Ambon, Globaltimurnn.com – Perkembangan teknologi dan perubahan pola pergaulan yang semakin cepat menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda. Karena itu, penguatan iman, ilmu, dan karakter dinilai menjadi bekal penting agar anak-anak muda tidak kehilangan arah dalam menghadapi perkembangan zaman.
Hal tersebut disampaikan Wakil Wali Kota Ambon, Elly Toisutta, S.Sos., saat menghadiri kegiatan “Duduk Bacarita dengan Habib” episode 6 bertajuk “Catatan Hati Anak yang Runtuh”, yang digelar di Ballroom Hotel Santika Ambon, Sabtu malam (15/08/2026).
Elly mengapresiasi pelaksanaan kegiatan yang menghadirkan ruang dialog keagamaan secara lebih dekat dan terbuka bagi masyarakat. Menurutnya, kegiatan semacam ini menjadi semakin penting karena sebagian besar peserta yang hadir merupakan kalangan anak muda.
“Atas nama Pemerintah Daerah Kota Ambon dan pribadi, tentunya kami memberikan apresiasi. Saya lihat yang hadir lebih banyak anak muda. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan anak muda terhadap kajian-kajian Islam juga sangat penting,” ujar Elly.
Menurutnya, kehadiran para tokoh agama dan pendakwah dalam kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus menjawab berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Ia menilai tema “Catatan Hati Anak yang Runtuh” juga memiliki keterkaitan kuat dengan realitas kehidupan anak muda saat ini. Melalui konsep Duduk Bacarita, masyarakat diajak untuk membangun komunikasi secara lebih dekat, tidak sekadar dalam suasana formal, tetapi melalui percakapan dari hati ke hati.
“Kalau orang Ambon bilang, kita duduk bersama-sama dan bercerita dari hati ke hati. Tidak ada pimpinan dengan bawahan, tidak ada bos dengan anak buah. Kita duduk dan bercerita bersama,” ungkapnya.
Elly mengatakan, pola komunikasi seperti itu penting untuk menciptakan ruang yang nyaman bagi anak muda dalam menyampaikan persoalan, keresahan maupun pengalaman yang mereka alami.
Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa perkembangan teknologi yang begitu pesat harus diimbangi dengan penguatan mental dan spiritual. Teknologi, menurutnya, membawa banyak manfaat, namun juga menghadirkan tantangan yang tidak sedikit.
“Perkembangan zaman begitu cepat, teknologi juga begitu cepat, dan pergaulan bebas cukup banyak. Karena itu, anak-anak muda perlu dibekali dengan ilmu dan kekuatan iman,” katanya.
Elly menegaskan, ilmu dan iman dapat menjadi pegangan bagi generasi muda dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
“Dalam melangkah, mereka harus punya kompas secara pribadi. Ilmu juga bisa menjaga mereka dari perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Ia pun berharap kegiatan keagamaan yang melibatkan generasi muda dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Kota Ambon. Menurutnya, pembinaan generasi muda bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan bersama antara orang tua, tokoh agama, dan seluruh elemen masyarakat.
“Kita selaku orang tua, ustaz dan tokoh-tokoh agama punya tanggung jawab bersama untuk melihat perkembangan generasi muda kita ke depan,” jelas Elly.
Dalam kesempatan tersebut, Elly juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Ustaz Fatih Karim, Habib Rifqi Alhamid serta seluruh pihak yang telah menggagas dan melaksanakan kegiatan tersebut di Kota Ambon.
Ia berharap berbagai program dan kegiatan yang diberikan kepada masyarakat dapat terus memberikan manfaat, khususnya dalam membangun kehidupan sosial dan spiritual generasi muda.
“Terima kasih atas kedatangan dan seluruh program yang sudah dibagikan bersama warga masyarakat Kota Ambon. Kami tentunya tidak bisa membalas semua yang dilakukan. Harapan kita, semua yang dilakukan ini hanya mengharapkan ridha dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.
Elly menutup sambutannya dengan harapan agar kegiatan Duduk Bacarita dengan Habib dapat menjadi bagian dari upaya bersama dalam membangun generasi muda Kota Ambon yang tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki iman, ilmu, dan karakter yang kuat.
Dengan demikian, kemajuan zaman dapat dihadapi bukan sekadar dengan kecanggihan teknologi, melainkan juga dengan fondasi moral dan spiritual yang kokoh. (Zo)
