Bukan Menunggu Bencana, Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami Bersama BMKG - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Jumat, 23 Oktober 2026

Bukan Menunggu Bencana, Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami Bersama BMKG


Ambon
, Globaltimurnn.com — Keselamatan masyarakat dalam menghadapi bencana tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat bantuan datang, tetapi juga oleh seberapa siap setiap orang mengambil tindakan ketika ancaman muncul. Di wilayah yang memiliki potensi gempa bumi dan tsunami seperti Kota Ambon, pengetahuan tentang kebencanaan menjadi bekal penting yang dapat menentukan keselamatan jiwa.


Kesadaran tersebut mendorong Pemerintah Kota Ambon untuk terus memperkuat langkah mitigasi dan edukasi kebencanaan. Upaya ini diarahkan agar masyarakat tidak sekadar mengetahui adanya ancaman, tetapi juga memahami cara melindungi diri, mengenali jalur evakuasi, dan bertindak tepat ketika menghadapi situasi darurat.


Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, menegaskan bahwa kesiapsiagaan masyarakat harus dibangun sebelum bencana terjadi. Menurutnya, persiapan sejak dini menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko serta meminimalkan dampak yang dapat ditimbulkan oleh bencana alam.


Penegasan itu disampaikan Wattimena saat diwawancarai di Balai Kota Ambon, Sabtu (24/10/2026), dalam kaitan dengan pelaksanaan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami yang diselenggarakan dengan memilih Kota Ambon sebagai lokasi kegiatan.


Ia menyampaikan apresiasi kepada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beserta seluruh jajaran atas perhatian dan dukungan dalam memperkuat kesiapsiagaan masyarakat. Apresiasi juga disampaikan kepada para pejabat utama BMKG, Kepala Balai Besar, serta Kepala Stasiun Geofisika Ambon Kelas I yang terlibat dalam upaya penguatan edukasi kebencanaan tersebut.


Bagi Wattimena, kegiatan Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami merupakan kesempatan penting untuk memperluas wawasan masyarakat mengenai potensi ancaman bencana sekaligus meningkatkan kemampuan menghadapi keadaan darurat.


“Kota Ambon memiliki potensi risiko bencana, termasuk gempa bumi. Karena itu, edukasi dan penguatan kesiapsiagaan masyarakat harus terus dilakukan agar warga memiliki pemahaman serta kemampuan untuk menghadapi bencana dan meminimalkan dampak yang ditimbulkan,” tegasnya.


Bencana alam merupakan peristiwa yang tidak selalu dapat diprediksi secara tepat waktu maupun dampaknya. Karena itu, membangun kesiapsiagaan tidak dapat dilakukan secara mendadak, melainkan membutuhkan proses edukasi, latihan, koordinasi, dan keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.


Wattimena menekankan bahwa bencana tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, melalui persiapan yang baik, risiko dan dampaknya dapat dikurangi, terutama yang berkaitan dengan keselamatan manusia.


“Bencana tidak bisa kita hindari dan tidak bisa kita tolak, karena pada waktunya akan terjadi. Namun, jika itu terjadi, kita sudah siap, paling tidak untuk mengurangi risiko bencana, terutama korban jiwa. Itu yang paling penting,” ujarnya.


Pernyataan tersebut menempatkan keselamatan jiwa sebagai tujuan utama dari seluruh upaya mitigasi. Sebab, keberadaan fasilitas kebencanaan saja tidak cukup apabila masyarakat belum memahami cara menggunakannya ketika keadaan darurat terjadi.


Dalam situasi gempa bumi, misalnya, masyarakat perlu mengetahui tindakan perlindungan diri yang tepat, termasuk menjauhi benda-benda yang berpotensi jatuh dan mencari perlindungan sesuai kondisi di sekitarnya. Setelah guncangan berhenti, warga harus memperhatikan potensi bahaya lanjutan serta mengikuti arahan dari pihak berwenang.


Sementara itu, bagi masyarakat yang berada di kawasan pesisir, pemahaman mengenai ancaman tsunami menjadi hal yang sangat penting. Apabila merasakan gempa kuat atau berlangsung lama, warga perlu segera menjauhi pantai dan bergerak menuju tempat tinggi melalui jalur evakuasi yang aman tanpa menunggu peringatan resmi, apabila kondisi tersebut mengindikasikan potensi tsunami.


Langkah-langkah tersebut perlu terus disosialisasikan agar masyarakat memiliki pemahaman yang memadai dan tidak kehilangan waktu berharga ketika menghadapi ancaman bencana.


Penguatan mitigasi di Kota Ambon tidak hanya bertumpu pada imbauan kepada masyarakat. Pemerintah daerah juga mendorong kolaborasi dengan BMKG untuk memperluas edukasi serta memperkuat berbagai sarana pendukung kesiapsiagaan.


Wattimena mengungkapkan, kerja sama yang telah dilakukan mencakup pengembangan desa siap tsunami melalui kolaborasi dengan UNESCO, pemasangan rambu-rambu evakuasi, serta penerapan sistem peringatan dini gempa bumi dan tsunami.


Selain itu, BMKG juga telah melaksanakan sekolah lapang bagi nelayan dan sekolah lapang iklim untuk memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kondisi alam dan risiko yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari.


Berbagai program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi bencana. Melalui pendekatan edukatif, masyarakat diharapkan mampu memahami informasi kebencanaan dan mengubah pengetahuan tersebut menjadi tindakan nyata.


Pemasangan rambu evakuasi, misalnya, perlu disertai pemahaman mengenai arah dan tujuan penyelamatan. Begitu pula sistem peringatan dini harus didukung kesadaran masyarakat untuk mengikuti informasi resmi dan segera mengambil langkah sesuai arahan keselamatan.


Dengan demikian, mitigasi tidak hanya berbicara mengenai teknologi dan infrastruktur, tetapi juga mengenai kesiapan manusia dalam merespons setiap ancaman.


Membangun kesiapsiagaan tidak harus selalu dimulai melalui kegiatan berskala besar. Lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas masyarakat dapat menjadi ruang awal untuk menanamkan budaya sadar bencana.


Setiap keluarga dapat mulai dengan mengenali jalur evakuasi di lingkungan tempat tinggal, menentukan titik berkumpul yang aman, serta memastikan seluruh anggota keluarga mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika gempa terjadi.


Sekolah dan lingkungan permukiman juga memiliki peran penting dalam memperluas pemahaman kebencanaan, terutama bagi anak-anak dan kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus dalam proses evakuasi.


Di sisi lain, masyarakat perlu membiasakan diri memperoleh informasi dari sumber resmi, termasuk BMKG dan instansi kebencanaan terkait. Informasi yang tidak terverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan dan menghambat pengambilan keputusan pada saat situasi darurat.


Kesadaran tersebut menjadi semakin penting karena kesiapsiagaan bukan hanya menyangkut kemampuan menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga membangun kepedulian terhadap keselamatan orang lain.


Ketika pemerintah, lembaga teknis, dan masyarakat bergerak bersama, upaya mengurangi risiko bencana dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.


Membangun Ambon yang Lebih Tangguh

Wali Kota Ambon berharap kerja sama antara Pemerintah Kota Ambon dan BMKG terus diperkuat agar edukasi kebencanaan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.


Penguatan mitigasi diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan tertentu, tetapi terus berkembang melalui sosialisasi, pendidikan kebencanaan, simulasi evakuasi, serta penyediaan informasi yang mudah dipahami warga.


Bagi Kota Ambon, membangun budaya sadar bencana merupakan langkah penting dalam melindungi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan daerah menghadapi berbagai potensi ancaman alam.


Sebab, kesiapsiagaan bukan tentang hidup dalam ketakutan terhadap bencana, melainkan tentang membangun keberanian yang disertai pengetahuan, kewaspadaan, dan kemampuan bertindak secara tepat.


Ketika gempa bumi atau ancaman tsunami datang, masyarakat yang telah memahami langkah penyelamatan memiliki bekal lebih baik untuk menghadapi keadaan darurat.


Melalui penguatan mitigasi, kolaborasi lintas lembaga, dan partisipasi masyarakat, Ambon diharapkan semakin siap menghadapi risiko bencana. Karena pada akhirnya, kesiapan yang dibangun hari ini bukan hanya untuk menghadapi kemungkinan terburuk, tetapi juga untuk memberikan perlindungan yang lebih baik bagi kehidupan masyarakat di masa depan.(Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT