Kebijakan Kadis Pertanian SBB Terkesan Tolol, Dinilai Pemborosan Anggaran, Sumur Bor Tanpa Melihat Bendungan - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Senin, 07 September 2026

Kebijakan Kadis Pertanian SBB Terkesan Tolol, Dinilai Pemborosan Anggaran, Sumur Bor Tanpa Melihat Bendungan

Gerard Wakano Tokoh Masyarakat SBB

SBB
, globaltimurnn.com - Di tengah desakan ekonomi yang melilit rakyat kecil, di saat setiap rupiah negara harus diperjuangkan untuk kesejahteraan, ada sebuah kisah pilu dari Desa Waimital, Kecamatan Kairatu, Kabupaten SBB. 


Sebuah kisah tentang kebodohan yang terstruktur, tentang pemborosan yang direncanakan, dan tentang pemimpin yang buta terhadap akar masalah. Ungkap salah satu tokoh masyarakat SBB Gerard Wakano kepada sejumlah media di SBB saat ditemui-nya


Wakano mengatakan" Ini bukan sekadar cerita tentang bendungan yang tertutup material. 


Ini adalah cerita tentang betapa rendahnya kualitas kepemimpinan Bupati dan Kadis Pertanian, di mana seorang kepala dinas dan seorang Bupati dengan tenang menghabiskan miliaran rupiah untuk solusi yang salah, sementara solusi yang benar sudah tersedia di depan mata. Ungkap Wakano


Pasalnya" Desa Waimital memiliki sebuah bendungan yang dibangun dengan baik. 


Bendungan ini menjadi sumber kehidupan bagi ratusan hektar sawah, Namun, tahun berganti, material sirtu yang terbawa arus sungai perlahan menutup bendungan tersebut. 


Debit air menyusut, Sawah mulai mengering, Petani mulai putus asa, Masalahnya sederhana, bendungan perlu dikeruk, itu saja! Solusinya murah, pengerukan material sungai.


Sekarang malah kepala dinas mengeluarkan kebijakan bodoh dengan penggalian 11 sumur bor dengan biaya masing - masing sumur sekitar 150 juta rupiah, sebuah cermin tidak kompetennya kepala dinas pertanian. 


Ketika wartawan bertanya mengapa tidak dilakukan pengerukan saja, jawaban Kepala Dinas Pertanian sungguh mencengangkan, ‘Selama ini tidak ada laporan tentang bendungan yang tertutup material. 


Waduh pak Kadis, ini sebuah Ironi yang memalukan!! Bendungan itu hanya berjarak beberapa kilometer dari kantor dinas, Di sekitar lokasi persawahan, ada puluhan tenaga pertanian dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) yang setiap hari berinteraksi dengan petani. 


Di mana koordinasi anda, Pak La Radin? Tanya Wakano menepis


Di mana laporan dari PPL yang bertugas di Waimital? Mengapa Anda baru tahu ketika wartawan bertanya? Ini bukan ketidaktahuan, Ini adalah ketidakpedulian yang disengaja, Ini adalah pembiaran masalah agar proyek besar bisa dilaksanakan, Ini adalah tindakan yang tidak kompeten dan sangat tidak profesional.


Seorang kepala dinas seharusnya menjadi ujung tombak pembangunan daerah, Seharusnya, anda dapat, Mendiagnosis masalah dengan tepat, Menemukan solusi yang efektif dan efisien,  Menggerakkan sumber daya untuk kemajuan rakyat, Namun, apa yang terjadi di Kabupaten SBB adalah kebalikannya.


Ini bukan kemajuan, Ini adalah kemunduran total, Bupati Seram Bagian Barat, sebagai pemimpin tertinggi di daerah, seharusnya mengawasi setiap kebijakan strategis, Namun, membiarkan Kepala Dinas Pertanian menjalankan kebijakan yang jelas-jelas merugikan rakyat adalah bentuk kelalaian yang sama besarnya.


Apakah Bupati SBB menyetujui kebijakan ini? Jika iya, mengapa Bupati memilih sumur bor yang mahal dan tidak efektif, padahal pengerukan bendungan jauh lebih murah dan berdampak luas? Apakah Bupati tidak tahu, atau Bupati diam saja?


Wakano juga menyoroti La Radin, S.Sos, selaku Kepala Dinas Pertanian, Jika tidak ada laporan tentang bendungan, lalu mengapa tim membuat RAB Irigasi Perkumpian Desa Waimital Tahun 2026 yang sangat detail? Di mana koordinasi Kadis dengan PPL dan kelompok tani? Apa gunanya memiliki tenaga pertanian jika Kadis sendiri tidak tahu kondisi di lapangan? Atau apakah Kadis sengaja tidak mau tahu agar proyek ini bisa berjalan? Heran Wakano sambil bertanya - tanya


Bupati dan Kadis Pertanian dinilai gagal dalam memimpin yang artinya Gagal memahami masalah rakyat, Gagal menemukan solusi yang tepat, Gagal menggunakan uang negara dengan bijak, Gagal menjadi pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat. Tegas Wakano 


Di saat rakyat Waimital berjuang mencari air untuk sawah mereka, di saat setiap rupiah sangat berarti bagi ketahanan pangan, Kadis memilih proyek yang hanya menguntungkan segelintir kontraktor dan pemasok. 


Kecaman ini bukan kebencian, Ini adalah cinta kepada negeri, cinta kepada rakyat yang menanti perhatian dengan kebijakan dan solusi bukan pemborosna anggaran yang sia - sia, bahkan dari anggaran tersebut masyarakat mulai mendesak APH untuk segera periksa Kadis Pertanian dengan para kontraktor karena dianggaran tersebut disebutkan oleh Kadis kepada wartawan saat ditemui itu adalah anggaran APBN, dan dalam proses pekerjaan itu menggunakan mesin ternyata yang dikerjakan menggunakan manual, tanpa mesin, indikasi korupsi pun mencuat disitu, jaksa jangan diam segera ambil langkah tegas. Jelas Wakano tegas


Kecaman ini bukan fitnah, Ini adalah kebenaran yang harus diungkap, Seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mendahulukan kepentingan rakyat, bukan proyeknya. Tambah Wakano


Seorang pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang menyelesaikan masalah, bukan menciptakan masalah baru. Pungkasnya 

Kepala Dinas Pertanian SBB La Radin

Kadis Pertanian SBB La Radin saat ditemui sejumlah awak media di kota Piru, siang tadi menjelaskan bahwa" Sumur Bor yang dilakukan karena menipisnya air yang mengalir dari bendungan, sehingga pihaknya mengambil langkah bijak demi menyelamatkan petani dengan membuat sumur Bor. 


Secara jelas dan terbuka La Radin mengungkapkan bahwa pekerjaan tersebut dilakukan secara manual, tidak menggunakan mesin, bahkan pengakuan La Radin, dari anggaran tersebut ada anggaran untuk menggunakan mesin. Jelasnya  (***) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT