globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Minggu, 06 September 2026

Gubernur Maluku: IKAMA Ori Jaya Harus Hadir untuk Masyarakat dan Menjadi Rumah Bersama

September 06, 2026


Bogor
, globaltimurnn.com — Pelantikan Pengurus Ikatan Kerahiman Masyarakat (IKAMA) Ori Jaya periode 2026–2031 di Gumati Resort CC, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (6/9/2026), menjadi momentum untuk memperkuat tali persaudaraan masyarakat Maluku di tanah rantau sekaligus mendorong peran organisasi agar semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.


Dalam sambutan Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa yang dibacakan oleh Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Maluku di Jakarta, Saiful Indra Patta, disampaikan bahwa pelantikan pengurus baru IKAMA Ori Jaya bukan sekadar kegiatan seremonial organisasi. Pelantikan menjadi momentum untuk meneguhkan tanggung jawab, pengabdian dan komitmen dalam menjaga persaudaraan serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan daerah.


Kegiatan tersebut dihadiri Ketua Umum DPP IKAMA Ori Jaya bersama jajaran pengurus, sesepuh masyarakat Ori, para ketua organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan, serta pimpinan organisasi paguyuban Maluku se-Jabodetabek. Turut hadir tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan tokoh perempuan, panitia penyelenggara serta para undangan.


Gubernur menilai keberadaan IKAMA Ori Jaya memiliki arti penting bagi masyarakat Maluku, khususnya mereka yang berada jauh dari kampung halaman. Organisasi ini diharapkan bukan hanya menjadi tempat berkumpul dan mempererat hubungan kekeluargaan, tetapi juga menjadi ruang untuk saling peduli, memperkuat solidaritas, mengembangkan potensi masyarakat dan ikut mengambil bagian dalam pembangunan Maluku.

Maluku, kata Gubernur, dibangun dari keberagaman. Berbagai negeri, suku, budaya, bahasa, agama dan tradisi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Maluku. Namun, di tengah keberagaman itu, terdapat nilai yang selalu menjadi perekat, yakni persaudaraan, pela-gandong, hidup orang basudara dan semangat kebersamaan.


Nilai-nilai tersebut merupakan kekuatan sosial yang harus terus dijaga, termasuk ketika masyarakat Maluku berada di perantauan. Karena itu, kepengurusan IKAMA Ori Jaya periode 2026–2031 diharapkan mampu menjadi organisasi yang solid, inklusif, terbuka dan produktif.


Gubernur mengingatkan agar organisasi tidak hanya aktif ketika ada kegiatan seremonial. IKAMA harus hadir ketika masyarakat membutuhkan dukungan, termasuk dalam persoalan pendidikan, ekonomi, sosial, kepemudaan, kebudayaan serta upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga dan masyarakat.

Di tanah rantau, masyarakat Maluku juga diminta untuk terus menjaga sikap dan nama baik daerah. Filosofi “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi pengingat agar warga Maluku selalu menghormati lingkungan tempat mereka berada, menjaga sopan santun, etika dan ramah tamah serta membangun hubungan harmonis dengan masyarakat dari berbagai latar belakang.


Menurut Gubernur, setiap sikap dan perilaku warga Maluku di tanah rantau merupakan cerminan dari daerah asal. Karena itu, menjaga nama baik Maluku adalah tanggung jawab bersama.


Gubernur juga menegaskan pentingnya peran IKAMA Ori Jaya dalam membangun kehidupan sosial yang harmonis di wilayah Jabodetabek. Ia mengajak masyarakat Maluku untuk berjalan bersama Pemerintah Daerah DKI Jakarta dalam menjaga kondusivitas ibu kota serta mendukung program #JagaJakarta sebagai bentuk tanggung jawab sosial sebagai warga yang hidup dan beraktivitas di Jabodetabek.


Sebagai organisasi kemasyarakatan, IKAMA Ori Jaya diharapkan dapat menjadi salah satu kekuatan masyarakat sekaligus modal sosial dalam pembangunan. Perannya diperlukan untuk membangun harmoni dan perdamaian di tengah masyarakat serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.


Kepada pengurus yang baru dilantik, Gubernur menitipkan pesan agar kepengurusan dibangun secara solid dan terbuka. Perbedaan harus dipandang sebagai kekuatan, bukan sumber perpecahan. Hubungan kekeluargaan juga harus terus dirawat agar kesibukan dan dinamika organisasi tidak menghilangkan rasa peduli serta semangat persaudaraan.


Program kerja IKAMA juga diharapkan tidak berhenti pada kegiatan formal, tetapi benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, terutama di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, kebudayaan dan pemberdayaan generasi muda. Komunikasi dan sinergi dengan pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan juga perlu terus diperkuat.


Lebih dari itu, Gubernur berharap IKAMA Ori Jaya dapat menjadi rumah bersama, tempat setiap anggota merasa dihargai, dilindungi dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi.


