Demo Di Kantor Gubernur Maluku Pemuda Adat Desak Taman Nasional Manusela Dicabut - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar



Jumat, 21 Agustus 2026

Demo Di Kantor Gubernur Maluku Pemuda Adat Desak Taman Nasional Manusela Dicabut


Ambon
, globaltimurnn.com - Gelombang aksi protes terhadap kawasan Taman Nasional Manusela kembali mencuat saat Aliansi Sou Upaa Melawan bersama sejumlah elemen Masyarakat Adat Maluku menggelar aksi demonstrasi di depan kantor Gubernur Maluku pada Kamis (20/8/2026). 


Aksi tersebut merupakan akumulasi kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan Masyarakat Adat di pegunungan Seram Utara.


Aksi demonstrasi ini berlangsung sekitar pukul 12.00 WIT. Massa aksi terlihat membawa sejumlah poster yang bertuliskan tentang tuntutan Masyarakat Adat. Sejumlah poster yang dibentangkan di antaranya bertuliskan “Kembalikan Hak Kami” dan “Kawal Surat-Sumpah Jangan Rampas Ruang Hidup Kami.”


Salah satu pemuda adat Pegunungan Seram Utara, Jo Makualaina, mengungkapkan kelanjutan harapan dari Masyarakat Adat Pegunungan Seram Utara yang menginginkan kawasan konservasi di wilayah adatnya dicabut.


"Harapan masyarakat adat Pegunungan di Seram Utara itu mau cabut Taman Nasional Manusela dan juga pembebasan hutan terkait dengan hak-hak ulayat mereka yang sudah diklaim oleh BPKH (Balai Pemantapan Kawasan Hutan)" tegasnya.


Dalam aksi demonstrasi tersebut massa aksi juga menyinggung insiden yang terjadi saat perayaan HUT ke-81 RI pada 17 agustus 2026 di Lapangan Merdeka Ambon.


Katanya, mereka menyayangkan adanya ucapan yang dinilai sangat merendahkan dan menyinggung pemuda adat Pegunungan Seram Utara saat ingin menemui Gubernur Maluku dalam peristiwa tersebut.


Aksi Demonstrasi di halaman kantor Gubernur Maluku


Namun, bagi Jo isu tersebut bukanlah hal yang menjadi fokus utama aksi yang dilakukan.


"Ada juga mengenai isu rasisme. Tapi isu rasisme itu merujuk pada surat yang terjadi, yang kemudian kami sangat menyayangkan isu rasisme itu" katanya.



Menurutnya, fokus utama aksi mereka menyoroti persoalan yang terjadi di pegunungan Seram Utara yakni persoalan taman Nasional Manusela dan isi surat Raja Tanah Manusela yang telah diberikan kepada Gubernur Maluku.


"Poin penting juga kami lebih merujuk pada isi surat yang kemudian diamanatkan lewat saudara kami terhadap Upu Latu Maluku, Bapak Hendrik Lewerissa, untuk bagaimana melihat dan juga merespon terkait dengan isi surat tersebut" ungkapnya.


Bagi mereka yang dipertahankan di pegunungan Seram Utara bukan hanya tanah, melainkan ruang hidup yang ada di dalamnya, air, hutan, sumber pangan, hukum adat, dan tradisi yang telah dipraktekan secara turun-temurun sebelum adanya negara ini. (AH) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT