Ambon, Globaltimurnn.com — Ketua Yayasan Ar Rahmah Ambon, Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., menyampaikan kekecewaannya terhadap pihak yang disebut terlibat dalam panitia Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Kota Ambon terkait konsep kegiatan keagamaan yang sebelumnya dibahas bersama dirinya.
Habib Rifqi mengaku kecewa karena setelah dimintai masukan mengenai konsep kegiatan “Ambon Bershalawat”, tidak ada lagi komunikasi maupun penjelasan terkait tindak lanjut gagasan yang telah disampaikannya.
Menurutnya, pada 14 Agustus 2026, dirinya bertemu dengan sejumlah pihak dan menjelaskan konsep kegiatan yang mencakup pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW, hadrah Al-Banjari hingga ceramah agama.
“Saya sudah menjelaskan konsepnya. Ada pembacaan Maulid, hadrah Al-Banjari, kemudian ceramah. Saya sudah memberikan ide dan bahan, tetapi setelah itu tidak ada penjelasan kepada saya,” ujar Habib Rifqi.
Ia menegaskan, dirinya tidak mempersoalkan apabila gagasan tersebut dikembangkan atau digunakan pihak lain. Namun, menurutnya, etika komunikasi dan sikap menghargai terhadap orang yang sejak awal dimintai masukan tetap harus dijaga.
“Apa karena kita bukan orang pemerintah, bukan orang kaya, bukan orang pejabat? Lantas kami ini ulama dan tokoh agama dipermainkan segitunya?” tegasnya.
Habib Rifqi juga mengaku telah beberapa kali berkomunikasi dengan sejumlah pihak yang disebut berkaitan dengan kegiatan tersebut, termasuk seseorang bernama Ari Namun, ia menyebut komunikasi tersebut tidak berujung pada kepastian.
Kondisi itu membuat Habib Rifqi mempertanyakan proses penyusunan konsep kegiatan di tubuh LASQI Kota Ambon.
“Apakah LASQI Ambon miskin konsep sehingga harus mencari tahu dari orang yang mengerti, kemudian konsepnya diambil begitu saja? Kalau memang begitu, bagaimana kalian bisa maju dengan cara seperti ini?” katanya.
Ia berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara terbuka dan baik-baik. Habib Rifqi juga meminta pihak yang merasa berkaitan memberikan penjelasan dan, apabila terdapat kekeliruan, menyampaikan permintaan maaf.
“Jangan permainkan kami, mana etika dan moral kalian. Ini bukan hanya soal konsep, tetapi soal bagaimana ulama dan tokoh agama dihargai,” pungkasnya. (Rdks)
