451 Tahun Ambon: Dari Kota Bersama Menuju Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Minggu, 06 September 2026

451 Tahun Ambon: Dari Kota Bersama Menuju Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju


Ambon
, Globaltimurnn.com — Pagi 7 September 2026 terasa berbeda di Kota Ambon. Kota yang telah melewati perjalanan panjang selama 451 tahun itu kembali memperingati hari jadinya. Di tengah perayaan, ada satu pesan yang ditekankan Pemerintah Kota Ambon: usia panjang sebuah kota bukan hanya tentang sejarah yang telah dilewati, tetapi tentang bagaimana warganya menjaga rumah bersama dan menyiapkan masa depannya.


Tahun ini, HUT ke-451 Kota Ambon mengusung tema “Ambon Bersih, Maluku Sehat, Indonesia Maju.”


Tema tersebut tidak sekadar ditempatkan sebagai slogan perayaan. Dalam sambutannya, Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, mengajak seluruh masyarakat menjadikan momentum ulang tahun kota sebagai ruang untuk melihat kembali perjalanan Ambon, mensyukuri pencapaian hari ini, sekaligus menentukan arah pembangunan di masa mendatang.


451 tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di dalamnya ada cerita tentang perjuangan, perjumpaan, perubahan, tantangan, kebangkitan, dan harapan dari generasi ke generasi, demikian pesan yang disampaikan Wattimena.


Ia mengawali sambutannya dengan ungkapan syukur. Menurutnya, seluruh perjalanan Kota Ambon hingga mencapai usia 451 tahun tidak terlepas dari kasih dan penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa.


Bagi Wattimena, hari ulang tahun kota bukan sekadar perayaan bertambahnya usia. Lebih dari itu, HUT menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan, persatuan dan kesatuan, sekaligus menumbuhkan kembali rasa cinta serta kebanggaan sebagai orang Ambon.


Dari tema besar HUT tahun ini, Wattimena memberi perhatian khusus pada kata “bersih”. Baginya, Ambon bersih tidak boleh dimaknai sebatas kota yang bebas dari sampah. Kebersihan harus tumbuh menjadi kesadaran, kedisiplinan, budaya, sekaligus karakter masyarakat.


Ia mengingatkan, kebersihan tidak seharusnya hanya dijaga ketika kota sedang menyambut tamu, menggelar perlombaan, atau melaksanakan sebuah perayaan.


Kesadaran itu, kata dia, harus dimulai dari kehidupan sehari-hari, Dari rumah, lorong dan lingkungan tempat tinggal, sekolah, kantor, pasar, terminal, pantai, sungai, ruang publik, hingga kawasan bersejarah.


Ambon adalah rumah besar kita semua. Kalau kita cinta Ambon, maka kita harus menjaganya, menjadi salah satu pesan kuat yang disampaikan dalam sambutannya.


Pemerintah, lanjut Wattimena, tidak mungkin menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab terhadap kebersihan kota. Masyarakat harus mengambil bagian dan memulai dari hal-hal sederhana yang bisa dilakukan sendiri.


Jangan menunggu pemerintah datang membersihkan lingkungan sekitar rumah, ketika masyarakat sebenarnya dapat memulainya sejak dari halaman rumah masing-masing.


Dari kesadaran kecil itu, ia berharap lahir gerakan besar yang dilakukan bersama oleh seluruh warga Kota Ambon, Wattimena kemudian menghubungkan kebersihan dengan cita-cita yang lebih luas, yakni mewujudkan Maluku yang sehat.


Menurutnya, lingkungan yang bersih memiliki hubungan langsung dengan kesehatan masyarakat. Karena itu, gerakan menjaga kebersihan Kota Ambon harus menjadi bagian dari upaya membangun kualitas hidup masyarakat Maluku.


Sebagai ibu kota Provinsi Maluku, Ambon dinilai memiliki tanggung jawab untuk memberikan contoh.


Dari Ambon yang bersih, kita ikut membangun Maluku yang sehat. Dari masyarakat yang sehat, kita ikut membangun Maluku yang produktif, demikian arah pemikiran yang disampaikan Wattimena.


Jika masyarakat produktif dan daerah semakin berdaya saing, maka kontribusinya akan semakin besar bagi cita-cita Indonesia Maju, Dengan demikian, Ambon Bersih bukanlah tujuan yang berdiri sendiri. Ia menjadi fondasi bagi Maluku Sehat, sementara Maluku yang sehat menjadi bagian dari kekuatan bersama menuju Indonesia Maju.


