
Foto : Sikapi Isu Pilkada Dipilih DPRD, Fraksi PDIP SBB Angkat Suara, Petronela Istia Sebut Dua Alasan Penting Ini
Kairatu, Globaltimurnn.com - Wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (Pilkada) dari pemilihan langsung oleh rakyat ke pemilihan melalui DPRD kembali mencuat ke ruang publik.
Petronela J. M. Istia. SPT saat ditemui di ruang Fraksi PDIP DPRD Kabupaten Seram Bagian Barat siang tadi menilai wacana tersebut tidak bisa dibaca secara sederhana sebagai pilihan teknis antara pemilihan langsung dan tidak langsung. Ucapnya
“Saya melihatnya sebagai gejala dari dua hal sekaligus.
Pertama, ini merupakan alaran bahwa Pilkada langsung memang memiliki problem serius, Namun di sisi lain, wacana ini juga mencerminkan kalkulasi kepentingan partai politik, karena Pilkada langsung kerap melahirkan kepala daerah dengan legitimasi kuat yang sulit dikendalikan oleh partai pengusungnya. Ungkapnya
Petronela menjelaskan" Secara menyeluruh diseluruh daerah termasuk Fraksi PDIP yang ada di Kabupaten Seram Bagian Barat tetap berdiri teguh pada komitmen awal, yang mana komitmen Reformasi. Ulasnya
Ditambahkan-nya pula" Hal tersebut karena pemilihan lansung ini itu hasil dari Reformasi sehingga PDIP tidak akan pernah lari dari komitmen awal, dan jika PDIP lari dari komitmen awal itu artinya PDIP menghianati hati rakyat yang lahir bukan sekedar dari sebuah surat atau UU namun lewat sebuah perjuangan dan pengorbanan rakyat mempertaruhkan hak-nya mempertahankan satu kepentingan bersama bagi semua rakyat.
Lebih tegas Petronela menyampaikan bahwa" Bagi Fraksi PDIP secara menyeluruh dan juga di SBB tetap menolak adanya pilkada lewat jalur pemilihan yang di pilih oleh DPRD. Tegasnya
Petronela juga menguraikan dua hal penting yang menjadi dasar bahwa pemilihan yang di lakukan secara lansung itu"
Pertama : tidak lalu mengebiri hak rakyat dalam memberikan suara-nya.
Kedua : pemilihan lansung itu yang mana rakyat akan menilai lansung pemimpin mereka lewat paparan visi misi sehingga rakyat akan secara lansung mengetahui calon pemimpin tersebut punya tekrekor.
Secara lantang Petronela menyebutkan bahwa pemilihan lewat DPRD itu adalah pemilihan secara tertutup dan hanya diketahui oleh sebagian orang, dan ada dugaan kuat akan terjadi sebuah nepotisme dalam pemilihan tersebut. Jelasnya
Kita belajar dari orde Lama lalu yang mana jika kekuasaan itu langgeng maka akan menggiring semua untuk menyukai seseorang yang hendak mencalonkan dirinya. Ucap Petronela
Hal itu bisa saja terjadi karena jelas akan terjadi sebuah proses transaksional yang luar biasa akan terjadi.
Petronela mengakui" Dari sisi penghematan memang lebih hemat jika dilihat dari sisi anggaran, namun yang akan hancur adalah demokrasi karena bagaimanapun juga proses transaksional itu akan terjadi saat pemilihan itu berlangsung. Beber Petronela
Hal itu akan terjadi karena tujuannya guna memenangkan calon yang mengikuti konsentrasi pemilu tersebut, dan rakyat tidak akan tahu siapa pemimpin mereka, karena tidak secara lansung.
Paling berpengaruh lagi jika terjadi pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPR maka terkait masalah rekomendasi partai akan cukup ikut berpengaruh, dan disitu akan besar dugaan suap akan terjadi. Terang Petronela
PDIP dalam menyikapi akan hal tersebut, akan mengambil langkah yang sangat hati - hati, dan pada dasarnya PDIP akan memilih figur pemimpin adalah orang yang benar - benar mau bekerja untuk rakyatnya, karena menyangkut hajat hidup rakyat banyak bukanlah sesuatu yang main - main.
Diakhir keterangan-nya petronrla menyampaikan pesan kepada seluruh rakyat Indonesia terlebih kusus rakyat SBB agar ke depan pilihlah pemimpin yang benar - benar pro rakyat, dan dekat dengan rakyat, bukan karena sebagai seorang pimpinan saja, namun sebagai orang tua dengan anak. Pungkasnya (V374)