Jangan Biarkan Perusahan Asing Pancuri Triliunan Dari Hasil Jual Karbon Dari Hutan Seram - globaltimurnn.com

Senin, 11 Mei 2026

Jangan Biarkan Perusahan Asing Pancuri Triliunan Dari Hasil Jual Karbon Dari Hutan Seram

Foto : Jangan Biarkan Perusahan Asing Pancuri Triliunan Dari Hasil Jual Karbon Dari Hutan Seram

Ambon
, Globaltimurnn.com - Gerard Wakano tokoh masyarakat seram bagian barat, membongkar nilai karbon dari pulau - pulau kecil di Maluku sesuai data resmi perusahan karbon yaitu perusahan asing PT. AAD, yang bukan sekedar data namun berdasarkan data yang dipublikasikan sendiri oleh PT AAD

Selama ini, narasi yang dibangun oleh para pengusaha karbon asing adalah bahwa hanya hutan-hutan besar di Kalimantan atau Sumatera dan Papua yang layak untuk proyek karbon. Ungkap Wakano


Akibatnya, masyarakat adat serta Pemda di Maluku sering direndahkan, dianggap tidak memiliki nilai jual di pasar karbon global, sehingga mudah ditipu dengan proyek-proyek fiktif.


Saya akan menggunakan data yang dipublikasikan sendiri oleh PT Asia Asset Development (AAD) di situs resmi mereka [www.asiaassetsdev.com](http://www.asiaassetsdev.com) untuk membuktikan bahwa Pulau Seram dan Kepulauan Tanimbar adalah tambang emas hijau yang luar biasa besarnya. Terang Wakano


Wakano menjelaskan" Setiap hektar hutan di Maluku, menurut perhitungan perusahaan itu sendiri, bernilai puluhan juta hingga ratusan juta rupiah per tahun hanya dari jasa lingkungan (karbon), Ini belum termasuk nilai kayu, gaharu, cengkeh, dan hasil hutan lainnya. Ucap Wakano


Pasalnya" Mari kita bedah tiga proyek andalan mereka di provinsi Maluku, Perhitungan ini belum termasuk dengan beberapa perusahan karbon lain di Maluku. - p


REKAPITULASI POTENSI NILAI KARBON DARI PULAU  KECIL DI PROVINSI MALUKU

Saudara-saudara sebangsa, setanah air, khususnya masyarakat adat Maluku, para Raja, Kepala Desa, anggota DPRD, hingga jajaran Pemerintah Daerah di Kabupaten dan Provinsi. Mari sejenak kita hentikan aktivitas, matikan gawai, dan kita renungkan bersama hasil hitungan telanjang yang berasal dari dokumen perusahaan itu sendiri PT AAD. Ini bukan hasil karangan saya pribadi, ini dari data mereka ya. 


Mereka datang ke tanah kalian dengan senyuman, membawa cek Rp 400 juta untuk pembangunan rumah ibadah, mengaku sebagai investor yang peduli lingkungan dan masyarakat. Namun di balik semua itu, mereka telah mendaftarkan kebun, hutan, dan tanah adat kalian ke pasar karbon global, dengan nilai yang membuat mata kalian sendiri tidak percaya.


Berdasarkan data dari website resmi mereka, yang dengan angkuhnya mereka pajang untuk menarik investor asing, mari kita bedah satu per satu.


PROYEK PERTAMA, WEST SERAM REDD+ AND AGARWOOD FORESTWISE PROJECT.

Proyek ini di SBB. 


Luasnya 37.875 hektar, Didalam dokumen mereka mengklaim telah menanam gaharu di kabupaten SBB, padahal bohong. 


Proyk ini beroperasi selama 30 tahun, Dengan perhitungan paling konservatif sekalipun, menggunakan serapan karbon yang sangat rendah, proyek ini menghasilkan antara 56,8 juta hingga 113,6 juta ton CO2e. 


Dalam uang, jika harga karbon $10 per ton, nilainya melonjak dari 568 juta Dolar AS hingga 1,136 Miliar Dolar AS. Rupiahnya? Rp 9,1 Triliun sampai Rp 18,2 Triliun, Satu proyek, di Seram Barat saja, nilainya kira2 setara dengan dua kali APBD Provinsi Maluku untuk satu tahun.


PROYEK KEDUA, CENTRAL SERAM IFM RESTORATION WISE PROJECT:

Proyek ini di Seram bagian Tengah, Luasnya 57.748 hektar. Di sini mereka menggunakan metode Improved Forest Management, artinya mereka mengklaim akan menghentikan penebangan di 50.000 hektar hutan, sehingga semua karbon yang tadinya akan lepas, kini menjadi hak mereka, Stok karbon hutan alam Maluku sangat tinggi.


Total yang mereka klaim 61,25 juta ton hingga 80 juta ton CO2e. Harganya 612 juta hingga 800 juta Dolar AS. Dalam rupiah Rp 9,8 Triliun hingga Rp 12,8 Triliun, Proyek ini mencakup 59 desa, 15.000 penduduk, Jika nilai Rp 9,8 Triliun itu dibagi rata, setiap warga seharusnya menerima Rp 653 Juta selama 25 tahun. 


Atau Rp 26 Juta per tahun per orang. Apakah kalian pernah melihat uang itu? Tidak. Karena uang itu sedang dalam perjalanan ke rekening di Taiwan, melewati Jakarta, tanpa sepengetahuan kalian.


PROYEK KETIGA, TANIMBAR COMMUNITY FOREST RESTORATION PROJECT.

Inilah yang terbesar di Maluku. 54.976 hektar, jangka waktu 40 tahun, Proyek restorasi hutan di kepulauan Tanimbar yang indah, habitat burung Tanimbar yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia. 


Perhitungan menghasilkan 132 juta ton hingga 220 juta ton CO2e selama 40 tahun, Nilainya 1,32 Miliar hingga 2,2 Miliar Dolar AS. Rupiah Rp 21,1 Triliun hingga Rp 35,2 Triliun, Satu proyek sendiri bisa membiayai pendidikan gratis untuk seluruh anak sekolah di Maluku selama puluhan tahun. Untuk 38.933 penduduk Tanimbar, bagi hasil yang adil adalah Rp 542 Juta per orang. 


Bayangkan setiap keluarga di Tanimbar bisa punya rumah layak, sawah irigasi, akses listrik, dan anak-anak bisa kuliah tanpa biaya Namun semua itu lenyap, karena tidak ada proses FPIC, tidak ada transparansi, dan tanda tangan masyarakat dikumpulkan di atas kertas kosong dengan dalih bantuan.


SAUDARA-SAUDARA, MARI KITA JUMLAHKAN (Nilai ini bisa saja lebih tinggi):

West Seram: Rp 9,1 – 18,2 Triliun

Central Seram: Rp 9,8 – 12,8 Triliun

Tanimbar: Rp 21,1 – 35,2 Triliun

Total untuk tiga proyek di Maluku saja: antara Rp 40 Triliun hingga Rp 66 Triliun.


Tiga proyek Dua pulau kecil di mata dunia (Seram dan Tanimbar) Namun nilainya Rp 66 Triliun.


APA ARTI ANGKA 66 TRILIUN BAGI KEHIDUPAN NYATA DI MALUKU? MARI KITA RENUNGKAN BERSAMA:

Rp 66 Triliun kira2 setara dengan empat hingga lima kali APBD Provinsi Maluku dalam satu tahun. Bayangkan, dengan uang itu, rumah sakit, sekolah, pelabuhan, dan pasar rakyat bisa dibangun di setiap kecamatan tanpa perlu utang ke bank dunia.


Dengan Rp 66 Triliun, pemerintah daerah bisa memberikan beasiswa penuh S1 hingga S3 bagi puluhan ribu anak muda Maluku selama dua dekade, Tidak ada lagi anak petani yang putus sekolah karena kekurangan biaya.


Rp 66 Triliun cukup untuk membangun 10.000 unit rumah tipe sederhana sehat di setiap desa, sekaligus memberikan modal usaha kecil bagi para petani cengkeh, pala, dan pengolah sagu dll.


Dengan Rp 66 Triliun, setiap desa di Maluku bisa memiliki pengering tenaga surya, gudang penyimpanan hasil hutan non-kayu, dan akses internet berkecepatan tinggi tanpa perlu bergantung pada program pusat yang lambat.


Itulah arti Rp 66 Triliun. Itulah nilai hutan kalian. Itulah harga dari setiap helai daun di dusung, setiap aliran sungai di Seram, setiap hembusan angin di Tanimbar.


Namun apa yang terjadi saat ini? Masyarakat adat tidak tahu menahu, Mereka tidak pernah dilibatkan dalam perhitungan, tidak pernah diajak diskusi tentang berapa besaran kredit karbon yang akan dihasilkan oleh tanah mereka sendiri. 


Sebaliknya, yang diberikan hanyalah donasi pembangunan rumah ibadah senilai Rp 400 Juta di Desa Seriholo yang jika dibandingkan dengan nilai Rp 66 Triliun, hanya sebesar 0,0006 persen Ibaratnya, mereka memberi kalian satu butir beras, lalu mengambil seluruh lumbung padi.


Pertanyaan yang harus menggema di setiap rumah adat, di setiap balai desa, di setiap ruang rapat DPRD Maluku:

Siapa yang memberikan hak kepada PT Asia Asset Development untuk mendaftarkan hutan kami ke pasar karbon global?


DI MANA MASYARAKAT ADAT DILIBATKAN DALAM PROSES FPIC?

Ke mana aliran uang Rp 66 Triliun itu akan mengalir?

Karena satu hal yang pasti jika masyarakat tidak menyadari nilai ini sekarang, mereka akan terus menjadi korban perampokan karbon. 


Perusahaan asing akan terus datang dengan modus yang sama memberi bantuan kecil, mengambil keuntungan raksasa, lalu pergi diam-diam, meninggalkan hutan yang sudah terdaftar di Verra, namun rakyatnya tetap miskin.


Jangan biarkan Maluku, pulau-pulau kecil yang kaya ini, terus dijarah dengan kedok konservasi, Sadarilah nilai hakiki dari tanah dan hutan kaliang Hitung, klaim, dan kuasai kembali hak karbon kalian.


Karena pulau kecil bukan berarti nilai kecil, Maluku adalah raksasa yang tertidur di tengah samudra. Saatnya bangun, dan mengambil alih kendali atas kekayaan yang selama ini disembunyikan oleh perusahaan-perusahaan yang hanya haus keuntungan sepihak.o


Apakah kalian rela tanah, hutan, dan masa depan kalian dijual hanya dengan harga Rp 400 Juta untuk sebuah rumah ibadah, sementara nilai sebenarnya Rp 66 Trili hok mkun masuk ke kantong perusahaan Taiwan?  (V374) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT