Gerard Wakano : Ketika Alam Seram Dan Maluku Secara Umum Melahirkan Api-nya Sendiri - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Selasa, 29 September 2026

Gerard Wakano : Ketika Alam Seram Dan Maluku Secara Umum Melahirkan Api-nya Sendiri


Ambon
, globaltimurnn.com - Asap yang membumbung di atas tanah Seram beberapa waktu lalu tidak hanya menghanguskan batang-batang pohon di kebun warga, asap itu telah membakar rasa percaya. 


Gerard Wakano adalah salah satu tokoh masyarakat Maluku asal pulau Seram yang adalah satu - satunya pemegang license AFF international kepada sejumlah media di Ambon mengungkapkan bahwa" Di balik abu yang tersisa, luka sosial merebak cepat, Warga Desa Lisabata memandang ke arah Desa Patahue dengan prasangka tajam, meyakini ada tangan jahat yang melemparkan pemantik. 


Sementara itu, warga Patahue mengelak dengan getir, bersumpah di bawah langit Maluku bahwa tak seorang pun dari mereka yang menyulut api.


Kemarahan yang menumpuk akhirnya meledak menjadi aksi pembalasan, Pohon-pohon mati, kebun-kebun hancur, dan dua desa tetangga yang tadinya hidup berdampingan kini dipisahkan oleh tembok kecurigaan.


Namun, di tengah hembusan angin malam yang membawa aroma hangus di Pulau Seram, sebuah pertanyaan mendasar harus kita ajukan dengan dingin dan jernih. Ucap Wakano kepada wartawan diambon


Bagaimana jika api yang menghancurkan kebun-kebun itu tidak pernah dilahirkan oleh jemari manusia? Tanya Wakano tegas


Bagaimana Api Lahir Tanpa Pemantik

Dalam dunia sains dan penyelidikan kebakaran hutan, ada sebuah fenomena kuno yang kerap mengecoh manusia, Spontaneous Combustion atau pembakaran spontan. Sebut Wakano


Ini adalah peristiwa kimiawi di mana suatu bahan dapat menyala dengan sendirinya, tanpa percikan api, tanpa korek gas, dan tanpa campur tangan manusia sama sekali. Ucapnya


Dikatakan-nya" Proses ini dimulai dari reaksi kimia yang menghasilkan panas (oksidasi eksotermik) di tempat yang terisolasi. 


Ketika panas yang dihasilkan oleh bahan alam tidak dapat melarikan diri ke udara bebas, suhu di dalam tumpukan tersebut akan terus naik, Begitu suhu mencapai titik nyala (autoignition temperature), bahan tersebut akan membakar dirinya sendiri. Jelas Wakano


Wakano juga menyampaikan" Bagi masyarakat di Maluku, fenomena ini sebenarnya tidak asing jika kita membedah isi perut bumi dan kebun kita sendiri" Ampas sagu (ela sagu) misalnya dan tumpukan daun yang membusuk. 


Masyarakat Seram paham betul betapa hangatnya ampas sagu basah atau tumpukan daun gugur yang terfermentasi, Ketika mikroorganisme bekerja membusukkan tumpukan organik yang tebal di bawah naungan pohon, mereka melepaskan energi panas. Tutur Wakano


Di musim kemarau yang terik, bagian dalam tumpukan serasah basah ini bisa menjadi sangat panas, mengeringkan lapisan luarnya dari dalam, hingga akhirnya melepaskan asap dan membakar dirinya sendiri.


Pirit dan Mineral Sulfida dalam Batuan

Bumi Pulau Seram kaya akan struktur geologi yang unik, Di dalam tanah dan batuan tertentu terdapat kandungan pirit (besi sulfida) sering disebut "emas palsu". 