Semangat tersebut sejalan dengan filosofi orang Maluku, “Potong di kuku, rasa di daging.” Ketika satu orang atau satu bagian dari masyarakat mengalami persoalan, maka yang lain ikut merasakan dan bersama-sama mencari jalan keluarnya.


“Inilah kekuatan orang Maluku. Katong pung basudara adalah katong pung kekuatan. Katong pung persatuan adalah katong pung modal utama pembangunan,” pesan Gubernur.

Menutup sambutannya, Gubernur Maluku menyampaikan selamat dan sukses kepada seluruh pengurus IKAMA Ori Jaya yang baru dilantik. Ia berharap amanah tersebut dapat dijalankan dengan penuh tanggung jawab, semangat pengabdian dan karya nyata bagi masyarakat.


Pelantikan tersebut diharapkan menjadi awal perjalanan baru bagi IKAMA Ori Jaya untuk terus merawat persaudaraan, memperkuat kebersamaan dan menghadirkan manfaat bagi sesama, sekaligus menjaga nama baik Maluku di mana pun masyarakat Maluku berada. (Rdks) 

Selengkapnya

451 Tahun Ambon: Dari Kota Bersama Menuju Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju

September 06, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Pagi 7 September 2026 terasa berbeda di Kota Ambon. Kota yang telah melewati perjalanan panjang selama 451 tahun itu kembali memperingati hari jadinya. Di tengah perayaan, ada satu pesan yang ditekankan Pemerintah Kota Ambon: usia panjang sebuah kota bukan hanya tentang sejarah yang telah dilewati, tetapi tentang bagaimana warganya menjaga rumah bersama dan menyiapkan masa depannya.


Tahun ini, HUT ke-451 Kota Ambon mengusung tema “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju.”


Tema tersebut tidak sekadar ditempatkan sebagai slogan perayaan. Dalam sambutannya, Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum ulang tahun kota sebagai ruang untuk melihat kembali perjalanan Ambon, mensyukuri pencapaian hari ini, sekaligus menentukan arah pembangunan di masa mendatang.


451 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalamnya ada cerita tentang perjuangan, perjumpaan, perubahan, tantangan, kebangkitan, dan harapan dari generasi ke generasi, demikian pesan yang disampaikan Wattimena.


Ia mengawali sambutannya dengan ungkapan syukur. Menurutnya, seluruh perjalanan Kota Ambon hingga mencapai usia 451 tahun tidak terlepas dari kasih dan penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa.


Bagi Wattimena, hari ulang tahun kota bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Lebih dari itu, HUT menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, persatuan dan kesatuan, sekaligus menumbuhkan kembali rasa cinta serta kebanggaan sebagai orang Ambon.


Dari tema besar HUT tahun ini, Wattimena memberi perhatian khusus pada kata “bersih”. Baginya, Ambon bersih tidak boleh dimaknai sebatas kota yang bebas dari sampah. Kebersihan harus tumbuh menjadi kesadaran, kedisiplinan, budaya, sekaligus karakter masyarakat.


Ia mengingatkan, kebersihan tidak seharusnya hanya dijaga ketika kota sedang menyambut tamu, menggelar perlombaan, atau melaksanakan sebuah perayaan.


Kesadaran itu, kata dia, harus dimulai dari kehidupan sehari-hari, Dari rumah, lorong dan lingkungan tempat tinggal, sekolah, kantor, pasar, terminal, pantai, sungai, ruang publik, hingga kawasan bersejarah.


Ambon adalah rumah besar kita semua. Kalau kita cinta Ambon, maka kita harus menjaganya, menjadi salah satu pesan kuat yang disampaikan dalam sambutannya.


Pemerintah, lanjut Wattimena, tidak mungkin menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap kebersihan kota. Masyarakat harus mengambil bagian dan memulai dari hal-hal sederhana yang bisa dilakukan sendiri.


Jangan menunggu pemerintah datang membersihkan lingkungan sekitar rumah, ketika masyarakat sebenarnya dapat memulainya sejak dari halaman rumah masing-masing.


Dari kesadaran kecil itu, ia berharap lahir gerakan besar yang dilakukan bersama oleh seluruh warga Kota Ambon, Wattimena kemudian menghubungkan kebersihan dengan cita-cita yang lebih luas, yakni mewujudkan Maluku yang sehat.


Menurutnya, lingkungan yang bersih memiliki hubungan langsung dengan kesehatan masyarakat. Karena itu, gerakan menjaga kebersihan Kota Ambon harus menjadi bagian dari upaya membangun kualitas hidup masyarakat Maluku.


Sebagai ibu kota Provinsi Maluku, Ambon dinilai memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh.


Dari Ambon yang bersih, kita ikut membangun Maluku yang sehat. Dari masyarakat yang sehat, kita ikut membangun Maluku yang produktif, demikian arah pemikiran yang disampaikan Wattimena.


Jika masyarakat produktif dan daerah semakin berdaya saing, maka kontribusinya akan semakin besar bagi cita-cita Indonesia Maju, Dengan demikian, Ambon Bersih bukanlah tujuan yang berdiri sendiri. Ia menjadi fondasi bagi Maluku Sehat, sementara Maluku yang sehat menjadi bagian dari kekuatan bersama menuju Indonesia Maju.


Dalam usia 451 tahun, Ambon juga diajak untuk tidak melupakan sejarah, Wattimena menyinggung Benteng Victoria sebagai salah satu jejak penting perjalanan Kota Ambon.


Baginya, Benteng Victoria bukan sekadar bangunan tua yang berada di pusat kota. Benteng tersebut merupakan saksi perjalanan sejarah Ambon, ruang yang merekam perjumpaan berbagai bangsa, kepentingan perdagangan, kebudayaan, serta dinamika masyarakat yang membentuk perjalanan kota.


Karena itu, keberadaan Benteng Victoria tidak seharusnya hanya dilihat sebagai peninggalan masa lalu, Benteng tersebut harus ditempatkan sebagai aset sejarah dan kebudayaan yang dapat digunakan untuk membangun masa depan.


Ada pesan yang ingin ditinggalkan pemerintah pada momentum HUT ke-451 ini: dahulu Benteng Victoria dibangun sebagai tempat pertahanan, tetapi hari ini ia harus menjadi benteng kebudayaan, benteng sejarah, benteng persaudaraan, dan benteng identitas orang Ambon.


Jika dahulu kekuatan benteng berbicara tentang pertahanan fisik, maka hari ini kekuatannya harus berbicara tentang ingatan dan identitas sebuah kota.


Di sana, generasi muda diharapkan dapat belajar mengenai perjalanan kotanya. Kebudayaan dapat diperkenalkan, seni dan kreativitas memperoleh ruang, dan sejarah Ambon dapat diceritakan kepada dunia.


Sebab Ambon bukan sekadar sebuah kota di timur Indonesia. Ambon memiliki perjalanan sejarah yang panjang, kekayaan budaya, serta kekuatan persaudaraan yang menjadi bagian dari identitasnya.


Perjalanan 451 tahun juga mengajarkan bahwa kekuatan Kota Ambon terletak pada masyarakatnya.


Warga datang dari negeri yang berbeda, latar belakang yang berbeda, suku, agama dan budaya yang beragam, Namun seluruh perbedaan itu bertemu dalam satu ruang bersama: Ambon Manise, Karena itu, pembangunan kota membutuhkan lebih dari sekadar program pemerintah. Dibutuhkan kepercayaan, persaudaraan, toleransi, kedamaian, dan kebersamaan.


Ambon tidak akan maju tanpa kedamaian. Ambon tidak akan bersih tanpa kesadaran masyarakat. Maluku tidak akan sehat tanpa partisipasi seluruh warga, Pemerintah pun tidak mungkin bekerja sendiri.


Pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, akademisi, media, lembaga swadaya masyarakat, serta berbagai elemen lainnya memiliki tugas yang berbeda, tetapi diarahkan pada tujuan yang sama, membangun Kota Ambon yang lebih baik.


Di tengah perayaan usia ke-451, Wattimena juga menitipkan pesan kepada generasi muda Kota Ambon, Perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi digital, serta perkembangan budaya dan pariwisata akan menghadirkan tantangan yang semakin besar.


Generasi muda harus mampu beradaptasi dan mengambil peran, Mereka bukan hanya pewaris sejarah Ambon, tetapi juga pihak yang akan menentukan seperti apa wajah kota ini pada masa mendatang.


Karena itu, semangat menjaga kebersihan, merawat kebudayaan, membangun persaudaraan dan memanfaatkan teknologi secara positif harus menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.


Pada akhirnya, peringatan HUT ke-451 Kota Ambon menjadi lebih dari sekadar seremoni, Ia menjadi ajakan untuk melihat kembali perjalanan panjang sebuah kota, menjaga apa yang telah diwariskan, memperbaiki apa yang masih menjadi pekerjaan bersama, dan menyiapkan masa depan dengan semangat persaudaraan.


Wattimena menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku, jajaran Forkopimda, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, pimpinan LSM, media, serta seluruh masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari pembangunan Kota Ambon.


Memasuki usia 451 tahun, harapannya sederhana namun besar: agar Ambon tetap menjadi rumah bersama yang dicintai, dijaga, dan dibangun oleh seluruh warganya.


Sebuah kota yang bersih. Masyarakat yang sehat. Persaudaraan yang terus dirawat, Dari Ambon, untuk Maluku dan Indonesia yang semakin maju. (Za)

Selengkapnya

Lima Nelayan Asal Malra Sempat Alami Mati Mesin Dan Terombang Ambing, Berhasil Dievakuasi Tim SAR

September 06, 2026


Tual
, globaltimurnn.com - Sebanyak lima orang nelayan asal Maluku Tenggara yang dilaporkan mengalami mati mesin dan terombang-ambing disekitar Perairan antara Pulau Ler dan Pulau Ngodan berhasil dievakuasi dengan selamat. Minggu, 6/9/2026.


Usai menerima informasi kondisi membahayakan jiwa manusia itu dari Bapak Rahmat Saleh, Tim Rescue Pos SAR Tual langsung dikerahkan menuju lokasi kejadian menggunakan RIB dengan jarak -+14,28 Nautical Mile dan Heading 289° arah Barat dari Pelabuhan PPN Tual.


Longboat naas tersebut akhirnya berhasil ditemukan Tim SAR Gabungan sekitar pukul 17.02 wit masih disekitar lokasi kejadian. Seluruh penumpang dalam keadaan dan langsung dievakuasi bersama menuju Kota Tual guna diserahkan kepada pihak keluarga. 


Guntur Mohan Mewar selaku Dantim Ops SAR menyampaikan "Kami terima informasi ini sekitar pukul 15.50 wit dari Pak Rahmat selaku keluarga.


Dalam laporannya dijelaskan, kelima nelayan tersebut adalah warga Desa Fiditan, Kota Tual yang pergi melaut menggunakan longboat sejak pagi hari sekitar pukul 09.00 wit. Kelima nelayan tersebut diketahui pergi menuju spot mancing di sekitar perairan Pulau Ler dan Pulau Ngodan, Kabupaten Maluku Tenggara. 


Guntur menambahkan, Mereka sebenarnya sudah dalam perjalanan pulang Usai aktivitas memancing sekitar pukul 15.30 wit. namun dalam perjalanan longboat yang mereka tumpangi mengalami mati mesin dan tak dapat melanjutkan perjalanan kembali. Alhamdulillah setelah dilaporkan dan diteruskan ke Pos SAR Tual dan dilaksanakannya Operasi SAR, seluruh korban berhasil ditemukan dalam keadaan dan sudah diserahkan kepada pihak keluarga. 


Data korban:

1. Rahmat Saleh L/32

2. Tamiruddin L/40

3. Nawir L/36

4. Kamarudin L/43

5. Sahar Renuat L/41


Operasi SAR melibatkan Unsur dari Tim Rescue Pos SAR Tual serta keluarga korban, Alut dan Palsar yang digunakan diantaranya RIB Pos SAR Tual dan Rescue Car.


Data Cuaca dilapangan dilaporkan Berawan, Angin Barat Laut hingga Barat kecepatan 20 Knots, dan tinggi gelombang 1,25 Meter.


Dengan ditemukannya korban maka Operasi SAR dinyatakan selesai dan ditutup. Seluruh Unsur Potensi SAR yang terlibat dikembalikan ke satuannya masing-masing dengan ucapan terimakasih. (Rdks) 

Selengkapnya

Pimpin Langsung Pra Hanmars Bersenjata, Dankodaeral IX Tekankan Ketahanan Fisik dan Keteladanan Pimpinan

September 06, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Medan menanjak, jalur berliku, hingga kawasan hutan menjadi bagian dari tantangan yang harus ditaklukkan jajaran pimpinan Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX. Dengan perlengkapan bersenjata, mereka bergerak dalam satu formasi mengikuti rute latihan yang menguji stamina, mental, disiplin, dan kekompakan.


Kegiatan tersebut merupakan Pra Hanmars (Ketahanan Mars) Bersenjata yang digelar Kodaeral IX di lingkungan Markas Komando (Mako) Kodaeral IX, Halong, Kecamatan Baguala, Kota Ambon, Maluku, Minggu (6/9/2026).


Latihan dipimpin langsung Komandan Kodaeral (Dankodaeral) IX Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H., dan diikuti Inspektur Kodaeral IX, para Pejabat Utama (PJU), Kepala Satuan Kerja (Kasatker), serta para Perwira Menengah (Pamen) berpangkat Kolonel di lingkungan Kodaeral IX.


Pra Hanmars Bersenjata tersebut menjadi bagian dari pembinaan kesiapan fisik sekaligus pengujian awal sebelum pelaksanaan Hanmars yang sesungguhnya. Setiap peserta dituntut mampu mempertahankan stamina, konsistensi langkah, kedisiplinan, serta soliditas tim selama menempuh seluruh rute dengan membawa perlengkapan bersenjata.


Tidak sekadar mengukur kemampuan fisik, latihan ini juga menjadi momentum bagi jajaran pimpinan untuk membangun kekompakan sekaligus menunjukkan leadership by example atau kepemimpinan melalui keteladanan.


Mengawali perjalanan dari titik start di depan Lobby Mako Kodaeral IX, rombongan bergerak menuju Pos 1, melintasi jembatan di samping Kantor Dinas Kesehatan (Diskes), kemudian menyusuri jalur di samping sungai.


Rute selanjutnya membawa peserta melewati kawasan perumahan PHL dan kawasan hutan di samping lapangan tembak sebelum keluar melalui portal lapangan tembak. Tantangan semakin terasa ketika rombongan memasuki jalur menanjak menuju kawasan RT 4.


Dari kawasan tersebut, peserta melanjutkan perjalanan menembus hutan di belakang RT 3 menuju arah kediaman Dankodaeral IX. Rombongan kemudian melintasi depan rumah Bama Denma, menuruni tangga di belakang Pos 2, bergerak menuju kawasan depan Mako Pomal, melewati gerbang samping dan lapangan voli Sathantai, hingga akhirnya seluruh peserta berhasil mencapai garis finis di Lapangan Apel Mako Kodaeral IX.


Dankodaeral IX Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas menegaskan, Pra Hanmars Bersenjata bukan sekadar aktivitas olahraga atau rutinitas pembinaan fisik, melainkan bagian dari upaya memelihara kesiapan prajurit dalam menghadapi tuntutan tugas.


“Sebagai prajurit Matra Laut, kebugaran fisik dan kemampuan menggunakan perlengkapan tempur merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pra Hanmars Bersenjata ini dirancang untuk memastikan para pimpinan di lingkungan Kodaeral IX memiliki ketahanan fisik yang prima dan mental pantang menyerah dalam menghadapi berbagai situasi.”


Menurutnya, kesiapan fisik harus dibangun secara konsisten karena menjadi salah satu modal penting dalam mendukung pelaksanaan tugas pokok TNI Angkatan Laut, khususnya dalam menghadapi dinamika tugas di wilayah kerja Kodaeral IX.


Lebih dari itu, kehadiran langsung para pimpinan dalam latihan tersebut menjadi pesan penting bagi seluruh personel. Seorang pemimpin, kata Dankodaeral IX, tidak cukup hanya memberikan instruksi, tetapi juga harus mampu menunjukkan keteladanan melalui tindakan nyata.


“Seorang pimpinan tidak hanya memberi perintah, tetapi harus hadir di garis depan dan memberikan contoh nyata. Jika jajaran pimpinan memiliki semangat dan kondisi fisik yang tangguh, maka nilai disiplin dan etos kerja tersebut akan menjadi motivasi bagi seluruh prajurit di bawahnya.”


Semangat tersebut tercermin dari keterlibatan para PJU, Kasatker, dan Pamen Kodaeral IX yang bersama-sama menyelesaikan seluruh rute latihan. Kebersamaan dalam satu formasi menjadi gambaran pentingnya koordinasi, kekompakan, dan jiwa korsa dalam menjalankan tugas organisasi.


Melalui Pra Hanmars Bersenjata, Kodaeral IX terus mendorong terbangunnya budaya pembinaan fisik dan mental yang dilakukan secara berkesinambungan, baik pada tingkat pimpinan maupun seluruh personel.


Dankodaeral IX berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai agenda latihan, tetapi menjadi pemicu bagi seluruh prajurit untuk menjaga kebugaran, meningkatkan disiplin, memperkuat solidaritas, dan senantiasa memelihara kesiapsiagaan dalam mendukung setiap pelaksanaan tugas.


Dengan fisik yang prima, mental yang tangguh, serta soliditas antarsatuan kerja yang semakin kuat, Kodaeral IX berkomitmen untuk terus meningkatkan kesiapan dalam melaksanakan tugas pokok TNI Angkatan Laut secara profesional, responsif, dan adaptif, demi mendukung pertahanan serta keamanan wilayah laut Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Rdks) 

Selengkapnya

Sambut HUT ke-81 TNI AL, Kodaeral IX Gelar “Aku Cinta Laut”, MBG dan Bakti Kesehatan di Ambon

September 06, 2026


Ambon
, globaltimurnn.com - Peringatan Hari Jadi ke-81 TNI Angkatan Laut (TNI AL) pada 10 September mendatang di Ambon tidak sekadar diisi dengan seremoni. Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) IX menerjemahkan momentum tersebut melalui aksi nyata kepedulian terhadap kelestarian laut, pemenuhan gizi anak, serta peningkatan kesehatan masyarakat.


Komitmen itu diwujudkan melalui kegiatan “Aku Cinta Laut” (ACL), Makan Bergizi Gratis (MBG), dan Bakti Kesehatan yang dipusatkan di belakang Gedung Fasharkan Kodaeral IX, Halong, Kecamatan Baguala, Kota Ambon pada Minggu (6/9/2026).


Kegiatan diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan mengikuti arahan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali melalui video conference (vicon) yang diikuti secara serentak oleh jajaran TNI AL di berbagai wilayah.


Usai mengikuti vicon, Komandan Kodaeral IX Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, S.H., M.H., bersama jajaran meninjau langsung rangkaian kegiatan yang melibatkan prajurit, ASN, keluarga besar TNI AL, serta para murid Yayasan Hang Tuah Ambon. Salah satu momen yang menarik perhatian terjadi ketika Dankodaeral IX turut duduk bersama para murid Yayasan Hang Tuah Ambon dan menikmati hidangan Makan Bergizi Gratis (MBG).


Kebersamaan tersebut menghadirkan suasana yang hangat dan akrab. Tidak ada sekat antara pimpinan dan anak-anak sekolah. Momen sederhana itu sekaligus menjadi pesan bahwa perhatian terhadap tumbuh kembang generasi muda merupakan bagian dari kepedulian TNI AL dalam membangun sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.


Selain MBG, kegiatan juga diisi dengan program Aku Cinta Laut yang menjadi sarana edukasi untuk menumbuhkan kesadaran dan kepedulian terhadap kebersihan serta kelestarian lingkungan laut sejak usia dini. Bersih bersih pantai dari sampah plastik dilakukan secara gotong royong. 


Hal ini dinilai relevan bagi Ambon dan Maluku yang memiliki karakteristik wilayah kepulauan dengan laut sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat. Kesadaran menjaga laut perlu dibangun sejak dini agar generasi muda tidak hanya mengenal laut sebagai sumber kehidupan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlanjutannya.


Sementara itu, melalui kegiatan Bakti Kesehatan, TNI AL turut memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dan keluarga besar TNI AL. Kehadiran layanan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kepedulian sosial sekaligus mendekatkan TNI AL dengan masyarakat.


Komandan Kodaeral IX menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud nyata kehadiran TNI AL di tengah masyarakat. Peringatan HUT ke-81 TNI AL diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.


Melalui sinergi antara Kodaeral IX, instansi terkait, sekolah, keluarga besar TNI AL, dan masyarakat, kegiatan ACL, MBG, dan Bakti Kesehatan diharapkan dapat memperkuat kepedulian bersama terhadap lingkungan, kesehatan, serta kualitas generasi muda. 


“Kegiatan ini menjadi momentum untuk terus membangun kesadaran bersama bahwa menjaga laut, memenuhi kebutuhan gizi anak, dan meningkatkan kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab kita bersama,” terang Dankodaeral lX.


Kegiatan turut dihadiri Inspektur Kodaeral IX, para Pejabat Utama (PJU) dan Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Kodaeral IX, prajurit dan ASN Kodaeral IX, perwakilan Pemerintah Daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama serta para murid dan pengurus Yayasan Hang Tuah Ambon.


Peringatan HUT ke-81 TNI AL melalui rangkaian Aku Cinta Laut, Makan Bergizi Gratis, dan Bakti Kesehatan menjadi gambaran bahwa pengabdian TNI AL tidak hanya berorientasi pada tugas pertahanan dan keamanan di laut, tetapi juga hadir melalui kepedulian terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.


Dengan semangat “Aku Cinta Laut”, kepedulian terhadap laut diharapkan tumbuh menjadi gerakan bersama, sehingga laut yang bersih, sehat, dan lestari dapat terus menjadi warisan bagi generasi mendatang. (Rdks) 

Selengkapnya

HUT ke-56, Wabup Kasman Luncurkan Buku ke-10 “Sekolah Rumah Pendidikan”

September 06, 2026


HALUT
, Glonaltimurnn.com — Wakil Bupati Halmahera Utara, Dr. Kasman Hi. Ahmad, S.Ag., M.Pd., resmi meluncurkan buku ke-10 berjudul “Sekolah Rumah Pendidikan” pada Sabtu, 5 September 2026 malam di kediamannya. Peluncuran bertepatan dengan HUT ke-56 beliau, sekaligus menandai pencapaian 10 karya literasi. Kegiatan dialog “Bacarita Buku” menghadirkan esais nasional Asghar Saleh dan akademisi Dr. Jubhar Mangimbulude, M.Si. sebagai pembedah buku, serta Syarifuddin Usman sebagai moderator.

 

Dalam pemaparannya, Wabup Kasman menegaskan perlunya perubahan pandangan terhadap sekolah — bukan sekadar bangunan dan ruang kelas, melainkan “rumah kedua” yang aman dan membentuk karakter anak. Konsep ini selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara, serta mengingatkan agar pendidikan disesuaikan dengan kondisi wilayah, termasuk daerah 3T, dan teknologi dimanfaatkan secara positif untuk memperluas wawasan, bukan sekadar gaya hidup.

 

Melalui buku ini, diharapkan lahir perubahan paradigma pendidikan di Kabupaten Halmahera Utara agar sekolah benar-benar menjadi ruang hidup yang mendukung tumbuh-kembang anak secara utuh. "Ucapanya." (Red).

Selengkapnya

91 Tahun GPM: Bersyukur, Mendengar Suara Allah, dan Tekun Bermisi di Tengah Zaman

September 06, 2026


Ambon
, Globaltimurnn.com — Malam mulai menyelimuti Kota Ambon ketika gedung Oikumene menjadi ruang perjumpaan keluarga besar Gereja Protestan Maluku (GPM), Minggu malam, 6 September 2026. Di tempat itu, rasa syukur atas perjalanan panjang 91 tahun pelayanan GPM tidak hanya dirayakan melalui seremoni, tetapi juga melalui refleksi tentang panggilan gereja di tengah perubahan zaman.


Malam resepsi dalam rangka HUT ke-91 GPM tersebut mengusung tema “Bersyukur dan Tekunlah Bermisi dengan Takut akan Allah”, yang berlandaskan pada nats Alkitab Mazmur 136:1-3 dan Pengkhotbah 4:17–5:6.


Bagi Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Pendeta Sacharias Izak Sapulette, M.Si., usia 91 tahun bukan sekadar angka dalam perjalanan sejarah gereja. Ia adalah ruang untuk berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan yang telah dilewati, sekaligus meneguhkan langkah menuju masa depan.


“Bersama dengan semua pelayan dan umat, kami bersyukur atas kasih setia Tuhan yang menyertai GPM sehingga hari ini berusia 91 tahun,” ungkapnya.


Namun, menurut Sapulette, rasa syukur tidak boleh berhenti pada ungkapan liturgis maupun pujian. Syukur harus menjelma menjadi tindakan nyata melalui ketekunan gereja menjalankan panggilan dan misi di tengah kehidupan umat.


Karena itu, tema HUT ke-91 GPM menjadi sebuah ajakan untuk tekun bermisi dengan takut akan Tuhan.


Dalam menjalankan misi tersebut, GPM didorong untuk terlebih dahulu belajar mendengarkan. Bukan hanya mendengarkan suara Allah melalui firman, tetapi juga membaca dan memahami suara Allah yang hadir melalui realitas kehidupan manusia.


Mendengarkan keluarga-keluarga yang sedang menghadapi krisis. Mendengarkan masyarakat miskin dan kelompok yang terabaikan. Mendengarkan jeritan korban kekerasan dan ketidakadilan. Mendengarkan orang-orang muda yang kehilangan arah. Mendengarkan keluarga yang menghadapi tekanan ekonomi. Bahkan mendengarkan alam yang terus mengalami kerusakan akibat eksploitasi.


“Harapannya, di usia 91 tahun GPM ini, bersama dengan semua pelayan, kami berkomitmen untuk lebih setia menjalankan panggilan misi, memperbaiki tata kelola untuk pelayanan yang relevan dan berdampak bagi gereja, masyarakat, dan bangsa,” tegasnya.


Dalam pidatonya, Sapulette mengajak seluruh warga GPM melihat kembali perjalanan gereja yang telah berlangsung sejak 6 September 1935.


Perjalanan 91 tahun tersebut tentu tidak selalu berjalan dalam suasana mudah. GPM tumbuh melewati berbagai zaman, mulai dari masa penjajahan, perubahan pemerintahan, dinamika hubungan gereja dengan pemerintah dan masyarakat, masa pembangunan, krisis ekonomi dan politik, hingga konflik sosial yang pernah menguji persaudaraan masyarakat Maluku.


GPM juga pernah melewati masa pandemi COVID-19 yang membawa tantangan besar bagi kehidupan gereja dan masyarakat, Namun, dari berbagai pergumulan tersebut, ada satu keyakinan yang terus dipegang, Tuhan tidak pernah meninggalkan gereja dan negeri ini.


Justru dari perjalanan panjang itulah, menurut Sapulette, lahir kesadaran baru tentang pentingnya kearifan hidup orang basudara. Kesadaran bahwa Maluku dan Maluku Utara merupakan rumah bersama bagi seluruh anak negeri, tanpa membedakan agama maupun latar belakang.


Karena itu, memasuki usia ke-91, GPM kembali menegaskan panggilannya untuk hidup bersama masyarakat, menjaga persaudaraan, dan menghadirkan pelayanan yang menjawab kebutuhan zaman.


Selama puluhan tahun, kehadiran GPM tidak hanya terlihat di ruang-ruang ibadah, Gereja hadir melalui sekolah dan lembaga pendidikan yang telah mendidik ribuan anak negeri. Gereja juga hadir melalui rumah sakit dan pelayanan kesehatan, melalui para pendeta dan pelayan yang menjangkau pulau-pulau serta wilayah yang sulit diakses.


Pelayanan tersebut juga menyentuh pemberdayaan ekonomi masyarakat, advokasi hak-hak masyarakat adat, pendampingan kelompok rentan, perjuangan melawan ketidakadilan, kerja-kerja perdamaian, hingga upaya merawat lingkungan hidup di Kepulauan Maluku.


Memasuki usia 91 tahun, pelayanan tersebut ingin terus diperkuat agar semakin kontekstual, transformatif, dan berdampak bagi jemaat, masyarakat, serta bangsa.


GPM juga mendorong transformasi pelayanan melalui peningkatan kualitas pendidikan, pemanfaatan teknologi digital, serta pembenahan tata kelola organisasi secara sistemik.


Pesannya sederhana, gereja harus hadir bukan hanya ketika umat datang ke gedung gereja, tetapi juga ketika umat menghadapi persoalan hidup.


Pelayanan harus mampu menjumpai, mengenali, dan memahami umat dalam realitas kehidupan mereka, Salah satu perhatian penting GPM ke depan adalah penguatan gereja rumah tangga.


Rumah, kata Sapulette, merupakan tempat pertama di mana iman dan karakter dibentuk. Karena itu, penguatan keluarga menjadi bagian penting dalam menghadapi berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks.


Dari rumah, gereja berharap lahir keluarga yang kuat dalam iman, tetapi sekaligus mampu menjadi ruang yang aman bagi anak-anak dan generasi muda untuk bertumbuh.


Upaya tersebut berjalan beriringan dengan transformasi pelayanan pendidikan, GPM saat ini menaungi ratusan satuan pendidikan dan terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui kerja sama dengan pemerintah maupun berbagai pihak.


Prestasi para pelajar dari sekolah-sekolah GPM juga menjadi bagian dari optimisme tersebut. Capaian siswa dalam berbagai ajang akademik di tingkat daerah maupun nasional menunjukkan bahwa gereja memiliki tanggung jawab besar dalam mempersiapkan generasi Maluku yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.


Misi GPM juga diarahkan pada pemberdayaan ekonomi jemaat dan masyarakat.


Berbagai gerakan ekonomi jemaat terus dikembangkan agar warga gereja tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mampu menjadi pelaku ekonomi yang mandiri.


Di saat yang sama, perhatian terhadap lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari panggilan gereja.


Perubahan iklim, bencana ekologis, kerusakan lingkungan, serta eksploitasi sumber daya alam menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.


Karena itu, gereja ingin memperkuat edukasi publik, advokasi lingkungan, kesiapsiagaan bencana, pengurangan risiko bencana, serta membangun kesadaran masyarakat untuk menjaga alam sebagai bagian dari kehidupan bersama. 


Pada bagian lain pidatonya, Sapulette menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, perbankan, dunia usaha, pimpinan umat beragama, serta seluruh mitra pelayanan yang selama ini berjalan bersama GPM.


Menurutnya, sinergi tersebut memiliki arti penting dalam menjaga keamanan, kedamaian, persaudaraan, dan kesejahteraan masyarakat di Maluku dan Maluku Utara.


Hubungan antarumat beragama juga menjadi bagian penting dalam perjalanan GPM, Gereja, menurutnya, tidak berjalan sendiri. Dalam merawat toleransi dan persaudaraan sejati di Maluku, GPM membutuhkan seluruh elemen masyarakat untuk terus membangun ruang perjumpaan dan kerja sama.


Sebab Maluku bukan hanya tempat untuk hidup berdampingan, tetapi rumah bersama yang harus dijaga oleh semua anak negeri.


Malam resepsi HUT ke-91 GPM akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan ulang tahun, Ia menjadi ruang untuk mengingat sejarah, mengucap syukur, sekaligus meneguhkan kembali panggilan pelayanan.


Sapulette mengajak seluruh pelayan dan warga GPM di mana pun berada untuk menjadikan kasih setia Tuhan sebagai kekuatan dalam menjalankan misi.


Gereja dituntut untuk semakin berani mendengar suara Allah yang hadir melalui kehidupan manusia. Suara itu dapat terdengar dari keluarga yang terluka, anak muda yang membutuhkan arah, masyarakat miskin yang membutuhkan keberpihakan, korban ketidakadilan yang membutuhkan pendampingan, hingga alam yang membutuhkan perhatian.


“Yang sungguh-sungguh bersyukur adalah gereja yang makin teguh menjalani panggilannya,” pesannya.


Karena itu, usia 91 tahun bukanlah garis akhir, Ia adalah titik baru untuk berjalan lebih jauhdengan pelayanan yang lebih relevan, tata kelola yang lebih baik, pendidikan yang lebih kuat, pemberdayaan yang lebih nyata, serta komitmen yang lebih besar untuk merawat persaudaraan.


Dari gedung Oikumene malam itu, pesan tersebut kembali ditegaskan, bersyukur bukan sekadar mengingat apa yang telah Tuhan lakukan, tetapi juga berani melangkah untuk melakukan kehendak-Nya.


Dengan rendah hati dan dalam tuntunan Tuhan, GPM ingin terus hadir, melayani, dan membawa perubahan yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, jemaat, hingga masyarakat luas.


"Selamat HUT ke-91 Gereja Protestan Maluku, Bersyukur, tekun bermisi, dan terus menjadi gereja yang hadir bagi kehidupan."(Za)

Selengkapnya

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT