi tantangan yang harus mereka hadapi bersama.
Namun, melalui proses saling memahami, menerima dan memaafkan, keduanya mampu melewati berbagai ujian tersebut.
Menurut Fatih, setiap manusia memiliki luka dan cerita masing-masing. Ada yang terluka karena orang tua, keluarga, pasangan maupun persoalan kehidupan lainnya.
Karena itu, ia mengajak setiap orang untuk tidak menjadikan luka sebagai alasan untuk berhenti melangkah.
Fatih juga menceritakan berbagai kegiatan sosial dan pembangunan masjid yang dilakukannya di sejumlah negara. Baginya, berbagai aktivitas tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk memberikan manfaat kepada sesama sekaligus menjadi bentuk baktinya kepada kedua orang tua.
Setelah membagikan kisah perjalanan hidupnya, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi berbagi cerita dan tanya jawab bersama para peserta.
Sejumlah peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan sekaligus menceritakan pengalaman pribadi, keresahan, maupun persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan.
Ustadz Fatih Karim bersama Ummu Sajja pun secara bergantian memberikan jawaban, nasihat dan motivasi kepada para peserta.
Suasana Ballroom Hotel Santika semakin hangat ketika sejumlah cerita peserta disampaikan dengan penuh keterbukaan. Ada suasana haru, namun juga diwarnai canda dan kebahagiaan, sehingga kegiatan terasa lebih dekat dan penuh kekeluargaan.
Bagi peserta, sesi tersebut tidak hanya menjadi kesempatan untuk mendengarkan kisah inspiratif, tetapi juga menjadi ruang untuk mendapatkan penguatan dan motivasi.
Ustadz Fatih dan Ummu Sajja mengingatkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan dan luka masing-masing. Namun, luka tidak harus menjadi akhir dari kehidupan.
Dengan mendekatkan diri kepada Allah, terus belajar dan berusaha memperbaiki diri, pengalaman pahit dapat menjadi kekuatan untuk melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Antusiasme masyarakat, khususnya generasi muda Ambon, juga mendapat perhatian khusus dari Ustadz Fatih Karim.
Ia mengaku terkejut melihat jumlah peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut. Awalnya, ia memperkirakan acara hanya akan diikuti sekitar 100 hingga 200 orang. Namun, ternyata jumlah peserta yang hadir mencapai lebih dari 500 orang.
Menurutnya, tingginya antusiasme anak muda dalam mengikuti kegiatan keagamaan merupakan tanda positif bagi masa depan sebuah daerah.
“Standar sebuah daerah itu akan bangkit dimulai dari anak muda. Kalau anak mudanya sudah ikut kajian, berarti daerah itu punya ciri-ciri untuk menjadi daerah yang berkah dan berubah,” katanya.
Ia menilai, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan positif menjadi modal penting bagi kemajuan Ambon dan Maluku ke depan.
Secara khusus, Ustadz Fatih Karim berpesan kepada generasi muda Maluku agar tidak berhenti belajar dan tidak cepat merasa paling pintar.
Ia mendorong anak muda untuk terus mengembangkan kreativitas, melakukan improvisasi, serta memiliki kemampuan berpikir kritis dalam menghadapi perkembangan zaman.
Menurutnya, masa depan Maluku, Indonesia dan umat Islam sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya.
“Bagaimana Maluku ke depan, bagaimana Indonesia ke depan, bagaimana umat Islam ke depan, itu bergantung anak mudanya. Kalau anak mudanya hebat, kalau anak mudanya kuat, kalau anak mudanya sehat, insya Allah generasi-generasi hebat akan muncul dari Ambon,” tegasnya.
Ia pun mengajak generasi muda Ambon dan Maluku untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dengan terus menambah ilmu, menggali potensi diri dan berani menciptakan sesuatu yang positif.
“Terus belajar, jangan pernah merasa pintar, terus improvisasi, banyak kreativitas yang digali, dan terus berpikir kritis. Insya Allah Ambon, Maluku akan tumbuh menjadi masa depan yang cerah karena anak mudanya hebat,” pungkasnya.
Rangkaian DUDU BACARITA Deng Habib’s Episode 6 pun berlangsung dalam suasana penuh kehangatan hingga akhir acara. Kehadiran Ustadz Fatih Karim dan Ummu Sajja meninggalkan kesan mendalam bagi para peserta, terutama generasi muda Ambon yang pulang membawa pesan bahwa luka bukan alasan untuk menyerah, melainkan dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh dan memberikan manfaat bagi sesama. (Za)