Ketika pirit yang berada di dekat permukaan tanah terpapar udara lembap dan oksigen setelah hujan, terjadi reaksi oksidasi yang sangat panas, Jika pirit ini bersentuhan dengan daun kering di atasnya, tanah itu bisa membara tanpa ada yang menyulutnya.

ini ilsutrasi gambar bila benda terbakar dengan sendirinya

Batubara Purba dan Fosil Organik

Di beberapa wilayah daratan Seram, tersimpan lapisan batubara purba rapuh di bawah lapisan tanah dangkal, Batubara muda ini memiliki sifat menyerap oksigen dengan sangat cepat, Proses oksidasi lambat ini secara perlahan menaikkan suhu tanah hingga mencapai titik bakar, melahirkan api yang tiba-tiba keluar dari celah tanah.


Fosforus Putih Alami

Dari hasil pelapukan zat organik tulang hewan atau endapan mineral kuno, senyawa fosforus putih dapat terbentuk dalam jumlah kecil, Senyawa ini memiliki karakter yang sangat agresif, ia dapat bereaksi dan menyala secara otomatis begitu bersentuhan langsung dengan udara kering.


Mengapa Seram Begitu Rentan?

Pulau Seram bukan sekadar hamparan hutan hijau, pulau ini adalah laboratorium alam yang aktif, Lanskap geologinya yang kaya akan mineral sulfida, dikombinasikan dengan sisa-sisa pengolahan sagu tradisional serta tumpukan serasah tebal di perkebunan, menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya spontaneous combustion.


Saat musim beralih, ketika kelembapan tinggi akibat pembusukan mendadak diterpa panas terik kemarau yang menyengat tumpukan bahan organik di kebun warga berubah menjadi "bom waktu" alami. 


Api bisa muncul dari dalam tumpukan tanah, merayap diam-diam di bawah dedaunan, lalu tiba-tiba berkobar di atas permukaan.


Bagi mata awam, terbakarnya kebun secara tiba-tiba tentu tampak seperti ulah orang yang sengaja melintas dan melempar puntung rokok atau obor. Namun, ilmu sains pembakaran membuktikan sebaliknya" bumi Seram sanggup melahirkan apinya sendiri.


Dua Desa, Satu Duka: 

Menghentikan Lingkaran Prasangka, Melihat konflik antara Desa Lisabata dan Desa Patahue dari sudut pandang ini mengundang rasa haru yang mendalam. 


Warga Lisabata berduka karena kebun tempat mereka menggantungkan hidup hangus dilalap api, Rasa kehilangan itu nyata, dan kemarahan mereka adalah reaksi manusiawi atas musibah yang menghancurkan sumber penghidupan.


Di sisi lain, warga Patahue menanggung beban mental yang tidak kalah beratnya, dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah mereka perbuat, lalu menerima aksi pembalasan atas dosa yang tidak pernah ada.


Ketika dua desa yang terikat ikatan persaudaraan semenjak nenekmoyang ini saling menunjuk, sebenarnya kedua belah pihak sedang sama-sama menjadi korban, Korban dari musibah alam yang tak terlihat, dan korban dari ketahuannya kita akan rahasia kimia bumi tempat kita berpijak.


Apakah adil jika hubungan persaudaraan yang telah dibangun ratusan tahun oleh para leluhur hancur hanya karena reaksi kimia di dalam tumpukan ampas sagu dan tanah pirit? Tanya Wakano heran


Sudah saatnya amarah disiram dengan air kearifan dan ilmu pengetahuan, Pertikaian ini tidak boleh dilanjutkan, karena tidak ada musuh yang perlu dikalahkan, dan tidak ada kejahatan manusia yang perlu dibalaskan.


Kebun yang terbakar bisa ditanami kembali, Pohon sagu, cengkeh, dan pala yang hangus akan bertunas ulang seiring berjalannya waktu dan bergantinya musim, Namun, luka akibat perselisihan antar-saudara bisa mengendap bertahun-tahun jika tidak segera disembuhkan.


Di akhir keterangan-nya Wakano mengajak basudara Lisabata dan Patahue, mari berdamai, Bukan karena kita kalah, tetapi karena kita menang, ya menang atas ketidaktahuan, menang atas amarah, dan menang atas diri kita sendiri. Pungkasnya sambil mengajak  (Rdks) 

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT