Ambon, Globaltimurnn.com — Ketua Yayasan Ar Rahmah Ambon yang juga Penasihat DPP FPMM, Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., angkat bicara terkait persoalan komunikasi dengan pihak Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI) Kota Ambon.
Habib Rifqi menegaskan, persoalan yang menjadi sorotannya bukan mengenai kontrak maupun besaran anggaran untuk sebuah kegiatan, melainkan menyangkut etika dan komunikasi setelah adanya pembicaraan antara dirinya dengan pihak penyelenggara.
“Jadi pusat permasalahannya bukan saya arahkan ke kontrak atau tanda tangan kontrak. Permasalahannya adalah komunikasi yang tidak berujung selesai. Setidaknya kalau jadi atau tidak jadi, sampaikan. Itu saja,” tegas Habib Rifqi.
Ia membantah jika persoalan tersebut dikaitkan dengan masalah anggaran. Menurutnya, dirinya tidak pernah mempermasalahkan ada atau tidaknya anggaran dalam sebuah kegiatan.
Habib Rifqi bahkan mencontohkan keterlibatannya dalam kegiatan pada 17 Agustus 2026 yang berlangsung di kediaman Wakil Wali Kota Ambon. Dalam kegiatan tersebut, dirinya bersama Ustazdz Fatih Karim dari Jakarta hadir tanpa meminta bayaran maupun imbalan.
“17 Agustus itu ada buktinya. Kami datang ke rumah Wakil Wali Kota. Saya dan Ustadz Fatih Karim dari Jakarta. Kami tidak meminta bayaran dan tidak diberikan sesuatu. Yang penting komunikasi dan niat untuk berbuat bagi kota ini,” ujarnya.
Menurut Habib Rifqi, dirinya justru menghargai proses komunikasi yang dilakukan pihak LASQI. Namun, setelah komunikasi dibuka dan beberapa kali terjadi pertemuan, ia menilai seharusnya ada keputusan yang disampaikan secara jelas.
Ia menyebut, pihak penyelenggara bahkan datang dan bertemu dengannya sebanyak dua kali. Selain itu, terdapat komunikasi melalui telepon yang dilakukan pihak tersebut untuk meminta bertemu.
“Bukan saya yang meminta mereka bertemu. Mereka yang menghubungi saya dan meminta bertemu. Kalau sudah membuka komunikasi dengan seseorang, jangan kemudian ditinggalkan begitu saja ketika tidak cocok. Etikanya di mana?” katanya.
Habib Rifqi juga menyebut adanya sejumlah saksi dalam proses komunikasi tersebut, di antaranya Usman Bugis dari Kesra Kota Ambon serta Devi Bin Umar yang menurutnya mengetahui langsung pertemuan dan pembicaraan mengenai konsep kegiatan.
Ia menjelaskan bahwa dalam pertemuan tersebut dirinya telah menyampaikan konsep kegiatan yang berkaitan dengan pembacaan Maulid, Mahalil Qiyam, Hadrah Banjari dan rangkaian kegiatan keagamaan lainnya.
“Waktu itu saya menjelaskan konsepnya. Ada pembacaan Maulid, Mahalil Qiyam, Hadrah Banjari. Ada saksi Ibu Devi Bin Umar. Silakan dikonfirmasi,” ungkapnya.
Habib Rifqi mengatakan, konsep “Ambon Bersholawat” memang telah dikenal dan pernah digaungkan. Namun, menurut dia, dalam pembicaraan yang dilakukan, pihak penyelenggara masih mendiskusikan konsep kegiatan tersebut.
Ia menegaskan tidak mempermasalahkan apabila konsep yang pernah disampaikannya kemudian digunakan untuk kegiatan. Menurutnya, yang terpenting adalah adanya komunikasi dan penghargaan terhadap pihak yang sebelumnya diajak berdiskusi.
“Kalau memang konsep itu mau dipakai, tidak ada masalah bagi saya. Tinggal datang dan sampaikan, ‘Maaf Habib, kami tidak jadi menggunakan Habib, tapi kami izin menggunakan konsepnya.’ Selesai. Itu yang saya harapkan,” jelasnya.
Habib Rifqi juga menyinggung komunikasi melalui pesan yang disebutnya terjadi pada 23 Agustus 2026. Dalam komunikasi tersebut, pihak yang bersangkutan menyampaikan akan menghubunginya kembali setelah agenda tertentu. Namun, menurut Habib Rifqi, komunikasi lanjutan tersebut tidak pernah terjadi.
“Yang saya butuhkan itu komunikasi. Kita memang tidak punya perjanjian kontrak, tetapi Anda sudah datang, bertemu dengan saya dua kali dan mengambil waktu saya. Tidak segampang itu juga. Anda harus putuskan, ya atau tidak,” tegasnya.
Ia mengaku persoalan tersebut juga berdampak terhadap pengaturan agenda dirinya. Sebab, sebagai pihak yang memiliki berbagai kegiatan, dirinya harus mengatur waktu dan menunda agenda tertentu karena adanya pembicaraan yang belum mendapatkan kepastian.
“Bukan hanya mereka yang sibuk, kami juga sibuk. Hargai waktu kami dan hargai dedikasi kami untuk Kota Ambon,” ujarnya.
Habib Rifqi meminta persoalan tersebut tidak diperluas dengan membawa nama pihak lain, termasuk Pemerintah Kota Ambon. Ia menegaskan dirinya memiliki hubungan baik dengan Pemerintah Kota Ambon, termasuk Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena dan Wakil Wali Kota Ambon.
Ia kembali mencontohkan kehadirannya dalam kegiatan di kediaman Wakil Wali Kota Ambon pada 17 Agustus 2026 sebagai bukti bahwa dirinya memiliki hubungan baik dengan pemerintah daerah.
“Jangan menyinggung Pemerintah Kota Ambon. Saya punya hubungan baik dengan Kota Ambon, terlebih dengan Wali Kota Ambon Pak Bodewin Wattimena. Saya juga datang ke rumah Wakil Wali Kota pada 17 Agustus. Jadi jangan masalah ini dilebarkan ke mana-mana,” katanya.
Lebih jauh, Habib Rifqi meminta Ketua LASQI Kota Ambon mengambil sikap dan menyelesaikan persoalan tersebut secara baik-baik. Ia menilai persoalan ini sudah menyangkut nama lembaga, bukan semata-mata persoalan pribadi.
“Kalau memang mereka berniat menyelesaikan secara kekeluargaan, saya terbuka. Ketua LASQI Kota Ambon silakan datang kepada saya. Kalau ada klarifikasi, mari kita selesaikan,” ujarnya.
Menurutnya, apabila terjadi ketidaksesuaian dalam sebuah kerja sama, hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar. Namun, keputusan harus tetap disampaikan secara terbuka.
“Cocok dan tidak cocok itu sesuatu yang wajar. Tetapi yang saya pertanyakan adalah etika dan moral komunikasi. Anda membuka ruang komunikasi dengan seseorang, maka harus ditutup dengan jawaban, yes or no. Ya atau tidak. Selesai,” tegasnya.
Habib Rifqi juga meminta agar tokoh agama dihargai dalam setiap proses komunikasi dan kerja sama. Ia berharap lembaga-lembaga yang membawa nama keagamaan maupun kebudayaan dapat menjaga etika, moral dan adab dalam berkomunikasi.
“Jangan karena kami bukan pejabat, atau karena kami hanya memakai kopiah, kemudian kami bisa diperlakukan seenaknya. Ketika Anda tidak menghargai kami, jangan sampai itu dipandang sebagai tidak menghargai agama,” katanya.
Ia menambahkan, dirinya selama ini berupaya memberikan kontribusi bagi Kota Ambon dan Maluku melalui berbagai kegiatan. Bahkan, menurutnya, agenda di Ambon menjadi salah satu hal yang diprioritaskan meskipun dirinya juga memiliki kegiatan di luar daerah.
“Kami bukan orang yang tidak punya pekerjaan. Kami membuat acara di mana-mana. Tetapi karena dedikasi kami untuk Kota Ambon, kami ingin berbuat untuk kota ini. Jadi kami berharap waktu dan dedikasi kami juga dihargai,” ujarnya.
“Kalau memang salah, akui salah dan minta maaf. Jangan membenarkan diri lalu melemparkan persoalan ke sisi lain. Yang kami harapkan adalah klarifikasi secara langsung. Kalau memang tidak bisa dari yang bersangkutan, setidaknya diwakili oleh Ketua LASQI Kota Ambon. Yang penting ada komunikasi dan penyelesaian,” pungkasnya.
Bukankah kita umat Islam diajarkan untuk bersabar ikhlas dan menerima, alangkah baiknya juga Ustadz Rifki juga, mengaplikasikan itu dalam diri dan, kehidupan Ustadz.
Jadi berbicara tentang kesabaran, dari tanggal 14 Agustus 2026 awal di mana awal komunikasi itu di jalin, sampai Penutupannya LASQI pada tanggal 30 Agustus 2026, "Saya masih menunggu berlanjut komunikasi itu", jadi jangan berbicara tentang kesabaran. Tutupnya. (**)


