Sebelum BSAN Digaungkan, SMA Negeri 4 Lateri Sudah Lama Merawat Budaya - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Senin, 21 September 2026

Sebelum BSAN Digaungkan, SMA Negeri 4 Lateri Sudah Lama Merawat Budaya


Ambon
, Globaltimurnn.com — Di SMA Negeri 4 Lateri, keberagaman bukan sekadar kata yang tertulis dalam program sekolah, Ketika siswa Muslim merayakan Idulfitri, teman-teman mereka yang Kristen ikut memberikan perhatian. Ketika kegiatan keagamaan berlangsung, sekolah memberikan ruang yang sama. Perbedaan agama tidak menjadi sekat dalam pergaulan siswa.


Budaya seperti itu telah berlangsung jauh sebelum Pemerintah Provinsi Maluku resmi meluncurkan Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN), Kepala SMA Negeri 4 Lateri, Mezack Tentua, S.Th., M.Pd.K., mengatakan kehidupan yang menghargai keberagaman memang telah menjadi bagian dari karakter sekolah tersebut sejak lama, Hal itu disampaikannya saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (21/09/2026).


Mezack mengungkapkan, SMA Negeri 4 Lateri, yang dahulu dikenal sebagai SMA Lateri, memiliki sejarah panjang sebagai sekolah yang dihuni peserta didik dari berbagai latar belakang agama dan wilayah, Sebelum konflik sosial di Maluku, kata dia, siswa Muslim dan Kristen sama-sama banyak menempuh pendidikan di sekolah tersebut, Bahkan, siswa datang dari sejumlah wilayah seperti Tulehu, Tial hingga Hitu.


Menurutnya, pengalaman panjang tersebut membuat keberagaman bukan sesuatu yang harus diajarkan hanya melalui teori, Sekolah justru berusaha menjadikan toleransi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, Saat ini, terdapat lebih dari 20 siswa Muslim yang bersekolah di SMA Negeri 4 Lateri.


Meski jumlah tersebut tidak sebanyak siswa Kristen, kondisi itu tidak membuat kehidupan sekolah terkotak berdasarkan agama, Sebaliknya, perbedaan tersebut terus dirawat melalui berbagai kegiatan bersama, Pada momentum Idulfitri, misalnya, sekolah memberikan ruang untuk pelaksanaan halal bihalal dan silaturahmi. Siswa Muslim juga mendapatkan perhatian dari teman-teman mereka.


Bahkan, menurut Mezack, dalam salah satu bentuk kegiatan tersebut, siswa Kristen turut mengoordinasikan pemberian bingkisan kepada siswa Muslim, Bagi dia, tindakan sederhana itu justru menjadi pelajaran penting bagi peserta didik, Dengan cara seperti itu, siswa tidak hanya memahami keberagaman sebagai sebuah konsep, tetapi mengalami sendiri bagaimana menghargai orang lain yang memiliki keyakinan berbeda.


Mezack melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar dalam kehidupan, Menurutnya, masyarakat tidak mungkin dilepaskan dari keberagaman agama, budaya dan latar belakang.


Karena itu, perbedaan tidak semestinya dijadikan sumber pertentangan, Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi kekayaan apabila setiap orang mampu mengelolanya menjadi kekuatan untuk hidup bersama, Ia menyebut kekayaan tersebut dapat menjadi kekuatan persekutuan apabila masyarakat mampu membangun kehidupan yang saling menghormati.


Bagaimana kekayaan itu bisa dimanfaatkan untuk menjadi kekuatan. Kekuatan apa? Kekuatan persekutuan. Hidup bersama, hidup berdampingan, Prinsip tersebut pula yang berusaha dijaga di lingkungan SMA Negeri 4 Lateri, BSAN tidak hanya berbicara mengenai toleransi, Bagi Mezack, makna sekolah aman juga menyentuh hubungan sosial antara peserta didik.


Sekolah harus menjadi tempat yang membuat siswa merasa nyaman untuk belajar, berinteraksi dan berkembang, Karena itu, berbagai bentuk perundungan atau bullying, saling mengejek, intimidasi maupun tindakan yang dapat mempermalukan siswa tidak boleh dibiarkan, Menurutnya, menciptakan lingkungan seperti itu membutuhkan keterlibatan seluruh warga sekolah.


Guru dan siswa memiliki peran masing-masing untuk menjaga agar suasana sekolah tetap kondusif, Apalagi, keberagaman tidak hanya terlihat dari latar belakang siswa. Di kalangan guru pun terdapat perbedaan agama, Namun, perbedaan tersebut justru menjadi bagian dari kehidupan bersama yang harus dirawat.


Peluncuran BSAN oleh Pemerintah Provinsi Maluku menjadi momentum untuk semakin memperkuat apa yang selama ini telah dilakukan sekolah, Mezack berharap program tersebut tidak berhenti sebatas kegiatan seremonial atau kebijakan di atas kertas, Ia ingin nilai keamanan, kenyamanan, keramahan dan toleransi terus menjadi kebiasaan di lingkungan sekolah, Menurutnya, pendidikan karakter tidak dapat dibangun hanya melalui aturan, Karakter tumbuh dari kebiasaan, keteladanan dan cara seluruh warga sekolah memperlakukan satu sama lain.


Karena itu, keberagaman yang ada di SMA Negeri 4 Lateri justru menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk mengenal kehidupan masyarakat yang sesungguhnya, Bagi Mezack, perbedaan bukan sesuatu yang harus dihapuskan, Perbedaan harus diterima, dihargai dan ditempatkan sebagai bagian dari kekayaan kehidupan bersama.


Di SMA Negeri 4 Lateri, BSAN mungkin baru saja diluncurkan. Tetapi budaya aman, nyaman dan saling menghargai telah lebih dulu tumbuh dari kebiasaan sederhana: memberi ruang, menghormati perbedaan dan belajar hidup bersama. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT