Ambon, globaltimurnn.com - Mensyukuri nikmat Allah SWT bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah dengan lisan, tetapi juga diwujudkan melalui ketaatan, menjaga amanah, serta menggunakan seluruh anugerah kehidupan untuk jalan kebaikan.
Pesan penuh makna tersebut disampaikan Kabag Jarlat SPN Polda Maluku, Kompol H. Akmil Djapa, saat bertindak sebagai khatib dalam pelaksanaan Shalat Jumat di Masjid Al Iqro SPN Polda Maluku, Jumat. (30/10/2026)
Mengangkat tema "Syukur Nikmat Lahir dan Batin", Kompol H. Akmil Djapa mengajak jamaah untuk merenungkan betapa banyak nikmat Allah SWT yang telah diberikan kepada manusia, baik yang tampak secara lahiriah maupun yang tersembunyi dalam kehidupan batin.
Dalam khutbahnya, ia menegaskan bahwa setiap muslim memiliki kewajiban untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang dianugerahkan. Sebab, hakikat syukur bukan hanya terletak pada indahnya ucapan, melainkan tercermin dari sikap dan perilaku dalam menjalani kehidupan.
Menurutnya, salah satu wujud syukur yang sesungguhnya adalah tidak menggunakan nikmat Allah untuk melakukan kemaksiatan, tidak mengingkari perintah-Nya, serta tidak mengingkari ajaran Rasul-Nya.
Sebaliknya, seseorang yang lisannya senantiasa mengucapkan syukur, tetapi masih menggunakan kesehatan, kekayaan, jabatan, kekuatan, dan ilmu pengetahuan untuk melakukan perbuatan yang dilarang Allah SWT, pada hakikatnya belum memahami makna syukur yang sesungguhnya.
"Syukur bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui perbuatan. Nikmat kesehatan hendaknya digunakan untuk beribadah, nikmat harta untuk berbagi, nikmat ilmu untuk memberikan manfaat, dan nikmat jabatan untuk menegakkan kebenaran serta keadilan," demikian pesan yang ditekankan dalam khutbah tersebut.
Empat Perkara yang akan Dipertanggungjawabkan
Lebih jauh, Kompol H. Akmil Djapa mengajak jamaah untuk melakukan introspeksi diri.
- Sudahkah setiap nikmat yang diberikan Allah SWT dipergunakan sebagaimana mestinya?
- Sudahkah umur diisi dengan amal kebaikan?
- Sudahkah masa muda dimanfaatkan untuk sesuatu yang bernilai ibadah?
Ia kemudian mengingatkan sebuah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Al-Baihaqi, tentang empat perkara yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT pada hari kiamat.
Rasulullah SAW bersabda bahwa kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat perkara, yakni umurnya untuk apa dihabiskan, masa mudanya untuk apa digunakan, hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dibelanjakan, serta ilmunya sejauh mana diamalkan.
Pesan hadis tersebut, menurutnya, merupakan peringatan mendalam bagi setiap manusia agar tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan hidup.
Umur bukan sekadar hitungan tahun, masa muda bukan hanya tentang kekuatan fisik, harta bukan semata-mata tentang kekayaan, dan ilmu bukan hanya untuk dibanggakan. Semuanya merupakan amanah yang kelak harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Jangan Sampai Nikmat Menjadi Jalan Kemaksiatan
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering kali lebih mudah mengingat kekurangan daripada menghitung nikmat yang telah diterimanya. Padahal, masih diberi kesempatan bernapas, kesehatan, keluarga, pekerjaan, serta kesempatan beribadah merupakan karunia besar yang tidak ternilai harganya.
Karena itu, khutbah tersebut menjadi pengingat bahwa syukur harus hadir dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota Polri.
Jabatan adalah amanah, kekuasaan adalah ujian, ilmu adalah tanggung jawab, dan kesempatan mengabdi kepada masyarakat merupakan nikmat yang harus dijaga dengan kejujuran serta keikhlasan.
Pada akhirnya, pesan khutbah Jumat di Masjid Al Iqro SPN Polda Maluku ini mengajak setiap muslim untuk tidak hanya menjadi manusia yang pandai mengucapkan syukur, tetapi juga menjadi hamba yang mampu membuktikan rasa syukurnya melalui amal saleh.
Sebab, sebesar apa pun nikmat yang diterima manusia, semuanya akan kehilangan makna apabila tidak digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Syukur adalah ketika lisan memuji Allah, hati mengakui kebesaran-Nya, dan seluruh anggota tubuh digunakan untuk menaati perintah-Nya. (Rdks)







