Jejak yang Tak Pernah Hilang: Menyusuri Tanah Leluhur Dr. Johannes Leimena - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Jumat, 25 September 2026

Jejak yang Tak Pernah Hilang: Menyusuri Tanah Leluhur Dr. Johannes Leimena


Ambon
, globaltimurnn.com - Langkah kaki menyusuri tanah Negeri Ema, Kota Ambon, pada Jumat (25/9/2026), menjadi bagian dari perjalanan untuk kembali mengenang sosok dan perjuangan Dr. Johannes Leimena, Pahlawan Nasional asal Maluku. 


Melalui kegiatan Wisata Sejarah Napak Tilas Kepahlawanan Dr. Johannes Leimena, peserta tidak sekadar diajak mengunjungi tempat-tempat bersejarah, tetapi juga diajak mengenal lebih dekat jejak perjuangan, nilai pengabdian, serta warisan luhur yang ditinggalkan salah satu putra terbaik Maluku tersebut.


Kegiatan yang mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan diselenggarakan bersama Komunitas Timur Menulis itu mengambil sejumlah lokasi yang berkaitan dengan perjalanan hidup Dr. Johannes Leimena, termasuk Negeri Ema yang menjadi tanah kelahiran dan bagian penting dari akar sejarah sang pahlawan. 


Di tempat tersebut, perjalanan sejarah dipertemukan dengan kehidupan masyarakat dan generasi muda, sehingga kisah tentang Leimena tidak hanya hadir melalui tulisan atau cerita, tetapi dapat dirasakan secara langsung melalui jejak tanah leluhurnya.


Bagi peserta, napak tilas tersebut menjadi pengalaman untuk memahami bahwa sejarah bukan sekadar rangkaian nama dan peristiwa yang tersimpan di dalam buku. Setiap tempat memiliki cerita, setiap jejak menyimpan kenangan, dan setiap warisan sejarah memiliki nilai yang perlu dijaga. 


Karena itu, perjalanan ini sekaligus menjadi ruang untuk menanamkan nilai cinta tanah air, persatuan, pengabdian, dan keadilan yang menjadi bagian dari semangat perjuangan Dr. Johannes Leimena.


Dr. Johannes Leimena bukan hanya dikenal sebagai tokoh dalam perjalanan sejarah Indonesia, tetapi juga menjadi simbol kebanggaan masyarakat Maluku dan anak bangsa dari kawasan Timur Indonesia. Pengabdiannya menjadi bagian dari perjalanan bangsa dalam membangun persatuan di tengah keberagaman Nusantara. 


Melalui kegiatan tersebut, generasi muda diajak melihat bahwa perjuangan seorang tokoh tidak berhenti ketika ia meninggalkan dunia, tetapi dapat terus hidup selama nilai-nilai perjuangannya dikenang dan diteruskan.


Ketua Komunitas Timur Menulis, Soleman Pelu, mengatakan dukungan Kementerian Kebudayaan RI menjadi bagian penting dalam mewujudkan kegiatan pelestarian sejarah tersebut. Menurutnya, kegiatan ini juga tidak dapat dipisahkan dari keterlibatan masyarakat, tokoh agama, para dewan guru, serta peserta didik di Negeri Ema.


“Kami berterima kasih kepada Kementerian Kebudayaan RI atas dukungan yang memungkinkan kegiatan pelestarian sejarah ini terwujud. Bersama Komunitas Timur Menulis, Bapa Pendeta, para dewan guru, PAUD, SD dan SMP 18 Negeri Ema, kami ingin sejarah tidak hanya tertulis di buku, tetapi dihayati, dirasakan, dan diwariskan,” ujar Soleman Pelu.


Kehadiran peserta di Negeri Ema juga mendapat sambutan hangat dari Ibu Raja Negeri Ema, Janse Tresia Leimena, bersama masyarakat setempat. Sambutan tersebut menjadi bagian dari semangat bersama untuk menjaga warisan sejarah dan budaya yang melekat pada tanah leluhur Dr. Johannes Leimena.


Bagi masyarakat Negeri Ema, menjaga ingatan tentang Leimena bukan hanya tentang mengenang seorang tokoh, tetapi juga merawat cerita, nilai, dan identitas yang diwariskan kepada generasi berikutnya. 


Karena itu, kegiatan wisata sejarah tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi kegiatan yang berkelanjutan dan membuka ruang lebih luas bagi generasi muda untuk mengenal sejarah daerahnya sendiri.


Diharapkan, wisata sejarah ini menjadi langkah awal yang berkelanjutan agar nama dan semangat Dr. Johannes Leimena terus hidup di hati generasi penerus, dan kekayaan budaya serta sejarah Maluku semakin dikenal, dicintai, dan dijaga bersama, ungkap Janse Tresia Leimena.


Menariknya, perjalanan napak tilas tersebut tidak berhenti setelah peserta menyusuri jejak sejarah sang pahlawan. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup melalui pementasan atau Panggung Bebas Napak Tilas dengan tema Semesta Raya Sastra 1.0. Panggung ini menjadi ruang bagi peserta dan komunitas untuk menerjemahkan pengalaman sejarah yang mereka dapatkan selama perjalanan ke dalam bentuk ekspresi seni dan sastra.


Melalui panggung tersebut, kisah masa lalu kemudian dipertemukan dengan kreativitas generasi masa kini. Sejarah yang sebelumnya hadir melalui jejak tempat dan cerita masyarakat kembali dihidupkan melalui kata, sastra, pertunjukan, dan ekspresi kebudayaan. 


Dengan demikian, napak tilas tidak hanya menjadi perjalanan untuk melihat kembali masa lalu, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun hubungan antara sejarah, pendidikan, kebudayaan, dan kreativitas anak muda.


Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian sejarah dapat dilakukan dengan banyak cara. Tidak hanya melalui buku, museum, atau situs sejarah, tetapi juga melalui perjalanan langsung, keterlibatan masyarakat, pendidikan, sastra, dan seni. Ketika generasi muda diberikan kesempatan untuk datang, melihat, mendengar, merasakan, dan kemudian menceritakan kembali sejarah, ingatan tentang para pendahulu akan memiliki ruang untuk terus hidup.


Dari Negeri Ema, tanah yang menyimpan bagian dari perjalanan Dr. Johannes Leimena, pesan kepahlawanan kembali disampaikan kepada generasi hari ini. Menginjak tanah leluhur bukan hanya tentang menelusuri masa lalu, tetapi juga tentang memahami nilai yang diwariskan dan menjadikannya sebagai bekal untuk menatap masa depan.


Melalui dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, kolaborasi Komunitas Timur Menulis, serta keterlibatan masyarakat, tokoh agama, tenaga pendidik, dan peserta didik Negeri Ema, Wisata Sejarah Napak Tilas Kepahlawanan Dr. Johannes Leimena diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah sekaligus memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya dan sejarah Maluku.


Sebab, seorang pahlawan akan terus hidup bukan hanya karena namanya tertulis dalam sejarah, tetapi karena semangat dan nilai perjuangannya terus dikenang, diceritakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT