Namlea, Globaltimurnn.com — Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengembangkan keterampilan warga binaan terus dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea. Salah satunya melalui perawatan intensif budidaya ikan nila menggunakan sistem bioflok dengan menerapkan treatment probiotikasi kolam, Jumat (30/10/2026).
Langkah ini menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas air kolam, menyeimbangkan mikroorganisme, serta menciptakan lingkungan budidaya yang sehat agar ikan nila dapat tumbuh dan berkembang secara optimal.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Namlea, Sofian Ahmad, menjelaskan bahwa probiotikasi merupakan metode pemberian probiotik ke dalam lingkungan budidaya untuk membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme sekaligus meningkatkan kualitas air.
Menurutnya, dalam proses perawatan kolam bioflok, penggunaan garam kasar dan molase memiliki fungsi masing-masing dalam mendukung keberhasilan budidaya.
Garam kasar berperan membantu menjaga keseimbangan elektrolit dan mineral di dalam air, sehingga kondisi fisiologis ikan tetap terjaga dan risiko stres akibat perubahan lingkungan dapat diminimalkan. Sementara molase atau tetes tebu dimanfaatkan sebagai sumber karbon untuk mendukung pertumbuhan bakteri heterotrof dalam sistem bioflok.
“Melalui treatment ini, kami berupaya menjaga kondisi lingkungan kolam agar tetap stabil dan mendukung pertumbuhan ikan. Perawatan secara rutin sangat diperlukan agar proses budidaya berjalan optimal,” jelas Sofian.
Ia mengungkapkan, saat ini Lapas Namlea tengah mengembangkan budidaya sebanyak 4.000 ekor ikan nila. Jumlah tersebut membutuhkan perhatian dan pemeliharaan berkelanjutan, mulai dari pengelolaan kualitas air hingga pemberian perlakuan khusus terhadap kolam.
Sofian menegaskan, keberlangsungan program budidaya ikan nila tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk memperoleh keterampilan praktis yang memiliki nilai ekonomi.
“Kami ingin memastikan program budidaya perikanan ini terus berjalan secara berkelanjutan sebagai bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan. Di sisi lain, kegiatan ini juga memberikan pengalaman dan keterampilan kepada warga binaan, sehingga mereka memiliki bekal kemampuan di bidang ekonomi ketika kembali ke tengah masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Lapas Namlea, Muhammad M. Marasabessy, menilai sektor perikanan merupakan salah satu bidang pembinaan kemandirian yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
Menurutnya, keberhasilan budidaya ikan membutuhkan konsistensi, ketekunan, serta perawatan yang terarah. Karena itu, pihaknya memberikan perhatian terhadap pengembangan sektor perikanan selain program pertanian yang selama ini turut dijalankan.
“Selain pertanian, perikanan juga menjadi kluster pembinaan kemandirian yang sangat kami banggakan dan perhatikan. Budidaya ini memiliki prospek yang menjanjikan ke depan apabila terus dikembangkan, baik bagi Lapas maupun warga binaan,” tuturnya.
Melalui pengelolaan kolam bioflok dan perawatan yang berkesinambungan, Lapas Namlea berharap program budidaya ikan nila dapat terus berkembang, memberikan kontribusi terhadap ketahanan pangan, serta melahirkan warga binaan yang lebih mandiri, produktif, dan memiliki keterampilan untuk menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pembinaan. (Za)
