Ambon, Globaltimurnn.com — Pesan perdamaian menggema dari Masjid Jamiah Negeri Hitumesing. Ketua Yayasan Ar-Rahman Ambon sekaligus Penasihat DPP Front Pemuda Muslim Maluku (FPMM), Habib Rifqi Alhamid, S.Kom., M.Si., bersama Ketua Umum DPP FPMM Umar Kei mengajak masyarakat Negeri Hitumesing dan Negeri Morela mengakhiri perselisihan, membuang dendam, dan kembali merajut persaudaraan.
Seruan itu disampaikan saat keduanya mengunjungi masyarakat terdampak kebakaran rumah akibat persoalan antarkampung antara Hitumesing dan Morela, Kamis (27/08/2026).
Kunjungan tersebut diawali dengan koordinasi bersama para pemimpin negeri dan tokoh masyarakat, kemudian dilanjutkan dengan penyerahan bantuan kepada warga yang rumahnya terdampak kebakaran.
Namun, bagi Habib Rifqi dan Umar Kei, bantuan tersebut bukanlah satu-satunya tujuan kedatangan mereka. Lebih jauh, kehadiran FPMM diharapkan dapat membuka ruang komunikasi dan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menghentikan konflik agar tidak berkembang menjadi dendam berkepanjangan.
Habib Rifqi menegaskan, FPMM memiliki komitmen untuk selalu hadir di tengah masyarakat Maluku setiap kali terjadi persoalan yang membutuhkan kepedulian dan upaya bersama untuk menjaga kedamaian.
“Kami Front Pemuda Muslim Maluku, saya selaku Penasihat DPP bersama Ketua Umum, sudah berkomitmen bahwa apa pun yang terjadi di Maluku, kami ada untuk Maluku. FPMM hadir untuk Maluku,” tegasnya.
Ia mengatakan, keterlibatan FPMM dalam persoalan sosial dan konflik masyarakat bukan baru kali ini dilakukan. Sebelumnya, FPMM juga turut hadir dalam sejumlah persoalan di Maluku, termasuk ketika terjadi persoalan di Hunuth maupun konflik antara Turi dan Hutial.
Ini bukan sekali dua kali. Ketika ada kejadian di Hunuth, kami juga ikut hadir. Ketika ada persoalan antara Turi dan Hutial, kami juga hadir. Sekarang, ketika terjadi persoalan di Hitumesing dan Morela, kami juga turut hadir menyampaikan bantuan, ujarnya.
Habib Rifqi menyebut bantuan yang diserahkan merupakan bentuk belasungkawa dan kepedulian kepada masyarakat yang sedang menghadapi ujian.
Ia berharap bantuan tersebut setidaknya dapat meringankan beban para korban, sekaligus menjadi tanda bahwa masyarakat yang sedang menghadapi persoalan tidak berjalan sendiri.
“Kami datang untuk menyampaikan bantuan sebagai bentuk belasungkawa. Harapan kami, kehidupan antarkampung yang sedang bertikai ini dapat kembali membaik dan hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi,” katanya.
Sebelum bantuan diserahkan, Habib Rifqi bersama Umar Kei melakukan komunikasi dengan Raja Hitumesing, Raja Morela, Ketua Latupatti Provinsi Maluku, serta sejumlah pihak terkait.
Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membicarakan kondisi masyarakat sekaligus mencari jalan agar hubungan antarkampung dapat kembali dibangun.
“Kami datang dan langsung berkoordinasi dengan para raja. Ada Raja Hitumesing dan Raja Morela. Kami duduk bersama, kemudian menyerahkan bantuan kepada korban-korban yang rumahnya terbakar agar sedikit bisa membuat mereka tersenyum di saat menghadapi ujian,” tutur Habib Rifqi.
Suasana haru dan penuh pesan persaudaraan kemudian terlihat ketika kegiatan dilanjutkan dengan doa dan saling bersalaman di Masjid Jamiah Negeri Hitumesing.
Habib Rifqi menjadikan momen tersebut sebagai simbol bahwa perselisihan harus dihentikan dan digantikan dengan semangat saling memaafkan.
“Biarkan tempat dan jalan ini menjadi saksi bahwa hari ini kita menunjukkan ketulusan untuk saling memaafkan. Kita buang semua dendam dan kita rajut kembali persaudaraan yang abadi, persaudaraan yang luar biasa,” ungkapnya.
Menurut Habib Rifqi, masyarakat harus menyadari bahwa konflik hanya akan meninggalkan luka apabila tidak segera diselesaikan melalui komunikasi dan sikap saling memaafkan.
Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran Islam, sesama orang beriman merupakan saudara dan ketika terjadi perselisihan, kewajiban bersama adalah mendamaikannya.
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Fa aslihu dzata bainikum, maka damaikanlah antara dua orang yang sedang berselisih,” ujarnya.
Habib Rifqi juga mengajak masyarakat menjadikan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW sebagai momentum untuk memperbanyak kebahagiaan, memperkuat persaudaraan, serta menjauhi tindakan yang dapat melahirkan kesedihan dan permusuhan.
“Di bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, jangan kita membuat sesuatu yang membuat orang lain sedih. Mari kita ciptakan kebahagiaan dan kedamaian,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP FPMM Umar Kei menegaskan bahwa penyelesaian persoalan tidak boleh berhenti pada perbaikan rumah warga yang terdampak.
Menurutnya, kerusakan fisik memang harus dipulihkan, tetapi yang lebih penting adalah memperbaiki hubungan antarmasyarakat agar konflik tidak kembali terulang.
“Saya berharap hari ini bukan hanya rumah-rumah yang dibangun kembali. Setelah rumah dibangun, kita juga harus duduk bersama untuk berdamai,” ujar Umar Kei.
Ia mengingatkan, apabila rumah diperbaiki tetapi akar persoalan tidak diselesaikan, maka konflik berpotensi kembali terjadi.
Kalau habis dibangun kemudian bertikai lagi, lalu terjadi lagi dan dibangun lagi, itu percuma. Karena itu, saya datang bukan hanya memberikan bantuan. Saya meminta agar setelah ini tokoh pemuda, tokoh adat, dan tokoh agama duduk bersama untuk mencari kesimpulan damai, tegasnya.
Umar Kei bahkan mendorong agar proses perdamaian dilakukan di masjid dengan mempertemukan tokoh-tokoh dari kedua negeri.
Kalau kita mau damai, kita pilih masjid. Kita duduk bersama di dalam masjid dan kita nyatakan secara bersama-sama bahwa kita berdamai, katanya.
Ia juga berharap tidak ada lagi rasa sungkan ataupun gengsi antara kedua pihak untuk bertemu. Menurutnya, hubungan kekeluargaan harus menjadi modal utama untuk menyelesaikan persoalan.
“Jangan lagi ada rasa malu untuk bertemu. Kita semua adalah keluarga,” ujarnya.
Umar Kei menyatakan kesiapannya untuk ikut membantu mempertemukan para pihak, termasuk mendorong agar Raja Hitumesing dan Raja Morela dapat duduk bersama dalam satu forum perdamaian.
Seruan yang disampaikan Habib Rifqi dan Umar Kei mendapat penekanan bahwa perdamaian tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui langkah nyata.
Tokoh pemuda, tokoh adat, tokoh agama, serta para pemimpin negeri diharapkan dapat mengambil peran dalam membangun komunikasi dan memastikan masyarakat tidak kembali terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memperkeruh suasana.
Habib Rifqi juga mengingatkan bahwa perubahan menuju kehidupan yang lebih baik harus dimulai dari masyarakat itu sendiri.
Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka terlebih dahulu mengubah keadaan mereka sendiri. Karena itu, perubahan harus kita mulai dari diri kita dan dari masyarakat kita, tegasnya.
Bagi FPMM, momentum kunjungan tersebut diharapkan menjadi awal untuk membuka lembaran baru. Bantuan kepada korban menjadi bentuk kepedulian, sementara doa, saling bersalaman, dan ajakan untuk duduk bersama menjadi simbol kuat bahwa perdamaian masih menjadi harapan bersama.
Habib Rifqi berharap masyarakat Hitumesing dan Morela dapat kembali hidup berdampingan secara aman dan harmonis, tanpa membawa dendam masa lalu kepada generasi berikutnya.
“Insya Allah, ini menjadi awal perdamaian. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan dan menjaga persaudaraan kita semua,” pungkasnya. (Za)
