Bakery Lapas Piru Makin Diminati, Warga Binaan Asah Keterampilan Lewat Produksi Roti dan Donat - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Rabu, 14 Oktober 2026

Bakery Lapas Piru Makin Diminati, Warga Binaan Asah Keterampilan Lewat Produksi Roti dan Donat


Piru
, Globaltimurnn.com — Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Piru, kreativitas dan semangat untuk membangun masa depan terus tumbuh. Melalui kegiatan produksi bakery, Warga Binaan tidak hanya belajar membuat roti dan donat, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang berpotensi menjadi bekal usaha setelah kembali ke tengah masyarakat.


Program pembinaan kemandirian tersebut kini menunjukkan perkembangan positif. Produk bakery yang dihasilkan Warga Binaan semakin diminati masyarakat, ditandai dengan permintaan pesanan yang terus berkembang dan mendorong produksi secara rutin.


Pada Senin (12/10/2026), empat orang Warga Binaan kembali terlibat dalam proses pembuatan bakery dengan didampingi petugas serta peserta magang. Dari kegiatan tersebut, mereka berhasil menghasilkan 80 buah produk, terdiri atas 40 roti gula dan 40 donat untuk memenuhi pesanan pelanggan.


Produksi yang dilakukan secara konsisten ini menjadi bagian dari upaya Lapas Piru dalam menciptakan kegiatan pembinaan yang produktif sekaligus memberikan pengalaman kerja nyata bagi Warga Binaan.


Kepala Subseksi Kegiatan Kerja, Ode Mustafa, mengatakan meningkatnya minat masyarakat menjadi motivasi bagi pihaknya untuk terus menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi.


“Kami melihat minat masyarakat terhadap produk bakery hasil karya Warga Binaan semakin baik, yang juga terlihat dari meningkatnya permintaan pesanan. Karena itu, produksi terus kami jalankan secara konsisten dengan tetap memperhatikan kualitas dan kebersihan produk. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembinaan keterampilan, tetapi juga mampu mengembangkan produktivitas Warga Binaan serta menghasilkan produk yang semakin dipercaya masyarakat,” ujarnya.


Bagi Warga Binaan, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas menghasilkan produk makanan. Proses pembuatan bakery memberikan kesempatan untuk mempelajari keterampilan baru, memahami tahapan produksi, serta membangun rasa percaya diri melalui hasil kerja yang nyata.


Salah satu Warga Binaan berinisial R mengaku memperoleh pengalaman berharga sejak terlibat dalam kegiatan tersebut. Ia belajar mulai dari mempersiapkan bahan hingga mengolahnya menjadi roti dan donat yang siap dipasarkan.


“Saya mendapatkan banyak pengalaman, mulai dari menyiapkan bahan hingga membuat roti dan donat. Saya berharap keterampilan ini bisa terus berkembang dan menjadi modal untuk memulai usaha setelah bebas nanti,” ungkapnya.


Keterampilan yang diperoleh selama menjalani masa pembinaan diharapkan dapat menjadi modal penting bagi Warga Binaan untuk menata kehidupan yang lebih baik setelah menyelesaikan masa pidana. Dengan bekal tersebut, mereka memiliki peluang untuk mengembangkan usaha secara mandiri dan kembali berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.


Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Kegiatan Kerja, Muh Ramdhan Basir, menegaskan bahwa pembinaan kemandirian harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masa depan Warga Binaan.


Menurutnya, kegiatan bakery menjadi salah satu sarana untuk membentuk sikap disiplin, meningkatkan kemampuan bekerja sama, serta menanamkan pemahaman mengenai proses menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.


“Pembinaan kemandirian harus memberikan manfaat nyata. Melalui kegiatan bakery, Warga Binaan dilatih untuk disiplin, bekerja sama, dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi. Dengan demikian, mereka memiliki bekal keterampilan untuk menghadapi kehidupan setelah menjalani masa pidana,” jelasnya.


Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIB Piru, Hery Kusbandono, menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan berbagai kegiatan produktif sebagai bagian dari pembinaan di dalam Lapas.


Ia berharap produk yang dihasilkan Warga Binaan semakin dikenal luas dan memperoleh kepercayaan masyarakat. Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi Warga Binaan untuk membuktikan bahwa mereka mampu berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.


“Kami ingin hasil karya Warga Binaan semakin dikenal dan mendapat tempat di tengah masyarakat. Konsistensi produksi bakery menjadi salah satu langkah untuk mengembangkan keterampilan sekaligus menumbuhkan kepercayaan diri Warga Binaan dalam mempersiapkan masa depan yang lebih baik,” tutur Hery.


Perkembangan produksi bakery di Lapas Piru menjadi gambaran bahwa pembinaan di lingkungan pemasyarakatan dapat diarahkan pada kegiatan yang produktif dan memiliki nilai ekonomi. Melalui proses belajar, pendampingan, dan pengalaman kerja, Warga Binaan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensi diri sekaligus mempersiapkan langkah baru setelah kembali ke masyarakat.


Lebih dari sekadar roti dan donat, setiap produk yang dihasilkan membawa harapan tentang kemandirian, kepercayaan diri, dan kesempatan untuk memulai kehidupan yang lebih baik.


Lapas Piru pun terus mendorong keberlanjutan program tersebut agar keterampilan yang diperoleh Warga Binaan tidak berhenti di dalam Lapas, melainkan dapat menjadi modal untuk berkarya dan membangun masa depan yang lebih mandiri. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT