Ambon, Globaltimurnn.com – Yayasan Kesehatan Gereja Protestan Maluku (GPM) mulai mengambil langkah konkret untuk membenahi tata kelola dan meningkatkan kualitas pelayanan Rumah Sakit Sumber Hidup GPM.
Langkah awal tersebut ditandai dengan pertemuan perdana pengurus yayasan bersama Plt. Direktur, jajaran manajemen dan seluruh pegawai RS Sumber Hidup yang berlangsung di Aula Rumah Sakit Sumber Hidup, Kamis (13/08/2026).
Ketua Yayasan Kesehatan GPM, Dr. Reny Nendisa, SH, MH, mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum untuk menyatukan visi seluruh unsur di rumah sakit dalam menghadapi berbagai tantangan yang ada.
Menurutnya, kepengurusan baru tidak hadir untuk mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan membangun solusi bersama demi memperbaiki kondisi rumah sakit.
“RS Sumber Hidup adalah wujud pelayanan GPM kepada masyarakat, sehingga harus tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan kasih,” ujar Reny.
Ia menjelaskan, agenda pembenahan akan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan disiplin pegawai, kepatuhan terhadap Standar Operasional Prosedur (SOP), ketertiban administrasi hingga peningkatan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.
Reny juga mengajak seluruh pegawai meninggalkan pola kerja yang tidak produktif dan membangun budaya kerja yang berorientasi pada penyelesaian masalah serta kepatuhan terhadap aturan.
Ia menegaskan bahwa pasien harus ditempatkan sebagai pusat pelayanan. Karena itu, keramahan, komunikasi yang baik dan kepedulian terhadap kebutuhan pasien menjadi hal yang tidak boleh diabaikan.
“Pasien harus menjadi pusat perhatian dengan pelayanan ramah, komunikasi baik dan kepedulian tinggi,” tegasnya.
Selain pembenahan pelayanan, Yayasan Kesehatan GPM juga akan melakukan evaluasi terhadap struktur organisasi, pengelolaan keuangan, sumber daya manusia, aset, sistem pengawasan internal hingga manajemen risiko.
Reny menilai proses tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pihak. Pembenahan rumah sakit, kata dia, tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab yayasan maupun manajemen, tetapi membutuhkan dukungan dan kolaborasi berbagai pemangku kepentingan.
“Yayasan akan menjalin kerja sama dengan pemerintah, rumah sakit lain, sektor swasta, Gereja, perguruan tinggi, DPRD dan pemangku kepentingan lainnya,” katanya.
Ia berharap perubahan yang akan dilakukan dapat dipandang sebagai peluang untuk memperbaiki diri, bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Menurut Reny, seluruh pihak juga perlu mengesampingkan ego pribadi, jabatan maupun kepentingan unit kerja dan kembali menempatkan nilai kasih, kejujuran, keadilan serta penghormatan terhadap martabat manusia sebagai dasar pelayanan.
Sementara itu, Plt. Direktur RS Sumber Hidup GPM, dr. Ivan Abednego, memaparkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi rumah sakit yang telah berdiri sejak 1946 tersebut.
Dengan jumlah pegawai sekitar 135 orang, RS Sumber Hidup masih menghadapi keterbatasan fasilitas dan peralatan medis yang sebagian telah berusia tua. Kondisi sejumlah ruangan juga membutuhkan perhatian karena mengalami kebocoran maupun genangan ketika musim hujan.
Selain persoalan fasilitas, rumah sakit juga menghadapi keterbatasan tenaga dokter ahli, penyesuaian terhadap berbagai kebijakan Kementerian Kesehatan, serta tuntutan pelayanan bagi peserta BPJS dan masyarakat yang memperoleh layanan gratis.
“Tantangan tersebut adalah keterbatasan serta kerusakan fasilitas dan peralatan medis yang sudah tua, ada ruangan yang bocor atau tergenang saat musim hujan, kesulitan mendapatkan dokter ahli, penyesuaian terhadap kebijakan Kementerian Kesehatan serta pelayanan BPJS dan gratis bagi masyarakat,” jelas Ivan.
Ia menambahkan, RS Sumber Hidup saat ini juga tengah mempersiapkan proses akreditasi dan masih membutuhkan bendahara baru untuk memperkuat pengelolaan administrasi dan keuangan rumah sakit.
Dari sisi kesejahteraan pegawai, rumah sakit baru mampu memenuhi pembayaran gaji pokok, sementara sejumlah hak lainnya seperti uang makan dan transportasi belum dapat dipenuhi secara maksimal.
“Kami tentu menyambut baik dukungan yayasan baru, dan berharap kolaborasi ini membawa solusi nyata,” harap Ivan.
Pengurus Yayasan Cek Langsung Kondisi Rumah Sakit
Setelah pertemuan, pengurus Yayasan Kesehatan GPM tidak hanya menerima pemaparan mengenai kondisi rumah sakit, tetapi langsung melakukan peninjauan ke sejumlah unit pelayanan.
Rombongan melihat kondisi poliklinik, ruang perawatan, instalasi farmasi, ruang operasi hingga paviliun.
Peninjauan tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran faktual mengenai kondisi fasilitas, sarana pelayanan serta berbagai kebutuhan yang harus menjadi perhatian dalam agenda pembenahan ke depan.
Hasil peninjauan akan menjadi salah satu bahan bagi yayasan dalam menyusun langkah strategis untuk memperbaiki sekaligus mengembangkan RS Sumber Hidup GPM.
Dalam kunjungan tersebut, Ketua Yayasan Kesehatan GPM Dr. Reny Nendisa didampingi Wakil Ketua Yayasan dr. Janne Pattiasina, Sp.OG, Bendahara Yayasan Pdt. Fany Pasanea, serta anggota Conny Lelapary, M.Si dan Fembryano Lesnusa.
Melalui pembenahan yang dilakukan secara bertahap dan kolaboratif, Yayasan Kesehatan GPM menargetkan RS Sumber Hidup dapat terus memperkuat kualitas pelayanan serta kembali menjadi salah satu wujud nyata pelayanan kesehatan GPM bagi masyarakat. (Za)
