Namlea, Globaltimurnn.com – Program pembinaan kemandirian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea terus menunjukkan hasil positif. Warga binaan berhasil memanen tomat hingga mencapai ratusan kilogram dari lahan seluas sekitar 1.500 meter persegi yang sebelumnya merupakan lahan tidur.
Panen tersebut berlangsung Jumat (21/08/2026) dan dihadiri Kepala Lapas Kelas III Namlea, Muhammad M. Marasabessy, Kepala Subseksi Pembinaan Sofian Ahmad, serta jajaran pegawai Lapas Namlea.
Muhammad M. Marasabessy mengatakan, hasil panen tomat menjadi bukti bahwa program pembinaan kemandirian yang diberikan kepada warga binaan mampu menghasilkan kegiatan produktif sekaligus mendukung upaya ketahanan pangan.
“Kami bersyukur sampai detik ini, budidaya tanaman hortikultura seperti tomat tidak pernah gagal dan selalu berhasil dengan hasil panen yang cukup melimpah. Manfaat dari panen ini bukan hanya untuk internal Lapas semata, tetapi juga untuk mendukung ketahanan pangan secara luas,” ujar Marasabessy.
Menariknya, budidaya tomat tersebut dilakukan di lahan yang sebagian besar memiliki karakteristik tanah berpasir. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi penghalang bagi warga binaan untuk menghasilkan tanaman yang produktif.
Dengan perawatan secara rutin, mulai dari penyiraman hingga pemberian pupuk, tanaman tomat dapat tumbuh dengan baik dan dipanen sesuai jadwal yang telah ditentukan.
Pada panen pertama periode Agustus 2026, hasil budidaya mencapai 110 kilogram. Sementara panen kedua hingga keempat menghasilkan tambahan sekitar 310 kilogram. Dengan demikian, total hasil panen telah mencapai sekitar 420 kilogram dan diperkirakan masih akan bertambah seiring berlangsungnya panen berikutnya.
Program budidaya tersebut juga menjadi bagian dari pembinaan kemandirian yang diarahkan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan produktif. Kegiatan itu sekaligus mendukung target swasembada pangan nasional sebagaimana menjadi bagian dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan tahun 2026.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Namlea, Sofian Ahmad, menjelaskan bahwa hasil kerja warga binaan tidak hanya dinikmati dalam bentuk hasil pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari pemberian premi bagi mereka yang terlibat dalam pengelolaan kebun.
Jadi pekerja yang ada di kebun akan dibagi masing-masing uang premi. Upah tersebut merupakan hasil dari kerja keras warga binaan dan akan ditabung setelahnya untuk bekal ekonomi ketika sudah selesai menjalani pidana, jelas Sofian.
Menurutnya, pemberian premi tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi warga binaan untuk terus bekerja dan mengembangkan keterampilan selama menjalani masa pembinaan.
Melalui program tersebut, Lapas Namlea tidak hanya memanfaatkan lahan yang sebelumnya terbengkalai, tetapi juga membuka ruang bagi warga binaan untuk belajar bertani, bekerja secara disiplin, serta mempersiapkan bekal keterampilan dan ekonomi sebagai modal untuk kembali ke tengah masyarakat. (Za)
