Ambon, globaltimurnn.com - Tulisan Engelina Pattiasina di Maluku Post pada Maret 2016 bukan sekadar opini.
Ia adalah manifesto perlawanan terhadap logika teknokratik yang mengabaikan keadilan.
Di tengah gempuran kajian independen yang memuja efisiensi kilang terapung (FLNG), Engelina dengan berani mengangkat kasus Ichthys Australia sebagai cermin.
Jika Inpex mampu membangun pipa sepanjang 889 kilometer ke Darwin, mengapa jarak 180 kilometer ke Saumlaki atau 90 kilometer ke Pulau Selaru dijadikan alasan untuk menolak pembangunan di darat? Ia membongkar kebohongan publik bahwa argumen teknis dan ekonomis selama ini hanyalah topeng untuk melanggengkan kepentingan investor dan segelintir elite.
Apa yang membuat suara Engelina berbeda? Ia bukan sekadar aktivis yang bergerak dari pinggiran. Latar belakangnya sebagai ekonom politik lulusan Jerman memberinya pisau analisis yang tajam.
Namun yang lebih penting adalah warisan perjuangan yang mengalir dalam dirinya. Ayahnya, Brigjen TNI Johanes M. Pattiasina, adalah perintis PT Permina (cikal bakal Pertamina) yang pernah menembak agen asing yang meremehkan kemampuan Indonesia mengelola minyaknya sendiri.
Sebelum wafat, sang ayah berbisik, "Engelina, jangan biarkan Maluku tidak menikmati kekayaan alamnya sendiri", Itulah mandat moral yang dibawa Engelina sebuah kesinambungan perlawanan dari generasi pendiri bangsa hingga kini.
Kilang Darat Bukan Sekadar Teknis, tapi Geometri Kekuasaan
Perjuangan Engelina sesungguhnya adalah perjuangan melawan struktur. Ia paham betul bahwa perdebatan onshore vs FLNG bukan persoalan teknis, melainkan geometri kekuasaan.
Kilang terapung berarti gas dicairkan di laut, diangkut keluar, dan Maluku hanya menjadi penonton bisu, sama seperti yang terjadi di Blok Tangguh Papua, dimana gas mengalir keluar tanpa meninggalkan jejak industri.
Kilang darat berarti pusat pertumbuhan baru, lapangan kerja, industri petrokimia, efek berganda ekonomi yang bisa mengangkat Maluku dari ketertinggalan.
Ia menyebutnya big push satu-satunya cara untuk memutus rantai kemiskinan struktural yang selama puluhan tahun membelenggu Maluku.
Ini bukan retorika populis. Ini adalah diagnosis tepat atas penyakit kronis sumber daya alam Indonesia, kekayaan melimpah di daerah, kemakmuran dinikmati di tempat lain.
Yang membuat perjuangan Engelina begitu berat adalah ia berhadapan dengan kekuatan besar.
Investor asing termasuk Inpex dan segelintir elite di Jakarta memiliki kepentingan besar pada skema FLNG yang lebih murah dan efisien bagi mereka.
Engelina dengan lantang menyebut praktik ini sebagai "gaya kolonial" yang berarti mengambil kekayaan tanpa memikirkan rakyat pemiliknya.
Ia mengingatkan bahwa keputusan Presiden Jokowi tahun 2016 sudah jelas, kilang di darat, Namun ia juga sadar bahwa keputusan presiden bisa "ditelikung" diubah secara halus melalui skema kombinasi darat-laut yang pada akhirnya akan berujung pada FLNG lagi.
Maka ia menggalang petisi rakyat, membangun kesadaran kolektif bahwa pengawasan publik adalah satu-satunya benteng terakhir.
Ia mengingatkan, masa jabatan pejabat terbatas, tapi dampak pengelolaan sumber daya alam akan dirasakan oleh generasi berikutnya.
Ketika Perjuangan Masih Panjang
Hampir satu dekade setelah tulisannya, proyek Masela akhirnya memasuki tahap FEED pada 2025 dengan skema kilang darat (Onshore LNG).
Namun perjuangan Engelina belum usai. Isu lahan di Tanimbar mulai muncul, dan ancaman "kombinasi darat-laut" masih mengintai.
Yang dipertaruhkan bukan sekadar proyek gas, melainkan model pembangunan Indonesia, apakah sumber daya alam akan terus menjadi instrumen ekstraksi bagi segelintir pihak, atau menjadi fondasi kemakmuran bagi rakyat di sekitarnya?
Engelina Pattiasina mengajarkan kita bahwa dalam politik sumber daya alam, keadilan tidak datang dengan sendirinya.
Ia harus diperjuangkan dengan data, dengan lobi, dengan mobilisasi publik, dan dengan keberanian untuk melawan arus.
Ia membuktikan bahwa suara dari daerah, jika dibawakan dengan cerdas dan konsisten, bisa mengguncang kebijakan yang sudah mengkristal.
Maluku bukan hanya penonton di negerinya sendiri, Dan Engelina Pattiasina adalah salah satu bukti bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan struktural masih mungkin asalkan ada nyali, ada pengetahuan, dan ada hati yang tidak pernah lelah berbisik, "Ini untuk rakyat." (Tim)
