Halut, Globaltimurnn.com — Aktivitas erupsi Gunung Api Dukono yang kerap menyemburkan abu vulkanik menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Halmahera Utara, khususnya warga Kota Tobelo dan wilayah sekitarnya. Paparan debu vulkanik yang berulang menuntut masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan perlindungan pernapasan yang tepat saat beraktivitas.
Selama ini, masker medis atau masker bedah berwarna biru dan hijau masih menjadi pilihan sebagian warga karena mudah diperoleh dan harganya relatif terjangkau. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah masker medis cukup efektif melindungi saluran pernapasan dari paparan debu vulkanik Gunung Dukono?
𝙋𝙖𝙠𝙖𝙧 𝙢𝙞𝙩𝙞𝙜𝙖𝙨𝙞 𝙗𝙚𝙣𝙘𝙖𝙣𝙖 𝙜𝙪𝙣𝙪𝙣𝙜 𝙖𝙥𝙞, 𝘿𝙧. 𝘾𝙝𝙚𝙧𝙡𝙮 𝙎𝙖𝙡𝙖𝙬𝙖𝙣𝙚, 𝙎.𝙎𝙞., 𝙈.𝙋𝙙., saat ditemui di ruang kerjanya di Universitas Halmahera (UNIERA), Senin (19/10/2026), menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik berbeda dengan debu tanah maupun debu jalanan biasa. Abu vulkanik dapat mengandung fragmen batuan, mineral, serta partikel kaca vulkanik dengan bentuk tidak beraturan dan bersudut tajam. Komposisinya bergantung pada karakteristik magma dan proses erupsi.
Partikel abu yang berukuran sangat halus dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup. Paparan berulang berpotensi menyebabkan iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita asma maupun penyakit paru-paru lainnya.
Dalam jangka panjang, dampak terhadap kesehatan bergantung pada konsentrasi debu, ukuran partikel, kandungan mineral, lamanya paparan, dan kondisi kesehatan masing-masing individu.
𝘔𝘢𝘴𝘬𝘦𝘳 𝘔𝘦𝘥𝘪𝘴 𝘉𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘔𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘳𝘭𝘪𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘖𝘱𝘵𝘪𝘮𝘢𝘭
Masker medis biasa tidak dirancang khusus untuk memberikan perlindungan optimal terhadap paparan partikel abu vulkanik di udara. Selain kemampuan penyaringannya yang terbatas untuk penggunaan tersebut, bentuk masker yang tidak menutup rapat wajah memungkinkan udara tercemar masuk melalui celah di sekitar hidung, pipi, dan dagu.
Karena itu, masker medis sebaiknya tidak dijadikan pilihan utama ketika masyarakat menghadapi hujan abu vulkanik yang cukup pekat. Jika tidak tersedia perlindungan lain, masker medis masih dapat digunakan sebagai langkah sementara, tetapi masyarakat tetap perlu membatasi paparan dan segera mencari perlindungan di dalam ruangan.
𝘕95 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘙𝘦𝘴𝘱𝘪𝘳𝘢𝘵𝘰𝘳 𝘗𝘢𝘳𝘵𝘪𝘬𝘶𝘭𝘢𝘵 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘋𝘪𝘢𝘯𝘫𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯
Untuk menghadapi paparan abu vulkanik, masyarakat dianjurkan menggunakan respirator partikulat yang memenuhi standar, seperti N95 atau KN95 yang memenuhi persyaratan terkait. Respirator N95 yang terpasang dengan benar dirancang menyaring sedikitnya 95 persen partikel uji berukuran sekitar 0,3 mikron dalam kondisi pengujian standar.
Meski demikian, efektivitas perlindungan sangat bergantung pada kualitas produk, kesesuaian ukuran, dan kerapatan respirator pada wajah. Rambut atau janggut di area yang menjadi tempat menempelnya respirator juga dapat mengurangi kerapatan.
Bagi warga yang terpaksa bekerja di luar ruangan saat abu vulkanik menyebar, penggunaan respirator yang sesuai menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko terhirupnya partikel berbahaya.
Selain melindungi saluran pernapasan, masyarakat juga disarankan menggunakan kacamata pelindung untuk mengurangi risiko iritasi mata akibat abu vulkanik. Penggunaan lensa kontak sebaiknya dihindari selama kondisi berdebu karena dapat meningkatkan ketidaknyamanan dan iritasi.
𝘉𝘢𝘵𝘢𝘴𝘪 𝘈𝘬𝘵𝘪𝘷𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘥𝘪 𝘓𝘶𝘢𝘳 𝘙𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘚𝘢𝘢𝘵 𝘏𝘶𝘫𝘢𝘯 𝘈𝘣𝘶
Perlindungan terbaik bukan hanya bergantung pada jenis masker, tetapi juga pada upaya mengurangi paparan abu vulkanik. Saat terjadi hujan abu, masyarakat diimbau membatasi aktivitas di luar rumah, menutup pintu dan jendela, serta mengikuti informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Dukono dari instansi berwenang.
Endapan abu di halaman maupun permukaan bangunan sebaiknya dibasahi sebelum dibersihkan agar tidak mudah beterbangan kembali. Hindari menyapu abu dalam keadaan kering karena tindakan tersebut dapat meningkatkan konsentrasi partikel di udara.
Warga yang mengalami sesak napas, batuk berat, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang memburuk setelah terpapar abu perlu segera mencari pertolongan medis.
Dengan aktivitas Gunung Dukono yang menjadi perhatian masyarakat Halmahera Utara, kesadaran menggunakan alat pelindung yang tepat serta membatasi paparan diharapkan dapat membantu mengurangi risiko gangguan kesehatan. Masyarakat juga perlu terus mengikuti imbauan resmi dari otoritas kebencanaan dan kesehatan agar tetap aman saat aktivitas vulkanik meningkat. [𝐆𝐈𝐎]
