Berita Menarik,,,Buruh Bertahan, Kehidupan yang Kian Buruk - globaltimurnn.com

Sabtu, 02 Mei 2026

Berita Menarik,,,Buruh Bertahan, Kehidupan yang Kian Buruk

Foto : Berita Menarik,,,Buruh Bertahan, Kehidupan yang Kian Buruk

Surabaya
, Globaltimurnn.com - Di tengah narasi pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, ada kenyataan lain yang berjalan diam-diam namun nyata: semakin banyak pekerja yang tetap bekerja penuh waktu, tetapi kian sulit memenuhi kebutuhan hidup dasar secara layak.


Data Badan Pusat Statistik menunjukkan adanya kenaikan upah nominal dalam beberapa tahun terakhir. Namun, kenaikan tersebut tidak selalu sejalan dengan peningkatan daya beli. Inflasi pada kebutuhan esensial, seperti pangan, transportasi, dan perumahan, sering kali bergerak lebih cepat. Akibatnya, ruang fiskal rumah tangga pekerja semakin menyempit.


Dalam praktik keseharian, tekanan itu tidak hadir dalam bentuk angka statistik, melainkan dalam keputusan-keputusan kecil yang berulang: mengurangi kualitas konsumsi, menunda kebutuhan penting, hingga bergantung pada utang jangka pendek. Bagi sebagian pekerja, strategi bertahan ini menjadi pola hidup baru.


Masalah yang dihadapi buruh hari ini, karena itu, tidak lagi cukup dijelaskan sebagai persoalan upah semata. Persoalan yang lebih mendasar adalah meningkatnya biaya hidup yang melampaui kemampuan pendapatan untuk mengimbanginya. Ketika selisih antara pendapatan dan pengeluaran terus melebar, maka tekanan ekonomi menjadi bersifat struktural, bukan sementara.


Kondisi ini diperparah oleh dinamika pasar kerja yang semakin fleksibel. Sistem kontrak dan alih daya berkembang sebagai bagian dari adaptasi ekonomi terhadap kompetisi global. Namun, sebagaimana dicatat Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, fleksibilitas tersebut kerap diikuti oleh meningkatnya ketidakpastian kerja dan terbatasnya perlindungan jangka panjang bagi pekerja.


Upaya negara melalui perluasan program jaminan sosial, termasuk oleh BPJS Ketenagakerjaan, patut dicatat sebagai langkah penting. Meski demikian, cakupan dan efektivitasnya masih menghadapi tantangan, terutama bagi pekerja informal dan mereka yang berada di luar hubungan kerja standar.


Dalam konteks yang lebih luas, tekanan terhadap pekerja juga tidak terlepas dari dinamika ekonomi global dan domestik. Fluktuasi nilai tukar, tekanan terhadap sektor industri, serta kenaikan harga energi dan bahan baku memberikan dampak berantai terhadap biaya produksi dan pada akhirnya harga di tingkat konsumen. Dalam rantai ini, pekerja kerap berada di posisi paling rentan.


Di sinilah persoalan menjadi lebih mendasar. Pertumbuhan ekonomi memang penting dan perlu dijaga. Namun pertumbuhan saja tidak cukup. Pertanyaan yang semakin relevan adalah: sejauh mana pertumbuhan tersebut mampu diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup yang merata?


Jika pertumbuhan lebih banyak bertumpu pada efisiensi biaya tenaga kerja tanpa diimbangi peningkatan nilai tambah yang inklusif, maka kesenjangan antara kerja dan kesejahteraan akan terus melebar. Dalam situasi seperti ini, kerja keras tidak lagi otomatis berbanding lurus dengan kehidupan yang layak.


Pengamat budaya geopolitik Nusantara, Bayu Sasongko, melihat fenomena ini sebagai sinyal awal ketidakseimbangan yang perlu direspons serius. Ketika kelompok pekerja, bahkan kelas menengah, mulai mengalami penurunan daya tahan ekonomi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kesejahteraan individu, tetapi juga ketahanan sosial secara keseluruhan.


Pemerintah dihadapkan pada kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi, daya tarik investasi, dan perlindungan tenaga kerja. Ini bukan pilihan yang sederhana. Namun tanpa upaya yang lebih terarah, seperti penyesuaian kebijakan upah yang lebih sensitif terhadap biaya hidup riil, penguatan jaminan sosial, serta peningkatan kualitas lapangan kerja, risiko pelebaran kesenjangan akan semakin nyata.


Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi tidak hanya terletak pada angka pertumbuhan, tetapi pada sejauh mana masyarakat yang bekerja dapat hidup secara layak dari hasil kerjanya. Jika semakin banyak pekerja yang harus bertahan dengan menurunkan standar hidup, maka pertumbuhan perlu ditinjau kembali bukan dari kecepatannya, melainkan dari arah dan distribusinya.


Karena ketika bekerja tidak lagi cukup untuk hidup dengan layak, persoalannya bukan semata pada individu yang tidak mampu, melainkan pada sistem yang belum sepenuhnya berpihak. (Bayu) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT