Ambon, Globaltimurnn.com — Lima puluh tahun bukan sekadar hitungan waktu. Di dalamnya tersimpan perjalanan panjang tentang iman, pelayanan, pengorbanan, kebersamaan, dan kesetiaan sebuah persekutuan gereja dalam melewati berbagai perubahan zaman.
Nuansa syukur dan sukacita itu terasa di tengah Jemaat GPM Kampung Tuni, Negeri Urimessing, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku, saat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 atau Yubileum Emas, Rabu (16/09/2026).
Perayaan yang berlangsung di Gereja Betesda Kampung Tuni tersebut dengan mengusung tema “Melangkah Dalam Syukur, Menjadi Pelita yang Tetap Menyala bagi Kehidupan Bersama.”
Ibadah syukur menjadi bagian utama dalam perayaan tersebut. Seluruh warga Jemaat GPM Tuni bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kepada Tuhan. Dengan Khotbah yang disampaikan oleh Pendeta W. A. Beresaby, yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Pekerja Klasis Pulau Ambon, dan diwarnai puji-pujian yang dibawakan bersama oleh warga jemaat.
Perayaan semakin bermakna dengan kehadiran Camat Nusaniwe, Niel A. Wattimena, bersama istri yang juga Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kecamatan Nusaniwe, Leny Wattimena. Dan juga serta di Dampingi Danramil 1504-06 Nusaniwe bersama istri dan Kapolsek Nusaniwe bersama istri.
Kehadiran Niel menjadi perhatian tersendiri karena ia baru dilantik sebagai Camat Nusaniwe pada 11 September 2026. Hanya lima hari setelah menerima amanah tersebut, ia memilih hadir langsung di Kampung Tuni.
Kedatangannya bukan semata menjalankan agenda pemerintahan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan diri sekaligus membangun komunikasi awal dengan masyarakat di wilayah yang kini menjadi bagian dari tanggung jawabnya.
Di tengah suasana perayaan, Niel bersama sang istri tampak menyatu dengan warga jemaat. Kehadiran tersebut menjadi gambaran awal komitmen pemerintah kecamatan untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, termasuk menjangkau wilayah-wilayah yang memiliki tantangan tersendiri dalam hal akses dan mobilitas.
Dalam sambutannya, Niel mengaku bahwa kunjungannya tersebut merupakan kali pertama dirinya menginjakkan kaki di Kampung Tuni setelah dipercaya memimpin Kecamatan Nusaniwe.
“Ini merupakan pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kampung Tuni. Walaupun saya merupakan anak negeri, baru kali ini saya berkesempatan hadir di tempat ini setelah dilantik oleh Wali Kota Ambon sebagai Camat Nusaniwe pada tanggal 11 September 2026,” ungkapnya.
Kesempatan tersebut sekaligus dimanfaatkannya untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat bersama Danramil dan Kapolsek Nusaniwe sebagai bagian dari Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Nusaniwe.
Niel juga menyampaikan salam hormat dari Wali Kota Ambon Drs. Bodewin M. Wattimena, M. Si, kepada seluruh masyarakat dan Jemaat GPM Tuni yang tengah merayakan usia setengah abad.
Bagi Niel, usia 50 tahun merupakan sebuah perjalanan spiritual yang panjang. Yubileum Emas menjadi momentum untuk melihat kembali jejak pelayanan sekaligus menatap masa depan dengan semangat yang lebih kuat.
Ia mengajak seluruh warga jemaat memaknai perjalanan lima dekade tersebut dengan hati yang penuh syukur.
Menurutnya, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Melangkah dalam syukur berarti kita tidak boleh diam. Kita harus terus berjalan, bekerja, dan berjuang, walaupun perjalanan yang kita lalui tidak selalu mulus, katanya.
Ia mengingatkan agar kehidupan bersama tidak dipenuhi kebencian, dendam, maupun iri hati. Sebaliknya, setiap orang dipanggil untuk menjadi terang bagi sesama tanpa membedakan suku, agama, maupun ras.
Menjadi “pelita”, kata Niel, berarti terus menghadirkan cahaya dalam kehidupan bersama, termasuk ketika masyarakat menghadapi berbagai persoalan dan tantangan.
Karena itu, momentum 50 tahun Jemaat GPM Tuni diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan seremonial, tetapi menjadi titik tolak untuk memperkuat pelayanan, persekutuan, dan kepedulian terhadap kehidupan masyarakat.
Lima puluh tahun bukan sekadar perjalanan waktu, tetapi merupakan bukti nyata dari kesetiaan, pengorbanan, dan kerja keras seluruh pelayan serta warga jemaat dalam membangun iman dan memelihara persekutuan di tengah berbagai tantangan zaman, ujarnya.
Niel memberikan apresiasi terhadap peran Jemaat GPM Tuni yang selama ini tidak hanya membangun kehidupan iman secara internal, tetapi juga mengambil bagian dalam kehidupan sosial masyarakat.
Menurutnya, gereja merupakan salah satu mitra penting pemerintah dalam menjaga kerukunan, merawat toleransi, membangun kebersamaan, serta mendukung berbagai upaya pembangunan.
Ia juga melihat Tuni memiliki kekuatan lain melalui potensi budaya masyarakat, termasuk seni dan musik yang turut memberikan warna bagi Kecamatan Nusaniwe.
Dalam kesempatan tersebut, Niel menitipkan tiga pesan kepada warga jemaat.
Pertama, meningkatkan kemandirian dan kepedulian. Usia 50 tahun harus menjadi batu loncatan bagi jemaat untuk semakin kuat dalam pelayanan sekaligus semakin peka terhadap berbagai pergumulan masyarakat.
Kedua, memperkuat sinergi antara jemaat dan pemerintah. Kerja sama diperlukan untuk menghadapi berbagai persoalan, mulai dari kesejahteraan masyarakat, pemberdayaan generasi muda, hingga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Ketiga, menjaga kedamaian wilayah. Jemaat diharapkan terus menjadi bagian dari kekuatan yang merajut kebersamaan, baik antarwarga gereja maupun dengan masyarakat yang berbeda keyakinan.
Ada satu hal yang secara khusus menarik perhatian Niel saat pertama kali datang ke Tuni, yakni kondisi akses jalan dan perjuangan masyarakat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Ia mengaku melihat langsung medan menuju wilayah tersebut yang tidak mudah. Namun, kondisi itu tidak mematahkan semangat warga untuk tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
Niel melihat jalan setapak dengan medan yang cukup sulit tetap menjadi akses penting bagi masyarakat untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya.
"Saya melihat sendiri bagaimana kondisi jalan menuju ke wilayah ini. Dari atas sampai ke bawah, medannya cukup sulit. Namun, berkat adanya jalan setapak tersebut, warga masih dapat berjalan dan melakukan aktivitas. Ini merupakan sesuatu yang luar biasa," tuturnya.
Ia juga menyoroti perjuangan para orang tua yang berjualan dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Bagi Niel, pemandangan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari angka maupun program. Pembangunan juga harus dilihat dari wajah masyarakat yang setiap hari berjuang mempertahankan kehidupan keluarganya.
Sebagai anak Negeri Urimessing, Niel mengaku memiliki ikatan emosional tersendiri dengan masyarakat di wilayah tersebut.
“Beta sebagai anak Negeri Urimessing merasa terpanggil untuk bersama-sama dengan Bapak-Ibu melakukan yang terbaik bagi masyarakat,” katanya.
Di hadapan warga jemaat, Niel menyadari bahwa tugas sebagai camat tidak mungkin dijalankan seorang diri.
Ia mengajak masyarakat, pemerintah negeri dan kampung, TNI, Polri, serta seluruh unsur masyarakat untuk bersama-sama membangun Kecamatan Nusaniwe.
Ia menegaskan bahwa dukungan dan kerja sama masyarakat merupakan bagian penting dalam menjalankan tugas pemerintahan.
Karena itu, seluruh warga diajak bergandengan tangan menjaga keamanan, kebersihan, dan lingkungan, sekaligus menyampaikan berbagai kebutuhan serta aspirasi masyarakat melalui koordinasi yang baik.
Kepala Kampung dan Raja juga diharapkan terus membangun komunikasi dengan pemerintah kecamatan agar berbagai kebutuhan masyarakat Tuni dapat diperjuangkan secara bersama-sama.
Niel turut mengajak masyarakat mendukung berbagai program pembangunan Pemerintah Kota Ambon, termasuk 17 program prioritas Wali Kota Ambon, sebagai bagian dari upaya bersama membangun daerah.
Setelah ibadah berlangsung dalam suasana penuh sukacita, perayaan dilanjutkan dengan resepsi syukuran bersama seluruh jemaat.
Momentum tersebut akhirnya bukan hanya menjadi perayaan atas usia 50 tahun sebuah jemaat, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan antara gereja, pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat.
Di tengah perjalanan menuju satu abad, Jemaat GPM Tuni kembali diingatkan bahwa gereja dipanggil bukan hanya untuk bertumbuh dalam iman, tetapi juga hadir dan melayani kehidupan.
Dan di tengah masyarakat Tuni yang terus berjuang melewati berbagai tantangan, pesan itu menemukan maknanya, melayani dengan tekun, berjalan dalam syukur, dan menjadi pelita yang tetap menyala bagi kehidupan bersama.
Menutup sambutannya, Niel menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepada Jemaat GPM Tuni yang memasuki usia setengah abad.
“Selamat ulang tahun yang ke-50 kepada Jemaat GPM Tuni. Kiranya Tuhan Yesus senantiasa menyertai dan memberkati kita semua dalam setiap langkah dan perjuangan kita,” pungkasnya. (Za)