Dalam usia 451 tahun, Ambon juga diajak untuk tidak melupakan sejarah, Wattimena menyinggung Benteng Victoria sebagai salah satu jejak penting perjalanan Kota Ambon.


Baginya, Benteng Victoria bukan sekadar bangunan tua yang berada di pusat kota. Benteng tersebut merupakan saksi perjalanan sejarah Ambon, ruang yang merekam perjumpaan berbagai bangsa, kepentingan perdagangan, kebudayaan, serta dinamika masyarakat yang membentuk perjalanan kota.


Karena itu, keberadaan Benteng Victoria tidak seharusnya hanya dilihat sebagai peninggalan masa lalu, Benteng tersebut harus ditempatkan sebagai aset sejarah dan kebudayaan yang dapat digunakan untuk membangun masa depan.


Ada pesan yang ingin ditinggalkan pemerintah pada momentum HUT ke-451 ini: dahulu Benteng Victoria dibangun sebagai tempat pertahanan, tetapi hari ini ia harus menjadi benteng kebudayaan, benteng sejarah, benteng persaudaraan, dan benteng identitas orang Ambon.


Jika dahulu kekuatan benteng berbicara tentang pertahanan fisik, maka hari ini kekuatannya harus berbicara tentang ingatan dan identitas sebuah kota.


Di sana, generasi muda diharapkan dapat belajar mengenai perjalanan kotanya. Kebudayaan dapat diperkenalkan, seni dan kreativitas memperoleh ruang, dan sejarah Ambon dapat diceritakan kepada dunia.


Sebab Ambon bukan sekadar sebuah kota di timur Indonesia. Ambon memiliki perjalanan sejarah yang panjang, kekayaan budaya, serta kekuatan persaudaraan yang menjadi bagian dari identitasnya.


Perjalanan 451 tahun juga mengajarkan bahwa kekuatan Kota Ambon terletak pada masyarakatnya.


Warga datang dari negeri yang berbeda, latar belakang yang berbeda, suku, agama dan budaya yang beragam, Namun seluruh perbedaan itu bertemu dalam satu ruang bersama: Ambon Manise, Karena itu, pembangunan kota membutuhkan lebih dari sekadar program pemerintah. Dibutuhkan kepercayaan, persaudaraan, toleransi, kedamaian, dan kebersamaan.


Ambon tidak akan maju tanpa kedamaian. Ambon tidak akan bersih tanpa kesadaran masyarakat. Maluku tidak akan sehat tanpa partisipasi seluruh warga, Pemerintah pun tidak mungkin bekerja sendiri.


Pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda, perempuan, akademisi, media, lembaga swadaya masyarakat, serta berbagai elemen lainnya memiliki tugas yang berbeda, tetapi diarahkan pada tujuan yang sama, membangun Kota Ambon yang lebih baik.


Di tengah perayaan usia ke-451, Wattimena juga menitipkan pesan kepada generasi muda Kota Ambon, Perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi digital, serta perkembangan budaya dan pariwisata akan menghadirkan tantangan yang semakin besar.


Generasi muda harus mampu beradaptasi dan mengambil peran, Mereka bukan hanya pewaris sejarah Ambon, tetapi juga pihak yang akan menentukan seperti apa wajah kota ini pada masa mendatang.


Karena itu, semangat menjaga kebersihan, merawat kebudayaan, membangun persaudaraan dan memanfaatkan teknologi secara positif harus menjadi bagian dari kehidupan generasi muda.


Pada akhirnya, peringatan HUT ke-451 Kota Ambon menjadi lebih dari sekadar seremoni, Ia menjadi ajakan untuk melihat kembali perjalanan panjang sebuah kota, menjaga apa yang telah diwariskan, memperbaiki apa yang masih menjadi pekerjaan bersama, dan menyiapkan masa depan dengan semangat persaudaraan.


Wattimena menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Maluku, jajaran Forkopimda, akademisi, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, pimpinan LSM, media, serta seluruh masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari pembangunan Kota Ambon.


Memasuki usia 451 tahun, harapannya sederhana namun besar: agar Ambon tetap menjadi rumah bersama yang dicintai, dijaga, dan dibangun oleh seluruh warganya.


Sebuah kota yang bersih. Masyarakat yang sehat. Persaudaraan yang terus dirawat, Dari Ambon, untuk Maluku dan Indonesia yang semakin maju. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT