Namlea, Globaltimurnn.com – Komitmen memberikan pembinaan tanpa diskriminasi terus ditunjukkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea. Bekerja sama dengan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Buru, Lapas Namlea kembali menggelar program pembinaan kerohanian bagi warga binaan beragama Hindu, Kamis (25/06/2026).
Kegiatan yang rutin dilaksanakan pada awal dan akhir bulan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan kepribadian guna memperkuat nilai-nilai spiritual warga binaan selama menjalani masa pidana. Pada kesempatan kali ini, materi pendalaman agama Hindu disampaikan langsung oleh Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Buru, Pipin Jujun Pratiwi.
Kepala Lapas Kelas III Namlea, Muhammad M. Marasabessy, menegaskan bahwa seluruh warga binaan berhak memperoleh pelayanan dan pembinaan keagamaan sesuai agama dan kepercayaan yang dianut.
"Pemenuhan hak beribadah dan pembinaan kerohanian merupakan bagian penting dari proses pembinaan. Tidak hanya warga binaan beragama Islam dan Kristen, warga binaan Hindu juga mendapatkan hak yang sama untuk meningkatkan kualitas spiritual mereka," ujar Marasabessy.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat lima warga binaan beragama Hindu di Lapas Namlea yang secara berkala mendapatkan penyuluhan dan pendampingan keagamaan melalui kerja sama dengan Kemenag Kabupaten Buru.
Menurutnya, pembinaan spiritual menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter, memperkuat kesadaran diri, serta mendorong perubahan perilaku yang lebih baik bagi warga binaan.
Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan, Mustafa La Abidin, menjelaskan bahwa aspek kerohanian turut menjadi indikator penting dalam Sistem Penilaian Pembinaan Narapidana (SPPN).
"Setiap bulan, warga binaan dievaluasi oleh wali pemasyarakatan berdasarkan berbagai aspek, mulai dari perilaku sehari-hari, keaktifan mengikuti program pembinaan, kehidupan beragama, hingga sikap yang ditunjukkan selama menjalani masa pidana. Seluruh penilaian tersebut tercatat dalam SPPN dan menjadi salah satu syarat memperoleh hak-hak dasar maupun hak integrasi," jelas Mustafa.
Di sisi lain, Penyuluh Agama Hindu Kemenag Kabupaten Buru, Pipin Jujun Pratiwi, mengapresiasi antusiasme para warga binaan dalam mengikuti kegiatan pembinaan tersebut.
"Mereka menunjukkan semangat belajar yang tinggi dan rasa ingin tahu yang besar terhadap materi yang diberikan. Setiap pertemuan kami berupaya memastikan materi dapat dipahami dengan baik sehingga memberikan manfaat nyata bagi mereka," ungkap Pipin.
Melalui pembinaan keagamaan yang berkelanjutan, Lapas Namlea berharap warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga memperoleh bekal moral dan spiritual yang kuat sebagai modal untuk kembali ke masyarakat menjadi pribadi yang lebih baik. (Za)

