Ambon, Globaltimurnn.com — Tidak semua daerah harus memiliki tambang, ladang gas, atau sumber daya energi untuk menjadi bagian dari pertumbuhan industri berskala besar. Terkadang, kekuatan sebuah daerah justru terletak pada kemampuannya menghubungkan berbagai potensi, menyediakan pelayanan, serta menciptakan ruang ekonomi bagi wilayah di sekitarnya.
Gambaran itulah yang ingin dibangun Wali Kota Ambon, Drs. Bodewin M. Wattimena, dalam melihat masa depan Kota Ambon di tengah geliat pengembangan sektor energi dan investasi strategis di Provinsi Maluku.
Di saat perhatian publik tertuju pada potensi energi Blok Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Bodewin justru mengajak semua pihak melihat peluang lain yang tidak kalah penting: bagaimana Kota Ambon dapat mengambil posisi sebagai pusat pelayanan, logistik, perdagangan, jasa, dan pengembangan sumber daya manusia yang menopang aktivitas industri di Maluku.
Pesan tersebut disampaikan Bodewin ketika menjadi salah satu pemateri dalam Maluku Business Forum 2026 yang berlangsung di Santika Hotel Ambon, Minggu (01/11/2026).
Forum yang diselenggarakan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Maluku itu mengangkat tema "Dinamika Ekosistem Energi Maluku melalui Optimalisasi Potensi, Hilirisasi Industri dan Investasi Strategis untuk Pembangunan Nasional Berkelanjutan", dengan semangat From Energy Potential to Sustainable Prosperity.
Dalam forum tersebut, Bodewin menawarkan cara pandang yang lebih luas mengenai pembangunan ekonomi. Menurutnya, keberhasilan pengembangan energi tidak cukup hanya diukur dari besarnya sumber daya alam yang dimiliki suatu wilayah, tetapi juga dari kesiapan daerah lain dalam menyediakan seluruh kebutuhan yang mendukung aktivitas industri tersebut.
Bagi Bodewin, posisi Ambon dalam peta pengembangan energi Maluku memang perlu dilihat dari perspektif yang berbeda.
Ia mengakui, pada awalnya sempat mempertanyakan relevansi keterlibatan Kota Ambon dalam pembahasan industrialisasi, pertambangan, dan energi. Sebab, dibandingkan sejumlah kabupaten lain di Maluku, Ambon bukan daerah yang memiliki potensi sumber daya alam dan pertambangan dalam skala besar.
Namun, pandangan yang disampaikan Dr. Oloan membuatnya melihat persoalan tersebut dari sudut berbeda.
Ambon tidak harus menjadi daerah penghasil energi untuk memperoleh manfaat dari pengembangan sektor tersebut. Kota ini justru dapat mengambil peran melalui keunggulan yang dimilikinya sebagai pusat pemerintahan, pendidikan, kesehatan, perdagangan, dan pelayanan regional.
Pemikiran tersebut kemudian menjadi dasar bagi Bodewin untuk mendorong Ambon tampil sebagai hub strategis bagi ekosistem ekonomi dan energi Maluku.
Sebuah industri besar tidak dapat berjalan sendiri. Di belakangnya terdapat kebutuhan transportasi, pergudangan, distribusi barang, akomodasi, pelayanan kesehatan, perdagangan, hingga tenaga kerja profesional.
Seluruh kebutuhan itu membuka ruang bagi Ambon untuk mengambil bagian dalam rantai pertumbuhan ekonomi yang akan terbentuk. Salah satu peluang besar yang menjadi perhatian adalah pengembangan Blok Masela.
Proyek strategis di Kabupaten Kepulauan Tanimbar tersebut berpotensi mendorong peningkatan aktivitas ekonomi dan investasi di Maluku. Namun, pertumbuhan industri juga akan melahirkan kebutuhan pendukung yang tidak sedikit.
Mobilitas tenaga ahli, pekerja, investor, pelaku usaha, serta mitra industri membutuhkan jaringan transportasi, tempat penginapan, fasilitas kesehatan, pusat perdagangan, dan berbagai layanan lainnya.
Dalam konteks ini, Ambon memiliki peluang untuk menjadi salah satu titik penghubung penting bagi aktivitas tersebut.
Keberadaan Pelabuhan Yos Sudarso dan Bandar Udara Internasional Pattimura merupakan modal konektivitas yang dapat dikembangkan lebih jauh. Keduanya memiliki posisi penting dalam mendukung mobilitas orang maupun distribusi barang menuju berbagai wilayah di Maluku.
Ambon juga mempunyai fasilitas perhotelan, restoran, pusat pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai infrastruktur perkotaan yang dapat menjadi bagian dari sistem pelayanan regional.
Jika seluruh potensi tersebut dipersiapkan secara terintegrasi, Ambon berpeluang menjadi tempat transit sekaligus pusat pelayanan bagi berbagai kebutuhan yang berkaitan dengan pengembangan investasi energi.
Dengan demikian, meskipun pusat produksi energi berada di wilayah lain, aktivitas ekonomi pendukungnya dapat menciptakan peluang baru bagi masyarakat Kota Ambon.
Satu hal yang menjadi perhatian dalam gagasan Bodewin adalah bagaimana Ambon tidak sekadar menjadi tempat persinggahan.
Kota ini harus mampu memberikan nilai tambah dari setiap aktivitas ekonomi yang berlangsung.
Orang yang datang ke Ambon tidak cukup hanya menggunakan bandara atau pelabuhan, kemudian melanjutkan perjalanan ke daerah tujuan. Mereka juga perlu mendapatkan pelayanan yang baik, menikmati fasilitas penginapan, menggunakan jasa transportasi, berbelanja, menikmati kuliner, hingga mengenal kekayaan budaya lokal.
Di sinilah sektor perhotelan, restoran, UMKM, perdagangan, dan ekonomi kreatif memiliki kesempatan untuk berkembang.
Kebutuhan akomodasi bagi tenaga profesional dan investor dapat membuka pasar baru bagi hotel. Meningkatnya mobilitas orang dapat memberikan dampak bagi pelaku transportasi. Sementara kebutuhan konsumsi dan produk lokal dapat memperluas peluang usaha bagi pedagang serta pelaku UMKM.
Artinya, kehadiran investasi besar tidak boleh hanya memberikan manfaat kepada perusahaan yang mengelola proyek, tetapi harus mampu menciptakan perputaran ekonomi yang menjangkau masyarakat.
Ambon harus memanfaatkan peluang tersebut untuk membangun ekosistem usaha yang saling terhubung.
Untuk memperkuat posisi tersebut, Bodewin memaparkan enam pilar utama yang perlu dikembangkan secara terintegrasi.
Keenam pilar tersebut meliputi :
1. Pelabuhan dan logistik.
2. Pergudangan dan distribusi.
3. Industri pengolahan.
4. Jasa regional.
5. Ekonomi digital.
6. Sumber daya manusia dan kelembagaan.
Enam pilar ini menjadi fondasi untuk membangun sistem ekonomi yang tidak hanya mengandalkan aktivitas perdagangan, tetapi juga menciptakan nilai tambah dari setiap proses produksi dan distribusi.
Pelabuhan dan logistik menjadi pintu masuk pergerakan barang. Pergudangan dan distribusi memastikan kebutuhan industri maupun masyarakat dapat dikelola secara efisien. Industri pengolahan membuka peluang peningkatan nilai produk lokal, sementara jasa regional memperkuat pelayanan bagi berbagai aktivitas bisnis.
Di sisi lain, ekonomi digital dibutuhkan untuk mempercepat konektivitas dan efisiensi pelayanan. Sedangkan sumber daya manusia dan kelembagaan menjadi faktor penting agar seluruh sistem tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Bagi Bodewin, enam pilar itu harus menjadi satu kesatuan dalam membangun rantai pasok atau supply chain yang kuat.
Jangan Biarkan Kekayaan Maluku Berkembang, tetapi Masyarakat Hanya Menjadi Penonton
Di balik peluang investasi dan pengembangan energi, terdapat persoalan penting yang tidak boleh diabaikan, yakni kesiapan sumber daya manusia lokal.
Bodewin memandang perguruan tinggi yang berada di Kota Ambon sebagai salah satu kekuatan strategis dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan ekonomi.
Peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, kompetensi profesional, dan kemampuan tenaga kerja harus menjadi bagian dari agenda pembangunan.
Sebab, ketika industri energi dan investasi strategis mulai berkembang, kebutuhan terhadap tenaga kerja terampil juga akan meningkat.
Generasi muda Maluku harus memiliki kesempatan untuk mengisi berbagai posisi dan mengambil bagian dalam aktivitas industri tersebut.
Jangan sampai sumber daya alam Maluku memberikan keuntungan besar bagi perekonomian, investasi terus berdatangan, dan industri semakin berkembang, tetapi masyarakat lokal justru tidak memiliki kemampuan untuk terlibat di dalamnya.
Karena itu, pembangunan infrastruktur harus berjalan seiring dengan peningkatan kualitas manusia.
Ambon dapat mengambil peran sebagai pusat pendidikan dan pengembangan kompetensi yang mempersiapkan tenaga kerja untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri di Maluku.
Selain infrastruktur dan sumber daya manusia, Bodewin juga menekankan pentingnya memperkuat potensi ekonomi lokal.
Perikanan, pertanian, rempah-rempah, pariwisata, serta ekonomi kreatif harus mendapatkan perhatian dalam mempersiapkan Ambon menyambut peningkatan aktivitas investasi.
Ketersediaan bahan kebutuhan pokok juga perlu diperhitungkan. Sebab, bertambahnya jumlah pekerja, tenaga ahli, dan pelaku usaha yang beraktivitas di Maluku tentu akan meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai produk dan layanan.
Kondisi tersebut harus dibaca sebagai peluang bagi masyarakat untuk memperluas kegiatan usaha.
Produk kuliner khas Maluku, kerajinan, fesyen, hasil perikanan, hingga berbagai produk UMKM dapat menjadi bagian dari rantai ekonomi yang tumbuh bersama pengembangan industri energi.
Dengan persiapan yang tepat, investasi besar dapat membuka pasar yang lebih luas bagi produk-produk lokal.
Inilah yang diharapkan menjadi jembatan antara pertumbuhan industri berskala besar dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Gagasan yang disampaikan Bodewin dalam Maluku Business Forum 2026 bukan sekadar berbicara tentang bagaimana Ambon mendapatkan manfaat dari pengembangan Blok Masela.
Lebih jauh, gagasan tersebut merupakan ajakan untuk mempersiapkan Kota Ambon menghadapi perubahan peta ekonomi Maluku.
Peluang besar tidak akan memberikan hasil apabila tidak disambut dengan kesiapan infrastruktur, kebijakan yang mendukung investasi, peningkatan kualitas pelayanan, penguatan sektor usaha lokal, dan pembangunan sumber daya manusia.
Karena itu, pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, perbankan, serta seluruh pemangku kepentingan perlu membangun kolaborasi agar Ambon tidak hanya menjadi penonton dalam perkembangan industri energi Maluku.
Maluku memiliki kekayaan alam yang menjadi modal penting bagi masa depan daerah. Namun, kekayaan tersebut membutuhkan konektivitas, pelayanan, dan kerja sama antardaerah agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas.
Ambon mungkin bukan tempat utama sumber energi itu dihasilkan. Tetapi kota ini memiliki peluang untuk menjadi tempat berbagai aktivitas ekonomi bertemu, bergerak, dan menciptakan nilai tambah.
Sebab, dalam pembangunan ekonomi modern, menjadi pusat penghubung terkadang sama pentingnya dengan menjadi pusat produksi.
Dan jika peluang ini dipersiapkan dengan sungguh-sungguh, Ambon bukan hanya akan dikenal sebagai ibu kota Provinsi Maluku, tetapi juga berpeluang tumbuh menjadi salah satu jantung penggerak ekonomi kawasan timur Indonesia. (Za)
