Bukan Sekadar Memimpin, Hotel Santika Premiere Ambon Menata Pemimpin dari Dalam Diri - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Senin, 14 September 2026

Bukan Sekadar Memimpin, Hotel Santika Premiere Ambon Menata Pemimpin dari Dalam Diri


Ambon
, Globaltimurnn.com — Ruang Meeting Room 6 di lantai 6 Hotel Santika Premiere Ambon, Jumat (11/09/2026), tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah pelatihan.


Di ruangan itu, para Supervisor hingga Manager Hotel Santika Premiere Ambon diajak berhenti sejenak dari rutinitas pelayanan, target operasional, dan berbagai persoalan pekerjaan. Mereka diajak melihat sesuatu yang lebih dekat, yakni diri sendiri.


Pertanyaan sederhana menjadi salah satu pintu masuk dalam sesi tersebut :“What am I good at?”Bagi seorang pemimpin, pertanyaan itu bukan sekadar ajakan untuk menyebut kelebihan. Di baliknya ada sebuah refleksi tentang bagaimana kekuatan pribadi dapat menjadi modal untuk membangun tim yang lebih baik.


Pertanyaan itu menjadi bagian dari Leadership Training yang digelar Hotel Santika Premiere Ambon sebagai upaya memperkuat kapasitas kepemimpinan para leader, mulai dari level Supervisor hingga Manager, Pelatihan yang dibawakan Human Resources Manager Hotel Santika Premiere Ambon, Aldo Soumokil, mengangkat sebuah pesan sederhana namun mendasar: “Lead Yourself First, Lead Your Team Next, Create the Impact.”


Pesan tersebut menjadi benang merah sepanjang pelatihan. Bahwa menjadi pemimpin tidak selalu dimulai dari kemampuan memberi instruksi kepada orang lain. Kepemimpinan justru dimulai dari kemampuan seseorang memimpin dirinya sendiri.


Di industri hospitality, pesan itu menjadi semakin penting. Sebab pelayanan kepada tamu tidak lahir begitu saja dari prosedur kerja. Di belakang sebuah pelayanan terdapat manusia yang bekerja, berkomunikasi, mengambil keputusan, menghadapi tekanan, dan berinteraksi dengan tamu.


Karena itu, rangkaian kepemimpinan tersebut dibangun melalui sebuah hubungan :

People-Performance-Service-Guest Experience, Ketika orang-orang di dalam tim bertumbuh, kinerja ikut bergerak. Ketika kinerja membaik, kualitas pelayanan ikut meningkat. Dan pada akhirnya, pengalaman tamu pun menjadi lebih baik.


Dalam sesi refleksi, para peserta diajak mengenali kekuatan kepemimpinan masing-masing, Komunikasi, problem solving, teamwork, decision making, disiplin, guest handling, coaching, motivasi, adaptability hingga emotional control menjadi sejumlah aspek yang diperiksa kembali, Namun, pelatihan tidak berhenti pada pertanyaan mengenai kelebihan, Para leader juga diperkenalkan pada konsep “My Leadership Gap.”


Bukan untuk menghakimi diri sendiri karena memiliki kekurangan, melainkan untuk menemukan ruang yang masih dapat dikembangkan, Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi, “Apa yang salah dengan saya?”, tetapi :“Apa yang perlu saya kembangkan?” Dari sana, peserta diajak melihat hubungan antara sebuah persoalan dengan dampaknya terhadap tim, kebutuhan pengembangan diri, hingga tindakan nyata yang dapat dilakukan.


Sebab, seorang pemimpin tidak harus menjadi manusia yang sempurna untuk memimpin. Yang lebih penting adalah memiliki keberanian untuk terus belajar dan memperbaiki diri.


Stop, Start, Continue

Refleksi kemudian dibawa ke dalam kebiasaan sehari-hari melalui metode Stop – Start – Continue, Para peserta diminta mengidentifikasi kebiasaan kepemimpinan yang perlu dihentikan, Menyalahkan orang lain ketika terjadi masalah. Memotong pembicaraan. Menunda memberikan feedback. Hingga membawa emosi pribadi ke dalam pekerjaan, Semua itu menjadi bahan evaluasi, Di sisi lain, terdapat pula kebiasaan baru yang perlu dimulai.


Memberikan apresiasi kepada anggota tim. Lebih banyak mendengarkan. Melakukan coaching. Serta memberikan ruang kepada anggota tim untuk belajar dan mengambil keputusan.


Sementara berbagai kebiasaan positif seperti menjaga disiplin, membantu tim, membangun komunikasi, dan memberikan pelayanan terbaik harus terus dilanjutkan.


Pesan yang muncul dari pendekatan tersebut cukup jelas, perubahan seorang pemimpin tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.


Kadang-kadang perubahan justru dimulai dari kebiasaan kecil.


Menyapa anggota tim di pagi hari. Mendengarkan sebelum memberikan respons. Memberikan apresiasi atas pekerjaan yang dilakukan dengan baik. Atau memberikan feedback tepat waktu.


Hal-hal sederhana itu, jika dilakukan secara konsisten, perlahan dapat membentuk budaya kerja yang berbeda.


Hotel Santika Premiere Ambon juga tidak ingin pelatihan tersebut berhenti sebagai pengetahuan yang hanya tersimpan di ruang kelas.


Para peserta kemudian menyusun Personal Leadership Action Plan dengan prinsip SMART: Specific, Measurable, Achievable, Relevant, dan Time-bound.


Masing-masing leader menentukan kondisi yang sedang dihadapi, tujuan yang ingin dicapai, tindakan yang akan dilakukan, indikator keberhasilan, serta batas waktu pengembangan.


Beberapa area yang menjadi perhatian antara lain komunikasi, delegasi, recognition, dan emotional control.


Dengan demikian, leadership tidak hanya menjadi sebuah konsep, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan yang dapat dilihat dan diukur.


Para peserta juga diperkenalkan dengan Daily Leadership Habits, sebuah kebiasaan kepemimpinan yang dapat diterapkan sejak awal hingga akhir shift.


Memulai hari dengan sikap yang tepat dan meninjau prioritas. Menyapa tim. Mengamati sekaligus mendengarkan selama operasional berlangsung. Memberikan dukungan dan coaching. Hingga melakukan evaluasi di penghujung shift.


Pertanyaannya kemudian sederhana :

Apa yang berjalan baik hari ini?

Dan apa yang masih harus diperbaiki?


Bagi Aldo Soumokil, kepemimpinan yang efektif tidak lahir semata-mata dari jabatan.


Ia bermula dari kesediaan seseorang untuk mengenal dirinya sendiri.


Leadership bukan tentang menjadi orang yang paling tahu atau selalu memiliki jawaban. Leadership dimulai ketika kita berani melihat diri sendiri, mengenali kekuatan, mengakui area yang masih perlu dikembangkan, kemudian memilih untuk berubah. Ketika seorang leader bertumbuh, ia memberikan ruang bagi timnya untuk ikut bertumbuh, ujar Aldo.


Menurutnya, dalam industri hospitality, kepemimpinan memiliki hubungan langsung dengan kualitas pelayanan.


Seorang leader yang mampu membangun komunikasi dan kepercayaan akan lebih mudah membangun tim. Tim yang tumbuh dengan baik kemudian memiliki peluang lebih besar menghasilkan kinerja yang baik, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pelayanan kepada tamu.


“Kita tidak bisa memisahkan people, performance, service, dan guest experience. Cara kita memimpin tim akan memengaruhi bagaimana mereka bekerja, bagaimana mereka memberikan pelayanan, dan pada akhirnya bagaimana tamu merasakan pengalaman di hotel. Karena itu, kita harus mulai dengan memimpin diri sendiri terlebih dahulu sebelum memimpin orang lain,” tambahnya.


Menjelang akhir pelatihan, peserta tidak hanya diminta mengingat materi yang telah disampaikan.

Mereka diajak kembali melihat ke dalam diri masing-masing.

Pemimpin seperti apa yang ingin mereka menjadi?

Apa satu hal yang akan mulai diubah?

Dan komitmen kepemimpinan apa yang akan dijalankan mulai esok hari, bahkan dalam 30 hari ke depan?

Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi penutup yang sekaligus membuka sebuah proses baru.


Sebab, leadership training pada akhirnya bukan tentang apa yang terjadi selama beberapa jam di ruang pelatihan.


Ujian sebenarnya justru dimulai ketika para leader kembali ke tempat kerja, bertemu dengan tim, menghadapi persoalan, menerima keluhan tamu, mengambil keputusan, dan berada dalam situasi yang menuntut ketenangan.


Hotel Santika Premiere Ambon melalui pelatihan tersebut ingin menanamkan pemahaman bahwa seorang leader bukan hanya orang yang berada di posisi paling depan.


Ia adalah orang yang memberi arah, menjadi contoh, membangun kepercayaan, dan membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang.


Karena itu, kepemimpinan bukan sekadar tentang jabatan, Ia adalah tentang pengaruh, keteladanan, pertumbuhan manusia, dan dampak yang ditinggalkan.


Dengan semangat “Lead Yourself First, Lead Your Team Next, Create the Impact,” Hotel Santika Premiere Ambon terus membangun pemimpin yang tidak hanya mampu mengelola pekerjaan, tetapi juga mampu mengelola dirinya, membangun manusia di dalam tim, dan pada akhirnya menghadirkan pengalaman terbaik bagi setiap tamu. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT