Namlea, Globaltimurnn.com — Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan produktif terus dilakukan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea. Melalui pemanfaatan lahan pertanian di Sarana Asimilasi Edukasi (SAE), Lapas Namlea kembali memanen cabai rawit berkualitas dengan hasil mencapai 10 kilogram, Rabu (14/10/2026).
Panen kali ini merupakan panen ketiga yang berhasil dilakukan dari program budidaya cabai rawit. Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan kemandirian di bidang pertanian dapat memberikan hasil nyata sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional.
Proses panen berlangsung di lahan SAE Lapas Namlea dengan melibatkan Kepala Subseksi Pembinaan, Sofian Ahmad, staf pembinaan, serta warga binaan yang berpartisipasi langsung dalam kegiatan budidaya hingga masa panen.
Sofian Ahmad menjelaskan, keberhasilan panen ketiga ini merupakan hasil dari proses perawatan tanaman yang dilakukan secara berkelanjutan. Sebelumnya, pada panen pertama dan kedua, Lapas Namlea telah menghasilkan total 20 kilogram cabai rawit.
“Panen ini adalah hasil dari program pembinaan kemandirian dalam sektor pertanian. Panen yang ketiga kali ini menghasilkan 10 kilogram, sedangkan pada panen pertama dan kedua berhasil menghasilkan 20 kilogram cabai rawit,” ungkap Sofian.
Menurutnya, program pertanian tersebut tidak hanya berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi warga binaan untuk memahami proses budidaya tanaman, mulai dari perawatan hingga pemanfaatan hasil panen.
Cabai rawit yang dipanen selanjutnya akan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, khususnya di wilayah Namlea dan sekitarnya.
Selain mendukung ketersediaan bahan pangan lokal, hasil penjualan juga dikelola untuk menjaga keberlanjutan program pertanian dan memberikan penghargaan kepada warga binaan yang terlibat dalam proses produksi.
Sofian menjelaskan, pendapatan dari hasil panen akan dialokasikan dengan pembagian 70 persen untuk kebutuhan modal usaha dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), sedangkan 30 persen diperuntukkan bagi premi atau upah kerja warga binaan.
“Hasil dari panen ini sebagian akan kita putar kembali menjadi modal untuk membeli obat-obatan, pupuk, dan bibit, sementara sisanya untuk premi bagi warga binaan sebagai apresiasi atas hasil kerja keras mereka,” jelasnya.
Skema tersebut diharapkan dapat menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian sekaligus menumbuhkan motivasi warga binaan agar terus mengembangkan keterampilan dan meningkatkan produktivitas.
Melalui kegiatan ini, warga binaan juga memperoleh pengalaman kerja yang dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat. Keterampilan dalam mengelola lahan pertanian diharapkan membuka peluang bagi mereka untuk menjalankan usaha mandiri dan membangun kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Namlea, Muhammad M. Marasabessy, menegaskan komitmen jajarannya untuk terus mendukung program ketahanan pangan melalui pemanfaatan lahan yang tersedia dan pemberdayaan warga binaan.
Menurutnya, kegiatan pertanian akan terus dikembangkan secara konsisten agar mampu menghasilkan produk pangan sekaligus memperkuat fungsi pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan.
“Setiap pekan kita panen dan seluruh lahan di luar Lapas kita manfaatkan untuk pertanian. Warga binaan juga kami berdayakan untuk kepentingan pembinaan sebagai bekal bagi mereka ke depan,” ujarnya.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya Lapas Namlea dalam mendukung program aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan serta kebijakan pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.
Dengan memanfaatkan lahan secara produktif, Lapas Namlea berupaya menghadirkan kegiatan pembinaan yang tidak hanya memberikan manfaat bagi warga binaan, tetapi juga berkontribusi terhadap pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat.
Panen cabai rawit yang terus berlanjut menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam Lapas dapat menghasilkan manfaat ekonomi dan sosial. Di balik setiap hasil panen, terdapat proses pembelajaran, kerja keras, serta kesempatan bagi warga binaan untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang lebih mandiri dan produktif saat kembali ke masyarakat. (Za)
