Bula, Globaltimurnn.com - Selama lebih dari satu abad sejak 1897minyak Bula telah ditemusai, Ribuan barel diangkut, miliaran rupiah mengalir ke kas pusat, namun satu pertanyaan paling mengiris; Mengapa dari tanah sekaya ini, tidak pernah lahir satu pun ahli perminyakan dari anak negeri ini?
Ini adalah potret kegagalan transfer pengetahuan yang sistematis, Di masa kolonial, orang Seram dan Maluku ditempatkan sebagai kuli di perusahaan minyak.
Era kemerdekaan berganti, kontrak berganti operator dari BPM ke Santos, dari Kalrez, Kufpec, Citic Seram, dll, Namun pola dasarnya tetap, pengetahuan tetap di tangan orang luar.
Seharusnya, industri migas membentuk ekosistem ekonomi, Ada perusahaan lokal yang menjadi vendor, ada tenaga kerja terampil yang direkrut dari sekitar, ada sekolah kejuruan yang mencetak teknisi, Di Bula, yang terjadi adalah kebalikan-nya.
Ketika PT Balam Energi mulai beroperasi, Dinas Tenaga Kerja SBT pun tak bisa memastikan berapa tenaga kerja yang dibutuhkan, apalagi dari lokal, Masyarakat pun mengancam akan menolak perusahaan jika kontraktor dan tenaga kerja didatangkan dari luar. Ungkap Gerard Wakano lewat pesan Whatsaap-nya kepada media ini
Wakano mengatakan" Selama ini kan ada PT lokal yang bisa tangani hal ini, Kenapa mereka tidak ambil orang lokal, mereka datangkan dari luar..! Sebuah ironi perih, untuk pekerjaan mobilisasi dan pengangkutan peralatan, pekerjaan yang seharusnya bisa dikerjakan oleh perusahaan lokal, pihak luar lebih diutamakan.
Pada 2026, PT Kalrez Petroleum resmi mencabut izin usahanya dari Bula, Dampaknya, Pendapatan Asli Daerah dari sektor migas hilang, dan 94 tenaga kerja lokal menggantung nasibnya, Ini adalah pola yang berulang ketika perusahaan datang, minyak dieksploitasi, ketika perusahaan pergi, yang ditinggalkan hanya ketidakpastian.
Bahkan sebelumnya, para pekerja Kalrez sudah mengalami gaji tertunda hingga enam bulan, hingga akhirnya menyegel pintu gerbang perusahaan dan mogok kerja.
Bahkan Wakano juga membeberkan bahwa" Seperti yang diungkapkan Engelina Pattiasina, Minyak di Bula sudah ada sejak zaman Belanda, Tapi di mana hasil SDA tersebut? Siapa yang menikmati? Ini harus dijelaskan secara terbuka.
Masyarakat Bula hidup di atas salah satu ladang minyak tertua di Indonesia.
Tapi ketika mereka butuh minyak tanah untuk memasak, mereka keliling desa dan takmudah mendapatkannya, Ketika perusahaan migas beroperasi, mereka hanya menjadi penonton dan pekerja kasar, bukan pengelola.
Ketika perusahaan pergi, mereka ditinggalkan tanpa keahlian, tanpa pengetahuan, tanpa kekuatan tawar.
Ahli perminyakan dari Bula tidak pernah lahir, bukan karena masyarakatnya tak mampu, tetapi karena sistemnya tak pernah memberi ruang, Vendor lokal tak pernah tumbuh, bukan karena tak ada kapasitas, tetapi karena kontrak-kontrak selalu diberikan ke luar.
Inilah paradoks paling tajam di Bula, minyak yang seharusnya menjadi tangga menuju kemakmuran, justru menjadi tembok yang memisahkan masyarakat dari pengetahuan, keterampilan, dan kedaulatan ekonomi.
Selama kontraktor lokal tak pernah diprioritaskan, selama pengetahuan perminyakan tetap menjadi monopoli orang luar maka pompa angguk di Bula akan terus mengangguk, memberi penghormatan pada siklus ketidakadilan yang tak pernah usai. (Rdks)
