Jauh dari Pusat Kota, Leitimur Selatan Harap Armada Damkar Lebih Dekat - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Rabu, 14 Oktober 2026

Jauh dari Pusat Kota, Leitimur Selatan Harap Armada Damkar Lebih Dekat


Ambon
, Globaltimurnn.com — Di balik rimbunnya pepohonan dan jauhnya kawasan hutan dari permukiman, ancaman kebakaran menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Kecamatan Leitimur Selatan, Kota Ambon. Ketika api mulai menjalar, persoalannya bukan hanya bagaimana memadamkan kobaran, tetapi juga bagaimana menjangkau titik api yang tersembunyi di balik medan yang sulit dilalui kendaraan.


Kondisi tersebut dirasakan masyarakat Wilayah Leitimur Selatan, saat kebakaran hutan terjadi di wilayah mereka. Lokasi titik api yang berada jauh di dalam kawasan hutan, ditambah banyaknya pepohonan besar, membuat kendaraan pemadam kebakaran tidak dapat menjangkau lokasi secara langsung.


Situasi ini kembali membuka perhatian terhadap pentingnya kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran di wilayah Leitimur Selatan, terutama untuk mengantisipasi kejadian serupa yang sewaktu-waktu dapat mengancam kawasan hutan dan lingkungan sekitarnya.


Berangkat dari kondisi tersebut, Camat Leitimur Selatan, Ivan Erick Pattinama, berharap Pemerintah Kota Ambon dapat menempatkan satu unit mobil pemadam kebakaran di wilayah kecamatannya agar penanganan kebakaran dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Harapan itu disampaikannya saat ditemui di Balai Kota Ambon, Kamis (15/10/2026).


Pattinama menjelaskan, kebakaran yang terjadi di Wilayah Daerah sana, memiliki tantangan berbeda dibandingkan kebakaran di lokasi yang dapat dijangkau kendaraan pemadam.


Jika di sejumlah wilayah armada masih dapat mendekati titik api, kondisi itu justru sebaliknya. Lokasi kebakaran berada jauh di dalam kawasan hutan dengan kondisi medan yang tidak memungkinkan kendaraan melintas.


“Kalau misalnya, lokasinya masuk jauh ke dalam hutan. Banyak pohon besar, sehingga armada tidak bisa lewat dan menjangkau lokasi kebakaran,” ungkap Pattinama.


Ia membandingkan kondisi tersebut dengan kebakaran sebelumnya di kawasan Tutumuri. Saat itu, kendaraan pemadam masih dapat mencapai lokasi sehingga proses penanganan api lebih memungkinkan dilakukan menggunakan armada.


Sementara di kawasan Rutong, keterbatasan akses membuat upaya pemadaman membutuhkan keterlibatan masyarakat setempat yang memahami kondisi wilayah dan jalur menuju kawasan hutan.


Kejadian ini memperlihatkan bahwa penanganan kebakaran tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan kendaraan pemadam. Kondisi geografis, akses jalan, serta kesiapan masyarakat di sekitar lokasi juga menjadi faktor penting dalam menentukan kecepatan penanganan.


Di tengah keterbatasan akses kendaraan, masyarakat tidak tinggal diam. Kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) menjadi salah satu unsur penting yang membantu upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan di Kecamatan Leitimur Selatan.


Menurut Pattinama, kelompok MPA telah lama terbentuk di dua negeri, yakni Rutong dan Leahari.


Keberadaan kelompok tersebut menjadi modal penting bagi masyarakat dalam menghadapi ancaman kebakaran, terutama pada kawasan yang sulit dijangkau oleh petugas maupun kendaraan pemadam.


Ketika kebakaran terjadi di Rutong, anggota MPA turut berupaya mengendalikan api di kawasan hutan yang tidak dapat dilalui armada.


Masyarakat yang mengenal karakteristik wilayahnya memiliki peran penting, mulai dari memahami jalur menuju lokasi hingga membantu melakukan penanganan awal ketika kebakaran terjadi.


Untuk menunjang pelaksanaan tugas tersebut, dukungan sarana dan prasarana bagi kelompok MPA juga telah diupayakan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).


Meski demikian, Pattinama menilai keterlibatan masyarakat perlu berjalan beriringan dengan dukungan pemerintah, khususnya dalam penyediaan armada dan fasilitas pemadam yang memadai.


Sebab, ketika api mulai membesar, kecepatan respons menjadi salah satu faktor penting untuk mencegah kebakaran meluas ke kawasan lain.


Salah satu persoalan yang menjadi perhatian pemerintah kecamatan adalah jarak antara lokasi kebakaran dan pusat Kota Ambon, tempat armada pemadam harus didatangkan ketika terjadi keadaan darurat.


Dalam situasi tertentu, waktu tempuh menuju lokasi menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, kondisi jalan dan karakteristik wilayah Leitimur Selatan tidak selalu memungkinkan kendaraan bergerak dengan mudah hingga mendekati titik kebakaran.


Karena itu, harapannya penempatan satu unit mobil pemadam kebakaran di wilayah kecamatan dinilai dapat membantu memperpendek waktu respons ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.


Bagi masyarakat yang tinggal berdekatan dengan kawasan hutan, keberadaan armada yang lebih dekat bukan sekadar persoalan fasilitas. Ketersediaannya diharapkan dapat membantu mempercepat penanganan ketika api muncul dan mengurangi risiko kebakaran meluas sebelum petugas tiba.


Namun, Pattinama menyadari bahwa penempatan armada juga harus disertai kesiapan fasilitas pendukung, termasuk lokasi untuk menempatkan kendaraan serta kebutuhan operasional lainnya.


Artinya, upaya memperkuat penanggulangan kebakaran tidak berhenti pada pengadaan kendaraan, tetapi juga membutuhkan perencanaan yang memperhatikan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat.


Selain persoalan akses dan jarak, ketersediaan sumber air juga menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran.


Pattinama mencontohkan kejadian kebakaran di Negeri Leahari. Saat kendaraan pemadam tiba di lokasi, petugas harus terlebih dahulu mengisi air di tempat penampungan air setempat sebelum melanjutkan proses pemadaman.


Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efektivitas armada pemadam sangat bergantung pada dukungan fasilitas di lapangan.


Kendaraan yang tersedia harus didukung akses terhadap sumber air yang memadai agar proses pemadaman dapat berlangsung tanpa hambatan tambahan.


Dengan demikian, penempatan armada di Kecamatan Leitimur Selatan perlu diikuti dengan pemetaan kebutuhan operasional, termasuk ketersediaan air, lokasi penempatan kendaraan, serta akses menuju wilayah yang rawan kebakaran.


Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat kesiapsiagaan sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat dan petugas dalam menghadapi kondisi darurat.


Di luar kesiapan sarana pemadam, upaya mencegah kebakaran sejak awal tetap menjadi perhatian pemerintah kecamatan.


Pattinama menyampaikan bahwa masyarakat di Leitimur Selatan sejauh ini masih mematuhi edaran yang dikeluarkan pemerintah negeri terkait aktivitas pembakaran.


Kepatuhan tersebut menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika kondisi lingkungan dan akses menuju titik api dapat menyulitkan proses pemadaman.


Pemerintah kecamatan terus mengandalkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan serta mencegah munculnya titik api yang berpotensi berkembang menjadi kebakaran lebih besar.


Bagi wilayah yang memiliki kawasan hutan dengan akses terbatas, langkah pencegahan menjadi semakin penting. Sebab, ketika api telanjur membesar di lokasi yang sulit dijangkau, proses penanganannya dapat membutuhkan waktu dan tenaga lebih besar.


Karena itu, kesadaran warga, peran kelompok MPA, serta dukungan pemerintah melalui penyediaan fasilitas pemadam harus berjalan beriringan.


Pattinama berharap perhatian terhadap kebutuhan armada pemadam kebakaran di Leitimur Selatan dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan terhadap masyarakat dan lingkungan.


Di tengah tantangan medan dan keterbatasan akses, kehadiran satu unit armada pemadam yang lebih dekat diharapkan mampu memberikan respons lebih cepat ketika kebakaran terjadi.


Sebab, di kawasan hutan yang jauh dari jangkauan kendaraan, setiap keterlambatan dapat menjadi tantangan tersendiri. Kesiapsiagaan yang lebih baik diharapkan dapat membantu masyarakat menghadapi ancaman kebakaran sekaligus menjaga kelestarian lingkungan di Leitimur Selatan.(Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT