Dari Jejak Tsunami 1950, Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Lewat EWS dan Tugu Peringatan - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Sabtu, 05 September 2026

Dari Jejak Tsunami 1950, Ambon Perkuat Kesiapsiagaan Lewat EWS dan Tugu Peringatan


Ambon
, Globaltimurnn.com — Tujuh puluh enam tahun telah berlalu sejak gelombang tsunami menerjang kawasan Galala dan Hative Kecil pada 8 Oktober 1950. Namun, jejak peristiwa itu tidak dibiarkan hilang ditelan waktu.


Di kawasan yang pernah menjadi saksi bencana tersebut, kini berdiri sebuah tugu peringatan. Tidak jauh dari sana, sebuah sistem peringatan dini atau Early Warning System (EWS) banjir dipasang untuk memberikan tanda kepada masyarakat ketika ancaman mulai meningkat.


Keduanya menjadi simbol bahwa pengalaman masa lalu harus menjadi pelajaran untuk menghadapi masa depan.


Tugu Peringatan Tsunami Ambon 1950 dan EWS banjir tersebut secara resmi diresmikan oleh Wali Kota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., bersama perwakilan Japan International Cooperation Agency (JICA), Kyoto University Jepang, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pattimura (Unpatti), serta sejumlah pihak yang terlibat dalam penguatan pengurangan risiko bencana di Kota Ambon, Sabtu (05/09/2026.


Peresmian itu menjadi lebih dari sekadar seremoni pembangunan infrastruktur. Pemerintah Kota Ambon ingin menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang untuk mengingat sejarah sekaligus mengajarkan masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan.


Bodewin menegaskan, tugu yang dibangun tidak boleh hanya dipandang sebagai bangunan fisik.


“Tugu ini mesti dipandang bukan sekadar monumen batu beton yang berdiri begitu saja. Tugu ini adalah pengingat,” tegasnya.


Menurut Bodewin, generasi saat ini perlu mengetahui bahwa Ambon pernah mengalami bencana tsunami. Pengetahuan tersebut penting agar masyarakat memahami bahwa ancaman bencana bukan sesuatu yang hanya ada dalam cerita, tetapi pernah benar-benar terjadi dan dapat kembali terjadi.


Karena itu, sejarah harus ditempatkan sebagai bagian dari pendidikan kebencanaan.


Masyarakat tidak cukup hanya mengetahui kapan sebuah bencana pernah terjadi. Mereka juga harus memahami apa yang harus dilakukan ketika bencana datang, bagaimana menyelamatkan diri, serta ke mana harus bergerak ketika kondisi darurat terjadi.


Kota Ambon sendiri merupakan wilayah yang memiliki berbagai potensi ancaman bencana. Gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem menjadi tantangan yang harus diantisipasi pemerintah dan masyarakat.


Bodewin mengatakan, berbagai peristiwa bencana yang terjadi dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya dilakukan ketika bencana sudah terjadi.


“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi risikonya bisa kita kurangi,” ujarnya.


Pengurangan risiko tersebut, kata dia, harus dilakukan secara bersama-sama. Pemerintah memiliki tanggung jawab menyediakan infrastruktur, regulasi dan sistem peringatan. Sementara masyarakat memiliki peran penting dalam memahami informasi, mengikuti prosedur keselamatan dan menjaga fasilitas yang telah disediakan.


Salah satu upaya yang terus didorong Pemkot Ambon adalah penguatan Forum Pengurangan Risiko Bencana di tingkat desa dan negeri.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat edukasi kebencanaan sekaligus membangun kesadaran masyarakat agar lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan.


Jika tugu menjadi pengingat masa lalu, maka EWS menjadi bagian dari persiapan menghadapi ancaman di masa depan.


Perangkat EWS yang dipasang di kawasan Galala dan Hative Kecil dirancang untuk memantau kondisi air dan memberikan indikasi peringatan sesuai tingkat ancaman.


Sistem tersebut menggunakan beberapa tingkatan status. Ketika kondisi masih normal, masyarakat berada dalam keadaan aman. Namun, ketika permukaan air mulai mengalami peningkatan, status kewaspadaan akan berubah.


Pada tingkat oranye, masyarakat diminta mulai bersiap. Sedangkan ketika indikator mencapai merah, masyarakat harus segera melakukan evakuasi.


Peringatan tersebut menjadi penting karena dalam situasi bencana, waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Beberapa menit tambahan untuk mengetahui adanya ancaman dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menyelamatkan anak-anak, orang lanjut usia, keluarga maupun warga yang membutuhkan bantuan.


Bodewin juga mengingatkan kondisi banjir yang pernah terjadi di kawasan Galala dan Hative Kecil. Ketika debit air meningkat, genangan bahkan dapat mencapai kawasan jembatan.


Karena itu, keberadaan EWS diharapkan tidak hanya menjadi alat yang berdiri di tengah lingkungan masyarakat, tetapi benar-benar dipahami dan dimanfaatkan.


Jangan Rusak Alat yang Dibangun untuk Keselamatan


Di balik pembangunan fasilitas tersebut, Bodewin menitipkan pesan kepada Raja Negeri, pemerintah setempat dan seluruh masyarakat.


“Saya titip pesan buat Bapak Raja dan semua warga. Ingat, alat ini penting. Kita cukup menjaganya saja. Jangan dijahili, jangan dirusak,” pintanya.


Pesan tersebut disampaikan karena fasilitas publik yang dibangun pemerintah pada akhirnya kembali kepada masyarakat untuk digunakan dan dirawat bersama.


Bodewin bahkan mengingatkan masih adanya fasilitas publik di Kota Ambon yang mengalami kerusakan atau kehilangan bagian setelah dibangun.


Ia berharap kondisi serupa tidak terjadi terhadap perangkat EWS yang memiliki fungsi jauh lebih penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.


Menurutnya, pembangunan kota yang modern tidak hanya membutuhkan infrastruktur yang baik, tetapi juga masyarakat yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap fasilitas bersama.

Peresmian tugu dan EWS tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pengurangan risiko bencana membutuhkan kolaborasi.


Pemerintah Kota Ambon tidak dapat bekerja sendiri. Dukungan JICA, Kyoto University, ITB, Unpatti dan berbagai pihak lainnya menjadi bagian penting dalam memperkuat kapasitas Kota Ambon menghadapi ancaman bencana.


Kerja sama tersebut tidak berhenti pada pemasangan perangkat. Pengetahuan, riset, pemetaan risiko, edukasi serta peningkatan kapasitas masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan.


Dengan demikian, pembangunan sistem peringatan dini harus berjalan beriringan dengan pembangunan kesadaran masyarakat.


Sebab alat secanggih apa pun tidak akan memberikan manfaat maksimal jika masyarakat tidak memahami arti peringatan yang diberikan.


Di Galala dan Hative Kecil, dua simbol kini berdiri berdampingan.


Tugu menghadap ke masa lalu, mengingatkan generasi sekarang tentang tsunami yang pernah terjadi pada 8 Oktober 1950.


Sementara EWS menghadap ke masa depan, memberikan peringatan ketika ancaman banjir mulai meningkat.


Keduanya membawa pesan yang sama: jangan melupakan sejarah dan jangan mengabaikan peringatan.


Bodewin berharap masyarakat tidak memandang pembangunan tersebut sekadar sebagai proyek pemerintah. Lebih dari itu, tugu dan EWS merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk melindungi masyarakat.


“Kalau kejadian itu terjadi, kita tidak bisa menghindarinya. Tetapi paling tidak kita bisa menyelamatkan diri,” tutur Bodewin.


Pesan itu menjadi inti dari seluruh upaya tersebut. Bencana mungkin tidak selalu dapat dicegah, tetapi korban dan dampaknya dapat ditekan melalui pengetahuan, kesiapsiagaan dan tindakan yang cepat.


Kini, ketika masyarakat melintas di Galala dan Hative Kecil, sebuah tugu mengingatkan tentang apa yang pernah terjadi.


Dan ketika air mulai naik, sebuah sistem peringatan dini diharapkan memberi tanda agar masyarakat tidak terlambat mengambil langkah.


"Mengingat sejarah. Membaca peringatan. Menyelamatkan kehidupan." (Rdks) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT