Ambon, Globaltimurnn.com — Pembinaan kemandirian di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus diarahkan agar warga binaan tak hanya mengikuti kegiatan, tetapi juga mampu menghasilkan keterampilan yang bisa menjadi bekal setelah kembali ke masyarakat.
Salah satu hasilnya terlihat dari dua unit meja lipat yang berhasil dibuat warga binaan melalui kegiatan keterampilan pertukangan. Produk tersebut dikerjakan secara bertahap dengan pendampingan petugas, mulai dari mengenal bahan, mengukur, memotong, merakit, hingga menyelesaikan bagian akhir.
Petugas Bimbingan Kegiatan (Bimkeg) Rutan Ambon, Rano, mengatakan pembuatan meja lipat menjadi bagian dari proses melatih ketelitian, keterampilan, sekaligus tanggung jawab warga binaan dalam menghasilkan sebuah produk.
Dalam prosesnya, kami tidak hanya mengajarkan bagaimana membuat sebuah meja, tetapi bagaimana menghasilkan produk yang rapi, kuat dan memiliki nilai jual. Setiap tahapan kami dampingi agar mereka memahami teknik sekaligus memperhatikan kualitas, ujar Rano.
Menurut Rano, warga binaan menunjukkan antusiasme selama mengikuti kegiatan. Mereka tidak hanya menerima arahan dari petugas, tetapi juga belajar melalui praktik langsung sehingga semakin terbiasa menggunakan peralatan dan memahami setiap tahapan pengerjaan.
Dari proses latihan, mereka mulai terbiasa bekerja dengan teliti dan memperhatikan detail. Harapannya, keterampilan ini terus berkembang dan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat, tambahnya.
Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, menilai hasil karya tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pembinaan kemandirian dapat memberikan manfaat yang nyata bagi warga binaan.
Menurutnya, pembinaan tidak seharusnya berhenti pada aktivitas selama warga binaan menjalani masa pidana. Lebih dari itu, keterampilan yang diberikan perlu diarahkan agar bisa digunakan sebagai modal untuk menjalani kehidupan secara mandiri setelah bebas.
Pembinaan kemandirian harus mampu memberikan keterampilan yang dapat menjadi bekal bagi warga binaan. Karya seperti meja lipat ini menunjukkan bahwa mereka memiliki potensi yang bisa dikembangkan menjadi produk bernilai, kata Meta.
Ia berharap produk hasil pembinaan ke depan terus mengalami peningkatan, baik dari sisi kualitas, kerapian maupun nilai ekonominya. Dengan pengembangan yang konsisten, keterampilan pertukangan yang diperoleh warga binaan diharapkan dapat membuka peluang untuk bekerja maupun mengembangkan usaha ketika kembali ke masyarakat.
Salah seorang warga binaan yang ikut dalam proses pembuatan meja lipat, Onco, mengaku memperoleh pengalaman baru dari kegiatan tersebut.
“Saya senang bisa ikut kegiatan ini. Awalnya belajar dari dasar, mulai dari mengukur, memotong bahan, merakit sampai menyelesaikan meja. Dari sini saya mendapatkan keterampilan dan pengalaman yang bisa menjadi bekal setelah bebas,” ujarnya.
Dua meja lipat yang dihasilkan itu pun menjadi bukti sederhana bahwa proses pembinaan dapat melahirkan karya yang memiliki fungsi sekaligus potensi ekonomi. Dari keterampilan yang terus dilatih, warga binaan didorong untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai.
Bagi Rutan Ambon, setiap produk yang lahir dari kegiatan pembinaan bukan sekadar hasil pekerjaan tangan. Di dalamnya terdapat proses belajar, latihan kedisiplinan, ketelitian dan upaya membangun kepercayaan diri warga binaan agar lebih siap menghadapi kehidupan setelah masa pidana berakhir.
Rutan Ambon berkomitmen untuk terus mengembangkan kegiatan pembinaan kemandirian dengan memberikan ruang bagi warga binaan untuk belajar dan berkarya. Dari dua meja lipat tersebut, diharapkan lahir berbagai produk lain yang semakin berkualitas, bernilai jual dan mampu menjadi bagian dari bekal kemandirian warga binaan saat kembali ke tengah masyarakat. (Za)
