PKJL AMGPM, Menyiapkan Kader yang Berakar dalam Iman dan Berani Menjawab Tantangan Zaman - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Kamis, 01 Oktober 2026

PKJL AMGPM, Menyiapkan Kader yang Berakar dalam Iman dan Berani Menjawab Tantangan Zaman


Ambon
, Globaltimurnn.com — Masa depan tidak pernah lahir begitu saja. Ia dipersiapkan melalui proses panjang, melalui pembelajaran, pengalaman, pembentukan karakter, hingga keberanian untuk mengambil tanggung jawab.


Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, gereja, masyarakat, bangsa dan negara membutuhkan generasi muda yang bukan hanya memiliki kemampuan memimpin, tetapi juga memiliki fondasi iman, wawasan intelektual dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.


Pesan itulah yang mengemuka ketika Wali Kota Ambon, Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., membuka secara resmi Pendidikan Kader Jenjang Lanjutan (PKJL) Angkatan Muda Gereja Protestan Maluku (AMGPM) Daerah Kota Ambon Tahun 2026, Kamis (01/10/2026).


Kegiatan yang berlangsung pada tanggal 1–3 Oktober 2026 di Aula Balai Pertanian Provinsi Maluku itu mengusung tema “Membentuk Kader Transformatif yang Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam Intelektual, dan Berdampak bagi Dunia.”


Tema tersebut bukan sekadar rangkaian kata. Bagi Bodewin, tema itu menggambarkan tantangan sekaligus tanggung jawab yang harus dijawab oleh setiap kader AMGPM.


Sebab, menjadi kader tidak cukup hanya dengan memahami bagaimana sebuah organisasi berjalan. Lebih dari itu, kader harus ditempa menjadi pribadi yang mampu berpikir, mengambil keputusan, memimpin, sekaligus membawa nilai-nilai iman ke dalam kehidupan nyata.


Pendidikan kader ini sangat penting karena melalui proses inilah kita membentuk pribadi-pribadi kader AMGPM. Bukan hanya memahami organisasi, tetapi juga meningkatkan kualitas intelektual dan kualitas iman spiritual sebagai warga gereja. 


PKJL merupakan jenjang lanjutan dalam proses pengkaderan AMGPM, setelah tahapan dasar dan menengah. Karena itu, peserta yang berada pada jenjang ini dipandang telah memasuki tahap untuk mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab yang lebih besar.


Bodewin melihat proses tersebut sebagai ruang untuk mengasah cara berpikir sekaligus membangun kematangan seorang kader, Di ruang pendidikan kader inilah peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga diajak untuk melihat persoalan secara lebih luas, berdiskusi, menguji gagasan dan belajar mengambil keputusan.


Sebab, ketika kelak berada di tengah organisasi maupun masyarakat, seorang pemimpin tidak selalu berhadapan dengan persoalan yang memiliki jawaban sederhana, Diperlukan kemampuan untuk membaca perubahan, memahami persoalan dan menentukan langkah yang tepat, Karena itu, Bodewin menekankan pentingnya melahirkan kader transformatif.


Menurutnya, pemimpin transformatif bukanlah mereka yang sekadar mampu berbicara tentang perubahan, melainkan mereka yang mampu membawa perubahan itu menjadi tindakan nyata.


Pemimpin transformatif harus mampu membawa organisasi yang dipimpinnya menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan mampu menjadi contoh yang baik bagi orang-orang yang dipimpinnya. 


Bagi Bodewin, ada dua hal yang tidak boleh dipisahkan dalam pembentukan kader AMGPM: iman dan intelektual, Iman menjadi akar yang memberi arah, sementara kemampuan intelektual menjadi kekuatan untuk membaca perkembangan zaman.


Kader yang memiliki iman diharapkan tidak hanya memahami nilai-nilai kekristenan dalam ruang gereja, tetapi mampu menerjemahkannya melalui sikap dan perilaku sehari-hari.


Di sisi lain, kader juga dituntut untuk tidak berhenti pada cara berpikir yang sempit. Wawasan harus diperluas, mulai dari persoalan organisasi, kehidupan sosial, pembangunan daerah hingga tantangan bangsa dan negara.


