Ambon, Globaltimurnn.com — Ada harapan yang tumbuh di kawasan Jembatan Amerika, Negeri Laha, Kota Ambon, Sabtu (31/10/2026). Di antara deretan kios yang mulai dipadati aktivitas masyarakat, aroma kuliner lokal, lantunan musik, dan senyum para pelaku usaha kecil, tersimpan sebuah cita-cita besar: menjadikan potensi Negeri Laha sebagai kekuatan ekonomi yang mampu membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Hari itu, Negeri Laha tidak sekadar menjadi tempat berlangsungnya sebuah festival. Negeri adat yang menyimpan kekayaan alam, sejarah, budaya, dan kuliner tersebut mulai memperlihatkan bagaimana potensi lokal dapat dihidupkan melalui kebersamaan dan kolaborasi.
Melalui Festival UMKM Laha Suang, Dewan Pimpinan Daerah Perempuan Indonesia Maju (DPD PIM) Provinsi Maluku bersama Pemerintah Negeri Laha mencoba membuka ruang baru bagi masyarakat untuk memperkenalkan hasil usaha, mengembangkan ekonomi kreatif, sekaligus mempromosikan potensi pariwisata negeri.
Mengusung tema “Menghidupkan Tradisi, Mengembangkan Potensi Negeri, Berdampak untuk Masyarakat”, dengan semangat “Mari Kasih Pono dan Kasih Rame”, festival ini menghadirkan bazar kuliner lokal, pertunjukan musik, hingga pembagian berbagai hadiah menarik. Kehadiran artis Michael Pelupessy turut menjadi bagian dari hiburan yang memeriahkan kegiatan hingga malam hari.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, ada pesan yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah perayaan. Ada upaya untuk menggerakkan ekonomi masyarakat dari potensi yang selama ini telah dimiliki Negeri Laha.
Bagi Ketua DPD PIM Provinsi Maluku, Rimaniar Julindra, Negeri Laha memiliki alasan kuat untuk mendapatkan perhatian dalam pengembangan UMKM dan desa wisata.
Sebagai negeri adat sekaligus salah satu desa wisata di Kota Ambon, Laha mempunyai kekayaan yang tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada kuliner, sejarah, dan budaya masyarakatnya.
Potensi tersebut, menurut Rimaniar, tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah. Dibutuhkan pembinaan, pendampingan, promosi, serta pengelolaan yang berkelanjutan agar kekayaan lokal dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Itulah alasan DPD PIM Maluku memilih Negeri Laha sebagai lokasi perdana pendampingan pengembangan UMKM dan desa wisata.
“DPD PIM Provinsi Maluku memilih Negeri Laha sebagai lokasi pendampingan dalam pengembangan UMKM. Kami ingin melakukan pembinaan yang terarah untuk mendorong pertumbuhan UMKM sekaligus menjadikan Negeri Laha sebagai model pengembangan desa wisata yang nantinya dapat diterapkan di daerah lain,” ungkap Rimaniar.
Baginya, festival ini bukan sekadar kegiatan seremonial yang menghadirkan keramaian sesaat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan langkah awal untuk membangun ekonomi rakyat dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama.
Sebab, ketika potensi sebuah negeri mulai dikembangkan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh satu kelompok. Nelayan, pedagang, pelaku UMKM, pemuda, hingga masyarakat yang terlibat dalam aktivitas pariwisata memiliki kesempatan untuk memperoleh manfaat ekonomi.
Ada cerita menarik sebelum festival tersebut berlangsung, Kemeriahan yang terlihat di kawasan Jembatan Amerika tidak hadir begitu saja. Pemerintah Negeri Laha bersama tokoh pemuda dan masyarakat setempat terlebih dahulu bergotong royong mempersiapkan lokasi kegiatan.
Kawasan ditata dan dibersihkan, sementara kios-kios baru dibangun untuk memberikan ruang bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas perdagangan.
Bagi Rimaniar, keterlibatan masyarakat tersebut menjadi salah satu hal penting dalam proses pengembangan desa wisata. Sebab, keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya dengan menghadirkan program dari luar, tetapi harus disertai kesadaran dan kemauan masyarakat untuk bergerak bersama.
Ia mengaku bangga melihat antusiasme masyarakat Negeri Laha yang turut mengambil bagian dalam mempersiapkan festival perdana tersebut.
“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Kami berharap semangat ini terus terjaga, baik dari masyarakat Negeri Laha maupun masyarakat dari wilayah lainnya. Dengan demikian, kegiatan seperti ini dapat dilaksanakan secara konsisten dan memberikan manfaat jangka panjang,” ujarnya.
Semangat gotong royong itu menjadi gambaran bahwa pengembangan pariwisata bukan hanya tentang membangun fasilitas atau mempercantik kawasan. Lebih dari itu, dibutuhkan rasa memiliki dari masyarakat terhadap potensi negeri sendiri.
