Ambon, Globaltimurnn.com - Pelantikan pengurus Majelis Taklim Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Provinsi Maluku periode 2026-2029 menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, membumikan akhlak Rasulullah SAW, serta mendorong gerakan dakwah yang lebih inklusif dan berdampak nyata bagi masyarakat.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah tersebut berlangsung di Aula Dinas Pariwisata Provinsi Maluku, Ambon, Sabtu (10/10/2026).
Acara ini mengusung tema “Membumikan Akhlak Rasulullah, Bersinergi dalam Ukhuwah, Berkarya dalam Dakwah untuk Umat yang Religius dan Harmonis Menuju Maluku Pung Bae.”
Pelantikan ini tidak sekadar menjadi agenda pergantian atau pengesahan kepengurusan organisasi.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi titik awal bagi pengurus baru untuk memperkuat pembinaan keagamaan, memperluas jangkauan dakwah, serta membangun kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat.
Dalam suasana penuh kekeluargaan, Pelantikan dilakukan berdasarkan Surat Keputusan Dewan Pengurus Wilayah BKPRMI Provinsi Maluku Nomor 012/SK/DPW-BKPRMI/DMK/ROM VIII/2026 tentang Pengesahan Susunan Kepengurusan Paripurna Majelis Taklim BKPRMI Maluku Periode 2026-2029, kepengurusan yang baru diberikan tanggung jawab untuk menyusun dan melaksanakan program kegiatan majelis taklim serta melaporkan pelaksanaannya secara berkala kepada DPW BKPRMI Maluku melalui bidang pemberdayaan muslimah.
Kepengurusan ini diharapkan mampu menjadikan Majelis Taklim BKPRMI sebagai wadah pembinaan umat yang tidak hanya berfokus pada pengajian, tetapi juga memperkuat silaturahmi, meningkatkan pengetahuan agama, membangun karakter, serta mendorong kegiatan sosial keagamaan yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam sambutannya, Ketua Umum BKPRMI Maluku, Ahmad Ilham Sipahutar, menekankan bahwa pelantikan pengurus Majelis Taklim harus dimaknai sebagai amanah perjuangan dakwah, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Ia mengajak seluruh pengurus untuk menjaga kekompakan, istiqamah dalam menjalankan program, merangkul lebih banyak jemaah, serta membangun sinergi dengan BKPRMI di tingkat kabupaten dan kota.
Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak dapat dicapai secara sendiri-sendiri, melainkan membutuhkan kerja sama antara pengurus, aktivis dakwah, tokoh masyarakat, pengurus masjid, majelis taklim, dan pemerintah.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan, mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan, serta membiasakan tabayun atau klarifikasi agar perbedaan tidak berkembang menjadi perpecahan di dalam organisasi.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa kader BKPRMI perlu menjaga lima citra diri organisasi, yakni muwahhid sebagai pemersatu umat, mujahid sebagai pembela kebenaran, musaddid sebagai pelurus, mu'addid sebagai pendidik, serta mujaddid sebagai pembaru.
Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi pengurus dalam menjalankan tugas dakwah dan pengabdian kepada masyarakat.
Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, Ahmad Ilham juga menyoroti pentingnya melahirkan dai dan daiyah yang memiliki wawasan luas, mampu memanfaatkan teknologi digital, serta memahami persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.
Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya disampaikan melalui ceramah, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata atau dakwah bilhal, terutama dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan pemberdayaan umat.
Ia juga mendorong agar masjid kembali diperkuat perannya sebagai pusat peradaban Islam, sebagaimana pada masa Rasulullah SAW.
Masjid, menurut pesan yang disampaikannya, bukan hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga ruang membangun persaudaraan, membahas persoalan sosial, serta menghadirkan solusi bagi kebutuhan masyarakat.
Pengelolaan infak masjid pun diharapkan dapat dilakukan secara lebih kreatif dan produktif melalui program pemberdayaan umat, bantuan pendidikan, beasiswa, dan pengembangan usaha yang bermanfaat, dengan tetap memperhatikan ketentuan serta amanah pengelolaan dana umat.
Ia turut mengajak kaum ibu yang tergabung dalam Majelis Taklim BKPRMI untuk berjalan beriringan dengan generasi muda dan remaja masjid. Menurutnya, pembinaan umat perlu dilakukan secara berkesinambungan agar generasi penerus memiliki landasan keimanan, pengetahuan, dan karakter yang kuat.
Dalam pesannya, ia mengutip falsafah masyarakat Buton, poma-maaka dan pomamasiaka, yang mengandung pesan untuk saling mencintai, menyayangi, serta menjaga kehormatan satu sama lain.
Nilai tersebut diharapkan menjadi landasan dalam membangun keluarga besar BKPRMI yang harmonis, mengedepankan persaudaraan, dan menyelesaikan persoalan melalui komunikasi yang baik.