Fondasi iman dan wawasan intelektual yang baik harus diwujudkan melalui perilaku hidup sehari-hari serta kepedulian sosial yang nyata terhadap lingkungan, Dengan demikian, iman tidak berhenti sebagai pengetahuan, sementara intelektual tidak berhenti sebagai teori.


Di situlah seorang kader diharapkan mampu memberikan dampak bagi lingkungan di sekitarnya, Dalam pandangan Bodewin, AMGPM memiliki posisi penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia dan calon pemimpin masa depan.


Ia bahkan menggambarkan AMGPM sebagai sebuah “dapur” tempat lahir dan ditempanya manusia-manusia yang kelak dapat mengambil peran di berbagai bidang kehidupan.


Dari ruang-ruang organisasi gereja, kader dibentuk untuk kemudian hadir di tengah masyarakat dengan kemampuan dan tanggung jawab yang lebih besar.


Menurutnya, jejak tersebut sudah terlihat dari banyaknya kader AMGPM yang kini dipercaya mengemban berbagai tanggung jawab, termasuk di lingkungan Pemerintah Kota Ambon.


Karena itu, ia berharap proses pengkaderan tidak berhenti pada kegiatan semata, tetapi terus melahirkan generasi yang mampu mengisi ruang-ruang strategis dalam kehidupan masyarakat.


Harapannya, AMGPM selalu mampu menghasilkan kader-kader yang membanggakan gereja dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Ke depan, semakin banyak kader AMGPM yang dapat mengisi posisi-posisi penting dan strategis, Pesan Bodewin kemudian bergerak lebih jauh, dari ruang organisasi menuju masa depan Kota Ambon.


Menurutnya, pembangunan kota tidak mungkin hanya dibebankan kepada pemerintah. Begitu pula gereja atau organisasi kepemudaan tidak dapat berjalan sendiri dalam menjawab berbagai persoalan masyarakat, Pemerintah, gereja, organisasi kepemudaan dan berbagai elemen masyarakat memiliki ruang dan tanggung jawab masing-masing untuk berkontribusi membangun kota.


Karena itu, Pemerintah Kota Ambon menyatakan komitmennya untuk terus membangun sinergi dengan AMGPM, mulai dari pengurus besar, daerah, cabang hingga ranting, Bagi Bodewin, semakin kuat kualitas sumber daya manusia yang dibangun melalui organisasi kepemudaan, semakin besar pula kontribusi yang dapat diberikan bagi masyarakat.


PKJL AMGPM Daerah Kota Ambon 2026 akhirnya bukan sekadar agenda organisasi yang berlangsung selama tiga hari, Di dalamnya ada proses untuk membentuk cara berpikir, menguatkan karakter, memperdalam iman dan menumbuhkan keberanian untuk mengambil tanggung jawab.


Para peserta diharapkan tidak hanya keluar dari kegiatan ini dengan membawa sertifikat atau tambahan pengetahuan, tetapi juga membawa perspektif baru tentang arti menjadi seorang kader.


Menjadi kader berarti bersedia belajar, Menjadi kader berarti siap berubah, Dan menjadi kader transformatif berarti memiliki keberanian untuk menjadikan apa yang dipelajari sebagai tindakan yang memberi manfaat bagi orang lain.


Dari ruang PKJL inilah harapan itu diletakkan: lahir generasi muda AMGPM yang menjadikan iman sebagai akar, intelektual sebagai kekuatan berpikir, dan kepedulian sosial sebagai bentuk nyata pengabdian.


Generasi yang kelak tidak hanya siap memimpin organisasi, tetapi juga hadir sebagai bagian dari solusi bagi gereja, masyarakat, pemerintahan, bangsa dan negara.


Dengan dimulainya PKJL AMGPM Daerah Kota Ambon Tahun 2026, tiga hari ke depan menjadi bagian dari perjalanan panjang menyiapkan kader-kader muda untuk menjawab perubahan zaman dan mengambil bagian dalam menjaga serta membangun masa depan Ambon Manise.(Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT