Ambon, Globaltimurnn.com — Semangat persaudaraan dan gotong royong mewarnai kegiatan malam dana atau malam badonci yang diselenggarakan Panitia Persidangan ke-42 Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Nusaniwe Airlouw, Jumat (9/10/2026), di Rumah Belanda, Airlouw, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penggalangan dana untuk mendukung pembiayaan Persidangan ke-42 Jemaat GPM Nusaniwe Airlouw yang direncanakan berlangsung pada 2027 mendatang.
Mengusung semangat “Mari Budayakan Semangat Baku Keku dengan Katong Sektor Tiberias Par Katong Pung Sidang Jemaat”, malam badonci tersebut tidak hanya menjadi wadah penggalangan dana, tetapi juga momentum mempererat persaudaraan, memperkuat kepedulian, dan menumbuhkan semangat saling menopang di antara warga jemaat.
Malam badonci secara resmi dibuka oleh Camat Nusaniwe, Niel A. Wattimena, yang hadir mewakili Wali Kota Ambon.
Dalam sambutannya, Wattimena mengajak seluruh warga jemaat dan masyarakat untuk terus menjaga serta menghidupkan budaya baku keku sebagai nilai luhur masyarakat Maluku yang mencerminkan persatuan, kebersamaan, dan gotong royong.
Menurutnya, semangat baku keku tidak boleh sekadar menjadi ungkapan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, terutama dalam mendukung berbagai kegiatan pelayanan gereja dan kepentingan bersama.
Ia menegaskan, keberhasilan pelaksanaan Persidangan ke-42 Jemaat GPM Nusaniwe Airlouw bukan hanya menjadi tanggung jawab panitia, melainkan membutuhkan dukungan dan keterlibatan seluruh warga jemaat.
Karena itu, melalui kegiatan malam badonci, setiap warga diharapkan dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing demi menyukseskan agenda penting pelayanan gereja tersebut.
Wattimena juga mengingatkan bahwa dukungan yang diberikan hendaknya dilandasi ketulusan hati, bukan karena paksaan. Ia mengacu pada firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:7 yang mengajarkan bahwa setiap orang hendaknya memberi menurut kerelaan hatinya, dengan sukacita.
Baginya, sekecil apa pun kontribusi yang diberikan, apabila dilandasi semangat kebersamaan, akan memiliki arti penting bagi keberhasilan persiapan persidangan jemaat.
Lebih lanjut, Wattimena menekankan bahwa semangat kebersamaan yang dibangun melalui malam badonci tidak boleh berhenti pada kegiatan penggalangan dana semata.
Ia berharap nilai persaudaraan dan gotong royong tersebut terus dipelihara serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan gereja maupun di tengah masyarakat.
Menurutnya, ketika seluruh warga memiliki kepedulian dan bersedia mengambil bagian dalam tanggung jawab bersama, berbagai tantangan akan lebih mudah dihadapi dan diselesaikan.
Ia pun mengapresiasi panitia yang telah menggagas kegiatan penggalangan dana sebagai bagian dari persiapan menuju Persidangan ke-42 Jemaat GPM Nusaniwe Airlouw pada 2027 mendatang.
Wattimena berharap kerja sama antara panitia dan seluruh warga jemaat terus diperkuat sehingga seluruh tahapan persiapan dapat berjalan dengan baik dan pelaksanaan persidangan nantinya berlangsung lancar.
Selain menyampaikan pesan tentang pentingnya persaudaraan dan gotong royong, Wattimena juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga keamanan dan kelestarian lingkungan, terutama di tengah kondisi cuaca panas yang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan.
Ia menyampaikan dalam imbauan Wali Kota Ambon kepada seluruh camat, raja, kepala desa, dan lurah agar mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta mencegah berbagai aktivitas yang dapat memicu kebakaran.
Dalam imbauan tersebut, masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran hutan, lahan, semak belukar, rerumputan, maupun sampah secara sembarangan.
Warga juga diingatkan agar tidak meninggalkan api, bara, puntung rokok, atau bahan lain yang mudah terbakar di kawasan hutan dan lahan.
Selain itu, masyarakat diminta menghindari pembakaran lahan, terutama ketika cuaca panas, kering, dan berangin karena kondisi tersebut dapat menyebabkan api dengan cepat meluas dan sulit dikendalikan.
Wattimena secara khusus mengingatkan warga agar lebih berhati-hati ketika membakar sampah di lingkungan tempat tinggal. Ia meminta masyarakat memastikan api benar-benar padam setelah kegiatan selesai.
Menurutnya, kelalaian dalam mengendalikan api dapat menimbulkan dampak serius, mulai dari kerusakan lingkungan hingga ancaman terhadap keselamatan warga dan permukiman.
Pengalaman terjadinya kebakaran di sejumlah wilayah Kecamatan Nusaniwe, menurutnya, menjadi pengingat bahwa kewaspadaan dan kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah kejadian serupa.
“Kalau bakar sampah, tolong kalau sudah selesai disiram supaya api tidak menyebar dan menimbulkan kebakaran. Kalau bukan katong yang menjaga lingkungan ini, siapa lagi?” tegas Wattimena.
Ia juga mengajak masyarakat untuk segera melaporkan kepada aparat pemerintah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), petugas pemadam kebakaran, atau pihak berwenang apabila menemukan titik api maupun kejadian kebakaran.
Menurutnya, upaya pencegahan akan lebih efektif apabila pemerintah dan masyarakat membangun kerja sama serta memiliki kesadaran yang sama dalam menjaga lingkungan.
Wattimena menegaskan bahwa semangat baku keku seharusnya tidak hanya diwujudkan dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam berbagai upaya menjaga kebersihan, keamanan, dan keselamatan lingkungan.
Baginya, kepedulian terhadap sesama dan lingkungan merupakan bagian penting dari tanggung jawab bersama sebagai warga masyarakat.
Ia mendorong masyarakat untuk terus membangun sinergi dengan Pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Kecamatan Nusaniwe dalam mendukung pembangunan serta menciptakan kehidupan yang aman, nyaman, dan sejahtera.
Pelaksanaan malam badonci Jemaat GPM Nusaniwe Airlouw menjadi salah satu contoh bagaimana nilai kebersamaan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata untuk mendukung kebutuhan pelayanan gereja.
Melalui kegiatan tersebut, warga jemaat tidak hanya berkesempatan memberikan dukungan bagi pelaksanaan persidangan, tetapi juga mempererat hubungan persaudaraan dan memperkuat solidaritas dalam kehidupan bergereja.
Wattimena berharap semangat baku keku terus terpelihara hingga pelaksanaan Persidangan ke-42 Jemaat GPM Nusaniwe Airlouw pada 2027 mendatang.
Dengan dukungan dan partisipasi seluruh warga jemaat, persiapan persidangan diharapkan berjalan lancar sekaligus memperkuat persatuan serta meningkatkan kualitas pelayanan gereja.
Pada akhirnya, malam badonci bukan sekadar kegiatan penggalangan dana, melainkan juga momentum untuk meneguhkan kembali nilai persaudaraan, ketulusan, dan semangat saling membantu.
Nilai-nilai tersebut diharapkan terus hidup dalam kehidupan jemaat dan masyarakat, baik dalam menyukseskan agenda pelayanan gereja maupun dalam menjaga lingkungan demi kepentingan bersama.
Semangat baku keku diharapkan menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat Maluku, tidak hanya untuk menyukseskan Persidangan ke-42 Jemaat GPM Nusaniwe Airlouw, tetapi juga untuk membangun lingkungan yang aman, bersih, dan harmonis. (Za)




















