Dari Balik Jeruji, Keripik Pisang Rutan Ambon Tumbuhkan Semangat Mandiri Warga Binaan - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar

Minggu, 06 September 2026

Dari Balik Jeruji, Keripik Pisang Rutan Ambon Tumbuhkan Semangat Mandiri Warga Binaan


Ambon
, Globaltimurnn.com — Pisang mungkin terlihat sederhana. Namun di tangan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon, buah tersebut berubah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar camilan.


Ia menjadi keripik pisang, dikemas, dipasarkan dan menghasilkan uang. Lebih jauh lagi, proses itu menjadi ruang belajar bagi warga binaan untuk mengenal keterampilan, tanggung jawab, kerja sama hingga bagaimana membangun sebuah usaha.


Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian Rutan Kelas IIA Ambon, yang terus dikembangkan untuk memberikan bekal keterampilan bagi warga binaan sebelum nantinya kembali ke tengah masyarakat.


Pada Senin (07/09/2026), aktivitas produksi keripik pisang kembali dilakukan. Warga binaan terlibat langsung sejak proses menyiapkan bahan, mengolah pisang, menggoreng, mengemas hingga memasarkan produk.


Bahan yang sederhana itu kemudian diolah menjadi keripik dengan tekstur renyah dan dua pilihan rasa, yakni original dan cokelat.


Yang menarik, hasil produksinya mulai mendapatkan respons positif. Dalam penjualan terbaru, sebanyak 30 bungkus keripik pisang berhasil terjual.


Sebanyak 14 bungkus varian cokelat dijual dengan harga Rp10.000 per bungkus, menghasilkan Rp140.000. Sementara 16 bungkus varian original dengan harga Rp5.000 per bungkus menghasilkan Rp80.000.


Dengan demikian, total penjualan mencapai Rp220.000 dari 30 bungkus keripik pisang.


Angka tersebut mungkin belum besar. Namun bagi warga binaan yang terlibat, setiap bungkus yang terjual memiliki arti tersendiri. Ada rasa bangga karena sesuatu yang mereka kerjakan dengan tangan sendiri mendapat apresiasi dari masyarakat.


Kasubsi Bimbingan Kerja Rutan Kelas IIA Ambon, Ode Ena, mengatakan pembuatan keripik pisang tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan produk.


Di balik kegiatan tersebut terdapat proses pembelajaran yang lebih luas. Warga binaan diajak memahami bagaimana sebuah produk dibuat dengan memperhatikan kualitas, kemudian dikemas dan memiliki nilai jual.


“Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya belajar membuat keripik pisang, tetapi juga belajar bagaimana menjaga kualitas produk, mengemas dengan baik, menentukan harga, serta memasarkannya,” jelas Ode Ena.


Menurutnya, keterampilan sederhana yang diperoleh selama berada di Rutan dapat menjadi modal penting ketika warga binaan nantinya kembali ke masyarakat.


“Hal-hal sederhana seperti ini penting sebagai bekal mereka untuk bisa lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat,” tambahnya.


Di titik inilah pembinaan kemandirian menemukan maknanya. Warga binaan tidak hanya menghabiskan waktu menjalani masa pidana, tetapi juga diberi kesempatan untuk belajar dan mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah bebas.


Bagi salah seorang warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut, Clifort, pengalaman membuat keripik pisang memberikan sesuatu yang baru.


Ia mengaku senang karena dapat terlibat langsung dalam seluruh proses produksi. Mulai dari menyiapkan pisang hingga melihat produk yang dibuatnya terjual kepada masyarakat.


“Awalnya kami belajar dari proses sederhana, mulai dari menyiapkan pisang, mengolahnya, sampai menjadi keripik dan mengemasnya. Saya senang karena hasil yang kami buat ternyata disukai dan dibeli oleh masyarakat,” ujar Clifort.


Bagi Clifort, keberhasilan menjual produk tersebut menjadi penyemangat untuk terus belajar.


Ia tidak hanya mendapatkan pengalaman membuat makanan, tetapi juga belajar mengenai kerja sama, menjaga kualitas dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan.


Pengalaman itu bahkan membuatnya mulai membayangkan kehidupan setelah kembali ke luar Rutan.


“Saya berharap keterampilan yang saya dapat di sini bisa menjadi bekal ketika nanti kembali ke luar. Kalau ada kesempatan, saya ingin bisa membuat usaha sendiri dan menerapkan keterampilan yang sudah dipelajari selama mengikuti pembinaan,” katanya.


Harapan tersebut menjadi salah satu tujuan penting dari pembinaan kemandirian: menghadirkan bekal yang dapat dibawa warga binaan ketika masa pidana telah selesai.


Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, menegaskan bahwa pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan.


Menurutnya, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga perlu diberikan kesempatan untuk memperoleh keterampilan dan pengalaman yang dapat membantu mereka beradaptasi ketika kembali ke tengah masyarakat.


“Pembinaan kemandirian menjadi salah satu upaya kami untuk memberikan bekal keterampilan kepada warga binaan. Melalui pembuatan keripik pisang ini, mereka dapat belajar mengolah produk, bekerja secara bersama-sama, sekaligus memahami proses produksi hingga pemasaran,” ujar Meta Putra.


Ia menilai hasil penjualan produk menjadi salah satu bentuk motivasi bagi warga binaan untuk terus berkarya.


Dukungan masyarakat terhadap produk hasil pembinaan juga dinilai penting. Ketika masyarakat membeli dan memberikan apresiasi terhadap produk tersebut, secara tidak langsung mereka ikut memberikan ruang bagi warga binaan untuk tumbuh dan membangun kepercayaan diri.


Ke depan, Rutan Kelas IIA Ambon berkomitmen mengembangkan berbagai program pembinaan yang produktif sesuai dengan potensi warga binaan.


Keripik pisang menjadi salah satu produk yang diharapkan dapat terus dikembangkan, baik dari sisi rasa, variasi produk, kemasan maupun strategi pemasaran.


Sebab, perjalanan sebuah produk tidak berhenti ketika keripik selesai digoreng dan dimasukkan ke dalam kemasan. Ada proses panjang yang harus dipelajari: bagaimana menjaga kualitas, menghitung biaya, menentukan harga, memasarkan dan mempertahankan kepercayaan konsumen.


Di balik proses sederhana itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang dibangun.


Keripik pisang Rutan Ambon akhirnya bukan hanya tentang 30 bungkus yang terjual dan pendapatan Rp220.000. Ia menjadi cerita tentang warga binaan yang diberi kesempatan untuk belajar, bekerja, menghasilkan sesuatu dan kembali menatap masa depan.


Dari sebuah pisang yang sederhana, tumbuh harapan bahwa ketika waktunya kembali ke masyarakat tiba, mereka tidak hanya membawa cerita tentang masa lalu, tetapi juga membawa keterampilan, pengalaman dan keberanian untuk memulai kehidupan yang lebih mandiri.


Melalui pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan, Rutan Kelas IIA Ambon terus berupaya menjadikan proses pemasyarakatan bukan sekadar tentang menjalani masa pidana, tetapi juga tentang mempersiapkan manusia untuk kembali, diterima dan mampu berkarya di tengah masyarakat. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT