Lapas Piru Kembangkan Kemandirian Warga Binaan Lewat Produksi Donat dan Roti Gula - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Kamis, 17 September 2026

Lapas Piru Kembangkan Kemandirian Warga Binaan Lewat Produksi Donat dan Roti Gula


Piru
, Globaltimurnn.com — Dari dapur sederhana di balik tembok pemasyarakatan, keterampilan dan harapan terus tumbuh. Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Piru memanfaatkan pembinaan kemandirian bidang tata boga sebagai ruang bagi Warga Binaan untuk belajar, berkarya, sekaligus mempersiapkan bekal keterampilan sebelum kembali ke tengah masyarakat.


Hal itu terlihat dalam kegiatan produksi makanan di Dapur Roti Lapas Piru, Rabu (16/09/2026). Sebanyak tiga orang Warga Binaan bersama peserta magang dan petugas terlibat langsung dalam pembuatan 35 donat dan 25 roti gula yang selanjutnya dipasarkan melalui koperasi Lapas.


Kegiatan tersebut bukan sekadar mengejar jumlah produksi. Di dalamnya, Warga Binaan mendapatkan pengalaman bekerja secara langsung, mulai dari menyiapkan bahan, mengolah adonan, membentuk roti dan donat, hingga menghasilkan produk yang siap dipasarkan.


Setiap tahapan dilakukan secara bersama dengan pendampingan petugas dan peserta magang. Proses tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembinaan keterampilan kerja agar Warga Binaan memiliki pengalaman yang dapat dikembangkan menjadi kemampuan produktif.


Kepala Subseksi Kegiatan Kerja Lapas Piru, Ode Mustafa, mengatakan pembinaan tata boga diarahkan tidak hanya pada hasil produksi, tetapi juga pada pembentukan keterampilan dan pengalaman kerja.


Melalui kegiatan ini, Warga Binaan tidak hanya belajar membuat produk makanan, tetapi juga memahami proses kerja secara bertahap, mulai dari pengolahan hingga menghasilkan produk yang layak dipasarkan, ujar Ode.


Menurutnya, keterlibatan Warga Binaan dalam proses produksi memberikan kesempatan untuk belajar bekerja secara teratur, bertanggung jawab, serta memahami pentingnya kerja sama dalam menghasilkan sebuah produk.


Antusiasme serupa juga terlihat dari peserta magang yang turut mendampingi proses produksi. Thalia Soplantila, peserta magang di Seksi Kegiatan Kerja, mengatakan Warga Binaan cukup aktif mengikuti setiap tahapan pembuatan produk.


Pendampingan ini memberikan pengalaman tersendiri bagi kami. Warga Binaan cukup aktif mengikuti setiap tahapan dan saling bekerja sama agar produk yang dihasilkan dapat selesai dengan baik, ungkap Thalia.


Bagi Warga Binaan, kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak hanya dirasakan selama menjalani masa pembinaan, tetapi juga dapat menjadi bekal untuk kehidupan setelah bebas.


Salah satu Warga Binaan berinisial DM mengaku memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dari kegiatan tata boga yang diikutinya.


Bagi saya, kegiatan ini menambah pengalaman dan keterampilan. Saya jadi lebih memahami bagaimana membuat roti dan donat dengan proses yang teratur, sehingga ilmu ini bisa menjadi bekal nantinya, kata DM.


Kepala Lapas Piru, Hery Kusbandono, menegaskan pihaknya akan terus mendorong pengembangan potensi Warga Binaan melalui berbagai kegiatan produktif.


Menurut Hery, pembinaan kemandirian diharapkan tidak berhenti pada proses belajar, tetapi juga dapat memberikan nilai tambah secara ekonomi melalui hasil karya Warga Binaan.


“Kami ingin pembinaan kemandirian di Lapas Piru menghasilkan keterampilan yang benar-benar bermanfaat. Produk Warga Binaan juga kami dorong untuk memiliki nilai ekonomi melalui pemasaran koperasi sebagai bagian dari pengembangan UMKM,” tutur Hery.


Pemasaran produk melalui koperasi Lapas menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan hasil karya Warga Binaan sekaligus memberikan pengalaman mengenai bagaimana sebuah produk dikelola hingga memiliki nilai ekonomi.


Bagi Lapas Piru, pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam proses mempersiapkan Warga Binaan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana. Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi modal untuk bekerja maupun mengembangkan usaha secara mandiri.


Dari adonan yang diolah di dapur Lapas, bukan hanya donat dan roti yang dihasilkan. Ada keterampilan, pengalaman, kedisiplinan, serta harapan yang sedang dibentuk.


Melalui pembinaan yang berkelanjutan, Lapas Kelas IIB Piru terus membuka ruang bagi Warga Binaan untuk belajar, berkarya, dan produktif, sehingga ketika kembali ke tengah masyarakat, mereka memiliki bekal keterampilan yang dapat dikembangkan menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih mandiri. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT