Jukulele Pung Semua, Ambon Pung Dunia: Wali Kota Bodewin Bidik Rekor MURI 2027 - globaltimurnn.com
Deskripsi gambar


Senin, 31 Agustus 2026

Jukulele Pung Semua, Ambon Pung Dunia: Wali Kota Bodewin Bidik Rekor MURI 2027


Ambon
, Globaltimurnn.com — Semangat menjadikan jukulele sebagai kekuatan budaya sekaligus identitas Kota Ambon kembali ditegaskan Wali Kota Ambon, Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si.


Saat membuka Grand Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon Tahun 2026 di Pattimura Park, Senin (31/08/2026), Bodewin tidak hanya berbicara tentang kompetisi, tetapi juga melemparkan tantangan besar untuk pelaksanaan lomba pada tahun mendatang.


Ia menargetkan agar Grand Final Lomba Jukulele Kota Ambon 2027 dapat dikemas lebih besar dan diarahkan untuk memecahkan rekor MURI, bahkan rekor dunia, melalui keterlibatan pemain jukulele dalam jumlah besar.


“Kalau kita mengaku Jukulele Pung Semua, Ambon Pung Dunia, maka tahun depan kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa jukulele bukan sekadar alat musik biasa di Kota Ambon, tetapi menjadi jiwa dan semangat kita bersama,” kata Bodewin dalam sambutannya.


Menurutnya, target tersebut membutuhkan persiapan sejak dini. Karena itu, ia meminta Dinas Pendidikan, Dinas Pariwisata, sekolah, komunitas musik, hingga seluruh pemain jukulele di Kota Ambon mulai mempersiapkannya secara serius.


“Kalau bisa, tahun depan kita pecahkan rekor MURI atau rekor dunia untuk pemain jukulele terbanyak di Indonesia, dan kalau bisa di dunia,” tegasnya.


Bodewin mengatakan jukulele telah menjadi bagian dari perjalanan budaya masyarakat Ambon. Musik tradisional tersebut tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga merepresentasikan identitas masyarakat dan kekayaan budaya lokal.


Jukulele merupakan salah satu musik tradisional yang tumbuh dan berkembang di Kota Ambon. Musik tradisional ini menggambarkan identitas kita. Karena itu, tanggung jawab kita bersama adalah terus menjaga, melestarikan dan membudayakannya, ujarnya.


Ia menegaskan, status Ambon sebagai bagian dari Jaringan Kota Kreatif UNESCO bidang Musik juga membawa tanggung jawab besar. Predikat tersebut, kata dia, jangan hanya menjadi kebanggaan, tetapi harus diwujudkan melalui program dan gerakan nyata.


Pengakuan itu tidak sekadar pengakuan biasa-biasa saja, tetapi mesti memotivasi kita semua untuk memastikan pengakuan itu bisa kita jaga dan kita kembangkan, katanya.


Sejalan dengan target tersebut, Bodewin meminta agar pengembangan musik dimulai dari lingkungan pendidikan.


Ia secara tegas meminta Dinas Pendidikan bersama Dinas Pariwisata dan pihak terkait untuk segera mencari solusi agar kurikulum musik kembali berjalan di sekolah-sekolah Kota Ambon.


Bahkan, ia memberikan waktu satu bulan untuk memastikan persoalan yang selama ini menjadi kendala dapat diselesaikan.


“Saya minta kurikulum musik kembali dijalankan di seluruh sekolah di Kota Ambon. Tidak ada lagi alasan. Kalau ada masalah, segera cari solusi dan pastikan kurikulum musik terus berjalan,” tegas Bodewin.


Menurutnya, pembinaan sejak bangku sekolah menjadi investasi jangka panjang untuk masa depan Ambon.


Ia optimistis, apabila anak-anak dibina secara konsisten sejak SD dan SMP, maka dalam 10 hingga 20 tahun ke depan Kota Ambon dapat melahirkan musisi-musisi hebat yang mampu tampil di panggung nasional bahkan internasional.


Generasi muda kita harus dibimbing dan dibina dengan metode yang tepat, salah satunya melalui kurikulum musik di sekolah-sekolah SD dan SMP, jelasnya.


Bodewin juga mengaitkan langkah tersebut dengan momentum menuju Indonesia Emas 2045.


Sekarang tahun 2026, masih ada 19 tahun menuju Indonesia Emas 2045. Kita harus memastikan anak-anak kita yang sekarang ada di SD dan SMP pada 2045 nanti mengisi Indonesia Emas bukan sebagai penonton, tetapi sebagai pelaku, katanya.


Lebih jauh, Bodewin mengingatkan bahwa esensi lomba bukan sekadar mencari siapa yang menjadi juara.


Menurutnya, kompetisi merupakan proses untuk mengukur perkembangan, melatih mental, membangun kedisiplinan, serta mengajarkan anak-anak untuk bekerja sama.


Ia bahkan menjadikan harmoni dalam permainan jukulele sebagai gambaran kehidupan.


“Tidak ada harmoni yang tercipta kalau masing-masing punya ego. Tidak ada harmoni yang tercipta kalau satu mau lebih dari yang lain,” ungkapnya.


Karena itu, ia berharap peserta dapat mengambil pelajaran penting dari setiap proses perlombaan, yakni mampu bekerja sama, mengendalikan ego dan menciptakan harmoni.


“Paling tidak kita memaknai final jukulele ini sebagai bagian dari usaha untuk anak-anak mengerti dan memaknai hidup: bekerja sama, tahan ego dan ciptakan harmoni,” tuturnya.


Bodewin juga berpesan kepada peserta yang nantinya belum berhasil meraih juara agar tidak berhenti berlatih.


Menurutnya, kekalahan bukan akhir dari perjalanan, sementara kemenangan juga bukan alasan untuk berhenti berkembang.


“Kalau kita gagal, terus berusaha supaya bisa berhasil. Kalau sudah berhasil, jangan menjadikan itu sebagai akhir dari segala-galanya lalu memudarkan semangat kita untuk terus berlatih,” pesannya.


Pemkot Dorong Generasi Muda Terbiasa Berkompetisi

Wali Kota juga mendorong agar semangat kompetisi terus digerakkan di berbagai bidang.


Tidak hanya musik, tetapi juga olahraga, seni, pendidikan, keagamaan dan bidang lainnya.


Menurut Bodewin, generasi muda yang terbiasa mengikuti kompetisi akan memiliki mental untuk menghadapi tantangan, sekaligus belajar menghargai orang lain.


“Biasakan semua anak-anak di kota ini terlibat dalam kompetisi. Kalau itu terjadi, tunggu waktu saja untuk Ambon ini mendunia,” ujarnya.


Ia menyebut berbagai kegiatan yang telah digelar di Kota Ambon merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem kompetisi bagi generasi muda.


Baginya, kegiatan tersebut bukan semata-mata untuk menentukan siapa yang terbaik, tetapi menjadi ruang pembentukan karakter dan sportivitas.


Dalam kesempatan tersebut, Bodewin menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan lomba.


Apresiasi diberikan kepada para camat, kepala desa, raja, lurah, dewan juri, Tim Penggerak PKK Kota Ambon, serta seluruh pihak yang terlibat dalam proses lomba mulai dari tingkat kecamatan hingga tingkat kota.


Ia menilai, berbagai kegiatan besar tidak selalu harus dilakukan dengan fasilitas yang besar.


Menurutnya, pemerintah dan masyarakat cukup konsisten melakukan hal-hal kecil yang memiliki dampak besar bagi kemajuan kota.


“Kita tidak dituntut membangun gedung yang megah atau melakukan hal-hal yang luar biasa. Cukup melakukan hal-hal kecil saja yang berdampak besar. Itu yang menjadi tugas kita hari ini,” katanya.


Bodewin juga menyinggung capaian Kota Ambon yang baru saja meraih Juara I tingkat nasional kategori kota dalam Financial Literacy Award 2026.


Capaian tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kerja keras dan kolaborasi dapat menghasilkan prestasi yang membanggakan.


Menutup sambutannya, Bodewin meminta seluruh peserta yang merupakan perwakilan terbaik dari masing-masing kecamatan tampil maksimal di babak final.


Ia meminta anak-anak tidak terlalu terbebani dengan hasil akhir.


Anak-anak sekalian adalah yang terbaik dari masing-masing kecamatan. Tunjukkan performa yang terbaik di sini. Kalau menang itu urusan berikut. Yang penting sudah melakukan yang terbaik, pesannya.


Menurutnya, tugas manusia adalah berusaha dan memberikan yang terbaik, sedangkan hasil akhirnya diserahkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.


Bodewin kemudian mengajak seluruh masyarakat menyambut HUT ke-451 Kota Ambon pada 7 September 2026 dengan semangat kebersamaan.


Keterbatasan bukan halangan bagi kita. Yang menjadi kekuatan kita adalah motivasi dari diri kita sendiri. Lakukan yang terbaik, karena yakinlah Tuhan memberkati setiap usaha terbaik yang kita lakukan, tandasnya.


Dengan memohon tuntunan dan penyertaan Tuhan Yang Maha Kuasa, Grand Final Lomba Jukulele Tingkat Kota Ambon Tahun 2026 resmi dibuka. (Za)

Post Top Ad

TERIMA KASIH TELAH MENGUNJUNGI MEDIA KAMI, SEMOGA BERMANFAAT