Salah satu harapan besar dari penyelenggaraan Festival UMKM Laha Suang adalah meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Rimaniar menilai, selama ini sebagian pedagang di kawasan tersebut hanya menjalankan aktivitas berjualan pada pagi hari hingga sekitar pukul 09.00 WIT. Kondisi ini membuat waktu mereka untuk memperoleh penghasilan dari aktivitas perdagangan masih terbatas.
Melalui festival yang menghadirkan bazar kuliner dan hiburan hingga malam hari, diharapkan masyarakat memiliki kesempatan untuk berjualan lebih lama, menjangkau konsumen yang lebih luas, serta meningkatkan pendapatan.
Dengan semakin dikenalnya Negeri Laha sebagai kawasan wisata, peluang ekonomi bagi masyarakat juga diharapkan semakin terbuka.
“Kami ingin masyarakat Kota Ambon mengetahui bahwa Negeri Laha memiliki potensi pengembangan desa wisata yang luar biasa. Mudah-mudahan kegiatan ini menjadi pemicu bagi daerah atau negeri lainnya untuk turut mengembangkan potensi pariwisata masing-masing,” jelasnya.
Harapan itu sekaligus menjadi dorongan agar produk kuliner dan berbagai usaha lokal tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar, tetapi juga mampu menarik perhatian pengunjung dari berbagai wilayah.
Rimaniar menyadari bahwa membangun desa wisata dan memperkuat UMKM tidak dapat dilakukan oleh satu organisasi saja.
Karena itu, DPD PIM Maluku berkomitmen membuka ruang kemitraan dengan Pemerintah Provinsi Maluku, Pemerintah Kota Ambon, TNI-Polri, BUMN, BUMD, instansi vertikal, serta berbagai organisasi lainnya.
Dalam kegiatan tersebut, dukungan Pemerintah Provinsi Maluku juga diwujudkan melalui keterlibatan sektor penanaman modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), termasuk penyuluhan mengenai Nomor Induk Berusaha (NIB) serta penyerahan NIB kepada pelaku usaha.
Langkah ini menjadi bagian penting agar pelaku UMKM tidak hanya memperoleh kesempatan memasarkan produknya, tetapi juga mendapatkan pemahaman mengenai legalitas usaha sebagai salah satu fondasi pengembangan bisnis.
Kehadiran anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Sadiah Uluputy, serta Wakil Gubernur Maluku yang mewakili Gubernur Maluku, bersama unsur Forkopimda, Wali Kota Ambon, dan Ketua DPRD Kota Ambon, turut menjadi bagian dari dukungan berbagai pemangku kepentingan terhadap pengembangan potensi Negeri Laha.
Rimaniar berharap perhatian pemerintah terhadap pengembangan desa wisata dapat dilakukan secara konsisten, tidak hanya di Negeri Laha, tetapi juga di berbagai wilayah pada 11 kabupaten/kota di Maluku.
Menurutnya, pariwisata yang berkembang harus mampu memberikan dampak langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, aktivitas perdagangan, kuliner, dan berbagai usaha lokal juga diharapkan ikut bertumbuh.
Bagi DPD PIM Maluku, Festival UMKM Laha Suang merupakan langkah awal dari sebuah program yang lebih luas.
Negeri Laha diharapkan menjadi percontohan bagaimana pendampingan UMKM, penguatan potensi lokal, dan pengembangan pariwisata dapat berjalan beriringan melalui kolaborasi organisasi, pemerintah, dan masyarakat.
Jika langkah ini dapat dijalankan secara konsisten, bukan tidak mungkin pengalaman dari Negeri Laha menjadi inspirasi bagi negeri-negeri lain untuk mulai menggali dan mengembangkan kekayaan daerahnya masing-masing.
Sebab, setiap negeri memiliki cerita, tradisi, kekayaan alam, dan potensi ekonomi yang berbeda. Semua itu dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan baik dan melibatkan masyarakat sebagai bagian utama dari proses pembangunan.
Pada akhirnya, Festival UMKM Laha Suang bukan hanya tentang bazar, musik, atau keramaian pengunjung dalam satu hari. Ada harapan agar setelah panggung hiburan selesai dan festival berakhir, kios-kios masyarakat tetap hidup, produk lokal semakin dikenal, pelaku UMKM semakin berkembang, dan Negeri Laha terus menjadi tujuan kunjungan masyarakat.
Dari kawasan Jembatan Amerika, sebuah semangat mulai digaungkan: Mari Kasih Pono dan Kasih Rame.
Sebuah ajakan untuk datang, mengenal, mencintai, dan menghidupkan Negeri Laha.
Karena membangun sebuah negeri bukan semata-mata menghadirkan perubahan pada tempatnya, melainkan juga memastikan masyarakatnya tumbuh, tradisinya tetap terjaga, dan potensi yang dimiliki mampu menjadi sumber kehidupan bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.
Dari Laha, potensi lokal mulai diperkenalkan. Dari kebersamaan, ekonomi rakyat diharapkan bertumbuh. Dan dari sebuah festival, harapan untuk masa depan desa wisata di Maluku mulai dirintis. (Za)


















