Ambon, Globaltimurnn.com — Di balik langkah 39 calon praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) asal Maluku menuju seleksi tingkat pusat di Jatinangor, Jawa Barat, tersimpan doa dan harapan besar dari keluarga. Bukan sekadar keinginan melihat anak-anak mereka berhasil meraih cita-cita, tetapi juga harapan agar kelak mereka tumbuh menjadi generasi yang mampu membawa perubahan bagi daerah, bangsa, dan negara.
Harapan itu turut disampaikan AKP Jantje Serhalawan, S.Sos., Kapolsek Kawasan Bandara Pattimura Laha, usai mengikuti pelepasan 39 calon praja IPDN yang berlangsung di lantai II Kantor Gubernur Maluku, Rabu (28/10/2026).
Bagi Jantje, perjalanan yang sedang ditempuh puluhan anak muda tersebut merupakan momentum penting dalam menentukan masa depan mereka. Kesempatan mengikuti seleksi tingkat pusat menjadi bukti bahwa perjuangan telah membawa mereka sampai pada satu tahapan yang patut disyukuri, meski perjalanan untuk meraih cita-cita masih harus dilanjutkan.
Sebagai orang tua, ia memahami bahwa setiap anak memiliki impian dan jalan hidup yang ingin diperjuangkan. Karena itu, dukungan keluarga menjadi bagian penting yang mengiringi langkah mereka, tanpa menghilangkan kebebasan anak untuk menentukan masa depannya sendiri.
“Ini semua kemauan anak. Yang namanya orang tua, kalau beta dari kepolisian, pasti berharap bahwa beta punya anak juga mungkin menggantikan dia punya orang tua. Tetapi ini kemauan daripada anak, ya beta mau bikin apa? Semua orang tua mendukung dan berharap bahwa kemampuan dia, dia punya kemampuan, ya dia mesti arahkan untuk bisa buktikan,” ungkap Jantje.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa di balik dukungan orang tua, terdapat kepercayaan terhadap kemampuan dan pilihan anak. Orang tua dapat memberikan doa, semangat, serta dukungan, tetapi keberhasilan tetap membutuhkan kesungguhan dan keberanian anak untuk membuktikan kemampuannya.
Menurut Jantje, para calon praja harus memanfaatkan kesempatan yang telah diraih dengan sebaik-baiknya. Mereka diharapkan tetap fokus, mempersiapkan diri secara maksimal, serta mengikuti seluruh tahapan seleksi dengan penuh tanggung jawab.
Baginya, keberhasilan bukan semata-mata tentang mengenakan seragam pendidikan kedinasan atau memperoleh status sebagai praja IPDN. Lebih jauh, kesempatan tersebut harus menjadi pintu masuk untuk membentuk karakter, memperluas wawasan, dan mempersiapkan diri menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.
Ada makna tersendiri ketika pelepasan 39 calon praja IPDN tersebut berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. Momentum ini menjadi pengingat bahwa masa depan Maluku dan Indonesia membutuhkan generasi muda yang berani bermimpi, mau berjuang, dan siap mengambil bagian dalam pembangunan.
Jantje menilai, semangat pemuda harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Generasi muda tidak cukup hanya memiliki cita-cita, tetapi juga harus membangun kemampuan, menunjukkan ketekunan, serta membuktikan bahwa mereka mampu menjadi bagian dari kemajuan daerah.
“Kebetulan pas di hari Sumpah Pemuda ini, dengan generasi-generasi muda yang sekarang ini sudah berjuang, dengan penuh harapan bahwa mereka juga akan menjadi generasi yang mewakili Maluku, menjadi generasi-generasi yang sangat luar biasa ke depan untuk membangun Maluku, teristimewa bangsa dan negara ini,” tuturnya.
Harapan tersebut bukan tanpa alasan. Maluku membutuhkan generasi muda yang memiliki kapasitas, integritas, dan semangat pengabdian untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan. Mereka yang hari ini sedang berjuang menempuh pendidikan diharapkan kelak mampu mengambil peran dalam pelayanan publik dan pemerintahan.
Bagi Jantje, kesempatan yang diperoleh para calon praja harus dipandang sebagai tanggung jawab, bukan sekadar pencapaian pribadi. Jika berhasil melanjutkan pendidikan di IPDN, mereka diharapkan dapat menggunakan ilmu dan pengalaman yang diperoleh untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Di sinilah dukungan orang tua menemukan maknanya yang lebih luas. Kebahagiaan keluarga ketika melihat anak berhasil akan menjadi semakin berarti apabila keberhasilan itu kelak membawa manfaat bagi lingkungan, daerah, dan bangsa.
Perjalanan 39 calon praja asal Maluku tersebut kini memasuki tahapan penting. Mereka akan membawa kemampuan dan hasil perjuangan masing-masing untuk bersaing dalam seleksi tingkat pusat di Jatinangor, Jawa Barat.
Di belakang langkah itu, ada keluarga yang menaruh harapan, orang tua yang memberikan dukungan, serta keinginan agar anak-anak mereka memperoleh kesempatan terbaik untuk mengembangkan masa depan.
Jantje berharap seluruh calon praja dapat mengikuti proses seleksi dengan baik dan memperoleh hasil sesuai harapan. Namun, lebih dari sekadar kelulusan, ia ingin generasi muda Maluku memiliki tekad kuat untuk terus mengembangkan diri dan tidak berhenti berjuang ketika menghadapi tantangan.
Menurutnya, semangat Hari Sumpah Pemuda harus menjadi dorongan bagi anak-anak muda untuk membuktikan bahwa mereka mampu bersaing dan memberikan kontribusi nyata. Perbedaan latar belakang maupun profesi orang tua tidak boleh menjadi batas bagi seseorang untuk meraih cita-cita, selama ada kemauan, kemampuan, dan kesungguhan untuk memperjuangkannya.
Pada akhirnya, perjuangan 39 calon praja IPDN itu bukan hanya tentang perjalanan menuju Jatinangor. Di dalamnya terdapat cerita tentang keberanian anak menentukan masa depan, ketulusan orang tua memberikan dukungan, dan harapan sebuah daerah terhadap generasi penerusnya.
Bagi AKP Jantje Serhalawan, doa yang mengiringi langkah anak-anak muda tersebut membawa pesan sederhana, tetapi bermakna: berjuanglah dengan kemampuan terbaik, buktikan bahwa kesempatan yang diperoleh layak diperjuangkan, dan jadilah generasi yang kelak membanggakan keluarga sekaligus mengharumkan nama Maluku.
Sebab, masa depan daerah tidak hanya dibangun melalui cita-cita besar, tetapi juga melalui keberanian generasi mudanya untuk melangkah, belajar, dan mengabdikan diri bagi kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara. (Za)
