Ambon, Globaltimurnn.com — Malam di Kota Ambon seolah memiliki cerita sendiri. Di tengah keramaian penutupan Festival Benteng New Victoria 2026, bunyi totobuang terdengar menjadi penanda berakhirnya sebuah perhelatan yang selama dua hari membawa sejarah, seni, budaya dan kehidupan masyarakat ke dalam satu ruang.
Di tempat yang menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah Maluku itu, berbagai kesenian ditampilkan. Tarian dari sejumlah daerah, musik tradisional, karnaval budaya hingga aktivitas pelaku UMKM hadir menjadi bagian dari festival.
Festival pun ditutup secara resmi oleh Wali Kota Ambon, Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si. Pemukulan totobuang menjadi simbol penutup rangkaian kegiatan sekaligus pesan bahwa kebudayaan tidak boleh berhenti hanya karena sebuah festival telah selesai.
Bagi Bodewin, kehadiran Festival Benteng New Victoria memiliki arti yang lebih luas. Festival bukan sekadar panggung pertunjukan, tetapi ruang untuk kembali mengingat sejarah sekaligus melihat betapa kayanya kebudayaan yang tumbuh di Maluku.
Ia memberikan apresiasi kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Maluku yang kembali menggelar festival tersebut untuk kedua kalinya setelah pelaksanaan pertama pada 2023.
Bodewin berharap kegiatan itu tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi dapat menjadi kegiatan yang terus hadir setiap tahun di Kota Ambon, “Pemerintah Kota Ambon memberikan apresiasi dan terus berharap semoga festival ini akan terus berlangsung setiap tahun di Kota Ambon,” ujarnya.
Harapan tersebut juga menjadi bagian dari keinginan masyarakat agar ruang-ruang kebudayaan seperti Festival Benteng New Victoria tetap dipertahankan, Sebab, di balik kemeriahan sebuah festival, terdapat pekerjaan yang jauh lebih penting: memastikan sejarah dan kebudayaan tetap dikenal oleh generasi yang akan datang.
“Festival ini mengingatkan kita semua bahwa ada begitu banyak sejarah dan budaya yang mesti terus kita kenal, kita jaga, dan kita lestarikan,” kata Bodewin.
Malam itu, Ambon seperti menjadi sebuah panggung besar tempat berbagai identitas budaya Maluku bertemu, Sanggar-sanggar kesenian membawa tarian dan ekspresi budaya dari berbagai wilayah. Masing-masing hadir dengan karakter berbeda, tetapi semuanya bertemu dalam satu ruang yang sama.
Bodewin melihat kondisi tersebut sebagai gambaran bahwa Kota Ambon telah menjadi ruang tumbuh bagi berbagai komunitas seni dan kebudayaan.
“Kalau diperhatikan dari tampilan-tampilan tarian dan lain-lain, dari seluruh wilayah di Provinsi Maluku, itu ada di Ambon. Sanggar-sanggar semua ada, mereka hidup dan berkembang di kota ini,” ujarnya.
Karena itu, ia membuka ruang seluas-luasnya bagi masyarakat untuk menampilkan berbagai kesenian dari daerah masing-masing.
Tidak harus seragam. Justru keberagaman itulah yang menjadi kekuatan, “Kalau mau tampilkan tarian dari mana saja, silakan. Yang penting untuk melestarikan dan menjaga budaya yang kita miliki,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penting di tengah perubahan zaman. Ketika generasi muda semakin dekat dengan budaya digital dan berbagai pengaruh dari luar, kesenian tradisional membutuhkan ruang agar tetap hidup, bukan sekadar menjadi cerita.
Namun festival tidak hanya bicara soal tarian dan pertunjukan, Di sisi lain kegiatan, pelaku UMKM juga mendapatkan kesempatan untuk memperkenalkan produk mereka kepada masyarakat.
Bagi Pemerintah Kota Ambon, keterlibatan UMKM merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi kreatif yang menghubungkan kebudayaan dengan peluang ekonomi, Musik, seni pertunjukan, produk UMKM dan berbagai aktivitas kreatif lainnya dapat berjalan beriringan.
Bodewin mengatakan, pemerintah kota tengah mendorong agar ekosistem ekonomi kreatif terus berkembang sehingga masyarakat memiliki ruang untuk berkarya sekaligus mendapatkan nilai ekonomi, “Di situ ada musik, ada UMKM dan lain-lain yang masuk dalam kelompok industri kreatif,” jelasnya.
Menurutnya, upaya tersebut menjadi semakin penting di tengah tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat.
Ruang bagi UMKM dan pelaku ekonomi kreatif diharapkan dapat membuka jalan menuju kemandirian, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi penikmat sebuah kegiatan, tetapi juga menjadi bagian dari perputaran ekonomi yang lahir dari kegiatan tersebut.
“Supaya masyarakat di kota, di tengah-tengah tekanan ekonomi dan situasi kondisi yang sulit, dapat eksis karena memiliki ruang menuju kemandirian masyarakat lewat UMKM dan lainnya,” tuturnya.
Ada satu pesan lain yang disampaikan Bodewin pada malam penutupan itu: tentang persaudaraan, Di tengah keberagaman budaya yang ditampilkan, ia mengingatkan bahwa Ambon memiliki nilai-nilai sosial yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maluku.
Nilai hidup orang basudara, menurutnya, harus tetap dijaga karena menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat, “Pela gandong dan narasi-narasi lain tentang hidup orang bersaudara, potong di kuku rasa di daging, itu menjadi pondasi yang kuat,” katanya.
Sebab, festival mempertemukan banyak orang dalam satu ruang. Mereka datang dari latar belakang, komunitas, sanggar dan wilayah yang berbeda, tetapi dapat berdiri bersama melalui seni dan kebudayaan.
Bagi Ambon, keberagaman bukan sesuatu yang harus dijauhkan, Ia justru menjadi bagian dari identitas kota, Karena itu, Bodewin mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga toleransi dan persaudaraan, “Mari kita bersama-sama terus bersemangat hidup di Kota Ambon yang kita cintai. Mari sama-sama menjaga persaudaraan dan toleransi,” ajaknya.
Ketika rangkaian acara memasuki penghujung, panggung masih dipenuhi cahaya. Lagu-lagu dan pertunjukan seni menjadi penutup malam.
Bodewin menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan festival, mulai dari Pemerintah Provinsi Maluku, Kodam XV/Pattimura, pelaku seni dan budaya, pelaku UMKM hingga masyarakat Kota Ambon.
Festival Benteng New Victoria 2026 akhirnya resmi berakhir, Tetapi dua hari perhelatan itu meninggalkan pesan yang lebih panjang dari sekadar jadwal kegiatan.
Benteng Victoria kembali menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini. Sejarah diingat, kebudayaan ditampilkan, ekonomi kreatif diberi ruang, dan nilai persaudaraan kembali diingatkan.
Sebab sebuah festival mungkin hanya berlangsung beberapa hari, Namun kebudayaan yang dirawat, sejarah yang dikenang dan persaudaraan yang dijaga, seharusnya berlangsung jauh lebih lama, Dan ketika malam kembali tenang di Kota Ambon, cerita Benteng Victoria pun belum benar-benar selesai. (Za)