Sementara itu, Ketua Majelis Taklim BKPRMI Provinsi Maluku yang baru dilantik, Nurlaila Erniyo, S.Pd.I., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepadanya untuk mengemban amanah kepemimpinan periode 2026-2029.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa amanah tersebut bukan sekadar jabatan struktural, melainkan tanggung jawab moral dan tanggung jawab dakwah yang harus dipertanggungjawabkan kepada masyarakat maupun di hadapan Allah SWT.
Ia menyadari bahwa memimpin majelis taklim membutuhkan ketulusan niat, keluasan wawasan, keteguhan prinsip, kemampuan membangun kolaborasi, serta komitmen untuk menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan menyejukkan.
Nurlaila berharap Majelis Taklim BKPRMI Provinsi Maluku ke depan mampu mengambil peran lebih strategis dalam meningkatkan kualitas mubalig dan mubaligah, mengembangkan dakwah yang adaptif terhadap perkembangan zaman, serta memperluas jangkauan pembinaan hingga ke berbagai wilayah di Maluku.
Menurutnya, majelis taklim harus menjadi organisasi yang tidak hanya aktif menyelenggarakan kegiatan, tetapi juga produktif melahirkan gagasan, kuat secara kelembagaan, dan mampu memberikan kontribusi yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya membangun tradisi dakwah yang santun dalam tutur kata, kokoh dalam prinsip, bijaksana dalam menyikapi perbedaan, serta terbuka dalam merangkul seluruh lapisan masyarakat.
Dalam konteks Maluku yang kaya akan budaya, adat istiadat, dan keberagaman kehidupan sosial, dakwah diharapkan menjadi kekuatan yang mempererat persaudaraan, menjaga martabat kemanusiaan, serta merawat perdamaian.
Nurlaila menegaskan bahwa kepemimpinan yang ingin dibangunnya tidak bertumpu pada satu figur, melainkan pada kebersamaan, kepercayaan, dan kerja kolektif seluruh pengurus.
Karena itu, ia membuka ruang bagi ide, gagasan, kritik, dan masukan yang konstruktif. Ia mengajak seluruh pengurus untuk membangun budaya organisasi yang profesional, tertib, transparan, dan berorientasi pada hasil.
Baginya, keberhasilan kepemimpinan tidak semata-mata diukur dari banyaknya kegiatan yang diselenggarakan, tetapi dari perubahan positif dan manfaat nyata yang dapat dirasakan umat.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan tersebut.
Momentum ini mengajak seluruh jemaah untuk kembali memahami dan mengamalkan keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan pribadi, keluarga, organisasi, maupun bermasyarakat.
Sifat siddiq atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau menyampaikan kebenaran, serta fatanah atau cerdas menjadi nilai utama yang perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Keteladanan Rasulullah tidak hanya tercermin dalam perkataan, tetapi juga melalui sikap, keputusan, dan tindakan yang membawa kebaikan bagi sesama.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan agar Majelis Taklim BKPRMI menjadi ruang pembinaan yang memperkuat keimanan, meningkatkan ilmu agama, menumbuhkan kepedulian sosial, serta membangun lingkungan yang berakhlakul karimah.
Melalui kegiatan pengajian, pembinaan keluarga, silaturahmi, dan program pemberdayaan masyarakat, majelis taklim diharapkan mampu berkontribusi dalam membentuk umat yang religius sekaligus memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial di sekitarnya.
Pelantikan pengurus Majelis Taklim BKPRMI Provinsi Maluku periode 2026-2029 membawa harapan agar gerakan dakwah semakin terarah, terbuka, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Tantangan ke depan tentu membutuhkan komitmen bersama, mulai dari menjaga soliditas organisasi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memperluas jaringan dakwah, hingga memperkuat kemitraan dengan pemerintah dan berbagai unsur masyarakat.
Dengan berlandaskan nilai-nilai Islam, semangat ukhuwah, serta keteladanan Rasulullah SAW, Majelis Taklim BKPRMI diharapkan menjadi rumah besar bagi para pejuang dakwah untuk saling menguatkan dan bekerja bersama demi kemaslahatan umat.
Pada akhirnya, makna pelantikan tidak berhenti pada pengucapan ikrar dan penyerahan surat keputusan. Amanah tersebut harus diwujudkan melalui kerja nyata, program yang bermanfaat, dan pengabdian yang berkelanjutan.
Semangat itulah yang diharapkan mengiringi perjalanan pengurus baru Majelis Taklim BKPRMI Provinsi Maluku dalam membumikan akhlak Rasulullah, mempererat ukhuwah, dan berkarya melalui dakwah demi terwujudnya masyarakat Maluku yang religius, harmonis, dan sejalan dengan cita-cita Maluku Pung Bae. (Za)




