SBT, globaltimurnn.com - Menanggapi sorotan terkait kondisi sejumlah bangunan di SMP Negeri 31 SBT yang terlihat mengalami kerusakan, Kepala Sekolah SMP Negeri 31 SBT Umia Holle memberikan penjelasan mengenai kondisi bangunan, keterbatasan anggaran pemeliharaan, serta tantangan geografis sekolah yang berada di kawasan dekat pantai.
Menurut Holle kepada awak media di Bula, lewat pesan whatsaap-nya saptu 12/09/26 mengatakan" posisi sekolah yang berdekatan dengan laut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan material bangunan, khususnya seng, lebih cepat mengalami kerusakan.
“Posisi bangunan sekolah dekat pantai, Uap air laut mengendap di seng bangunan sehingga akhirnya cepat rusak, Hampir setiap tahun seng-seng bangunan mengalami kerusakan,” jelasnya.
Ia mengatakan, pihak sekolah selama ini tetap melakukan pemeliharaan, namun perbaikan dilakukan secara bertahap menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
“Tahun kemarin sudah kami ganti seng yang memang perlu diganti dan dilakukan pengecatan, Tetapi perbaikannya sesuai dengan anggaran dan dilakukan per tahap,” ungkapnya.
Bukan Anggaran Rehabilitasi Total
Kepala sekolah menegaskan bahwa anggaran yang digunakan bukan merupakan anggaran khusus untuk rehabilitasi total bangunan sekolah.
Karena itu, menurutnya, pihak sekolah tidak bisa melakukan pembongkaran dan perbaikan seluruh bangunan sekaligus.
“Ini bukan anggaran khusus untuk rehab total sehingga harus bongkar semuanya, Kami perbaiki bagian sebelah terlebih dahulu, kemudian bagian lainnya dilakukan pada tahap berikutnya,” katanya.
Persoalan semakin berat ketika memasuki musim timur, Bangunan yang baru saja diperbaiki maupun bagian yang belum sempat diperbaiki sama-sama kembali berhadapan dengan kondisi cuaca dan lingkungan laut.
“Musim timur tidak melihat mana yang baru diperbaiki dan mana yang belum, Kondisi bangunan bisa kembali rusak setelah menghadapi musim timur,” ujarnya.
Ada Bangunan MCK yang Tidak Lagi Berfungsi
Selain persoalan seng dan bangunan lama, pihak sekolah juga menjelaskan bahwa terdapat bangunan MCK yang saat ini sudah tidak terpakai atau tidak lagi berfungsi.
Kondisi tersebut, menurut pihak sekolah, perlu dilihat dalam konteks keseluruhan kondisi sarana dan prasarana sekolah, termasuk keterbatasan anggaran pemeliharaan.
Kepala sekolah berharap masyarakat tidak hanya melihat kondisi fisik bangunan yang rusak, tetapi juga memahami proses pemeliharaan yang selama ini dilakukan oleh pihak sekolah.
Kepala Sekolah: Jangan Ukur Kemampuan dari Titik Lemah
Dalam penjelasannya, kepala sekolah juga menyampaikan bahwa kondisi bangunan yang rusak tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai kemampuan seorang kepala satuan pendidikan.
“Jangan mengukur kemampuan dan kesalahan seseorang lewat bangunan yang rusak dan titik kelemahan seseorang,” tegasnya.
Ia mengaku telah melewati perjalanan panjang sejak diberikan tanggung jawab memimpin satuan pendidikan tersebut, Menurutnya, ketika mulai memimpin, sekolah menghadapi berbagai keterbatasan, termasuk persoalan tenaga pendidik.
“Di dalamnya tidak ada guru PNS. Ada beberapa guru PNS atau ASN yang ditugaskan, tetapi tidak lama kemudian mengurus pindah karena kondisi sekolah membutuhkan mental yang kuat,” jelasnya.
Untuk menjaga keberlangsungan proses belajar mengajar, pihak sekolah kemudian merekrut tenaga guru honorer yang memiliki latar belakang pendidikan S1 kependidikan.
“Mulai dari satu, dua guru honorer sampai sepuluh bahkan lebih. Ada anak-anak negeri dan juga dari luar, Sekarang beberapa di antaranya sudah berubah status menjadi PPPK,” ungkapnya.
Sekolah Berupaya Menambah Sarana Baru
Kepala sekolah juga menyebutkan bahwa tantangan bukan hanya berkaitan dengan bangunan lama. Persoalan lahan dan posisi sekolah turut menjadi kendala yang harus dihadapi.
Namun, melalui kebijakan dan inisiatif yang dilakukan, pihak sekolah berupaya menata kondisi lahan sehingga dapat dimanfaatkan untuk pembangunan sarana baru.
“Dengan kebijakan dan inisiatif, kami berupaya membuat kondisi lahan bisa mendukung dan dapat ditempati dua bangunan baru, yakni Laboratorium IPA dan Laboratorium TIK,” katanya.
Dua bangunan tersebut berada di sisi kiri dan kanan bangunan lama yang kini menjadi perhatian publik.
Perlu Dilihat Secara Utuh
Pihak sekolah berharap persoalan kondisi bangunan SMP Negeri 31 SBT tidak hanya dilihat dari foto atau bagian bangunan yang mengalami kerusakan, tetapi juga dari faktor lingkungan, usia bangunan, musim, serta kemampuan anggaran pemeliharaan.
“Bangunan dekat pantai, uap air laut membuat seng cepat rusak. Kami tidak bisa menjamin setiap tahun bangunan akan tetap baik, apalagi ketika musim timur. Pemeliharaan dilakukan bertahap. Ini bukan bantuan rehabilitasi yang mengharuskan seluruh bangunan diperbaiki total,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menjadi tanggapan pihak sekolah atas sorotan mengenai kondisi bangunan SMP Negeri 31 SBT.
Di sisi lain, kondisi fisik sekolah tetap menjadi perhatian yang perlu mendapat tindak lanjut dari pemerintah daerah maupun instansi terkait, Pemeriksaan teknis, pemetaan kebutuhan rehabilitasi dan dukungan anggaran menjadi penting agar persoalan kerusakan bangunan tidak terus berulang setiap tahun.
Dengan demikian, persoalan SMP Negeri 31 SBT bukan sekadar soal siapa yang harus disalahkan, tetapi bagaimana pemerintah dan pihak sekolah dapat memastikan lingkungan belajar yang aman, layak, dan nyaman bagi para siswa. [tim]


