Ambon, Globaltimurnn.com — Wakil Ketua Nahdlatul Ulama (NU) Provinsi Maluku sekaligus Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan IAIN Ambon, dr. Abubakar Kabakoran, M.Si., menilai Muslimat NU Maluku memiliki peran strategis dalam menjawab berbagai persoalan sosial, ekonomi dan perkembangan zaman.
Menurut Abubakar, Muslimat NU ke depan tidak cukup hanya menjalankan peran sebagai organisasi keagamaan perempuan. Organisasi tersebut harus mampu berkembang menjadi kekuatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi keluarga, masyarakat dan bangsa.
Hal itu disampaikan Abubakar saat diwawancarai usai mengikuti Konferensi Wilayah (Konferwil) IV Muslimat NU Maluku dengan tema “Menguatkan Kemandirian dan Menuju Peradaban”, di Lantai 7 Kantor Gubernur Maluku, Rabu (26/08/2026).
Abubakar menyebut terdapat sejumlah agenda penting yang perlu menjadi perhatian Muslimat NU Maluku setelah Konferwil, terutama penguatan kaderisasi, peningkatan literasi digital serta pemberdayaan ekonomi perempuan.
Harapan kita kepada Muslimat NU Maluku ada tiga hal yang harus menjadi perhatian. Yang pertama adalah persoalan kaderisasi NU dan pemberdayaan perempuan Muslimat NU, kata Abubakar.
Abubakar menegaskan, kekuatan sebuah organisasi tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah anggota, tetapi juga kualitas kader yang dimiliki.
Menurutnya, Muslimat NU perlu melahirkan kader perempuan yang memiliki kapasitas keagamaan, intelektual dan sosial, sekaligus mampu mengikuti perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.
Kaderisasi, kata dia, juga tidak boleh hanya berorientasi pada aspek keagamaan. Kapasitas kader perlu diperkuat melalui pendidikan, kesehatan, ekonomi, teknologi digital, wawasan kebangsaan hingga kemampuan membaca persoalan sosial.
Penguatan tersebut juga harus menjangkau struktur organisasi di tingkat cabang dan ranting, sehingga keberadaan Muslimat NU tidak hanya terpusat di wilayah perkotaan.
Organisasi yang kuat adalah organisasi yang memiliki kader yang berkualitas, loyal terhadap nilai perjuangan, memiliki kapasitas spiritual dan mampu berkembang menghadapi perubahan zaman, ujarnya.
Agenda berikutnya yang dinilai penting adalah kemampuan perempuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Abubakar mengatakan transformasi digital harus dimanfaatkan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan produktivitas perempuan.
Muslimat harus lebih beradaptasi dengan perkembangan teknologi hari ini, terutama peningkatan literasi bagi ibu-ibu, katanya.
Menurutnya, literasi digital menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi. Perempuan harus mampu memilah informasi, tidak mudah terprovokasi dan dapat menggunakan teknologi untuk hal-hal yang produktif.
Muslimat NU juga diharapkan dapat menghadirkan narasi positif di ruang digital sekaligus ikut menangkal hoaks dan berbagai informasi yang berpotensi memecah persatuan masyarakat.
Dengan demikian, peran Muslimat NU bukan hanya menjaga harmoni dalam kehidupan sosial secara langsung, tetapi juga menjaga etika dan keberagaman di ruang digital.
Selain kaderisasi dan literasi digital, Abubakar mendorong penguatan UMKM dan ekonomi keluarga.
Menurutnya, perempuan memiliki posisi penting dalam membangun ketahanan ekonomi rumah tangga. Karena itu, program pemberdayaan perempuan harus diarahkan agar mampu menciptakan kemandirian dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Penguatan UMKM, penguatan ekonomi keluarga. Karena perempuan hebat itu berarti bisa menyelesaikan paling tidak problem-problem sosial, ujarnya.
Ia menilai potensi ekonomi lokal Maluku sangat besar untuk dikembangkan. Hasil laut, pertanian, kerajinan serta berbagai produk budaya dapat menjadi sumber ekonomi baru apabila dikembangkan secara kreatif dan didukung teknologi digital.
Muslimat NU, kata Abubakar, dapat menjadi wadah bagi perempuan untuk mengembangkan usaha, membangun jejaring serta meningkatkan kapasitas ekonomi.
Muslimat NU bukan hanya sebagai organisasi keagamaan perempuan, tetapi harus mengambil peran sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, tegasnya.
Abubakar juga mendorong agar perempuan Muslimat NU terus memperluas kiprahnya di berbagai sektor.
Tidak hanya dalam kegiatan keagamaan dan sosial, perempuan juga perlu mendapatkan ruang dalam pendidikan, ekonomi, pembangunan maupun politik.
Muslimat NU tetap didorong bukan hanya fokus kepada persoalan keagamaan, keilmuan dan spiritual, tetapi juga harus memberi dampak sosial dan kesejahteraan perempuan, katanya.
Menurutnya, peningkatan partisipasi perempuan dalam ruang politik juga penting untuk memastikan kepentingan perempuan dapat terwakili dalam proses pengambilan kebijakan.
Keterwakilan perempuan sekurang-kurangnya 30 persen, kata dia, harus terus diperjuangkan melalui peningkatan kapasitas dan keberanian perempuan untuk mengambil peran di ruang publik.
Abubakar mengatakan karakter Maluku sebagai daerah kepulauan membuat tantangan pembangunan perempuan menjadi semakin kompleks.
Persoalan jarak geografis, akses pendidikan dan kesehatan, ketimpangan ekonomi, perlindungan anak, pemberdayaan perempuan hingga perkembangan teknologi membutuhkan respons organisasi yang lebih adaptif.
Dalam situasi tersebut, perempuan memiliki posisi strategis karena merupakan pendidik pertama dalam keluarga sekaligus memiliki peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat.
Ketika kita memperkuat Muslimat, sesungguhnya kita sedang memperkuat keluarga, masyarakat dan kehidupan kebangsaan, ujarnya.
Ia berharap Muslimat NU dapat menjawab tantangan tersebut dengan memperkuat program yang menyentuh kebutuhan masyarakat hingga ke wilayah-wilayah kepulauan.
Lebih lanjut, Abubakar menilai Konferwil IV Muslimat NU Maluku bukan sekadar agenda rutin organisasi.
Menurutnya, konferensi merupakan momentum penting untuk melakukan evaluasi, konsolidasi dan merumuskan arah kebijakan organisasi untuk lima tahun ke depan.
Konferwil ini tidak sekadar berbicara tentang siapa yang akan memimpin, tetapi jauh lebih penting adalah untuk apa kepemimpinan itu dijalankan dan ke mana organisasi ini diarahkan, jelasnya.
Ia berharap seluruh proses konferensi tetap mengedepankan tradisi musyawarah, keilmuan, persaudaraan dan pengabdian kepada masyarakat yang menjadi bagian penting dari tradisi Nahdlatul Ulama.
Muslimat NU Maluku juga diharapkan mampu membaca perubahan zaman tanpa kehilangan akar tradisi dan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
Di tengah proses pemilihan kepemimpinan organisasi, Abubakar mengingatkan seluruh kader agar tetap menjaga persatuan.
Menurutnya, perbedaan pilihan dalam sebuah proses musyawarah merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh berkembang menjadi perpecahan.
Yang paling penting adalah kemampuan kita menjaga persatuan setelah proses pemilihan selesai. Siapa pun yang nanti mendapatkan amanah sebagai pemimpin Muslimat NU Maluku, mari kita hormati sebagai hasil dari proses musyawarah, katanya.
Ia mengajak seluruh kader menjadikan Konferwil sebagai ruang untuk memperkuat gagasan dan persaudaraan, bukan memperbesar kepentingan kelompok.
Dengan semangat menjaga tradisi yang baik sekaligus mengambil hal-hal baru yang lebih baik, Abubakar berharap Muslimat NU Maluku mampu memasuki lima tahun mendatang sebagai organisasi yang semakin kuat, mandiri, inklusif dan memberikan manfaat nyata bagi umat serta bangsa.
Sebagaimana spirit perjuangan Nahdlatul Ulama, mari kita terus menjaga tradisi yang baik dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik, tandasnya. (Za)







